
...🌸 Happy Reading 🌸...
Karena merasa usahanya tak berhasil, Lashira akhirnya mengeluarkan jurus andalannya. Memanggil Arjun dengan suara lembut dan manja dengan mimik wajah yang sendu memohon agar Arjun mau turun tangan menuruti apa yang dia mau.
Melihat Lashira yang seperti itu membuat Arjun tak punya pilihan lain selain mengikuti kemauan kekasih hatinya. Begitulah Arjun, dia selalu saja tidak bisa menolak keinginan Lashira bila gadisnya itu sudah mengeluarkan jurus jitunya.
"Kamu nggak dengar kata dia?" Kata Arjun.
"Apa maksudmu?" Tanya Inem.
"Kamu pindahlah ke meja yang lain!Masih banyak meja yang kosong kan?"
"Apa aku nggak salah denger? Kamu menyuruh ku pindah sedangkan kamu makan berdua dengan wanita lain?" Inem menunjuk Lashira.
"Hei pelayan! Nggak sepantasnya kamu ngomong gitu ya sama kami? Kamu tuh cuma seorang pelayan seharusnya kamu tau diri dong. Hormati majikan kamu!" Ucap Lashira yang belum tahu status Inem yang sebenarnya.
Mendengar ucapan Lashira membuat Inem naik darah. Selama ini dia sudah cukup bersabar menghadapinya, namun setelah melihat perlakuannya yang sekarang, Inem pun tak mau bila hanya diam saja. Wanita mana yang tak sakit hatinya bila suaminya jalan sama wanita lain dan bahkan wanita itu menganggapnya sebagai pelayan.
"Pelayan,,, ?" Inem berdiri menghadap Lashira yang masih duduk. "Jangan pernah memanggilku pelayan. Aku ini bukan pelayan. Asal kamu tau aja, aku adalah,,,, "
Belum sempat Inem menyelesaikan kalimatnya, Arjun lebih dulu membuka suara.
"Inem,,, hentikan omonganmu!" Bentak Arjun.
"Hentikan,,,? Kamu yang seharusnya menghentikan semua ini Arjun! Bukan aku." Inem menatap nanar kearah Arjun yang juga ikut berdiri.
"Sudah Inem cukup! Aku nggak mau jadi pusat perhatian orang - orang disini. Sebaiknya kamu pergi dari sini!" Kata Arjun setengah berbisik tapi nadanya tegas.
"Oh ok,,, aku akan pergi. Memang tak seharusnya aku ada disini."
Inem mengambil barang bawaannya dan beranjak dari tempatnya berdiri.
...Klontang...
...Byuurrr,,,,,...
Saat Inem melewati Lashira seketika itu gelas yang berada didepan Lashira terguling dan menumpahkan isinya tepat mengenai Lashira sehingga membuat baju Lashira basah dan kotor.
Hal itu tentu saja disengaja oleh Inem sebagai pelampiasan kekesalannya.
Lashira sontak berdiri dan mengibas - ngibaskan bajunya yang basah. Dan dengan nada kasar dia memaki Inem habis - habisan.
"Dasar pelayan tak berguna, lihatlah,,,! apa yang telah kamu lakukan padaku? Bajuku jadi kotor gara - gara kamu. Apa kamu tahu berapa harga baju ini? Gajimu sebulan nggak akan cukup untuk membelinya."
"Maaf,,, maafkan aku! Aku sengaja melakukannya!" Jawab Inem santai.
"Dasar kau ini pelayan murahan,,, !"
"Sudah,,, cukup! Nggak enak dilihatin orang - orang!" Usaha Arjun mencoba untuk melerai keduanya.
"Tapi sayang,,, dia sungguh keterlaluan. Masa iya dia sengaja numpahin minuman kebajuku." Rengek Lashira manja.
__ADS_1
"Ya aku memang sengaja, kenapa?" Balas Inem sengit.
"Sayang lihatlah pelayanmu ini kurang ajar banget kan dia. kamu harus kasih pelajaran ke dia!" Rengek Lashira lagi.
"Kamu tuh yang seharusnya dikasih pelajaran biar nggak nggangguin orang." Ucap Inem dengan emosi.
"Apa kamu bilang!? Kamu tuh yang nggangguin kita." Sambung Lashira.
"Kamu,,,, !" Inem.
"Kamu,,, !" Lashira.
"Sudah cukup,,, Hentikan semua ini!" Kata Arjun setengah berteriak.
"Haish,,, kalian ini apa nggak punya malu? Lihatlah kalian sudah jadi tontonan orang." Ucap Arjun yang merasa malu akan kelakuan keduanya.
"Dia yang mulai yank,,, !" Tuding Lashira.
