
...๐ธ Happy Reading ๐ธ...
Kembali ke pov Inem.
Inem ingin sekali mengetahui apa penyebab pertengkaran kedua lelaki bersaudara itu karna ini adalah kali pertamanya dia melihat Arjun dan Vian bertengkar seserius itu. Dia ingin sekali mengintrogasi Vian namun dia berfikir lebih penting lagi melihat kondisi orang yang kini tengah berada diruang rawat.
Tak ingin buang waktu, Inem pun lalu membuka pintu ruangan dan masuk kedalam. Disana Selly sedang terbaring dengan kedua mata terpejam dan ada selang infus ditangan dan di hidungnya.
Melihat kondisi ibu mertuanya tersebut membuat Inem teringat akan mendiang ibunya kala dirumah sakit dan tanpa terasa air matanya pun mengalir membasahi kedua pipinya. Inem hanya berdiri terpaku, tubuhnya terasa gemeteran dan dingin hingga untuk melangkah saja sangat sulit baginya.
"Ya Tuhan,,, aku mohon kepada-Mu jangan Engkau ulangi lagi kejadian waktu itu!" Rintih Inem dalam hati menatap ibu mertuanya.
Cukup lama Inem berdiri tak bersuara. Dah seperti patung yang terpampang ditengah pusat kota. Tubuhnya kaku semua dan khayal nya menembus kenangan masa yang telah lalu. Masa yang ingin sekali dia hapus untuk selamanya.
Saat Inem terlarut dalam bayang - bayang masa lalu, tiba - tiba dia merasa ada sentuhan hangat dan lembut pada jemarinya. Sontak dia pun tersadar dan menatap ke arah samping dimana Vian sedang berdiri dan menatapnya sembari menggenggam tangan Inem.
Perlahan Vian menarik tangan Inem untuk mendekat ke tempat Selly berbaring. Disana sudah ada Angga yang tengah duduk di kursi yang berada disamping ranjang sembari menggenggam tangan Selly. Melihat kedatangan Inem, Angga lalu berdiri dan perlahan melepas genggamannya.
"Kamu sudah datang nak? Dimana Arjun? Kenapa kamu sendirian? Apa Arjun ada diluar?" Ucap Angga sembari celingukan mencari sosok anak sulungnya.
"Ma,,, maaf,,, Arjun sedang ada urusan dan mungkin terlambat kesini. Bagaimana keadaan mami pap? Apa yang sedang terjadi pada mami?"
"Entahlah,,, tadi pagi dia baik - baik saja dan pamit sama papi hendak berkunjung kerumah kalian. Tapi siang harinya, mami mengeluh kalau kepalanya pusing dan badannya terasa berat sekali. Papi lantas memyuruhnya istirahat, tapi sore tadi mami malah jatuh pingsan dan tak sadarkan diri sampai sekarang." Jelas Angga dengan nada yang sedih dan arah pandangan ke wajah sang istri.
Mendengar penjelasan dari Angga, Inem merasa bersalah. Mungkin ini gara - gara kejadian pagi tadi. Begitulah fikiran Inem.
...Tok,,, tok,,, tok,,,...
Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar dan setelah diijinkan masuk, pintu pun terbuka lalu masuklah seorang dokter dengan seorang perawat yang berjalan dibelakangnya.
"Selamat malam,,, apakah pasien sudah sadar?" Ucap dokter.
"Selamat malam dok,,, istri saya belum sadar dok. Bagaimana ini?" Jawab Angga.
__ADS_1
"Hmmm baiklah biar saya periksa dulu ya!" Ucap dokter meminta ijin.
"Silahkan dok."
Sang dokter pun memeriksa Selly setelah mendapat ijin dari Angga. Mulai dari mengecek detak jantung, kedua bola mata, selang infus dan juga selang oksigen.
"Bagaimana dok? Kenapa istri saya belum sadar juga?"
"Sabar ya,,, kita tunggu sampai besok. Kalau besok belum sadar juga maka kita akan melakukan tindakan lanjut."
"Tindakan seperti apa dok?" Tanya Angga yang semakin cemas setelah mendengar apa yang dikatakan dokter.
"Anda tenang saja dulu. Kita berdoa sama - sama ya biar semuanya baik - baik saja!"
"Baik dok.!
"Baiklah,,, kalau begitu saya permisi dulu ya. Kalau ada apa - apa langsung hubungi perawat dan anda juga jangan lupa istirahat yang cukup supaya tidak ikutan sakit!"
