
...🌸 Happy reading 🌸...
Plok,,, plok,,, plok,,,
Tiba-tiba terdengar suara tepukan tangan beberapa kali dan ternyata suara itu dihasilkan dari tangan Vian yang baru saja datang dan tak sengaja mendengar percakapan diantara kedua orang tuanya.
"Vian,,,, !" Ucap Selly terkejut seraya menoleh ke sumber suara.
"Good job mam, mami kenapa nggak jadi sutradara film aja sih? Keknya mami berbakat deh dan pasti filmnya bakalan booming mam." Perlahan Vian mendekati kedua orang tuanya yang kini sudah beranjak dari tempat duduknya.
"Eh hmmm itu,,,. Mmm anu,,, mami,,,, " Mendadak suara Selly sulit dikeluarkan bak air keran yang macet.
"Udah deh mam, kan Vian dah bilang mami jangan coba - coba jodohin Vian. Kesannya Vian nggak laku aja mam."
"Hmmm bukan begitu maksud mami sayang,,, hanya saja Fanny kan gadis yang cantik, baik dan juga bertalenta siapa sih yang nggak mau punya menantu seperti dia. Ya kan pap?" Ucap Selly seraya menoleh kearah Angga untuk minta persetujuannya namun Angga tak menjawab. Dia hanya menggidikan kedua bahunya dan mengangkat kedua telapak tangannya keatas.
"Kalau begitu papi aja yang nikah sama dia mam." Dengan entengnya Vian menanggapi ibunya karna dia merasa kesal akan rencana ibunya.
"Nah cakep, itu ide yang bagus. Anak pintar hehehe." Sahut Angga sembari mengacungkan jari telunjuknya ke arah Vian dan mengedipkan sebelah matanya.
"Ugghhh papi,,, " Ucap Selly menatap tajam kearah Angga serta memgacakkan kedua tangannya dipinggang.
"Bercanda mam elah, lagian yang bilang kan Vian bukan papi." Jawab Angga yang mengangkat dua jarinya membentuk huruf v sambil meringis.
"Awas aja kalau papi berani macem - macem sama mami." Selly melengus kesal melihat tingkah suaminya.
"Kalian silahkan saja lanjutkan dramanya! Vian mau kekamar dulu, capek!" Ucap Vian yang lalu berjalan hendak menuju tangga lantai atas dimana kamarnya berada.
"Vian tunggu!" Panggil Selly yang sembari menghampiri Vian yang berhenti.
"Setidaknya cobalah kamu mengenal Fanny terlebih dahulu. Mami yakin kalian pasti cocok kok!" Titah Selly.
"Stop mam,,, sekali nggak ya nggak. Vian nggak mau bernasib sama kayak bang Jun. Terpaksa menikah dengan orang yang tidak dicintai dan sekarang,,, mami lihat sendiri kan! Bagaimana pun upaya mami mendekatkan mereka berdua, toh hasilnya sama saja. Bukannya bahagia tapi mereka malah terjerat dan terbelenggu dalam suatu ikatan yang mereka tak kehendaki. Mami pernah mikirin perasaan mereka nggak sih? Dua orang yang tak saling cinta tapi harus hidup bersama. Sampai kapanpun mereka nggak bakalan merasakan kebahagiaan mam." Vian berucap tiada hentinya layaknya kereta yang melaju menyusuri rel.
__ADS_1
"Cukup Vian cukup!?" Suara Selly mulai meninggi satu oktav.
"Kamu nggak akan pernah bisa mengerti. Yang jelas mami lakukan ini demi kebaikan mereka dan kamu sebaiknya mendoakan mereka berdua bukan malah menggunakan mereka sebagai alasanmu untuk menolak perjodohanmu!" Lanjut Selly.
"Terserah mami sajalah, Vian mau istirahat, Vian capek." Ucap Vian yang lalu pergi meninggalkan ibunya yang terlihat masih ingin bicara dengannya.
"Vian dengerin mami dulu,,, Vian,,, !" Suara Selly berteriak memanggil Vian yang berlalu begitu saja.
Ucapan Selly sama sekali tak digubris oleh Vian. Dia malah mempercepat langkahnya menaiki anak tangga yang tertata rapi menuju lantai dua. Hal itu membuat Selly mendegus kesal karna dia merasa diabaikan oleh anaknya.
Melihat emosi Selly yang mulai mencuat, Angga pun mendekati istrinya dan mencoba meredam amarah Selly. Angga lalu mengusap dengan lembut kedua lengan bahu Selly dan berkata dengan pelan dan halus agar Selly mau membiarkan keadaan seperti ini dulu. Angga menyarankan untuk lebih fokus dulu ke hubungan Arjun dan Inem. Karna menurut Angga kalau bisa menyatukan Arjun dan Inem. Dengan begitu akan bisa membuktikan kepada Vian kalau kebahagian itu tetap akan datang walaupun awalnya tak saling kenal ataupun cinta.
