
...🌸 Happy Reading 🌸...
Melihat penolakan Inem yang diacuhkan Arjun, seketika membuat Vian menggapai tangan Inem dan mempertahankannya.
"Kalau orangnya nggak mau ya jangan dipaksa bang." Sahut Vian menegur Arjun.
"Jangan ikut campur urusanku?" Kini tatapan Arjun pindah ke arah Vian.
Arjun kembali menarik Inem dan Vian pun tak melepaskan tangannya dari Inem.
"Apa maumu?" Tanya arjun.
"Biarkan dia dengan kemauannya sendiri!" Ucap Vian.
"Terserah aku, karna aku suaminya." Kata Arjun.
Jelas sekali Vian ingin membalas perkataan Arjun, namun Inem terlebih dahulu bertindak. Tentu saja alasannya Inem tak ingin terjadi pertengkaran antara kakak beradik.
"Sudahlah,,, ini sudah malam, sebaiknya kamu istirhat saja!" Ucap Inem sembari melepas tangan Vian dari tangannya.
Vian diam dan membiarkan Inem pergi bersama Arjun walau dalam hatinya dia tak rela. Namun dia harus bisa menerima kenyataan kalau memang Arjun lebih berhak atas diri Inem. Vian hanya mampu memandangi Inem yang digandeng Arjun sampai naik ke atas tangga dan lalu menghilang dari pandangannya.
Sesampainya di kamar, Arjun baru melepaskan gandengannya dan setelah lepas dari gandengannya, Inem lantas berjalan menuju sofa panjang yang terletak di salah satu sudut kamar. Sedang Arjun membaringkan tubuhya ke atas kasur.
"Kamu mau ngapain lagi itu?" Tanya Arjun saat melihat Inem menggelar lagi pekerjaannya di sofa.
"Mau makan,,, menurutmu kalau orang pegang beginian mau ngapain ha?" jawab Inem sembari menunjukkan perlengkapan kerjanya.
"Aku tahu kamu kerja maksudnya ini udah malem ngapain kerja lagi? Tidur gih,,,! Aku nggak mau kena marah mami karna kamu kerja terus." Jelas Arjun.
"Tapi ini bentar lagi selesai kok. Aku nggak mau kena marah boss besuk karna kerjaan yang dia berikan belum selesai.
"Haiss,,, aku bilang tidur ya tidur!"
Tak ingin dibantah, Arjun lantas berjalan mendekati Inem dan lalu merampas laptop beserta berkas lalu meletakkannya di atas meja dan tanpa bicara lagi, dia lalu menggandeng tangan Inem lagi dan membawanya ketempat tidur.
"Tidur,,,!" Perintah Arjun yang lalu naik ke atas kasur bersebelahan dengan Inem.
"Hah,,, maksudnya aku tidur disini? Bareng sama kamu?" Inem tercengang karna Arjun mengajaknya tidur dalam satu ranjang.
"Buruan tidur,,, ! Apa mau ku tidurin dulu baru kamu mau tidur ha?" Goda Arjun sembari mengangkat kedua alisnya.
__ADS_1
Mendengar perkataan Arjun dan melihat tingkahnya barusan tentu saja membuat Inem merasa terkejut. Bisa - bisanya dia melontarkan kata - kata yang menurut Inem sangatlah menggelikan itu.
"Dih bengek,,, nih orang kena sawan kali ya." Guman Inem dalam hati.
Tak di sangka bengongnya Inem itu malah menimbulkan keimutan diwajahnya yang polos dan hal itu membuat Arjun sontak menjadi gemas. Dia tak menyangka wajah Inem bisa semenarik itu sehingga tak terasa senyum kecil mengembang di wajahnya.
"Tunggu apalagi? Ayo tidur!" Ucap Arjun mengejutkan Inem hingga tersadar dari lamunannya.
"Ah iya,, aku akan tidur di sofa saja." Inem mengambil bantal dan guling untuk tidur di sofa.
"Berani melangkah maka kamu barani menanggung akibatnya." Ancam Arjun.
...Glek...
Sesaat Inem mengalami kesulitan menelan ludahnya. Perkataan Arjun seketika membuatnya berkidik. Apa yang sebenarnya Arjun pikirkan dan apa yang sedang dia rencanakan.
Melihat tatapan mata Arjun membuat Inem mengurungkan niatnya. Dia meletakkan kembali bantal yang tadi diambilnya ketempatnya semula dan juga meletakkan guling di tengah di antara Arjun dan dia.
"Apa ini?" Tanya Arjun setelah melihat letak dari guling Inem.
