Inem Bukanlah Seorang Pelayan

Inem Bukanlah Seorang Pelayan
episode 6


__ADS_3

...🌸Happy Reading 🌸...


Langkah Arjun terasa berat saat menghampiri Inem yang sedang duduk di bangkar bersama maminya. Tanpa mengembangkan senyum Arjun lantas menyodorkan tangannya ke arah Inem.


Uluran tangan Arjun disambut oleh Inem. Walaupun ada sedikit rasa ragu yang mengusiknya, namun Inem tetap mencoba untuk melempar senyum.


"Arjun."


Singkat, padat dan jelas, begitulah Arjun. Cowok dengan postur tubuh idaman kaum hawa itu memang tidak suka banyak bicara. Lebih banyak diam dan ekspresi wajahnya juga selalu saja datar. Sedatar jalan tol di ibukota. Sifatnya berbanding terbalik dengan Inem.


"Inem." Sahut Inem dengan lembut.


Kedua mata mereka pun saling bertemu dan beradu pandang. Arjun dengan tatapan tajamnya sedangkan Inem dengan tatapan yang lembut dan penuh pesona.


Tok,,, tok,,, tok,,,


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari arah luar yang seketika membuyarkan pandangan Arjun dan Inem.


"Permisi,,, maaf mengganggu. Saya mau memberitahukan bahwa ibu Ayu sudah sadar dan sudah bisa ditemui"


Ujar seorang perawatan yang barusan datang.


"Bunda,,, bunda udah sadar?" Sahut Inem.


Inem senang bukan kepalang. Dia lantas turun dari tempat tidurnya dan langsung berlari menuju ruang inap ibunya tanpa menghiraukan orang-orang yang kini ada diruangan itu.


Inem berlari sekencang mungkin tanpa memperdulikan apa yang ada disekitarnya. Bahkan ada beberapa orang terhempas karna tertabrak olehnya. Karna yang ada dipikirannya saat ini hanyalah segera bertemu dengan ibunya.


Brukkk,,,,


"Woe nona,,,, perhatikan langkahmu itu!?"


Teriak salah satu orang yang telah ditabraknya.

__ADS_1


"Maaf,,, maafkan aku!" Teriak Inem yang masih saja terus berlari.


Inem terus saja berlari dan berlari hingga akhirnya sampailah dia ditempat tujuannya. Terlihat didepan pintu sudah ada dokter, Bimo dan juga mbok Nah sedang berbincang - bincang.


"Wah gawat,,, lantainya licin. Aku tidak bisa berhenti, huaaa aku bakalan nabrak tuh dokter nih." Batin Inem karna posisinya tepat mengarah sang dokter.


"Aaa,,,, AWAS!?" Teriak Inem sambil melambaikan kedua tangannya.


Mendengar teriakan itu sontak orang - orang yang ada disana menoleh ke sumber suara dan,,,


Bruukkk,,,,,


Benar saja, tubuh kecil Inem telah menghantam seseorang.


"Maaf,,, maafin saya ya dok!"


Perlahan Inem membuka matanya dan betapa terkejutnya dia melihat sosok yang ada didepannya itu bukanlah dokter melainkan Bimo.


"Kau ini ceroboh sekali sih?" Omel Bimo.


"Ya maaf,,,! Tadi aku tergelincir."


"Haishhh,,,, kamu ini."


"Namanya juga nggak sengaja. Eh tapi kok yang aku tabrak malah kamu sih? padahal kan tadi arahku pas dengan dokter?"


"O,,, jadi tadi pengennya emang nabrak dokter ya?" Bimo mengeluh.


"Bu,,, bukan, bukan begitulah. Yaelah,,, gimana sih? "


"Sudah,,, sudah,,, itu tadi karna teman anda yang sudah menghadang anda nona. Makanya saya bisa terhindar. Lain kali berjalanlah dengan benar ya! Jangan seperti tadi. Bisa membahayakan anda sendiri dan juga orang lain."


"Iya dok,,, maafin saya ya! Oh ya,,, bagaimana dengan keadaan bunda dok? Apakah sekarang saya bisa bertemu dengannya?"

__ADS_1


"Silahkan saja! Saya baru saja selesai memeriksanya, tapi perlu diingat! Jangan membuat gaduh di dalam! Biarkan pasien beristirahat dengan baik jangan membuatnya lelah karna kondisinya belum pulih betul."


"Baik dok saya akan mengingatnya. Terima kasih atas perhatiannya."


"Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu ya."


"Ya dok, sekali lagi terima kasih."


Dokterpun melenggang pergi. Tak lama setelah kepergian dokter, datanglah Selly bersama dengan Angga dan juga Arjun.


"Bagaimana dengan keadaan Ayu? Apa yang dikatakan dokter tadi?" Tanya Selly


"Sebaiknya kita masuk dan melihatnya langsung tante! "Ajak Inem.


Kini semua orang berada di dalam ruang rawat inap. Diatas ranjang terlihat ada seorang wanita sedang terbaring lemas tak berdaya. Ditangannya tertancap jarum infus yang selangnya menjulang keatas tersambung dengan sebuah botol yang terbuat dari plastik tebal dan berisi cairan. Hidungnya pun tak luput dari alat medis. Ada selang oxygen yang terpasang disana.


Inem tak kuasa menahan air matanya. Rasa haru biru bercampur aduk di dalam hatinya. Dia melangkah mendekati ibunya dan duduk disamping ibunya berbaring. Diraihnya tangan renta itu, dicium dan lalu ditempelkannya di pipinya.


"Bunda,,,, " Suaranya pelan.


"Sudah,,, janganlah menangis! Bunda tak apa - apa." Jawab Ayu dengan suara lemas.


Mendengar suara ibunya itu, air mata Inem malah semakin deras mengalir. Seperti air sungai yang baru saja terisi air hujan.


"Anak bodoh,,, sudah dibilang jangan menangis e,, lha kok malah mewek gini." Celetuk Ayu.


"Inem sayang bunda, jangan tinggalin Inem ya bun!"


Inem menyandarkan kepalanya kepelukan Ayu dan melingkarkan tangannya ke tubuh Ayu.


"Bunda juga sayang kamu nak." Sahut Ayu sambil mengusap pelan kepala Inem.


...🌸Bersambung 🌸...

__ADS_1


__ADS_2