
...🌸 Happy reading 🌸...
Pagi yang sangat cerah, hembusan udara hangat pun mulai merasuk kedalam ruang, kicauan beberapa burung tetangga pun terdengar merdu seperti iringan musik. Namun cerahnya pagi ini tak secerah suasana hati Inem. Di hari minggu ini dia enggan sekali membuka matanya. Tubuhnya terasa berat bahkan selimutnya pun seperti menempel lekat menutupi tubuhnya. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 10:00 wib, tapi Inem masih ingin melanjutkan tidurnya.
...Dorrr dorrr dorrr...
Saat Inem sedang membenarkan posisi tidurnya agar lebih nyaman lagi, tiba - tiba terdengar suara pintu kamarnya digedor dari luar. Tentu saja suara itu terdengar sangat bising baginya apalagi sang pelaku tak hanya menggedor tetapi dia juga berteriak dengan lantangnya menyuruh Inem agar membuka pintunya.
Karena sangat kesal dengan kelakuan Arjun kemaren hari Inem pun hanya membiarkan saja Arjun didepan pintunya. Inem mengambil bantal dan lalu menutupkannya dikepala.
"Woeee bangun,,, bangun,, kalau kamu nggak keluar juga, aku akan dobrak pintu ini!?" Teriak Arjun sembari menggedor - ngedor pintu kamar Inem.
Mengingat kejadian kemaren sebenarnya hari ini Inem sangat malas bertemu dengan Arjun, bahkan dia sudah berencana hari ini mau berdiam diri dikamar, tapi kayaknya Arjun tak menyerah. Dia terus saja menggedor pintu dan berteriak hingga membuat Inem geregetan dan akhirnya membuka pintu kamarnya.
"Kamu ini tidur apa mati ha? Ini sudah siang dan kamu belum siapkan makanan untuk ku. Cepatlah pergi kedapur! Aku lapar sekali!" Tegur Arjun dengan suara tinggi.
"Kamu menyuruhku?" Tanya Inem.
"Kalau bukan kamu terus siapa lagi? Apa ada orang lagi selain kita?" Arjun mengacakkan kedua tangannya dipinggang.
"Ada,,, tuh mang Dimang. Suruh aja dia yang siapin makan buat kamu!" Jawab Inem dengan malasnya.
"Dia kan satpam, mana bisa dia masak b390!" Arjun semakin dibuat marah oleh jawaban Inem. Dia menyentil kepala Inem dengan jari telunjukknya.
"Masa bodoh emang aku pikirin, siapa suruh kamu pecat semua asisten rumah tangga disini! " Jawab Inem ketus sembari menutup kembali pintunya.
"Itu kan biar kamu nggak males - malesan. Heh kamu mau kemana? Cepat buatin makanan untukku!" Arjun membuka paksa pintu kamar Inem. dan menahannya dengan tangan agar pintunya tetap terbuka.
"Dasar k@mvr3t,,, suruh aja noh calon istri keduamu!" Saut Inem dengan suara lantang seraya mendorong pintunya agar tertutup.
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Inem lalu menginjak kaki Arjun. Arjun pun mengaduh kesakitan dan spontan melepaskan tangannya dari pintu kamar Inem untuk memegangi kakinya yang sakit karna ulah Inem. Melihat pintunya terbebas dari Arjun, diapun dengan sigap menutup pintu dan lalu menguncinya.
"S!@l,,, woeee dasar kamu wanita s!@lan. Awas aja kamu ya,,,, !" Koar Arjun geram dengan tingkah Inem.
Teriakan Arjun tak lagi dihiraukan Inem. Dia lebih memilih menyumpal kedua telinganya dengan headset dan memutar lagu lalu melanjutkan tidurnya.
Cukup lama Inem tertidur dan saat bangun hari sudah sangat terik. Rasa lapar memaksanya keluar dari kamarnya. Dilihatnya rumah dalam keadaan kosong tak ada pergerakan sama sekali dari Arjun. Tak ingin membiarkan cacing dalam perutnya meronta, diapun pergi kedapur dan hendak membuat makanan. Namun saat dia membuka kulkas, dia melihat tak ada satupun bahan yang tersisa. Begitu juga di rak penyimpanan bahan makanan, hanya ada beberapa bungkus mie instan yang masih tertata rapi ditempatnya. Sedang yang lainnya sudah habis, barulah dia ingat hari ini jatah dia pergi untuk belanja bulanan.
Tak hilang akal, untuk menghilangkan rasa laparnya Inem lalu mengambil sebuah mie instan di dalam rak dan lalu memasaknya. Setelah cukup lama berjibaku dengan peralatan masak, kini mie instan pun sudah jadi dan siap untuk disantap. Inem pun lalu membawanya ke ruang keluarga dan menyantap makanan berkuah itu disana sambil menonton televisi.
