
...🌸Happy Reading 🌸...
Pagi yang sama di kota Djogja, tak jauh beda dengan kota - kota besar lainnya, Djogja pun tak kalah ramai dan padatnya. Apalagi ini adalah hari libur, sudah pasti banyak pelancong yang lalu lalang baik dari dalam maupun luar kota bahkan banyak juga yang datang dari luar negeri. Tak heran kalau disana terdapat banyak bule yang berplesira ketempat wisata.
Pagi itu Bimo bersama Rico pergi kerumah Inem. Mereka berencana mencari informasi tentang keberadaan Inem saat ini. Lebih tepatnya alamat tempat tinggal Inem. Sebenarnya ini adalah usaha Bimo yang kesekian kalinya dan kesekian kalinya pulalah dia gagal. Namun dia tak pernah menyerah. Mungkin karena rasa cinta dan rindunya yang mendalam kepada kekasihnya itu hingga Bimo enggan untuk menyerah begitu saja. Dia akan selalu berusaha dan berusaha hingga tujuannya tercapai.
Bimo memarkirkan motor sportnya di pelataran rumah yang cukup luas. Rumah yang besar bergaya kuno dengan ornamen - ornamen yang terbuat dari kayu jati asli itu nampak sepi tak bertuan. Bimo langsung saja mengetuk sebuah pintu yang berukuran lumayan besar. Beberapa kali dia mengetuk pintu itu, namun sama sekali tidak ada jawaban dari dalam. Hingga akhirnya Bimo putus asa dan memutuskan untuk kembali lagi dilain waktu.
Namun di saat Bimo hendak melajukan motornya ke jalan, tiba - tiba saja ada seorang lelaki yang usianya cukup sepuh menegurnya hingga akhirnya Bimo menghentikan laju sepeda motornya.
"Den Bimo! " Teriak Tejo sambil berjalan menghampiri Bimo dan Rico.
"Eh pak Tejo. Kok sepi pak? Mbok Nah kemana?" Tanya Bimo sambil melepaskan pelindung kepalanya.
"Lagi kepasar den. Aden ada perlu apa? Nanti biar saya sampaikan! "
"Biasa lah pak, mau tanya kabar Inem." Jelas Bimo.
"Oh,,, baiklah nanti kalau dia sudah balik dari pasar saya tanyakan ya."
"Makasih ya pak. Maaf merepotkan."
"Nggak apa - apa den."
"Eh kamu nggak coba tanyain ke pak Tejo aja Bim?" Tanya Rico berbisik didekat telinga Bimo.
__ADS_1
"Pak Tejo mana tahu. Yang lebih tahu soal Inem kan mbok Nah." Jawab Bimo balas berbisik.
"Buju buseet,,, coba aja lah, siapa tau pak Tejo tempe. Eh tau maksudnya. Secara mereka kan suami istri." Bisik Rico lagi.
Bimo nampak berfikir sejenak mencerna omongan temannya.
"Hmmm ok lah, nggak ada salahnya dicoba. Selama ini aku nggak ada fikiran kesitu juga sih."
"Maaf pak, Boleh kita bicara sebentar!" Pinta Bimo kepada Tejo.
"Boleh den, mari kita ke post saja." Ajak Tejo kesebuah tempat disudut depan rumah Inem.
Mereka bertigapun jalan menuju post tempat Tejo berjaga. Bimo dan Rico duduk didepan post sedangkan Tejo masuk kedalam dan mengambil 3 buah cangkir dari dalam laci. Dengan lihai Tejo meracik kopi. Minuman yang memang menjadi kegemarannya itu dan lalu menyajikannya kepada kedua pemuda yang sudah menunggunya didepan.
( "Silahkan diminum !" ) Dalam artian bahasa Indonesia.
"Suwun pak, duh kok malah merepotkan saja." Ucap Bimo.
"Ndak apa - apa den, cuma kopi saja kok."
"Oh ya pak, Bimo boleh tanya sesuatu nggak?"
"Boleh den, mau tanya apa den?"
"Pak Tejo tau nggak gimana kabarnya Inem sekarang?"
__ADS_1
"Waduh kalau itu sih yang tau Inah den. Kalau saya ya nggak tau."
Sebenarnya Tejo tahu tentang keadaan Inem sekarang, namun Mbok Nah telah melarang Tejo untuk bicara soal majikannya itu kepada siapapun termasuk juga Bimo. Jadi Tejo lebih memilih bungkam daripada nantinya kena kartu merah dari istrinya.
Namun jauh dilubuk hati Tejo yang paling dalam, sesungguhnya dia merasa iba kepada Bimo. Melihat kegigihan pemuda itu selama ini yang pantang menyerah mencari keberadaan gadis yang disayanginya, membuat Tejo tersentuh dan ingin rasanya menyibak kenyataan yang selama ini disimpannya rapat - rapat.
"Hmmm gitu ya pak. Ya sudah mungkin lain kali saja Bimo tanyakan kepada mbok Nah."
Bimo bener - bener kecewa karena usahanya kali ini sudah dipastikan gagal lagi.
"Masa sih, pak Tejo nggak tau sama sekali? Masa iya mbok Nah nggak pernah cerita apa - apa gitu ke pak Tejo?" Celoteh Rico yang sedari tadi duduk nyimak.
"Iya den, yang saya tahu cuma Non Inem ikut sama keluarganya saja." Jelas Tejo.
"Itu keluarga darimana ya pak? Karena setahuku kan Inem nggak ada saudara. Bukannya bunda Ayu itu anak tunggal ya? Begitu juga dengan Ayahnya. Pak Tejo juga tau itu kan?" Tanya Rico lagi.
"Maaf den, saya sendiri juga tidak tau itu keluarga dari mana. Yang saya tahu ndoro memang berpesan agar non Inem ikut mereka."
"Jadi ini pesan dari bunda?" Bimo kembali membuka suara.
"Iya den."
Bimo kembali terdiam. Didalam hatinya dia bertanya. "Kenapa bunda berkehendak seperti itu dan siapa sebenarnya mereka? Apakah mereka benar - benar keluarnya? Lalu kenapa pula kamu sampai saat ini tidak bisa dihubungi. Oh Tuhan,,, aku harus bagaimana lagi?"
...🌸 Bersambung 🌸...
__ADS_1