
...🌸 Happy Reading 🌸...
Sementara itu ditempat yang berbeda tapi masih di waktu yang sama. Di dalam sebuah mobil yang melaju Mutia terdiam larut dalam pikirannya. Dia tak habis pikir kenapa dia bisa terlibat dalam permainan Vian. Berulang kali dia berdoa agar Tuhan menguatkan hatinya agar tak hanyut dalam perasaan yang Vian ciptakan karna dia tak ingin kenyataan menyeretnya dalam duka. Sedang Vian nampak tenang dan santai tanpa beban melajukan kendaraannya menyusuri jalanan beraspal berpayung kan lampu kota.
"Ada apa?" Tanya Vian yang menangkap ada yang tak biasa pada diri Mutia.
Saking larut nya Mutia, sampai - sampai diapun tak sadar kalo Lelaki yang duduk disebelahnya sedang menegurnya.
"Hei,,, apa kau baik - baik aja?" Tanya Vian lagi sembari memegang tangan Mutia.
Karna sentuhan Vian, Mutia jadi tersadar dari lamunannya dan seketika menoleh ke arah Vian dan sedikit manampakkan wajah gugup.
"Ya ada apa?" Ucap Mutia terbata.
"Apa kamu lagi nggak enak badan?" Tanya Vian karna ngerasa melihat gelagat Mutia yang tak beres.
"Ha,,, eh nggak kok. Aku nggak apa - apa."
"Yakin?"
"He em." Mutia mengangguk pelan.
"Oh ya sudah lah."
Kemudian keadaan pun kembali sunyi. Vian kembali fokus ke jalanan sedang Mutia menatap kosong hamparan aspal didepannya. Tapi tak lama kemudian, dengan ragu Mutia pun membuka pembicaraan.
"Vian,,,. " Panggil Mutia dengan wajah yang sedikit melirik Vian.
"Ya." Sahut Vian yang masih tetap fokus pada pandangannya.
"Hmmm aku boleh tanya sesuatu nggak?" Ucap Mutia dengan suara pelan karna dia merasa ada ketakutan yang menahannya untuk angkat bicara.
__ADS_1
"Apa?" Tanya Vian balik.
"Hmm,,, sebenarnya antara kamu sama Fanny ada masalah apa?" Mutia tak berani menatap Vian yang diam tak menjawab pertanyaannya.
"Maaf kalo aku lancang bertanya." Mutia tertunduk menyesali pertanyaan yang di ucapnya barusan.
Sesaat suasana kembali senyap. Dalam hati Mutia memaki dirinya sendiri karna telah bertindak bodoh dengan mempertanyakan yang seharusnya bukan menjadi urusan nya. Namun dia juga merasa berhak untuk tahu karna Vian telah melibatkannya dalam permasalahan mereka. Maka dari itu dia bertanya dan mencari tahu alasan mengapa Vian menempatkannya ditengah - tengah keduanya.
Tak lama kemudian Vian pun lalu berbicara dan menceritakan bagaimana awal mula dia dipertemukan oleh maminya dengan Fanny di kantor dan mengapa maminya ngotot untuk menjodohkannya dengan gadis yang belum dikenalnya. Vian juga meminta bantuan kepada Mutia agar dia mau berpura - pura menjadi kekasihnya selama Fanny masih mengejarnya.
Dari cerita itu Mutia pun berkesimpulan bahwa dirinya hanyalah dijadikan alat agar Fanny menjauh darinya. Disitu Mutia merasakan kesedihan kenapa ini harus terjadi padanya dan mulai saat itulah dia berjanji nggak akan kebawa perasaan kepada Vian.
...🍀🎍🍀...
Lalu apa yang terjadi di pov Fanny? Tentu saja dia marah besar karna rencana yang telah dirancangnya gagal total. Ini benar - benar diluar ekspetasi nya. Lagi - lagi dia melampiaskan amarahnya dengan cara membanting dan melempar semua barang - barang yang ada didekatnya kesegala arah hingga tempat nya berpijak saat ini berantakan bak kapal pecah yang puing - puing nya terapung di lautan.
Lelah mengamuk, Fanny lantas terduduk lemas dilantai dengan nafas yang tersengal - sengal dan wajah yang basah karna berlinang air mata, gaun cantiknya kini menjadi lusuh dan rambutnya berantakan tak lagi tertata rapi. Dengan langkah ragu dan takut asistennya mendekatinya dan hendak menenangkan bos nya yang saat ini sedang kacau. Namun niat baik asistennya itu malah ditolak mentah - mentah oleh Fanny dan diusirnya dari sisinya.