Saat sedang sibuk meniup isi mangkoknya, tanpa disadarinya ada Arjun yang datang mendekatinya. Rupanya Arjun datang saat mencium aroma sedap dari mangkok yang ada dihadapan Inem.
"Enak ya,,, suami dari tadi kelaperan tapi kamu malah makan sendiri." Tegur Arjun.
Mendengar teguran Arjun sontak membuat Inem terkejut. Hingga sendok yang tadinya dipegang kini terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai.
"S3mprul,,, sejak kapan kamu disini? Bikin orang kaget aja. Dah kayak jaelangkung tau nggak sih, nggak diundang malah datang. Dah sono buruan pergi sendiri! Ogah aku nganterinnya." Omel Inem tanpa henti.
Inem tak menghiraukan ocehan Arjun. Dia mengambil sendok dan tisu lalu mengelap sendok yang tadi terjatuh.
"Heh kalau ada orang ngomong tuh dilihat jangan seenaknya sendiri! Tau tata krama nggak sih?" Oceh Arjun lagi yang semakin ngegas saja.
"Aku apa kamu yang nggak tau tata krama ha? Orang lagi makan malah digangguin, diajak bertengkar pula. Ntar kalau nafsu makanku hilang gimana? Trus aku nggak doyan makan, trus aku sakit dan akhirnya mati gimana? Kamu mau tanggung jawab? Kamu mau masuk penjara ha?" Balas Inem yang tak kalah ngegasnya.
"Itu bukan urusanku! Kamu kalau mau mati ya mati aja sana! Jangan bawa - bawa aku!" Arjun menghempaskan tubuhnya diatas sofa.
Inem yang duduk dibawah menghadap televisi pun lalu mulai memakan mie nya lagi tanpa menghiraukan Arjun yang duduk di atas sofa tepatnya dibelakang nya yang secara diam - diam memperhatikan apa yang dimakan Inem. Sejujurnya dia tertarik dengan aromanya yang membuatnya semakin dirundung kelaparan. Hanya karna demi gengsinya dia rela menahan rasa laparnya tersebut. Namun saat dia melihat Inem makan dengan lahapnya akhirnya dia pun bertanya kepada Inem.
"Kamu makan apa sih?" Tanya Arjun sembari melirik makanan Inem.
__ADS_1
"Kamu nanya?" Tanya Inem balik tanpa memalingkan wajahnya dari layar televisi.
"Menurutmu?" sahut Arjun ketus.
"Kamu bisa lihat kan aku makan apa? Kenapa kamu nanya? Kamu mau meledek ku ya karna aku hanya makan ini?"
"Heh bocah tengik, aku kan tanya baik - baik kok kamu malah nyolot sih!"
"Haissshhh,,, beneran kamu nggak tau ini apa?" Kini Inem menoleh kepada Arjun.
Arjun tak bersuara menanggapi pertanyaan Inem. Dia hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Ya salam,,, jadi kamu nggak pernah makan makanan ini?" Tanya Inem sembari menunjuk makanannya dan lagi - lagi Arjun menggelengkan kepalanya.
Melihat pernyataan Arjun tersebut membuat Inem menarik nafasnya dalam - dalam dan lalu melepaskannya dengan pelan.
"Dasar orang kaya, yang beginian mana tahu ya, taunya pasti hanya makanan mewah dan mahal."
"Heh kamu ini kalau ditanya tuh tinggal jawab aja bisa nggak sih? Nggak usah bertele - tele gitu ngomongnya! Emang aku nggak pernah makan itu, kenapa?"
"Huh,,, tanya kok nyolot. Ini tuh mie instan. Tadi aku mau masak tadi semua bahan dah habis. Yang ada cuman ini ya udah aku makan ini aja daripada mati kelaparan." Jelas Inem.
"Oh makanan rakyat jelata rupanya. Pantas aja aku nggak tahu." Sahut Arjun dengan nada mengejek.
"Apa kamu bilang? Makanan rakyat jelata?" Inem membelalakan kedua matanya sembari mengacakkan tangannya ke pinggang rampingnya.
"Kamu ini ya,,,,, !?" Inem sangat geram dengan perkataan Arjun barusan. Dia mengacungkan jari telunjukknya ke arah Arjun dan hendak berkata kasar dan marah kepadanya. Namun dia mengurungkan nya mengingat sifat Arjun yang angkuh dan tak mau mengalah.
"Haishhh sudahlah,,, bercuma juga debat denganmu." Ucap Inem lagi dan lalu dia membalikkan tubuhnya keposisi awal dan mulai memakan makanannya lagi.
__ADS_1
...🌸 Bersambung 🌸...