
...🌸 Happy reading 🌸...
Pagi harinya Inem sedang mempersiapkan dirinya untuk pergi ke kampus. Dia mempersiapkan barang - barang apa saja yang akan dibawanya, tanpa disadarinya Arjun sedang menatap semua gerak geriknya. Merasa diperhatikan, Inem lantas menoleh ke arah Arjun yang sedang memakai sepatu. Saat di toleh, seketika Arjun mengalihkan pandangannya ke arah sepatunya yang berwarna hitam. Berpura - pura membenarkan sepatunya yang sebenarnya tidak kenapa - kenapa. Melihat Arjun yang sibuk Inem pun lalu kembali ke kesibukannya sendiri dan setelah semuanya dirasa sudah beres dia lantas bersiap untuk turun ke ruang makan karna disana pasti keluarganya sudah menanti. Digendongnya tas ransel berwarna hijau olive berukuran besar di punggung. Tak lupa Inem juga membawa ponselnya yang tadi tergeletak di mejanya lalu menaruhnya di saku dan setelah memakai sepatu Inem pun lantas keluar dari ruangan tanpa menghiraukan Arjun yang sudah kembali memperhatikannya.
Benar saja,,, sesampainya di ruang makan, disana sudah ada Selly, Angga dan juga Vian yang sedang duduk mengitari meja makan. Diatasnya sudah tertata beberapa hidangan yang tadi dimasak oleh Inem bersama Selly. Ada juga minuman serat buah - buahan yang sudah disiapkan.
"Pagi mam, pagi pap. Pagi juga Vian." Sapa Inem.
"Pagi juga sayang,,,. " Sahut Selly.
"Met pagi juga Inem." Jawab Vian sembari tersenyum.
"Pagi juga Inem, gimana tidurnya semalem? Nyenyak tidak?" Ucap Angga.
"Iya pap nyenyak banget. Papi sama mami gimana istirahat nya? Nyenyak juga kan." Ucap Inem.
"Nyenyak lah,,, oh ya kalau Arjun bikin kamu tak nyenyak tidur ya bilang sama papi ya ðŸ¤. " Ucap Angga menggoda karna Angga teringat akan cerita Selly semalem.
"Eh nggak kok pap, Inem nyenyak banget tidurnya."
"Baguslah kalau begitu."
"Inem kalau masih ngantuk tidur lagi aja nggak apa - apa lho!" Ucap Selly.
"Eh nggak mam,,, Inem nggak ngantuk kok. Masak dah tidur semaleman masih ngantuk aja sih." Sahut Inem yang merasa kebingungan mengapa ibu mertuanya berucap seperti itu.
"Nih mertua kok ajarannya sesat gini sih? Masak iya disuruh tidur lagi." Guman Inem dalam hati.
"Orang melek gitu kok disuruh tidur lagi mam. Inem kan harus kuliah. Kalau tidur lagi ntar dia bolos dong." Ucap Vian menanggapi ucapan Selly.
"Sesekali aja kan nggak apa - apa Vian. Dah lah,,, kamu mana ngerti sih, ntar kalau kamu dah nikah juga bakalan ngerti." Kata Selly.
"Hillih apaan sih mam." Sahut Vian.
__ADS_1
"Eh iya Arjunnya mana? Kok belum turun juga?" Tanya Selly.
"Masih siap - siap mam, mungkin sebentar lagi."
"Oh ya sudah,,, kita tunggu sebentar lagi ya!" Titah Selly.
Setelah beberapa saat menunggu, Arjun pun datang dan mereka pun lalu menikmati sarapan pagi itu bersama - sama. Setelah selesai mereka pun saling berpamitan untuk melakukan kegiatan masing - masing. Namun saat Inem berpamitan hendak ke kampus, Selly malah melarangnya dengan alasan mulai hari ini dan untuk beberapa bulan kedepan Inem harus pergi ke kantor bersama Arjun guna menggantikan posisi sekretaris Arjun yang saat ini lagi ambil cuti karna melahirkan. Tentu saja keputusan Selly yang tak diketahui anak - anaknya itu sebelumnya seketika membuat ketiganya syok tak terkecuali. Bahkan Vian pun ikut terkejut dengan apa yang diucapkan ibunya tersebut.
"Mami bilang apa? Mam Inem kan harus ke kampus mam. Kalau Inem ikut kerja trus kuliahnya gimana?" Ucap Vian menunjukkan bahwa dia tak setuju dengan ibunya.
"Cuma sebentar aja kan nggak masalah ya. Lagian apa salahnya sih bantuin suami sendiri. Kan malah bagus,,, mereka bisa semakin dekat lagi."
"Nggak mam,,, mami pasti bercanda kan? Mami nggak serius kan? Kita di rumah kan tiap hari udah ketemu masak mau dikantor juga sih?" Ucap Arjun kesal.
"Nurut saja kenapa sih ha?,,, Mami tau kelakuan kamu. Perempuan itu sering datang menemuimu di kantor kan? Dan mami nggak suka itu. Makanya mami suruh Inem gantiin sekretaris kamu itu yang lagi cuti." Ucap Selly geram. Rupanya Selly tau kalau Lashira sering mengunjungi Arjun.
