Inem Bukanlah Seorang Pelayan

Inem Bukanlah Seorang Pelayan
episode 51


__ADS_3

...🌸 Happy Reading 🌸...


Tingkah Arjun membuat Inem terkejut sekaligus ketakutan karna sorot mata Arjun kini berubah menjadi menakutkan. Sama seperti waktu dimana Arjun menyeret Inem saat bersama dengan Bimo.


"Dasar wanita licik, seenaknya aja kamu mau senang - senang dengan pria lain ha? Kau anggap apa aku ini?" Arjun semakin memajukan posisinya dan Inem hanya bisa menghindar hingga posisi saat ini Inem berbaring dengan Arjun yang ada di atasnya.


" Bukan begitu maksudku."


"Oh ya,, lalu?" Arjun smakin mendekatkan wajahnya.


"Lalu,, " Sahut Inem.


Kali ini Inem benar-benar terkunci. Dia tak lagi bisa berkutik lagi.


"Lalu,,,?"


Semakin dekat dan dekat lagi hingga bibir mereka pun tak berjarak lagi. Karena kebingungan Inem pun memejamkan matanya dan sekilas munculah ide di benaknya. Inem pun lalu membuka lebar matanya kembali dan berkata dengan keras.


"Ada yang mengetuk pintu." Seru Inem.


Seketika Arjun menghentikan aksinya dan sontak menoleh kearah pintu tapi posisi masih diatas Inem. Karena tak ada bunyi ketukan, lantas Arjun kembali melemparkan pandangannya kepada Inem.


"Nggak ada suara."


"Ada,,, coba lihat kalau nggak percaya!" Ucap Inem mencoba meyakinkan Arjun yang ragu akan perkataannya.


Melihat Inem yang begitu serius akhirnya Arjun pun bangkit dan berjalan menuju pintu. Setelah membuka pintu dan dia tak mendapatkan seorangpun diluar sana barulah dia tersadar kalau ternyata dia telah dipermainkan oleh Inem. Arjun pun mendengus kesal karnanya dan saat dia berbalik ingin memberi perhitungan dia melihat Inem yang sudah berlari menuju kamar mandi sambil membawa baju yang diambilnya dari koper.


"Si@l,,, berani - beraninya membohongi ku. Awas saja kamu Inem!" Geram Arjun.


Sedangkan Inem didalam kamar mandi berdiri termenung bersandarkan pintu dengan tangan yang masih memegang gagang pintu. Jantungnya berdetak sangat keras hingga terasa sekali seperti suara gema genderang peperangan.


...****************...


Sementara itu di bandara Lashira sedang duduk menunggu jadwal keberangkatan pesawat. Tak lama kemudian datanglah seorang pria yang membawa dua buah paper cup. Pria itu menyodorkan sebuah bawaannya kepada Lashira dan lalu duduk disebelahnya.


"Apa kamu harus pergi sekarang? Bukankah waktu mu disini masih lama?" Tanya Kelvin membuka pembicaraan.


"Untuk apa? Sudah tidak ada alasan lagi untukku tetap berada disini." Jawab Lashira dengan tatapan kosong.


"Apakah aku tak berhak melarang kamu pergi?"


"Ini sudah menjadi keputusan ku."


"Tidak bisakah kamu memberikan perasaanmu padaku Shira?"


"Kelvin!" Lashira merubah posisi duduknya menjadi menghadap Kelvin.


"Bukankah kita sudah berulang kali membahas ini?"

__ADS_1


"Tapi,,,, "


"Aku ingin melupakan semua yang ada disini." Kini Lashira kembali ke posisi awalnya dan memandang lurus kedepan.


"Apa maksudmu dengan berkata seperti itu? Apa kamu tak ingin kembali kesini lagi?"


"Entahlah." Jawab Lashira sambil meneguk minuman yang diberi Kelvin tadi.


"Bagaimana mungkin? Lalu bagaimana denganku?"


"Kamu kan bisa mengunjungi ku disana."


"Haishhh,,,, kurasa aku memang tidak bisa membuatmu untuk tetap berada disini." Kelvin menunduk memainkan minuman yang sedari tadi dipegangnya.


Tak lama kemudian terdengar pengumuman yang menandakan pesawat yang ditumpangi Lashira akan segera berangkat. Lashira pun beranjak dari duduknya dan berpamitan kepada Kelvin.


Dengan sedih Kelvin melepas kepergian wanita yang dicintainya. Mau tak mau Kelvin harus menerima kenyataan bahwasanya dia tetap tak bisa memiliki cinta Lashira walaupun kini Lashira telah memutuskan berpisah dengan Arjun.


"Kamu harus sering - sering mengunjungi ku Kelvin." Ucap Lashira dari kejauhan sambil melambaikan tangannya.