"Kasihan nona muda, baru pertama kali ini aku melihatnya seperti ini. Semoga nona bisa menerima kenyataan ini!" Guman asistennya dibalik pintu.
...🍀🎍🍀...
Pagi hari menyongsong. Pagi ini Inem merasakan tubuhnya sangat berat. Tak hanya itu, kedua matanya pun juga enggan terbuka seperti ada lem yang melekat dipelupuk matanya. Namun suara dering alarm memaksanya untuk bangkit dari mimpi indahnya.
Setelah mematikan alarmnya, dengan malas inem pun lalu berjalan menuju ke kamar mandi.
Tak lama kemudian Inem keluar dan menuju disisi kosong kamarnya. Diraihnya mukena yang tergantung di dinding lalu memakainya untuk menunaikan ibadah pagi.
Seperti biasa setelah menyelesaikan ibadahnya dia selalu menengadahkan kedua tangannya untuk mendoakan mendiang kedua orang tuanya. Tak lupa diapun meminta petunjuk untuk semua masalah yang sedang dihadapinya termasuk hubungannya bersama Arjun dan juga Bimo. Tak terasa air matanya pun menetes dan mengalir membasahi pipi.
Ditengah - tengah suasana heningnya terdengar suara bell pintu yang berdentang. Inem pun terpaksa memotong doanya. Segera dia melepas atribut ibadahnya dan meletakkannya kembali ditempatnya dan lalu beranjak menuju pintu utama untuk melihat siapa yang datang sepagi ini.
__ADS_1
Baru saja dia menapakkan kakinya diruang tamu, Inem melihat Arjun sudah berada disana dan siap untuk membuka pintu. Setelah pintu terbuka masuklah Lashira dengan menenteng sebuah tas plastik yang besar yang entah apa isinya. Arjun menyambut Lashira dan mengambil alih barang bawaannya. Lashira dengan renyahnya mengucapkan selamat pagi dan memeluk Arjun serta mencium pipi Arjun didepan mata Inem tanpa rasa sungkan sedikitpun.
Tak kuasa melihat pemandangan itu, Inem lalu memutar balik arah tujuannya. Namun langkahnya terhenti karna Lashira lebih dulu menyapanya dan dengan sengaja menunjukkan kemesraan nya kepada Inem.
Karena jengkel, Inem pun tak membalas sapaan Lashira. Dia hanya menoleh sebentar dan lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Merasa diabaikan Lashira lalu membuka suara untuk mencari kesalahan Inem didepan Arjun dan menarik simpatik Arjun dengan tujuan supaya Arjun membenci Inem dan sesegera mungkin menceraikan Inem.
"Apakah seperti itu sambutan mu kepada tamu? Kok nggak sopan banget ya, padahal aku kan sudah menyapamu." Ucap Lashira dengan nada nyinyir khas perempuan pelakor.
Mendengar ucapan Lashira membuat emosi Inem terpancing. Namun Inem berusaha mengendalikan emosinya agar tak terjadi keributan di pagi buta dan lagi - lagi Inem mengacuhkan tamu yang tak diundang nya tersebut.
"Yank,,, tuh nggak sopan banget kan dia. Masa disapa diem aja." Rengek Lashira kepada Arjun.
"Sopan dikit napa Nem! Hargai dia sebagai tamu kita." Tegur Arjun membela kekasihnya.
"Sopan,,, ? Siapa yang nggak sopan? Bukankah dia sendiri yang tak sopan? Datang bertamu sepagi ini dah gitu tanpa malu peluk dan cium suami orang. Apakah orang seperti itu pantas untuk dihargai? Balas Inem dengan sinis.
"Heh jaga bicara mu! Bukankah kamu sama dia juga begitu!" Ucap Arjun lagi dengan nada sedikit membentak.
"Ya,,, aku begitu karna kamu yang memulainya." Bela Inem yang tak mau disalahkan.
"Heh kamu ini,,, apa maksudmu bicara seperti itu ha?!"
Arjun sedikit terpancing karna ucapan Inem.
"Sudahlah jangan hiraukan dia. Ayo kita kedapur. Hari ini aku akan memasak untukmu!" Ajak Lashira serasa menggandeng Arjun.
Keduanya lalu pergi menuju dapur, sedang Inem kembali ke kamarnya.
...🌸 Bersambung 🌸...
__ADS_1