
...🌸 Happy Reading 🌸...
"Isshh ini pasti akal - akalannya Arjun. Ughhh,,, awas aja kamu Jun!"
Dengan perasaan kesal Inem meletakan secara kasar baju tersebut didekat wastafel.
"Eh tapi kalau nggak dipake,,, ya kali aku tidur pake handuk gini sih? Astaga,,, dah lah pake aja kali ya."
Setelah melalui beberapa pertimbangan akhirnya Inem pun memutuskan untuk memakai baju tersebut dan saat melihat bayangannya sendiri dicermin dia membelalakan kedua matanya serta menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya sendiri. Dia terkejut melihat tampilan tubuhnya yang terekspos karna baju itu.
"Oh no,,, kalau gini sih bisa jadi mangsa buaya aku." Guman Inem.
Dengan cepat Inem menyambar handuk yang dilapasnya tadi dan kemudian memakainya lagi lalu keluar dari kamar mandi.
"Nggak jadi ganti baju?" Tanya Arjun karna melihat Inem yang masih berpenampilan sama seperti saat masuk kedalam kamar mandi.
Inem tak menjawab pertanyaan Arjun, dia berjalan dengan cepat menuju tempat tidur. Menyibak selimut yang tertata rapi diatas tilam dan kemudian berbaring diatas ranjang membelakangi Arjun dengan tubuh berbalut selimut.
"Eh ada apa denganmu? Habis lihat setan ya?" Tanya Arjun yang menangkap tingkah aneh pada Inem.
"Nggak apa - apa." Jawab Inem tanpa menoleh Arjun. Inem menyelimuti semua tubuhnya termasuk kepalanya. Yang tersisa hanyalah bagian wajahnya saja.
Seketika wajahnya memerah karena mengingat bayangannya dicermin tadi dan semakin menenggelamkan wajahnya diguling.
"Bener nggak apa - apa?" Tanya Arjun lagi.
"He em." Jawab Inem dibalik selimut.
"Yakin?" Tanya Arjun menggoda.
"Haishh kamu ini bisa diem nggak sih!" Inem bangun dan menoleh Arjun yang masih saja sibuk dengan ponselnya.
"Aku capek, aku mau tidur." Ucap Inem lagi yang lantas membanting tubuhnya ketempat tidur dan saat dia hendak menarik selimutnya, Inem kembali terbangun dan menaruh guling tepat ditengah tempat tidur.
"Guling ini sebagai pembatas, jangan sampai kamu melewati pembatas ini! Inget itu baik - baik!" Ancam Inem dan lalu kembali berbaring dan membalut kembali tubuhnya dengan selimut.
"Dih,,, GR amat sih, siapa juga yang mau nyebrang." Guman Arjun.
Sesaat keadaan menjadi sunyi, Arjun masih asik dengan ponselnya sedang Inem sudah bersiap untuk tidur.
Baru juga sebentar Inem memejamkan matanya, tiba - tiba dia teringat perkataan ibu mertuanya pas ditelpon tadi. Diapun kembali membuka matanya dan membalikan tubuhnya menghadap Arjun.
__ADS_1
"Oh ya,,, tadi mami telpon aku. "
"Hmmm,,,. " Jawab Arjun singkat dia meraih minuman yang tadi diletakkan nya di atas nakas samping tempat tidur.
"Dia suruh aku untuk ingetin kamu. Katanya jangan lupa sama pesenan mami."
Mendengar ucapan Inem, membuat Arjun tersedak karna pasalnya Arjun sedang minum saat Inem berbicara.
"Dih sampai segitunya reaksi kamu, emang mami pesen apaan sih ke kamu?"
"Emangnya mami nggak bilang ke kamu?" Tanya Arjun balik sembari mengeringkan bibirnya yang basah karna minuman dan menoleh ke arah Inem. Sedang Inem hanya menggelengkan kepalanya merespon pertanyaan darinya.
"Beneran mami nggak bilang?" Tanya Arjun lagi.
Lagi - lagi Inem menggelengkan kepalanya pertanda dia benar - benar tak tahu menahu tentang apa pesan dari Selly.
Perlahan Arjun menghela nafas dan meletakkan gelas yang sedari tadi dipegangnya ketempat dimana dia mengambilnya.
"Mami pesen apa sih? Oh mungkin mami pesen kamu jangan jahatin aku lagi kan?"
Inem mulai menebak dan sekarang giliran Arjun lah yang menggelengkan kepalanya.
"Ihh salah ya, trus apaan dong?"
