Inem Bukanlah Seorang Pelayan

Inem Bukanlah Seorang Pelayan
episode 44


__ADS_3

...🌸 Happy Reading 🌸...


Sejenak Kelvin terdiam tenggelam dalam pikirannya. Bagaimana mungkin Arjun bisa menikahi gadis lain sedangkan dia sangat mencintai Lashira begitu juga sebaliknya.


'Hei nak Kelvin kok malah bengong sih?' panggilan Selly membuyarkan lamunan Kelvin.


"Eh nggak tan, saya hanya nggak habis pikir aja. kenapa Arjun nggak memberitahukan saya kalau dia sudah menikah. Saya kan aspri nya. "


"Oh mungkin belum sempat aja. kalau begitu ntar kamu datang ya ke acara resepsiannya!"


"Oh ya tentu saja, kapan itu?"


"Minggu depan di gedung xXx."


"Lhoh bukannya acaranya masih dua bulan lagi ya mam?" Spontan tanya Inem yang terkejut akan jawaban Selly.


"Ada acara penting lainnya dihari itu yang nggak bisa ditunda. Jadi mami sama papi memutuskan untuk mempercepat acara kalian saja. Oh ya,,, Arjun belum tahu tentang hal ini. Nanti kamu yang kasih tahu dia ya!" Ucap Selly.


"Iya mam baiklah." Inem pun menggangguk, namun didalam hati dia bertanya - tanya mengapa acaranya dipercepat, padahal dia udah ada rencana untuk menggagalkannya demi bisa bersama lagi dengan kekasihnya dan sekarang apa bisa dia melancarkan rencananya itu.


"Nak Kelvin jangan sampai lupa datang ya!"


"Iya tante saya pasti datang!"


"Baiklah kalau begitu tante pergi dulu ya, masih banyak urusan."


"Oh iya tante hati - hati dijalan ya!" Kelvin memberi salam kepada Selly.


"Dan selamat atas pernikahannya!" Ucap Kelvin saat memberi salam kepada Inem.


"Terima kasih." Sahut Inem.


Keduanya pun pergi dari tempat itu. Sedang Kelvin, dia masih berdiri ditempatnya sambil memandang kepergian Selly dan Inem.


Berita besar yang sangat mengejutkan ini membuat Kelvin merasa senang. Senang karna dengan begini nggak akan ada penghalang lagi diantara hubungan dia dan Lashira.


Sekilas terbesit sebuah ide bagaimana caranya untuk memberitahukan hal ini kepada Lashira. Dia akan melakukan sedikit permainan dengannya. Dia akan membuat Lashira membenci Arjun dan berbalik padanya.


"Tunggu saja sampai kamu mengetahui bahwa lelaki yang kamu cintai saat ini adalah seorang penghianat sayang,,, dan disaat itu pulalah kamu akan datang dan bersimpuh padaku." Ucap Kelvin dengan senyum smirk.


...****************...


Sementara itu ditempat lain dan masih diwaktu yang sama. Bimo. sedang bepergian bersama Rico dan tanpa sengaja dia melihat Arjun sedang makan berdua bersama Lashira dengan mesranya.

__ADS_1


"Bukankah itu lelaki yang menarik Inem waktu itu? Dengan siapa dia disana? Apakah itu kekasihnya seperti apa yang dikatakan Inem waktu itu? Bearti Inem memang tidak bohong padaku." Guman Bimo dalam hati.


Melihat temannya terdiam, Rico lantas menepuk bahu Bimo hingga dia tersadar.


"Kamu ini lagi liatin apa sih Bim?" Tanya Rico yang mencari fokus titik pandang Bimo.


"Kamun liat dua orang yang disana deh!" Ucap Bimo sambil menunjuk karena tempat mereka sekarang ini cukup jauh dari tempat Arjun.


"Kenapa emangnya? Kamu kenal dengan mereka?" Sahut Rico yang mengikuti arah tunjuk Bimo.


"Nggak sih, cuman pernah liat aja. Coba kamu perhatikan! Kalau menurut kamu, apa hubungan mereka berdua?"


"Hmmm,,,, kalau dilihat dari gerak - geriknya sih kek sepasang kekasih gitu, tapi entahlah. Lagian kamu ngapain sih ngelihatin orang nggak jelas kek gini?"


"Sepasang kekasih ya,,, bearti apa yang dikatakan Inem itu benar." Guman Bimo seraya melihat arah Arjun dan tangannya mengusap dagunya.


"Kamu ngomong apa lagi sih Bim?"


