
...🌸 Happy Reading 🌸...
Kini jarak mereka tak terelakkan lagi. Saking dekatnya hingga hembusan nafas saja sampai terasa menyentuh kulit. Pandangan keduanya saling bertemu, semakin dalam Inem memandang semakin larut dia dalam lamunan. Ini adalah pertama kalinya Inem berada begitu dekat dengan lawan jenis dan pertama kalinya pula melihat wajah Arjun yang sejelas ini. Tiba - tiba saja ada perasaan lain yang timbul pada dirinya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, ada rasa getaran - getaran aneh yang menyelimuti sekujur tubuhnya bahkan darahnya pun mengalir terasa hangat sampai menyengat ke hatinya. Otaknya seketika penuh dengan rasa takjub akan makhluk ciptaan NYA yang kini berada tepat dibawahnya.
( Astaga Inem nagkring 😅🤠nggak tuh )
Berbeda dengan Inem yang kini sedang terbuai akan indahnya pesona pria tampan. Saat ini Arjun merasa kesakitan karna tubuhnya menghantam lantai yang keras ( sekeras kepalanya 🤠) apalagi posisinya yang terhimpit membuat dia kesulitan menggerakkan tubuhnya. Jangankan bergerak, berkedip saja dia merasa kesusahan dikarenakan Inem yang tak lepas memandangnya. Karna merasa tidak nyaman diposisi ini, Arjun lantas mendorong tubuh Inem hingga tubuh mungil itu terhempas dari tubuhnya dan mendarat kasar dilantai.
"Menjauhlah dariku!" Kata Arjun.
Setelah menyingkirkan tubuh Inem, dia lalu berdiri dan menjauh dari Inem yang juga ikut berdiri sambil mengusap - usap bagian tubuhnya yang juga sakit terkena lantai akibat dorongannya.
"Kamu sengaja ya?'
"Sengaja apa maksud kamu?"
"Sengaja menggodaku kan? Cuiihhh murahan sekali caramu."
"Heh,,, jaga bicaramu itu! Siapa yang murahan?Aku sama sekali tak berniat untuk menggodamu!"
"Trus itu tadi apa namanya?"
"Aku kan nggak sengaja. Lagian mana ada orang jatuh disengaja."
"Hallah,,, jangan pura - pura deh. Kamu pasti sengaja kan? Kayak pas direstoran tadi, kamu sengaja menumpahkan minuman ke Lashira."
"Hah,,,, itu lagi. Kalau iya emang kenapa? Dia memang pantas mendapatkannya. Siapa suruh dia bersikap seperti itu."
"Apa maksud mu bicara begitu?"
"Apa? Dengar ya! Tuan Arjun yang terhormat,,, suka tidak suka aku ini adalah istrimu. Jadi setidaknya kamu jaga sikap dong. Masa iya istri dihina, tapi suami diam saja. Lagian apa pantas seorang suami bermesraan dengan perempuan lain didepan istrinya? "
"Dia itu kekasihku dan aku mencintainya."
"Oh ya hallo,,, disini yang punya kekasih nggak cuman kamu ya, aku juga punya. Sama halnya kamu, aku juga mencintai dia dan ingin selalu bersamanya."
__ADS_1
"Kalau kamu ingin bersamanya lalu kenapa kamu menerima pernikahan si@l ini! Kenapa kamu hanya diam dan menurut saja! "
"Katakan padaku apa aku bisa menolak?,,,, apa aku punya pilihan lain? Kalau aku bisa, aku pasti tidak akan ada disini? Ingat,,, kita berada diposisi yang sama. jadi jangan pernah salahkan aku akan situasi ini! "
Setelah puas meluapkan amarahnya, Inem memilih untuk keluar dari kamar. Pintu kamar yang tak salah apa - apa menjadi sasarannya. Dia menutup dengan keras menandakan kalau kali ini dia bener - bener tidak menyukai sikap suaminya.
"Hah,, brengs€k,,,,!"
Seakan tak mau kalah, Arjunpun juga melampiaskan amarahnya. Keranjang sampah yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri ditendang hingga terpental jauh dan memuntahkan semua isi yang ada didalamnya hingga berserakan dilantai. Dia mengusap kasar wajahnya dan lalu terduduk dipinggiran tempat tidur. Kedua sikunya menempel pada masing - masing lututnya sedangkan telapak tangannya meremas kepalanya yang menunduk menghadap lantai. Pikirannya kalut, dia sama sekali tak menyangka kalau orang yang selama ini hanya bilang iya bisa berbicara dengan lantang seperti itu kepadanya. Sungguh diluar dugaannya.
