Inem Bukanlah Seorang Pelayan

Inem Bukanlah Seorang Pelayan
episode 40


__ADS_3

...🌸 Happy Reading 🌸...


Hari mulai siang, teriknya matahari terasa menyengat seisi alam. Jam seperti ini biasanya orang - orang beristirahat dari penatnya pekerjaan, namun tidak dengan Arjun. Walau seisi kantor sepi tak berpenghuni dia tetap berada di ruangannya masih setia dengan beberapa berkas didepannya.


...Tok,,, tok,,, tok,,,...


Terdengar suara pintu diketuk dari luar.


"Masuk!" Jawab Arjun yang masih fokus dengan pekerjaannya.


...Ceklek...


Pintu yang tadinya tertutup kini perlahan terbuka dan munculah seorang laki - laki paruh baya dari balik pintu tersebut.


"Ini sudah saatnya istirahat, kamu kok masih sibuk aja." Ucap lelaki itu sembari memasuki ruangan.


Tak asing dengan suara tersebut, Arjun lantas menghentikan pekerjaannya dan lalu menatapnya.


"Masih banyak yang harus diselesaikan pap." Jawab Arjun.


Ternyata yang barusan datang adalah Angga, ayah Arjun.


"Sesibuk apapun jangan lupa makan. Ayo kita keluar makan bareng!" Ajak Angga.


"Duh gimana ya pap, soalnya ini harus selesai sekarang juga."


"Elah,,, kamu ini, berani - beraninya menolak ajakan papi."


"Bukan begitu pap, tapi ini kalau nggak selesai kan papi juga yang repot?"


"Haish,,, bisa aja kamu mengelak."


"Lagian papi tumben banget sih ngajakin Arjun keluar. Biasanya juga sibuk sendiri."


"Nih anak pinternya pasti nurun dari papi deh." Ucap Angga bangga.


"Dih papi kebiasaan. Papi buruan deh mau ngomongin apa ini sebenarnya?"


Angga mendekati Arjun dan lalu duduk dikursi depan meja kerja Arjun.


"Bagaimana hubunganmu dengan Inem?" Tanya Angga tanpa basa basi lagi.


Mendengar pertanyaan Angga membuat Arjun malas untuk membuka mulutnya. Dia lebih memilih kembali fokus kepada pekerjaannya daripada menanggapi pertanyaan dari Angga.


"Hei,,, papi bertanya padamu boy."


"Papi mending tanya soal yang lain aja deh!" Jawab Arjun tanpa mengalihkan pandangannya.


"Haish kau ini. Cobalah untuk menerima Inem. Papi yakin akan ada cinta diantara kalian."


Seketika Arjun menghentikan aktivitasnya, dia menarik nafas panjang dan perlahan menghembuskannya. Membenahi duduknya dan kembali menatap ayahnya.


"Pap,,, tolong jangan memaksa ku terus."


"Coba lakukan apa yang dikatakan mamimu. Nanti kamu akan tahu kalau yang kami lakukan ini untuk kebahagiaanmu." Ujar Angga.


"Kebahagiaan seperti apa yang papi maksud?" Kebahagiaanku atau kebahagiaan kalian?"


"Menurutmu?" Tanya Angga balik. Dia berhenti dan mendekati Arjun yang duduk di bangkunya. Dengan pelan dia menepuk pundak Arjun sambil berkata:

__ADS_1


"Jangan pernah menyia - nyiakan apa yang kamu punya nak! Karna apa yang kamu inginkan saat ini belum tentu lebih baik dari apa yang kamu punya sekarang ini. Jangan sampai kamu menyesalinya Arjun. Karna penyesalan nggak akan bisa mengembalikan waktu yang telah berlalu."


Setelah mengatakan hal itu, Angga pun melangkah keluar ruangan. Sedang Arjun hanya bisa diam dan menatap kepergian Angga. Disandarkan punggungnya dan mengusap rambutnya kebelakang sambil menutup mata dan menghela nafas.


...Drettt,,, drettt,,, drettt,,,...


Selang berapa lama ponsel yang berada di atas meja kerja Arjun bergetar. Diraihnya ponsel itu dan dilihatnya nama yang tertera dilayar. Setelah mengetahui siapa yang menghubunginya, diapun langsung menggeser tombol warna hijau dan lalu menempelkan ponselnya ke telinga.


Setelah selesai berbicara dia lalu menghubungi seseorang yang kontaknya sudah tercatat di ponselnya.


Tak seperti panggilannya sebelumnya. Panggilannya yang kedua lebih singkat dan cepat. Serta nada bicaranya pun tak seramah panggilannya yang pertama.


Setelah mengakhiri panggilannya dia lalu kembali fokus ke pekerjaan yang tadi sempat tertunda.


...****************...


Sore harinya dikampus masih di hari yang sama. Inem sedang berdiri sendiri di tempat yang teduh dekat dengan gerbang kampus. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang disana.


Dari kejauhan nampak Mutia sedang melaju dengan santai mengendarai sebuah sepeda motor kepunyaannya. Melihat Inem yang sendirian. Mutia pun menghentikan laju motornya tepat didepan Inem dan lalu membuka kaca helmnya.