"Nggak,,, nggak apa - apa, yuk jalan lagi!"


Mereka pun pergi meninggalkan tempat itu.


...****************...


Karna penasaran, Arjun pun perlahan mendekatinya. Sesuai dugaannya, pintu kamar yang menuju balkon tersebut kini sedang terbuka. Arjun lalu menutup pintu itu, namun saat dia hendak menutupnya dilihatnya Inem sedang berdiri menatap ke arah luar sendirian.


Kedatangan Arjun tak disadari oleh Inem. Mungkin karna saat ini fikiran dan hatinya sedang tak lagi berada di raganya. Arjun yang kini tengah berdiri tepat disampingnya dan menghadap kedalam ruang kamarnya bisa dengan jelas melihat kesedihan diwajah Inem.


"Ngapain kamu sendirian disini? Ini sudah malem banget!" Ucap Arjun.


"Eh,,, kamu kapan ada disini?" Tanya Inem yang kaget akan kedatangan Arjun.


"Dari setahun yang lalu."


"Dih,,, ngaco."


"Kenapa menangis?"


"Sok tahu, siapa juga yang nangis. Aku nggak nangis kok." Jawab Inem sambil memalingkan mukanya dan menghapus air mata yang tersisa.


"Nggak nangis kok basah."


"Hah,,, kelihatan banget ya!"

__ADS_1


"Orang buta juga bisa lihat kalau kamu lagi nangis."


"Kalau orang buta bisa lihat dah pasti kiamat lah. Dasar aneh." Sahut Inem kesal.


"Kamu tuh yang aneh, tengah malam gini nangis sendiri di balkon." Elak Arjun karna habis dikatain aneh.


Inem kembali mengalihkan pandangan nya lurus kedepan menatap langit gelap dan menghela nafas panjang.


"Aku kangen bunda." Ucap Inem.


Kini Arjun juga membalikkan tubuhnya menghadap ke arah yang sama seperti Inem.


"Begitu dekatkah kamu dengan bundamu?"


Cukup lama Inem terdiam tak menanggapi pertanyaan yang dilontarkan pria yang kini sedang berdiri disampingnya.


"Sekian lamanya kami hidup hanya berdua. Aku tak punya ayah, kakak ataupun adik. Sering kali aku bertanya kepada Tuhan, kenapa Tuhan mengambil ayahku hingga aku tak bisa melihat ataupun merasakan kasih sayang seorang ayah. Aku selalu iri saat melihat teman atau orang sekitar yang bisa menggandeng dan memeluk ayahnya dan sekarang,,, tak hanya ayah, kini aku juga tak bisa memeluk bundaku."


Air mata kembali mengalir dipipi Inem. Sekilas dia teringat kenangan bersama ibunya. Dia menundukan kepalanya karna tak ingin Arjun melihatnya disaat seperti ini.


"Percayalah ayah dan bundamu pasti sudah bahagia disana, ikhlaskan saja mereka! Kalau mereka melihatmu seperti ini mereka pasti ikut bersedih." Hibur Arjun.


Perkataan Arjun sama sekali tak digubris oleh Inem. Itu terlihat saat Inem tak bergeming dari posisinya. Namun sesaat kemudian, Inem mengangkat kepalanya sambil menghapus air matanya dan tersenyum kepada Arjun.


"Makasih ya!"


Seketika Arjun terpesona melihat senyum diwajah Inem. Senyum tulus yang meluluhkan dan menghangatkan hati.


"Kalau boleh tahu apa sebab kematian ayahmu? " Arjun memberanikan diri bertanya.


"Ayah meninggal disaat aku masih dalam kandungan. Bunda bilang, ayah mengalami kecelakaan mobil."


Mendengar cerita Inem, Arjun merasa bersalah karna kalau bukan demi menyelamatkan dia, ayah Inem pasti sekarang ini masih hidup dan kalau bukan karna pengorbanan ayah Inem, dia pasti tak akan bisa seperti sekarang ini.


Kini giliran Arjun yang termenung larut dalam rasa bersalahnya. Cukup lama dia terdiam tak bersuara hingga Inem merasa ada yang nggak baik dari Arjun.


"Hei,,, kenapa kamu diam saja?" Tanya Inem yang menyadari diamnya Arjun.


"Apa kamu sedang sakit?" Tanyanya lagi.


"Maaf,,, maafkan aku!" Ucap Arjun lirih yang tersadar dari lamunanya.


"Maaf? Kenapa kamu minta maaf?"

__ADS_1


...🌸 Bersambung 🌸...


__ADS_2