Inem Bukanlah Seorang Pelayan

Inem Bukanlah Seorang Pelayan
episode 35


__ADS_3

...🌸 Happy reading 🌸...


Sekarang ini film telah usai. Semua orang berbondong keluar ruangan tak terkecuali Inem dan juga Arjun.


Saat jalan ditengah keramaian seorang anak kecil tak sengaja menabrak Inem dan menumpahkan minuman yang dibawanya ke dress yang Inem kenakan. Alhasil bagian bawah dress Inem basah karenanya.


"Maaf aku nggak sengaja kak!" Suara lirih anak kecil tersebut.


"Iya nggak apa - apa kok." Sahut Inem sambil mengembangkan senyum tipis ke arah gadis kecil yang usianya sekitar enam tahunan.


Melihat dress Inem yang basah dan kotor karna ulahnya, mata gadis kecil itu pun berkaca - kaca. Seperti akan menangis tapi ditahannya.


Dengan lembut Inem mengusap kepala gadis kecil itu kemudian berjongkok didepannya lalu mengusap pipi yang basah karna tetesan bulir air mata.


"Hai,,, jangan menagis! Kakak nggak apa - apa kok."


"Tapi baju kakak jadi kotor gara - gara aku hiks,,, hiks,,,. " Tangisnya pun akhirnya pecah.


"Iya sih, tapi kan bisa dicuci, habis dicuci ntar bisa bersih lagi kan? Sudah jangan menagis lagi! Oh ya,,, mana orang tuamu? Kenapa kamu sendirian aja?" Inem melihat sekitar tak ada orang yang mendampingi si gadis kecil tersebut.


"Huaaaa kakak,,, aku terpisah dari mama dan papa hiks,,, " Suara tangisan gadis kecil itu smakin keras.


"Haishh kenapa bisa?"


"Tadi aku disuruh tunggu disana, tapi aku malah pergi dan saat aku balik kesana aku tak menemukan mama dan papa. Huaaaa kakak,,, aku mau mama!"


Gadis itu bercerita sambil menunjuk ke arah tempat itu dan menangis lagi.


"Sudah,,, sudah jangan menagis lagi! Ayo kita cari mama dan papamu! Kakak bantu ya!" Ucap Inem sambil menyeka air mata gadis kecil itu dan seketika gadis kecil itu pun berhenti menagis.


"Benarkah?" Tanya gadis kecil.


"Arjun,,, bolehkah aku bantu dia?" Inem mendongak menatap Arjun yang sedari tadi berdiri tak jauh darinya.

__ADS_1


Cukup lama Arjun terdiam. Dia hanya berdiam diri memandangi si gadis kecil yang masih sesegukan didepan Inem. Hingga akhirnya dia mengangguk tanda setuju.


Disaat Arjun menganggukkan kepalanya, seketika itu Inem tersenyum. Dia lalu berdiri dan berjalan sembari menggandeng tangan mungil gadis kecil itu. Tak lupa diapun membelikan minuman yang sama untuk mengganti minuman yang tadi tumpah.


Melihat sikap Inem yang lemah lembut terhadap gadis kecil itu, membuat Arjun sekilas hanyut dalam memorinya disaat dia bersama dengan Lashira. Pada situasi yang sama, tapi sikap antara keduanya berbanding terbalik. Waktu itu Lashira nampak marah - marah tak karuan saat melihat bajunya yang kotor terkena es krim anak kecil yang tak sengaja menabraknya dimall. Alih - alih menenangkan anak kecil yang menagis karena dibentak nya, Lashira malah pergi begitu saja tak menghiraukan anak tersebut.


Setelah dibantu oleh petugas bioskop, akhirnya gadis kecil itupun bisa bertemu kembali dengan kedua orang tuanya. Sebagai rasa terima kasih karna telah menjaga gadis kecil, kedua orang tuanya pun mengajak Inem dan juga Arjun untuk makan malam bersama di restoran yang jaraknya tak terlalu jauh dari gedung bioskop.


Awalnya Arjun menolak ajakan kedua orang itu. Namun papa si gadis kecil terus memaksa hingga akhirnya Arjun bersedia pergi dengan mereka.


Didalam restoran mereka berbincang dengan hangat. Kebahagiaan terpancar diwajah mereka. Apalagi Inem, dia yang pada dasarnya memang suka dengan anak kecil begitu senang bisa bertemu dengan si gadis kecil.