"Jemputan mu belum datang?" Tanya Mutia.


Menanggapi pertanyaan sahabatnya tersebut, Inem menggelengkan kepalanya dan lalu berkata : "Hari ini aku pulang sendiri." Jawab Inem.


"Lhah,,, tumben, biasanya tuh jemputan nggak pernah absen?"


"Dia lagi ada acara."


"Oh,,, ya udah kalau gitu aku aja yang antar kamu pulang, gimana?"


"Beneran nih?"


"Dih,,, ternyata ada maunya. "


"He he he,,, ntar aku yang traktir deh." Jawab Mutia sambil cengengesan.


"Kebiasaan,,, tapi gimana ya? Aku pasti kena tegur kalau pulang terlambat. Lagian juga aku dah pesen taksi onlen."


"Lhah kan tinggal dibatalin aja tuh taksinya, trus kamu ijin aja ada tugas dadakan atau apalah gitu."


"Eh mana boleh seperti itu?"


"Boleh ajalah. Dah buruan deh ijin trus habis itu batalin taksinya!"


"Hmmm aku coba ijin dulu ya, ntar kalau aku dibolehin aku bisa ikut."


"Nah gitu dong."


Inem lalu dengan lihainya mengoperasikan ponsel yang sedari tada ada ditangannya. Setelah mendapatkan kontak yang diinginkannya, dia lalu menyentuh gambar telepon yang berwarna hijau.


Selang beberapa waktu panggilannya pun tersambung. Dengan nada ragu Inem mengutarakan niatnya kepada orang dibalik sambungannya tersebut. Yang tak lain adalah Arjun, suaminya. Meskipun Arjun tak pernah menganggapnya sekalipun namun Inem masih menghargai janji suci yang terucap waktu itu. Karna bagaimana pun Inem adalah seorang istri, jadi memang sewajarnya kalau dia harus meminta ijin terlebih dahulu.


Ini adalah pertama kalinya Inem meminta ijin untukpergi jalan - jalan bersama temannya. Karena sebelumnya dia tak pernah keluar sendirian. Itu dikarenakan Selly khawatir kalau terjadi apa - apa dengan menantunya.


...Call on...


"📞 Hallo." Jawab Arjun singkat.


"📞 Maaf kalau aku mengganggu, hari ini temanku ingin mentraktir ku makan. Bolehkah aku pergi dengannya?" Tanya Inem dengan gagu.

__ADS_1


"📞 Hmmm terserah."


"📞 Benarkah?" Tanya Inem seakan tak percaya dengan jawaban Arjun.


"📞 Iya."


"📞 Terima kasih."


...Call off...


Telponpun diputus Arjun begitu saja tanpa mengucapkan salam ataupun apalah - apalah.


Setelah mendapat ijin dari Arjun, Inem lantas naik ke motor Mutia. Disaat Mutia hendak memutar stang gas pada motornya, tiba - tiba ada yang meneriakinya dari arah belakang. Hingga membuat Inem menoleh ke arah sumber suara.


"Mau kemana?" Tanya Bimo yang menghentikan motornya disebelah motor Mutia.


"Mau jalan sama semut."


"Bonceng aku aja yuk!"


"Lhah kan itu dah ada Cocomber." Sahut Inem sambil menunjuk Rico yang duduk dibelakang Bimo.


"Cocomber biar sama Mutia aja!" Ucap Bimo.


"Dih,,, semena - mena tuh mulut." Celoteh Rico sembari memukul pelan helm Bimo dari belakang.


"Masa kita boncengan bertiga kan gak boleh Co." Sahut Bimo.


"Ya udah kalo gitu kamu aja yang sama Mutia biar cayang Inem sama mas Rico hehehe." Kata Rico sambil nyengir.


"Enak aja,,, buruan turun gih!" Ucap Bimo sembari menggoyang - goyangkan motornya hingga membuat Rico terpaksa menurut.


"Eh buset tega amat kamu Bim!" Gerutu Rico.


"Sayang yuk sini naik!" Ajak Bimo kepada Inem.


"Mut,,, nggak apa - apa kan?"


"Ya udah deh nggak apalah." jawab Mutia.


akhirnya keduanya pun saling bertukar tempat. Inem dengan Bimo sedang Rico dengan Mutia.


Dengan langkah malas Rico menghampiri Mutia yang masih duduk diatas motor sambil pegang stang.


"Minggir elah!"


"Apaan weh?"


"Kamu pindah kebelakang biar aku yang bawa nih motor."


"Enak aja,,, kamu tuh yang duduk dibelakang!"


"Lhah ngajak gelut nih bocah. Masa iya cowok yang duduk dibelakang?"


"Kalau nggak buruan naik, ku tinggal nih!" Kata Mutia yang sudah siap memutar gas motornya.


"Si@l,,, apes banget nasib ku hari ini!" Gerutu Rico.


Dengan memasang wajah yang muram akhirnya Rico pun naik ke motor dan lalu pergi bersama Inem yang dibonceng Bimo.

__ADS_1


...🌸 Bersambung 🌸...


__ADS_2