
...🌸 Happy reading 🌸...
Suara Ayu pelan. Nafasnya nampak tersengal - sengal. Dia juga merasakan denyut jantungnya mulai melemah.
"Selly,,, waktuku sudah tidak lama lagi. Maukah kamu memanggilkan Inem!" Pinta Ayu.
"Ba,,, baiklah tunggu sebentar."
Sellypun beranjak melangkah menuju pintu dan tak lama kemudian Inem ikut masuk kembali bersamanya.
"Bunda,,, bunda baik - baik saja kan?"
Inem kembali duduk didekat Ayu dan Ayu memaksakan diri melepas senyum kepada anak perempuan semata wayangnya itu.
"Arjun! Mami mau bicara!"
Selly mengajak Arjun kesalah satu sudut dalam ruangan itu dan menjauh dari tempat Ayu berbaring.
"Arjun,,, kamu harus mau menikah dengan Inem."
"Nggak mam,,, Arjun nggak mau. Arjun akan menikah dengan orang yang Arjun cintai."
"Lama - lama juga kamu akan mencintai Inem."
"Nggak,,, Arjun tetap menolak."
"Arjun,,, dengarkan mami."
"Nggak ada yang harus didengerin mam. Lagian kenapa harus Arjun? Bukankah tadi ibunya sudah bilang tidak menikah juga tidak apa - apa? Mami kan bisa angkat dia jadi anak tuh? Beres kan? dan nggak menyusahkanku juga."
"Ketahuilah nak! Kalau bukan karna kamu, mungkin sekarang Inem masih punya keluarga yang utuh."
"Apa maksud mami karna aku?"
"Ya,,, kejadiannya sudah lama sekali. Waktu itu kamu masih berusia 5 thn. Kita dan keluarga Ayu sedang pergi untuk perjalanan. Namun ditengah perjalanan,,, terjadi kecelakaan. Kita semua selamat hanya saja,,,, "
__ADS_1
Selly menghentikan ceritanya. Dia menangis mengingat kejadian itu. Tiba - tiba saja hatinya kembali merasakan rasa sakit yang terdahulu.
"Hanya apa mam?" Tanya Arjun penasaran.
"Semua orang memang selamat, namun tidak denganmu. Waktu itu kamu terjepit dan ayahnya Inem lah yang berusaha menyelamatkanmu hingga akhirnya nyawanya sendiri yang menjadi taruhannya. Mobil kami meledak sesaat setelah dia menyelamatkanmu. Dia terkena pletikan benda keras dari ledakan itu dan lukanya sangat parah. Kami sempat membawanya kerumah sakit namun nyawanya tak bisa tertolong."
Angga melanjutkan cerita Selly yang terputus.
"Dan waktu itu Ayu sedang mengandung Inem. Ayu sangat terguncang dan sejak itu dia menjadi sakit - sakitan. Kami sudah berusaha membantunya namun seperti yang kamu ketahui. Dia malah menghindar hanya karna tidak ingin merepotkan kami." Lanjut Angga lagi.
"Tapi mengapa harus menikah,,,?"
"Mami nggak mau tau pokonya kamu harus menikah dengan Inem. Lagian kamu kan belum punya pacar dan sudah saatnya juga kamu menikah."
"Sudahlah,,, turuti saja apa kata mamimu!" Angga menepuk pelan pundak anaknya.
"Bunda,,, bunda jangan ngomong seperti itu,,, bunda jangan tinggalin Inem, Inem nggak mau bunda."
Tiba - tiba terdengar suara Inem histeris sambil memeluk Ayu. Selly dan Angga bergegas menghampiri Inem yang sedang menangis disamping ibunya.
"Bunda,,, bunda,,, bangun!" Inem menagis tak henti.
"Segera hubungi dokter Pap!" Sahut Selly panik.
Angga pun memencet tombol berwarna merah yang ada disamping tempat tidur Ayu. Inem menagis sejadi - jadinya dalam pelukan ibunya sedangkan Arjun, dia terdiam terpaku hanyut dalam fikirannya.
Tak lama kemudian, dokter dan perawat datang. Semua orang disuruhnya keluar tak terkecuali.
Lagi - lagi Inem panik dan menangis. Hatinya benar - benar kacau. Melihat keadaan ibunya kali ini dia benar -benar takut kehilangan ibunya.
cukup lama dokter dan perawat itu berada didalam ruangan tanpa kabar. Entah apa yang telah terjadi didalam, namun Inem tak berhenti memanjatkan doa untuk ibunya tercinta.
Untung ada Selly yang sedari tadi memeluknya. Kehadiran Selly cukup membantu membuatnya tenang. Setidaknya disaat seperti ini Inem tak lagi merasa sendirian.
"Kenapa dokternya lama sekali?" Tanya Inem tak sabar menanti kabar.
__ADS_1
"Sabar ya sayang,,, dokter pasti melakukan yang terbaik buat bundamu. Kita berdoa saja ya!" Hibur Selly.
"Iya non, ndoro pasti bisa melalui ini semua." Sahut mbok Nah.
"Tapi kok perasaanku saat ini berbeda ya. Aku sungguh takut."
"Sabar ya non,,, sabar!" Mbok Nah pun ikut menitikan air mata.
Selang berapa waktu, akhirnya dokter pun keluar dari ruangan itu. Dengan langkah cepat Inem menghampirinya.
"Bagaimana dengan bunda dok?"
"Hanya keajaiban Tuhan lah yang bisa membantu." Jawab dokter.
"Oh,,, bunda,,, " Air mata Inem semakin deras mengalir.
"Temuilah bunda sekarang!"
Semua orang berdondong masuk termasuk juga sang dokter.
Tubuh Ayu lemah terkulai. tatapannya tertuju kepada Inem anak gadis satu - satunya. Inem kembali bersimpuh dipelukan ibunya sambil terisak.
"Ikhlaskan bunda pergi ya nak!" Tangan rapuh Ayu mengusap pelan kepala Inem.
"Selly, Angga,,, aku percayakan Inem pada kalian!"
Selly terdiam dan menangis, begitu juga Angga.
"Maafkan bunda ya nak! Bunda tidak bisa mendampingimu. Bahkan sampai tidak bisa melihatmu menjadi seorang pengantin."
"Bunda jangan bilang begitu,,,, !"
"Bisa Ayu,,, kamu bisa melihatnya. Kita lakukan pernikahan sekarang juga! " Sahut Angga.
...🌸 Bersambung 🌸...
__ADS_1