Inem Bukanlah Seorang Pelayan

Inem Bukanlah Seorang Pelayan
episode 25


__ADS_3

...🌸 Happy Reading 🌸...


Bukannya pergi menjauh dari keluarga Dirgantara, Vian malah berlari memasuki halaman rumah. Semakin mendekati rumah, Vian mulai memperlambat laju larinya.


Melihat Vian yang dengan santainya berjalan membuat Inem khawatir dan takut jikalau membuat Arjun semakin marah. Diapun berlari tunggang langgang mengejar Vian dan berhenti tepat di depan pemuda tampan itu sambil merentangkan kedua tangannya yang penuh dengan barang belanjaan.


"STOP,,, Vian kamu mau kemana?"


Dengan nafas yang tersengal - sengal Inem menghentikan Vian.


"Pulang." Jawab Vian singkat.


Senyum manis terukir di wajah Vian sebelum dia melanjutkan langkahnya.


"Pulang???"


Kata itulah yang terlontar dari mulut Inem mengulang perkataan si ganteng. Kini dia terdiam memandangi punggung Vian yang semakin menjauh dan mencoba mencerna arti kata yang diucap teman yang baru saja dikenalnya.


"Sampai kapan kamu akan berdiri disini?"


Pertanyaan Arjun membuyarkan lamunan Inem.


"Apa maksudnya pulang?" Tanya Inem kapasa Arjun, namun pandangannya masih tetap tertuju pada Vian yang melenggang dengan tenang. Tak ada kecemasan sama sekali di wajahnya.


"Tanya saja sama orangnya langsung!" Jawab Arjun yang lalu pergi meninggalkan Inem yang masih terbengong mencerna situasi saat iini.


"Arjun tunggu!" Panggil Inem dengan suara keras.


Mendengar teriakan Inem, langkah Arjunpun terhenti. Dia menoleh dan lalu mengangkat tangannya kemudian mengacungkan jari telunjuknya kepada gadis yang telah meneriakinya.


"Aku peringatan kamu, jangan pernah berteriak kepadaku!"


Setelah mengatakan hal itu, Arjun berbalik. Namun disaat dia hendak melanjutkan langkahnya, dia kembali menoleh Inem.


"Ingat,,, urusan kita belum selesai!" Ucap Arjun sesaat sebelum dia pergi.


"Ughhh dasar pemarah!" Decak Inem kesal.

__ADS_1


Dengan langkah pasti Vian menaiki anak tangga depan rumah Dirgantara. Sesampainya didepan pintu, dia langsung membuka pintu begitu saja tanpa mengetuknya terlebih dahulu dan menyelonong masuk tanpa seijin sang empunya.


"Assalamu'alaikum,,, mami yang cantiknya seantero rumah, lihatlah anakmu yang paling tamvan ini pulang!" Teriak Vian.


"Heh bocah,,,! Bisa nggak sih kebiasaanmu itu dibuang jauh? Bisa pekak nih telingaku!"


Tegur Arjun yang berada di belakangnya sambil menutupi kedua telinganya dengan tangan.


"Haish,,, tentu saja nggak lah bang. Ini kan udah mendarah daging abang mana bisa diilangin hahaha... " Vian tertawa lalu memeluk Arjun dengan hangat.


"Dasar bocah nakal. " Arjunpun membalas pelukan Vian dan menepuk pelan punggung Vian dengan pelan.


"Abang???" Inem kembali tercengang dengan tingkah kedua lelaki yang ada didepannya itu.


"Apa maksud semua ini?" Semakin bingung saja Inem dibuatnya.


Perlahan Vian mendekati Inem yang berdiri bengong dengan ekspresi wajah yang meminta penjelasan. Wajah polos yang sedang dilanda kebingungan.


"Hahaha lihatlah wajahmu itu! Lucu sekali kalau sedang bingung gitu."


"Heh bocah nakal,,, ! Singkirkan tanganmu dari wajah menantuku!"


Perintah seorang wanita yang datang dari arah dalam dan menarik telinga pemuda itu sehingga dia terpaksa melepas tangannya dan menjauh dari Inem yang pipinya kini memerah karna ulah Vian.


"A,,,, ampun mam, ampun!!" Teriak Vian yang kesakitan.


"Makanya jangan macam - macam sama Inem!" Selly pun melepaskan telinga Vian.


"Aiiihh mami kejam sekali. " Rengek Vian sambil mengusap telinganya.


Rengekan Vian sama sekali tak didengar oleh Selly. Mamanya itu malah mengusap kedua pipi Inem yang nampak merah.