Awal mulanya Selly menolak usulan suaminya. Namun setelah Angga meyakinkannya lagi Selly pun akhirnya mengerti dan menyetujuinya.
"Papi yakin itu akan berhasil? Mami nggak mau kehilangan peluang emas ini pap. Karna mami yakin Fanny itu calon yang terbaik buat Vian."
"Setidaknya kita sudah berusaha mam dan yang perlu diingat, terbaik buat kita belum tentu terbaik buat mereka. Biarkan semuanya berjalan mengikuti alurnya!"
"Papi laper mam, ayo kita makan saja atau,,,, mami mau dimakan?" Celoteh Angga menggoda istrinya.
"Ishh papi ih."
Cubitan kecil mendarat dengan mulus dipinggang Angga mewakili perasaan Selly saat ini yang telah membuat pipinya merona akibat tingkah suaminya.
...>🍀🎍🍀<...
Sementara itu di sisi lain dan masih dihari yang sama. Inem dan Bimo sedang daam perjalanan pulang. Nampak wajah Bimo sekarang lebih tenang jika dibandingkan saat pagi tadi. Mungkin itu karna dia telah menerima penjelasan dari Inem. Bahkan sekarang Bimo sudah mulai bisa bercanda lagi dengannya. Seperti pas di persimpangan jalan, sambil menunggu lampu merah berganti warna hijau Bimo mengatakan lelucon ringan dan hal itu sangat berhasil membuat Inem tertawa dengan riangnya.
Tanpa disadari ada sepasang bola mata yang sedang memperhatikan keduanya dari belakang. Dilihat dari sorot mata dan mimik wajahnya, sudah dapat dipastikan kalau orang itu sama sekali tidak suka dengan keceriaan dua sejoli itu. Orang itu mendengus kesal dan mencengkeram dengan kuat stir pengemudinya.
Bimo yang tak tau kalau sedang diamati seseorang, melajukan sepeda motornya dengan santai sambil berbincang dengan gadis yang dibonceng nya. Tiba di suatu jalanan yang sepi, tiba - tiba laju motor Bimo dihadang dan dihentikan paksa oleh sebuah mobil berjenis sedan mewah berwarna merah metalik.
Tentunya Bimo dibuat terkejut oleh tindakan ekstrim pengemudi mobil itu. Kalau saja Bimo tak cekatan menarik dan menginjak tuas rem mungkin bisa jadi motornya menabrak mobil yang kini berada tepat didepannya. Begitu juga dengan Inem, akibatnya tubuh Inem membentur punggung Bimo. Walaupun tidak terluka namun kejadian tersebut cukup membuat detak jantungnya berpacu lebih kencang tinimbang sebelumya.
__ADS_1
"Ada apa ini Bim?"
"Entahlah." Bimo pun hanya menggidikan bahunya.
"Nih orang mau cari gara - gara keknya." Ucap Bimo lagi.
"Ya udah sih yuk kita lanjut jalan aja. Orang gitu sih nggak usah diladenin, biarin aja!" SahutbInem yang masih nangkring di boncengan.
"Enak aja dibiarin, dia hampir aja buat kita celaka lho yank. Aku harus beri pelajaran tuh orang biar gak semena - mena kalau dijalanan ek gini." Ucap Bimo geram.
"Udah deh jangan cari gara - gara. Kita nggak tahu lho didalam ada siapa dan berapa orang. Dah yuk cabut aja!" Bujuk Inem.
"Emang singkong yank dicabut? Harusnya mereka tuh yang dicabut buntutnya."
"Dih ngaco kamu, orang mana bubtut elah." Ucap Inem.
"Ada lho yank,,,, tapi buntutnya didepan hehehe." Celoteh Bimo.
"Aiihhh apaan sih,,, ada - ada aja kamu ini. Situasi kek gini masih aja bercanda." Inem pun menepui punggung Bimo.
"Eh tapi tuh orang siapa ya kok aku jadi penasaran?" Ucap Inem lagi.
"Makanya turun dulu! Yuk kita cari tau nih borang yang hampir bikin kita celaka!"
Inem pun menuruti ucapan Bimo. Dia turun dari boncengan dan melepas helmnya. Begitu pula dengan Bimo. Diapun turun dan menghampiri mobil itu sembari berteriak menyuruh orang yang berada di dalam mobil tersebut keluar. Bimo juga menggebrak kap mobil tersebut. Lalu keluarlah seorang pria dari kursi pengemudi. Pria itu memakai stelan jas rapi berwarna hitam dengan tatanan rambut yang maskulin. Dengan santainya pria itu berjalan mendekat dan berhenti tepat dihadapan Bimo.
...🌸 Bersambung 🌸...
Jeng,,, jeng,,, jeng,,, siapa ya,,, siapa ya,,, ayo coba tebak?
Yuk lanjut geser ke episode selanjutnya dan cari tahu apakah jawaban kamu bener apa nggak!
😊🤭🤗
__ADS_1