Pria berbaju putih itupun lalu pergi keluar dari ruangan beserta perawatnya. Kini suasana kembali sunyi,,, Angga menatap sedih dan cemas ke arah istrinya yang terbujur tak sadarkan diri. Inem pun merasa sedih melihat keadaan kedua mertuanya.
"Papi yang sabar ya,,, ! Mami pasti baik - baik aja!' Hibur Inem kepada Angga.
"Semoga saja. Oh ya,,, kamu udah makan belum?" Tanya Angga.
Inem diam dan hanya menggelengkan kepalanya.
"Vian,,, ajak Inem makan gih!"
"Inem mau disini aja pap, Inem mau jagain mami."
"Udah sana makan dulu,,, ntar abis makan kesini lagi jagain mami. Kita gantian oke!"
"Papi juga belum makan? Ya udah kalo gitu papi makan aja duluan. biar Inem yang disini dulu."
__ADS_1
"Kamu ini,,, udah sana pergi, ntar papi bungkusin aja ya!" Ujar Angga memaksa.
Terpaksa Inem pun menuruti apa yang diperintahkan Angga. Dia lalu pergi dengan Vian tinggalah Angga dan Selly yang ada diruangan tersebut.
Sementara itu di pov Arjun.
Diam - diam Arjun mengikuti mobil Kelvin. Dia menjaga jarak agar aksinya itu tak diketahui. Hingga tibalah mereka di parkiran apartemen Lashira. Arjun yang memarkirkan mobilnya jauh dari mobil Kelvin melihat Kelvin membukakan pintu mobil buat Lashira dan lalu menggendongnya lagi. Hal itu lagi - lagi memicu amarah Arjun. Dia tak menyangka keduanya tega mengabaikannya. Arjun lantas memutar balikkan mobilnya dan pergi. Ditengah perjalanan ponselnya berbunyi. Dia pun lalu mengambil benda pipih itu dari sakunya dan melihat tulisan yang tertera di layar. Melihat nama Inem yang muncul Arjun pun malas untuk mengangkat panggilan itu, tapi berhubung tuh ponsel bunyi terus akhirnya Arjun pun menggeser tanda telpon hijau keatas.
...Call on...
"๐ Heh cowok br3ng5 3k,,, kemana aja kamu? dah tau mami lagi di rumah sakit kamu malah gak nongol." Tanpa mengucap salam Inem langsung saja memaki Arjun.
"๐Berisik,,,,,, !!!"
...Call off...
Tanpa banyak bicara Arjun langsung menutup panggilan secara sepihak dan melemparkan ponselnya ke kursi sebelah kemudi. Rambut yang tadinya rapi dan klimis sekarang terlihat acak - acakan begitu juga dengan wajah tampan nan maskulin kini nampak kusut seperti baju dalam keranjang loundry. ( Sungguh menyedihkan ๐ฎโ๐จ๐ฎโ๐จ ) Sepertinya Arjun sedang depresi ini ๐.
Yuk pindah ke pov Inem lahi aja yuk ah.... pusing liat muka Arjun yang lagi semrawut.
Di sebuah tempat makan yang tak jauh dari rumah sakit, Inem dan Vian sedang duduk menunggu hidangan yang dipesannya. Sembari menunggu, Inem pun melakukan panggilan yang ternyata malah diputusin secara sepihak sebelum Inem menyelesaikan pembicaraannya. Tentu saja Inem kesal. Kalau saja tak memandang kedua mertuanya itu, Inem juga males menelpon Arjun.
"Diihhh kebiasaan, selalu saja seperti ini. Kapan insafnya ih nih orang?" Guman Inem geram.
"Kamu kok berani sekali sih ngomong kek tadi ma abang?" Tanya Vian yang terkejut mendengar kakaknya dikatain dengan kasar.
"Biasa aja,,, tuh orang ya,,, nggak bakalan sadar kalau kalemin. Dikasarin aja kelakuannya masih gitu kok. Ughhh nyebelin banget." Gerutu Inem sembari memanyunkan bibirnya.
"Buahaha kamu tuh lucu banget." Vian terbahak melihat mimik Inem yang sekarang ini yang menurutnya lucu.
"Diiihhh orang marah mana ada lucunya sih? Ngaco aja kamu!"
...๐ธ Bersambung ๐ธ...
__ADS_1