Inem Bukanlah Seorang Pelayan

Inem Bukanlah Seorang Pelayan
episode 59


__ADS_3

...🌸 Happy Reading 🌸...


Malam semakin larut dan Arjun malah semakin gusar padahal tubuhnya sangat lelah tapi kayaknya tubuhnya enggan untuk diistirahatkan. Setiap kali Arjun memejamkan matanya dia malah selalu terbayang adegannya bersama Inem. Masih lekat dalam benaknya betapa kenyalnya squishy milik Inem dan segitiga berenda yang hampir saja dibukanya. Mengingat hal itu membuat l! b! donya kembali muncul dan sesuatu yang berada dibawah sana perlahan bangkit dari tidurnya. Tak ingin si boy semakin tejaga, dia pun mencoba untuk terlelap. Arjun bergulang guling menyamakan posisi tidurnya, namun sepertinya usahanya benar-benar gagal total dan akhirnya dia memutuskan untuk bangkit dari tempat tidurnya dan lalu pergi keluar.


Sesampainya di lantai satu, Arjun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Semua ruangan nampak sepi dan remang - remang. itu karna semua lampu utama telah padam dan hanya ada beberapa lampu kecil yang menyala. Dilihatnya kamar Inem tertutup rapat. ya,,, sejak mereka menempati rumah itu mereka berdua tidur dikamar terpisah. Arjun pun lalu pergi ke ruang keluarga dan menyalakan televisi disana. Sungguh sial bagi Arjun, adegan yang sekarang ini muncul di layar itu adalah adegan romantis dimana ada sepasang kekasih yang sedang bercumbu memadu kasih. Tak ingin melihat adegan itu, dia pun langsung mengganti chanel televisinya. Entah nasibnya aja yang emang lagi sial, lagi - lagi muncul adegan yang serupa. Arjun pun menjadi kesal, dia lalu mematikan televisinya dan membuang remot ke sembarang tempat. Dia bangkit dari duduknya dan lalu kembali naik ke kamarnya sambil ngedumel nggak jelas.


...>🍀🎍🍀<...


Ditempat lain masih diwaktu yang sama. Bimo membuka pintu kamar dengan kasar hingga terjadi benturan antar pintu dengan dinding yang mengakibatkan terjadinya suara letupan yang keras.


...Brak,,,, (anggap aja itu suara pintunya ya 😅)...


Akibat dari suara keras itu, Rico yang sedang rebahan sambil bermain ponsel pun terperanjak karena terkejut. Dia langsung bangun dan duduk diatas kasur sambil menegur Bimo yang datang dengan raut wajah yang kusut bagai baju yang belum disetrika.


"Kamu ini kenapa sih Bim? Datang - datang bikin ulah. Dari mana aja kamu kok malem banget baru pulang?" Tanya Rico.


Bimo tak menjawab pertanyaan dari sahabatnya tersebut, dia hanya melirik Rico sekilas dan lalu menaruh tas nya dengan kasar diatas meja kemudian duduk di pinggiran tempat tidur sambil mengusap kasar rambut dah wajahnya.


"Kamu kenapa sih Bim?" Tanya Rico lagi dan lagi - lagi tak ada jawaban dari Bimo.


"Oh ya aku ada berita penting buat kamu." Ucap Rico sambil mengutak atik ponselnya. "Coba kamu lihat ini deh! Ini hasil penyelidikanku."


Rico memberikan ponselnya.


Dengan malas Bimo meraih ponsel Rico dan lalu melihat ke layarnya. Belum juga selesai Bimo menonton video yang dipitar Rico di ponselnya, Bimo lalu mengembalikannya kepada Rico dan kembali memasang muka kusut.


"Yang sabar ya Bim. Ini memang berat, tapi mau gimana lagi kenyataannya Inem telah menikah dengan orang lain." Ucap Rico sembari menepuk pelan bahu Bimo.

__ADS_1


Ternyata isi dari ponsel yang dilihat Bimo tadi adalah video pesta pernikahan Inem bersama Arjun.


"Aku udah tahu." Sahut Bimo datar sambil memghela nafas panjang.


"Hah,,, tahu dari mana?"


Perlahan Bimo menoleh ke arah Rico kemudian dia bercerita tentang kejadian di rumah InemInem dan Rico pun hanya mampu melongo mendengar semuanya.


...>🍀🎍🍀<...


Hari berikutnya, di pagi yang cerah ini secerah hati para readers ku tercinta. Arjun menjalani paginya seperti biasanya, bangun dan bersiap - siap kemudian keluar kamar sudah dalam keadaan rapi dan segar. Namun nampaknya hari ini berbeda dengan hari biasanya, kali ini dia berjalan agak cepat. Rupanya dia sedang tergesa-gesa karna pagi ini dia bangun kesiangan. Hal itu dikarenakan dia yang semalem susah tidur.