"Pembatas,,, kamu nggak boleh melewati ini! Inem mmberi perigatan kepada Arjun.
"Ya pokoknya nggak boleh." Inem menegaskan kembali ucapannya.
"Ini kamarku dan kamu itu istriku. Jadi aku bebas dong melakukan apapun yang aku mau. Termasuk juga denganmu." Lagi - lagi Arjun menggoda Inem dengan mengangkat sebelah alisnya.
Sontak Inem melebarkan kedua matanya dan menyilangkan kedua tangannya ke dada.
"Lakukanlah sesuka hatimu, tapi lakukan itu dalam mimpimu saja!" Inem berbaring dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
...☘️🎍☘️...
Pagi hari yang cerah tanpa mendung tanpa hujan. Sama seperti hari kemarin, Inem ikut pergi kekantor bersama Arjun. Kali ini mereka pergi berdua saja karna Vian ada keperluan di luar kantor. Namun saat mobil Arjun melintasi pintu gerbang, terlihat Bimo sudah berdiri menunggu di luar pagar yang menjulang tinggi dan saat melihat mobil Arjun keluar dia lalu berjalan menghadang laju mobil Arjun lagi.
"Tuh orang mau ngapain lagi sih?" Gerutu Arjun di dalam mobil.
Setelah mobil berhenti, Bimo mengetuk kaca pintu mobil yang disebelah Inem. Inem menoleh kepada Arjun dan sesaat kemudian Arjun membuka kaca pintu.
"Ada apa lagi?" Tanya Arjun.
"Bukan urusanmu." Sahut Bimo singkat.
__ADS_1
"Cihh,,, kalau begitu pergilah!" Ucap Arjun ketus.
Bimo tak memperdulikan ocehan Arjun, dia memamndang Inem yang duduk terdiam dan memberikan sebuah amplop beerwarna coklat dengan ukuran yang besar kepada Inem dan Inem menerimanya.
"Semua yang kau minta sudah beres dan berkas yang kamu butuhkan sudah ada didalam sini." Ucap Bimo sembari memberikan bawaannya.
Setelah meberikan amplop besar itu, Bimo lantas berbalik dan lalu pergi tanpa berkata lagi. Sikap dingin Bimo kali ini membuat Inem merasa bersalah, namun dia tak bisa berbuat apa - apa lagi.
Setelah kepergian Bimo, lantas Arjun menutup kaca kembali dan mulai melajukan mobilnya.
"Apa isi amplop itu dan apa yang sedang kalian rencanaan?" " Arjun bertanya dengan curiganya.
"Bukan apa - apa, jangan khawatir aku tak akan berbuat sesuatu yang akan merugikanmu ataupun keluargamu.
"Cihh,,, kalian berdus memang saja." Ucap Arjun yang lalu menambah kecepatan laju kendaraannya dan selama perjalanan mereka berdua larut dalam diam.
...☘️🎍☘️...
Ditempat lain masih diwaktu yang sama, Selly sedang berjalan memasuki sebuah kafe yang letaknya tak jauh dari pemukiman perkantoran. Disana dia menghampiri seorang gadis muda yang perpenampilan modis dan elegan.
"Ada apa ini? Kenapa mengajakku bertemu sepagi ini?" Sapa Selly.
"Eh tante sudah datang, selamat pagi tante,,," Gadis itu lalu berdiri dan menyalami tangan Selly yang kemudian dilanjutkan saling menempel pipi.
"Mari duduk tante,,, aku akan mmesankan sesuatu untukmu." Ucap gadis itu lagi.
"Tak perlu repot - repot, aku sudah sarapan di rumah tadi." Jawab Selly.
"Jangan begitu dong tante, ngobrol kalau nggak ada hidangannya kan kurang lengkap. Hmmm aku pesenin cemilan sama kopi ya! Kopi disini sangat enak lho." Ucap gadis itu lagi.
"Terserah kamu sajalah." Jawab Selly malas.
Mendengar tak ada penolakan dari Seely, lantas gadis itupun memanggil seorang pelayan dan lalu memesankan hidangan untuk Selly.
"Apa hal yang sebenarnya ingin kamu bicarakan?" Tanya Selly sesaat setelah kepergian pelayan kafe.
"Jangan terburu - buru tante, kita ngobrol santai aja dulu. Kita nikmati dulu suasana yang ada disini ya." Rayu lembut gadis itu dengan membelai tangan Selly.
"Tapi hari ini aku tak punya banyak waktu. Aku masih ada banyak jadwal." Sahut Selly yang rupanya nampak tak senang dengan pertemuan nya kali ini.
...🌸 Bersambung 🌸...
__ADS_1