"Mami tadi bilang apa? Inem menantu mami? Apa dia istri bang Arjun? Tapi kapan mereka menikah kok aku nggak tau? "


Beberapa pertanyaan terlontar dari mulut Vian tanpa jeda. Dia menoleh kearah Selly dan Arjun secara bergantian, namun tak ada satupun yang memberikan penjelasan padanya. Sikap acuh keduanya membuat Vian seketika merasa kesal dan akhirnya memutuskan untuk pergi.


"Hei bocah,,, mau kemana?" Tanya Arjun.

__ADS_1


"Tidur." Jawab Vian ketus. Dengan kesal dia lalu melangkah menaiki tangga menuju lantai atas.


"Hais anak itu, masih saja seperti itu. " Guman Selly menatap kepergian anak keduanya.


"Jadi dia??" Tanya Inem.


"Dia itu adik Arjun, Usianya satu tahun lebih tua darimu. Saat ini dia kuliah di luar negri. Entah ada apa dia tiba - tiba pulang dan nggak ngasih kabar terlebih dulu. "


"Oh jadi begitu ya. " Kini terjawab lah sudah apa yang sedari tadi membuat Inem kebingungan. Ternyata Vian, lelaki yang dikenalnya di mall tadi itu adalah anak kedua dari ibu mertuanya. Pantas saja sikap Vian begitu tenang didepan Arjun yang mempunyai sikap pemarah.


"Maaf ya mami lupa kasih tahu kamu! Mami juga lupa belum kasih tahu pernikahan kalian kedia. Haishhh kamu jadi kena keisengannya deh."


"Iya nggak apa - apa kok mam. " Walaupun Inem merasa kesal namun apalah daya, didepan mertuanya itu mana berani dia meluapkan kekesalannya. Dia hanya mampu tersenyum layaknya gadis kecil yang penurut.


Dengan barang bawaan yang cukup banyak ditambah rasa capek setelah tadi habis berlarian mengejar Vian. ( Maklumlah halaman orang terlanjur kaya sih sama aja lapangan bola bagiku 😅 ). Inem berjalan menaiki tangga dengan agak kerepotan. Selly yang melihatnya lalu melempar isyarat kepada Arjun supaya anak pertamanya itu membawakan barang - barang Inem.


Sebenarnya Arjun enggan banget menuruti kemauan maminya, namun apalah daya dia lebih enggan mendengar omelan yang akan banyak menyita waktunya karna maminya nggak akan cukup satu jam kalau sudah mengeluarkan jurus andalannya itu bahkan suaminya sendiripun tak bisa turun tangan kalau sudah seperti itu.


Langkah Arjun terasa sangat berat dan tanpa basa basi dia langsung menyambar dengan kasar semua barang dari tangan Inem. Seketika kini barang sudah berpindah tangan. Sesampainya dikamar, Arjun melempar sembarangan barang bawaannya sehingga barang itupun berceceran di lantai. Hal itu membuat Inem naik pitam dan akhirnya tak bisa lagi membendung amarahnya.


"Kamu ini apa - apaan sih? Kamu sengaja ya mau ngerusakin semuanya? Tega banget sih."


Ocehan Inem sama sekali tak didengar oleh Arjun, mungkin malah dianggap sebagai angin lalu yang berhembus begitu saja. Dilemparnya jas yang sedari tadi membalut tubuhnya kedalam keranjang yang terletak di sudut dekat pintu kamar mandi. Setelah itu dia melepaskan jam tangan bermerk dan meletakkannya keatas meja.


Sikap cuek Arjun membuat amarah Inem semakin bergejolak. Dia berjalan mendekati pria yang kini tengah melepas kancing kemejanya. Pada awalnya dia hendak membuat Arjun supaya mendengarkannya, namun naasnya Inem malah tersandung dan tubuhnya terhuyung hingga dia menabrak Arjun. Posisi Arjun yang membelakangi Inem membuat dia tak tahu keadaan Inem sehingga dia tak sigap dan akhirnya keduanyapun terjatuh ke lantai dengan posisi tubuh Inem menimpa tubuh Arjun.


...🌸 Bersambung 🌸...


...***Eaaaakkkk,,, eaaakkkk,,, tindih nggak tuh 🤭🤭...


...Ahaishhh,,,,, jadi bingung kan mau ngapain. ...


...Yuk senam jempol aja yuk! ...


...kasih like ama komennya ya! ...


...^^^🙏🤗🤗🙏***^^^...

__ADS_1


__ADS_2