"Kok aku sih, kamu tuh!" Bela Inem.
"Kamu,,, !" Lashira.
"Kamu,,, !" Inem.
"Kalian berdua bisa diam nggak sih?" Lagi - lagi Arjun berkata agak keras.
Mendengar ucapan Arjun mereka berduapun terdiam. Dengan perasaan dongkol Inem pergi meninggalkan tempat itu dan Arjun hanya terdiam saja melihat kepergian Inem.
"Sayang aku ke toilet dulu ya." Pamit Lashira.
Kini Arjun terduduk lemas dan memijit kedua pelipisnya dengan satu tangan. Dia benar - benar dibuat pusing oleh kedua wanita itu dan ini adalah pertama kalinya dia pusingkan soal wanita.
"Wah ternyata repot juga ya." Celoteh salah satu pengunjung restoran.
"Apa maksud anda?" Arjun mendongak ke arah lelaki yang berdiri didepannya itu.
"Yang tadi itu. Ternyata begitu repot kalau punya bini dua." Lagi - lagi pria itu berceloteh.
"Aku tidak butuh komentar dari anda." Sahut Arjun ketus.
"Yeah,,, begitulah resikonya kalau berpoligami. Berani berbuat juga harus berani menerima resikonya ya kan?". Sambung pria separuh baya tadi.
"Sebaiknya anda urusi saja hidup anda sendiri. Jangan ikut campur dengan urusan orang lain!"
Arjun tersinggung mendengar ucapan lelaki itu. Dia melempar tatapan tajam kearahnya. Sehingga pria itu pergi dari hadapan Arjun.
Tak lama setelah kepergian orang tadi, ternyata Inem datang kembali dengan wajahnya yang masih cemberut. Dia kembali karna ada barangnya yang tertinggal disana. Dia hendak mengambilnya dan lalu pergi lagi tanpa menghiraukan keberadaan Arjun yang sedari tadi menatapnya.
"Tunggu!" Tegur Arjun.
Mendengar teguran Arjun membuat Inem menghentikan langkahnya namun dia tak berpaling sedikitpun.
__ADS_1
"Kamu mau kemana?" Tanya Arjun.
"Bukankah kamu mengusir ku?"
"Bukan begitu maksudku." Jelas Arjun.
"Tapi kenyataannya kamu menyuruhku pergi kan?" Inem berbalik dan menatap Arjun.
"Aku hanya menyuruhmu untuk pindah meja saja. Bukan pergi dari sini." Jelas Arjun lagi.
"Sama aja. Dahlah,,, aku nggak mau berdebat lagi."
Inem kembali melangkahkan kakinya pergi menjauh dari Arjun. Setelah berjalan jauh tibalah Inem di pelataran mall. Dia berjalan menunduk dan lagi - lagi dia menabrak seseorang.
...brukkk...
Inem terjatuh terduduk dilantai dan merasakan sakit dipant@tnya.
"Apa kamu baik - baik saja?" Ucap seseorang.
Inem mendongak kearah sumber suara. Dilihatnya seorang pemuda yang ganteng, kulit bersih, rambutnya agak panjang dan berantakan namun sedap dipandang sedang berdiri setengah membungkuk dan mengulurkan tangan kepadanya.
"Ayo aku bantu!" Pemuda itu tersenyum.
"Oh iya makasih." Inem menyambut uluran tangan pemuda itu dan berdiri namun tatapannya tak lepas dari wajah sang pemuda.
"Maaf ya,,, ! Aku menabrakmu lagi!" Ucap pemuda itu.
Ternyata pemuda itu adalah pemuda yang tadi menabraknya.
"Iya aku juga salah, jalan nggak lihat - lihat." Sahut Inem.
"Kenalin aku Vian!" Pemuda itu mengulurkan tangannya lagi.
"Inem." Ucap Inem sambil menjabat tangan Vian.
"Inem,,, nama yang lucu. Kamu baik - baik saja? "
"Iya aku nggak apa - apa kok."
"Tapi kalau dilihat dari wajahmu kayaknya kamu lagi nggak baik deh. " Vian memperhatikan wajah Inem dengan seksama.
Dilihat seperti itu membuat Inem merasa malu dan risi jadinya salah tingkah deh.
"Hahaha beneran aku nggak apa - apa kok." Inem tertawa kecil dan mencoba menghindari pandangan Vian.
"Beneran?" Tanya Vian.
"Iya suer."
......Kruyuk,,, kruyuk,,, ......
__ADS_1
Tiba - tiba terdengar bunyi yang tak asing dari perut Inem. Bunyinya cukup keras hingga sampai ketelinga Vian.
...🌸 Bersambung 🌸...