"Tentu saja, aku akan selalu merindukanmu." Sahut Kelvin.


Selepas kepergian Lashira, Kelvin pun pergi meninggalkan tempat itu dan tanpa disengaja dia bertemu dengan Arjun yang berjalan berdampingan dengan Inem. Sebenarnya Kelvin enggan menemui mereka, tapi apalah daya disatu sisi Arjun adalah atasannya dan dengan terpaksa diapun menyapa Arjun.


"Bagaimana dengan Lashira?" Tanya Arjun.


"Apa maksudmu?"


"Bukankah sudah jelas?" Kelvin melirik Inem.


"Haishh aku akan ceritakan semuanya nanti setelah kepulanganku."


"Aku rasa tak perlu. Oh ya selamat ya atas pernikahan kalian." Kelvin menepuk pelan bahu Arjun dan lalu berjalan pergi menuju pintu keluar. Sedang Arjun hanya terdiam memandangi kepergian Kelvin.


...****************...


Di kediaman Dirgantara, karna dirasa sudah tidak ada urusan lagi mbok Nah dan suaminya kini sedang bersiap - siap untuk kembali ke kampung halamannya. Sebenarnya Inem menyuruh mereka untuk tetap tinggal bersamanya dan Selly pun menyetujuinya, namun mbok Nah bersikekeh untuk pulang dengan berdalih dia harus menjaga dan merawat peninggalan majikannya diJogja. Dengan pertimbangan itulah Inem membolehkan mbok Nah untuk kembali.


Setelah persiapannya selesai, mbok Nah beserta suaminya pun berpamitan kepada sang pemilik rumah.


Diperjalanan saat berhenti di lampu merah mereka berdua tak sengaja bertemu dengan Bimo dan Rico yang berboncengan naik sepeda motor, juga sedang menunggu lampu hijau.


"Den Bimo." Celetuk mbok Nah.


Tejo yang mendengar mbok Nah lalu mengalihkan pandangannya ke arah pandangan yang dituju istrinya tersebut dan saat melihat Bimo, dia malah spontan memanggilnya.


"Ladalhah,,, kok malah dipanggil to pak?" Ucap mbok Nah seraya menepuk lengan suaminya.


"Weleh wes kebacut buk, emange kenopo to wong cuma manggil tok?"

__ADS_1


( Waduh sudah terlanjur bu, emangnya kenapa sih kan cuma memanggil saja? )


"Nanti kalo dia tanya - tanya soal non Inem gimana? Lagian kok den Bimo bisa kesini gimana ceritanya ya?"


"Hallah embuh buk, nek aden takon yo angger dijawab wae to buk, ngono wae kok bingung."


( Hallah entahlah bu, kalau aden tanya ya asal dijawab saja lah bu, gitu aja kok bingung. )


"Hih,,,. dasar semprul." Gereget mbok Nah sembari mencubit pinggang suaminya.


Mendengar namanya dipanggil, Bimo pun menoleh ke sumber suara. Disana dia melihat mbok Nah yang sedang duduk didalam mobil dengan kaca pintu yang terbuka. Itu karna mbok Nah tak tahan dengan AC jadi dia lebih memilih menurunkan kacanya.


Bimo lantas turun dan menghampiri mobil yang ditumpangi mbok Nah.


"Mbok Nah, pak Tejo ada disini juga?" Sapa Bimo.


"He,,, iya den." Jawab mbok Nah sambil memasang senyum begitu juga dengan pak Tejo.


"Nanti ikutin saya ya mbok, saya mau bicara!"


"Eh iya den iya." Sahut mbok Nah.


"Ya sudah saya balik ke Rico ya keburu lampu hijau nanti malah saya ditinggal." Gurau ringan Bimo.


"Injih den monggo!" Sahut mbok Nah yang sambil mengangguk dan mengacungkan jari kempolnya kearah depan.


( Iya den silahkan! )


"Pak nanti ikutin saya ya pak!" Ucap Bimo kepada supir yang mengantarkan mbok Nah.


"Ok mas siap!"


Setelah itu Bimo lalu kembali dan naik lagi diatas motor.


"Dari mana sih? untung masih merah tuh lampu, kalo dah hijau aku tinggal kamu." Celoteh Rico yang sedang memegang stang motor.


"Udah diem ntar berhenti aja diwarung depan ya!"


"Mau ngapain? Dah laper lagi yo? Kan barusan kita makan Bim. "


"Hih banyak nanya, udah nurut aja kenapa sih?"


"Iya,,, iya,,, cowok ganteng nurut nih."


"Hik ilih ganteng apanya, pendek iya,,, ?" Goda Bimo sambil ketawa.


"Asem,,, " Sahut Rico sambil merengut.


...🌸 Bersambung 🌸...

__ADS_1


__ADS_2