Sesampainya diruang makan, Arjun dikejutkan oleh keberadaan Vian yang tengah duduk di kursi makan sambil mengobrol santai dengan Inem sembari menyantap sarapan paginya. Melihat mereka ngobrol sekilas membuat Arjun iri akan suasana dimeja makan. Arjun berhenti sejenak dan mengamati keduanya. Dia berfikir kenapa di saat bersamanya susananya jauh berbeda jika dibandingkan saat bersama Vian.


Sedang asik bergelut dengan pikirannya, tiba - tiba terdengar suara panggil sehingga Arjun pun kembali tersadar dari lamunannya.


"Tumben jam segini baru bangun bang?" Sapa Vian yang menyadari kehadiran kakaknya.


"Kamu ngapain pagi-pagi begini sudah datang kesini?"


Kembali Arjun melangkahkan kakinya menuju meja makan dan bergabung dengan keduanya. dengan sigap Inem menyiapkan sarapan Arjun. Mengambilkan nasi beserta lauknya. Itu memang sudah biasa Inem lakukan semenjak dia tinggal dirumah mertuanya.


"Nggak sengaja lewat bang, eee pas lewat malah nyium aroma yang enak. Ya udah sekalian aja deh numpang sarapan." Jawab Vian santai sambil nyengir.


"Awas kena marah mami karna keluyuran pagi-pagi."


"Aman bang,,, udah ijin juga kok sama mami tadi."

__ADS_1


Sesaat setelah kedatangan Arjun, suasana diruangan itu pun berubah menjadi hening. Tak lagi sama seperti saat sebelum Arjun bergabung. Itu karna keduanya tahu kalau Arjun tak suka ada suara apapun disaat berada dimeja makan.


Setelah selesai makan, Inem membereskan peralatan makan yang kotor dan kemudian mencucinya. Tanpa disadarinya, mata Arjun sesekali melirik dan memperhatikan sikap dan penampilan Inem pagi itu. Arjun melihat wajah Inem yang sedikit pucat dan tangannya gemetar saat memegang benda. Ditambah lagi kali ini Inem memakai kaos dengan kerah yang menutupi leher serta memakai jaket untuk lapisan luarnya. Ini memang bukan gaya berpakaian Inem saat pergi ke kampus.


"Kamu kenapa? sakit?" Tanya Arjun kepada Inem.


"Nggak." Jawab Inem singkat tanpa menoleh Arjun.


"Lalu kenapa pake jaket seperti itu? Apa nggak gerah?" Tanya Arjun lagi.


"Pengen aja." Jawab Inem singkat lagi. Namun kali ini didalam benaknya, Inem mengumpat habis- habisan kepada Arjun.


"Gerah,,, gerah,,, dasar br3ngs3k kamu Arjun. Si@l,,, kalau saja kamu kemaren nggak melakukan hal itu dan meninggalkan bekas - bekas merah ini di leherku, aku nggak bakalan pake baju yang begini. Gerah banget tau,,, ahhh dasar Arjun si@lan semprul bengek ughhh nyebelin. Mulai detik ini aku harus lebih waspada lagi pasa sibr3ngsek ini." Umpat Inem dalam hati sembari mencuci piring.


Beberapa saat kemudian, ketiganya sudah berada diluar. Arjun masuk kedalam mobilnya begitu juga dengan Vian. Sedangkan Inem memilih berangkat dengan Vian.


"Lho kok malah disini?" Tegur Vian yang heran melihat Inem berada dikursi sebelah nya.


"He,,, aku nebeng ke kampus ya!"


"Haisttt mana bisa,,, ntar aku kena damprat sama abang noh."


"Udah tenang aja, itu urusanku, yuk brangkat!"


"Tapi,,, "


Belum sempat Vian menyelesaikan omongan nya, terdengar suara dari dalam tas Inem. Ternyata sumber suara itu berasal dari ponselnya. Inem lalu mengambil benda pipih itu dan menatap pada layarnya yang menyala. Tertulis jelas nama suaminya sedang memanggil. Namun Inem membiarkan saja dan malah memasukkan kembali ponselnya kedalam tas lalu menyuruh Vian untuk menjalankan mobilnya. Dengan berat hati Vian pun melaju dan melewati mobil kakaknya yang masih terdiam ditempat. Hal itu membuat Arjun geram, dia menutup panggilannya dan lalu melajukan mobilnya dengan kencang.

__ADS_1


"Si@l,,, berani - beraninya dia mengacuhkan ku. Awas saja kamu Inem,,, !!" Gerutunya dalam hati.


...🌸 Bersambung 🌸...


__ADS_2