"He em. " Inem pun kini menganggukan kepalanya karna penasaran.
"Sebaiknya kamu nggak usah tahu aja lah. Dah tidur gih,,,! Aku juga ngantuk mau tidur. Ingat,,, jangan sampai melewati batas!" Ucap Arjun sambil meletakan ponselnya disebelah gelasnya.
Kini Arjun juga merebahkan tubuhnya membelakangi Inem. Sama halnya Inem Arjun juga membalut tubuhnya dengan selimut namun hanya sebatas dada saja.
Merasa dicuekin, dengan kesal Inem meraih guling yang tadinya dibuat sebagai pembatas dan lalu memukulkan nya ke punggung Arjun.
"Ihhh dasar aneh nyebelin." Gerutunya.
Menerima serangan dadakan dari Inem, sontak Arjun beranjak dari tidurnya dan melemparkan tatapan tajam kepada Inem.
"Kamu ini apa - apaan sih?" Ucap Arjun sembari melempar balik guling tersebut ke arah Inem dan tepat mengenai kepala Inem.
"Aduh,,, " Rintih Inem. "Siapa suruh nggak ngasih tahu malah tidur." Gerutu Inem lagi.
"Aku ngantuk aku mau tidur." Sahut Arjun yang lalu merebahkan tubuhnya lagi.
__ADS_1
Belum sempat badan Arjun menempel sepenuhnya di atas kasur, keburu Inem menariknya sehingga Arjun kembali terduduk.
"Ihh kasih tahu dulu napa sih!"
"Haishh kau ini ngganggu orang mau tidur aja!" Arjun melepas paksa tangan Inem yang memegang lengannya.
Tangan Inem pun terhempas begitu saja yang mengakibatkan handuk kimono Inem bagian atas terbuka sedikit sehingga mengekspos bagian bahunya dan nampak lah seutas tali berwarna rose gold menghiasi bahu Inem.
Melihat pemandangan itu lagi - lagi Arjun kesusahan menelan salivananya. Pasalnya dia tau jelas benda apa yang dilihatnya itu. Tak ingin pikirannya ber traveloka lagi, diapun secepatnya memalingkan wajahnya.
Menyadari arah pandangan Arjun, inem pun lantas membenahi kimono nya. Dia pun tertunduk dengan muka yang memerah.
"Mami minta cucu dari kita." Ucap Arjun tiba - tiba.
"Hah,,, cucu?" Sontak Inem terkejut mendengar ucapan Arjun.
"Kamu nggak tuli kan?" Ucap Arjun sembari menyentil pelan dahi Inem.
"Aduh sakit." Inem mengaduh, tangannya mengusap jidad yang baru saja disentil Arjun.
"Sebenarnya waktu awal kita nikah mami udah pernah bilang seperti itu, aku nggak nyangka mami juga bilang ke kamu." Inem pun menceritakan dikala Selly meminta Inem untuk segera mempunyai keturunan dari Arjun.
"Lantas?" Tanya Arjun menanggapi cerita Inem.
"Lantas apa?" Tanya Inem balik.
"Apa kita tidak perlu pembatas ini lagi?" Tanya Arjun yang lalu mengangkat guling yang tadi dipakai sebagai pembatas ditengah kasur.
"Heh Arjun, apa maksudmu berkata demikian? Guling ini akan tetap berada disini!" Inem melebarkan kedua matanya dan menyambar guling tersebut lalu meletakan kembali pada tempatnya semula.
"Haishh,,, gimana mau ada cucu kalau ada pembatas kayak gini?" Celoteh Arjun.
"Bikin aja sono ama guling!" Ucap Inem kesal yang lalu kembali membaringkan tubuhnya dan menutup nya dengan selimut.
"Mana bisa?. Emangnya guling bisa hamil?"
"Terserah,,, pokoknya aku nggak mau, jangan harap bisa menyentuhku!" Ucap Inem tanpa menoleh.
"Dasar Arjun bengek bin sedeng, seenaknya aja dia minta jatah sedangkan hatinya aja masih pada wanita lain. Ugghh sebel,,, sebel,,, sebel,,, !?" Gerutu Inem kesal sambil memukul - mukul bantalnya.
"Heh,,, dasar aneh aku cuma bercanda, mana mungkin aku bisa melakukannya padamu." Sahut Arjun yang juga ikut berbaring dan menarik selimutnya.
__ADS_1
Kini mereka berduapin tidur dengan posisi saling membelakangi satu sama lain.
...🌸 Bersambung 🌸...