Tak begitu dengan Arjun. Dia yang tak suka banyak bicara lebih memilih diam dan hanya fokus pada hidangan yang ada dihadapannya. Dengan lahap Arjun menyantap makanan yang di pesannya, hingga tak membutuhkan waktu yang lama untuk menghabiskannya.


Kini piring yang ada didepannya sudah dalam keadaan kosong. Tanpa banyak bicara Arjun langsung berpamitan kepada mereka. Tak lupa dia mengucapkan Terima kasihnya kepada orang tua gadis kecil yang belakangan diketahui bernama Anya.


Anya yang sudah merasa cocok dengan Inem merasa berat hati untuk berpisah dengannya. Dia masih ingin bermain bersama Inem. Namun Arjun memaksa dengan alasan masih ada urusan yang harus diselesaikan.


Cukup lama mereka menunggu, namun hujan tak kunjung reda. Hal itu membuat Arjun kesal karena harus menetap di restoran lebih lama. Sebenarnya Inem sudah menyarankan untuk masuk kedalam restoran lagi, namun Arjun menolaknya. Dia lebih suka menunggu diluar.


Dinginnya angin yang berhembus membuat Inem merasa tidak nyaman, apalagi dengan pakaian seperti yang dikenakannya sekarang ini. Membuat angin leluasa dengan mudahnya menyapu tubuhnya yang terbuka.


Sekilas Arjun melempar pandang ke arah Inem yang bersedekap mengusap - usap kedua lengannya. Sekali dilihat saja sudah bisa dipastikan kalau gadis yang berdiri disebelahnya sekarang ini sedang merasa kedinginan.


Arjun memutar bola matanya dan menghela nafas panjang sembari berkata. "Dingin,,, ?"


"He em." Jawab Inem tanpa menoleh Arjun yang sedang memperhatikannya. Netranya tertuju pada Ujung jari kakinya.


"Haishh,,, siapa suruh pakai baju yang begitu?" Ucap Arjun ketus sambil melirik Inem.


Karna tak ingin berdebat didepan umum. Inem pun lebih memilih diam tanpa mengalihkan pandangannya. Dia malah asik memainkan ujung kakinya.


"Pakailah ini!" Arjun melepaskan jas yang dikenakannya dan lalu menyodorkannya kepada Inem.

__ADS_1


Tak bisa dipungkiri. Sebenarnya di dalam lubuk hatinya, Arjun memang terpesona dengan penampilan Inem saat ini. Namun dia pandai menyembunyikan rasa kagumnya tersebut.


"Makasih." Inem menyambar pemberian Arjun dan langsung memakainya.


Kini mereka pun kembali terdiam. Walaupun hal semacam ini sudah biasa diantara mereka namun tetap saja Inem merasa nggak enak. Apalagi mereka terpojok di situasi seperti ini gara - gara dia juga yang ikut membujuk Arjun untuk makan bersama Anya dan kedua orang tuanya.


"Arjun,,, " Panggil Inem dengan pelan.


"Hmm,,, "


"Makasih ya!"


"Untuk apa?"


"Karna kamu dah ngebantu aku untuk mencari orang tua Anya."


"Hmm,,, "


Begitulah Arjun, diam tak banyak bicara. Bicara hanya seperlunya aja. Tak heran jika banyak orang yang kesal dengan sifatnya itu termasuk juga Inem.


"Hmmm ini akan lama sekali. Arjun,,, bagaimana kalau kita lari?"


"Hah,,, maksudmu hujan - hujanan?"


"Kita pake ini saja! Itu kalau kamu mengijinkan 👉👈." Ujar Inem sambil melepaskan jas milik Arjun dan lalu membentangkannya diatas kepala.


Arjun tak menjawab, dia menatap Inem sembari mengerutkan dahinya hingga alisnya hampir menyatu.


"Oke,,, oke,,, kita tunggu saja sampai hujannya reda, tapi kalo hujannya kayak gini bakalan lama ini. Haishh sungguh membosankan bukan?"


Karena dirasa idenya tak dapat persetujuan, Inem pun kembali mengenakan jas. Belum sampai Inem memakainya, Arjun menyambar jas itu dan melakukan hal yang sama seperti yang Inem peragakan tadi dan akhirnya merekapun berlari menerjang hujan dengan berpayungkan jas milik Arjun.


...🌸 Bersambung 🌸...

__ADS_1


__ADS_2