"Tapi mam,,, kan sudah ada Kelvin yang mengurus segala sesuatunya Arjun mam. Kalau hanya sekretaris sih Kelvin bisa mengatasinya mam." Arjun tetap besikekeh supaya Selly mengurungkan keputusannya.
"Hmmm maaf sebelumnya mam, bukannya Inem menolak. Hanya saja,,, untuk beberapa bulan ini Inem punya schedule sendiri." Inem memberanikan diri untuk menyela pembicaraan antara ibu dan anak tersebut. Inem tau kalau Arjun bakalan bersikeras jadi Inem berfikir untuk tidak membebani nya dengan cara mencari alasan agar Inem bisa bebas dari titah ibu mertuanya.
"Maaf sekali sayang,,, permohonan mu ini tidak mami terima. Jadi mau tak mau kamu harus pergi ke kantor dan urusan kampus nanti serahkan saja sama mami ok!"
"Sudah,,, sudah jangan berdebat terus! Sebaiknya kita berangkat saja sekarang! Hari sudah semakin siang ini." Ucap Angga menengahi karna dia tau persis kalau perdebatan mereka tak dihentikan paksa seperti ini maka sudah dipastikan tidak akan ada selesainya.
"Tapi pap,, !" Ucap Arjun yang masih tidak bisa menerima.
"Berangkat sekarang Arjun,,, Vian juga!" Ucap Angga lagi dengan tegas.
Dan lagi - lagi akhirnya mereka bertiga hanya bisa pasrah dan menurut. Didepan rumah Vian meminta Inem untuk pergi bareng bersamanya. Vian tahu pasti Inem bakalan merasa tidak nyaman kalau satu mobil dengan kakaknya yang kaku dan keras itu. Namun Arjun menolaknya, Arjun berfikir Vian pasti akan mengajak Inem pergi ke tempat lain dan bersenang - senang disana. Mengingat kedekatan mereka yang semalam membuat Arjun merasa tidak senang.
"Nggak boleh,,,, Inem pergi sama aku. Kamu tak dengar mami bilang apa? Dia sekretaris ku sekarang!" Arjun mulai semena - semena dengan wewenangnya. Arjun menarik paksa Inem untuk masuk kedalam mobilnya.
"Kalau tidak boleh maka aku yang ikut dengan kalian!" Ucap Vian sembari mendekati mobil Arjun.
__ADS_1
"Kalau begitu maka kamu lah yang akan menyetir!" Ucap Arjun yang tanpa aba - aba langsung melemparkan kunci mobilnya kepada Vian yang hendak membuka pintu mobil bagian belakang.
Sontak Vian menangkap Kunci yang dilempar tersebut yang mengenai dada Vian dan tanpa bicara lagi Vian dan Arjun pun lantas bertukar posisi. Vian duduk di belakang kemudi sedang Arjun duduk dibelakang kursi kemudi.
"Inem,,, kamu pindah kebelakang!" Titah Arjun kepada Inem yang sudah duduk disamping kursi kemudi.
"Maaf boss,,, tidak bisa. Anda kan boss mana mungkin saya yang hanya sekretaris sementara duduk sejajar dengan big boss Arjun." Yolah Inem dengan menggunakan bahasa formal.
"Ciihhh,,,, kalian berdua memang aneh! Kenapa aku bisa ada diantara kalian makhluk elien?" Ucap Arjun kesal perintahnya ditolak. Inem memang sering kali membantah Arjun. Tapi rasa kesalnya yang sekarang melebihi biasanya karna kali ini Inem menolkanya didepan adiknya.
"Kalau anda merasa tidak senang maka anda bisa turun dan menumpang saja di mobil tuan besar!" Ucap Inem lagi.
"Kurang ajar,,,, makin berani saja kamu ya! Awas aja aku pastikan kamu nggak bakalan kerasan berada di kantor.!" Gerutu Arjun dalam hati.
Wajah Arjun nampak smakin kucel saja mendengar ocehan Inem. Itu terlihat jelas oleh Vian melalui kaca spion yang terletak diatas dan melihat wajah Arjun yang sekarang ini membuat Vian cekikikan menahan tawa.
"Ada apa?" Tanya Inem kepada Vian karna Inem melihat Vian mencoba manahan tawa.
"Wajah bang Jun lucu sekali dah kayak baju yang belum disetrika." Jawab Vian berbisik.
"Hah masak sih?" Tanya Inem tak percaya.
"Hussttt jangan menoleh kebelakang! Lihat aja dari kaca tuh!" Bisik Vian lagi sembari menunjuk spion atas.
Inem lantas melihat ke kaca dan benar saja dilihatnya wajah Arjun yang tak lagi sedap dipandang mata karna menahan kekesalannya dan hal itu membuat Inem melakukan hal yang sama dengan Vian.
"Apa kalian bisik - bisik nggak jelas?" Tegur Arjun yang tak suka mendengar dan melihat keduanya saling berbisik dan tertawa kecil.
"Cepat berangkat sekarang! Papi sudah menunggu itu!" Komando Arjun sembari melirik mobil Angga yang berada di belakang mobil Arjun.
"Siap boss!" Ucap Vian menirukan gaya Inem sambil menahan tawanya begitu juga Inem dan akhirnya pun mereka berangkat ke kantor bersama.
...🌸 Bersambung 🌸...
__ADS_1