Sementara itu setelah keluar dari kamarnya, Inem pergi ke taman yang terletak dibelakang rumah. Dia duduk bersendekul sendirian di kursi panjang sambil memandangi kilauan air kolam renang yang terkena pantulan sinar lampu. Buliran - buliran air mata berjatuhan membasahi pipinya, dadanya terasa sesak dan hatinya perih seperti ada benda tajam yang telah menggoresnya.
"Ngapain sendirian disini malem - malem begini?"
Seseorang datang menghampirinya. Dia duduk disampingnya dan lalu mengulurkan sebuah cangkir yang berisi.
"Nih,,, kata orang coklat hangat bisa membuat perasaan kita menjadi tenang." Celoteh orang itu.
Tau ada yang datang, Inem lantas serikutan mengelap mata dan pipinya yang basah karna air matanya. Kemudian dia mengambil cangkir dari tangan sipemberi.
"Makasih." Suara Inem pelan.
"Bang Jun emang wataknya keras, tapi sebenarnya dia baik kok. Dia pasti nggak bener - bener marah sama kamu. Percaya deh sama aku!"
"Kenapa kamu ngomong gitu?" Tanya Inem yang kini mengalihkan pandangannya ke orang yang ada disampingnya.
"Hehehe,,, maaf aku nggak sengaja mendengar pertengkaran kalian tadi!" Jawab orang itu sambil menyeringai menunjukan deretan gigi putihnya.
"Astaga Vian,,, ini nggak seperti apa yang kamu fikirkan. Aku dan Arjun itu,,,, aaahh sudahlah. Aku nggak mau bahas masalah ini lagi." Inem kembali meluruskan pandangannya ke kolam renang.
"Oke,, oke,,, aku nggak akan melanjutkannya lagi." Vian mengunci mulutnya. Dia meminum kopi yang tadi dibawanya.
Mencium aroma kopi membuat Inem memfokuskan matanya kepada Vian.
"Kok punyamu kopi?"
__ADS_1
"Kan aku nggak lagi galau." Jawab Vian nyengir.
"Asem,,, kamu ngeledekin aku ya?"
"Nggak kok,,,, aku nggak ngeledekin kamu, aku cuma ngepasin aja hahaha. " Jawab Vian terkekeh.
"Aaa Vian apaan sih!"
Sebuah cubitan kecil mendarat mulus di lengan Vian. Walaupun kecil namun serangan itu cukup mampu membuat Vian meringis kesakitan. Keduanyapun lalu bercengkrama sambil menikmati isi cangkirnya masing - masing.
Entah kenapa selama bersama Vian, Inem merasa hangat dan releks. Seolah - olah ada keterikatan tersendiri diantara keduanya. Ibarat api yang menyala diantara dinginnya hembusan angin malam. Seperti itulah kehadiran sosok Vian bagi Inem.
Cukup lama mereka berdua mengobrol hingga tak terasa malam semakin larut, udara yang berhembuspun semakin terasa dingin menyapu permukaan kulit. Merekapun memutuskan untuk masuk kedalam rumah dan beristirahat. Disaat Inem sampai didepan kamarnya, dia terdiam dan ragu untuk membuka pintunya.
"Kenapa? " Tanya Vian.
"Ehmmm,,, Vian!" Inem mendongak menatap sendu Vian yang berdiri disampingnya.
"Apa?"
"Dimana kamarmu? "
"Tuh,,, !" Lelaki itu menunjuk sebuah pintu yang letaknya bersebelahan dengan pintu kamar Inem dan Arjun.
"Haishhh,,, pantas saja kamu mendengarnya."
Inem mendekati pintu yang ditunjuk Vian. Perlahan dia membukanya dan masuk kedalam. Vian yang bingung dengan ulah Inem lantas mengikutinya. Namun saat Vian hendak ikut masuk kedalam kamar, langkahnya terhenti karna Inem menutup pintu sebelum dia masuk.
"Lhah kok malah ditutup sih, woe buka dong!" Teriak Vian sambil mengetuk pintu berulang kali.
Tak lama pintupun terbuka, namun tak sepenuhnya terbuka. Inem memperlihatkan mukanya yang hanya terlihat sedikit.
"Kenapa ditutup?" Tanya Vian.
"Malam ini aku pinjam kamarmu. " Jawab Inem nyengir.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Inem kembali menutup pintu dan menguncinya tanpa menghirauian Vian yang masih berdiri didepan pintu. Vian kembali mengetuk pintu namun kali ini tak ada pergerakan dari Inem dan akhirnya Vianpun pergi dari sana dan membiarkan Inem beristirahat dikamarnya.
...🌸 Bersambung 🌸...