Inem Bukanlah Seorang Pelayan

Inem Bukanlah Seorang Pelayan
episode 96


__ADS_3

...🌸 Happy Reading 🌸...


Kembali ke pov Inem.


Hari sudah mulai senja, suasana kantor yang tadinya ramai orang sekarang sudah mulai sepi. Mungkin hanya tinggal beberapa orang yang masih berada ditempat nya. Begitu juga dengan Inem yang masih sibuk dengan laptop di meja kerjanya. Dia nampak serius mengutak - atik benda menyala yang ada didepannya hingga tak menghiraukan keadaan di sekitarnya bahkan suara sering telpon pun tak didengarnya padahal benda pipih itu berada dekat sekali denganya. Berulang kali ponselnya berdering, namun Inem tak bergeming dari pekerjaannya. Dia tetap fokus dengan pandangannya yang sekarang ini. Hingga pada saat dia merasa ada yang menyentuh pundaknya, barulah dia menghentikan gerakkan jemarinya dan memalingkan wajahnya ke arah belakang. Rupanya Arjun sedang berdiri dibelakangnya sambil menenteng tas kerjanya.


"Ayo pulang!" Ucap Arjun.


"Tapi pekerjaanku belum selesai. Bukankah katamu aku harus menyelesaikan nya hari ini juga?" Sahut Inem tanpa mengubah posisi duduknya.


"Dasar bodoh, kerjaan segitu aja belum selesai juga. Lamban sekali kamu?"


"Apa kamu bilang? Aku lamban? Heh haloooo,,,, kerjaan yang kamu kasih tuh nggak sedikit lho,,, mustahil lah kalau bisa selesai dengan waktu yang cepat." Ucap Inem sensi. "Dasar tak waras,,, dah lah kalau kamu mau pulang, pulang sono gih! Aku mau disini dulu, nanggung soalnya." Lanjut ucap Inem. Dia kembali mengarahkan pandangannya ke layar yang menyala didepannya itu.


"Hilih,,, gitu aja sewot. Kan kerjaannya bisa dibawa pulang, atau kamu sengaja ya biar aku dimarahin mami lagi kek tadi?"


Mendengar tuduhan Arjun membuat Inem menghiruo nafas panjang dan menghempaskan nya secara kasar.


"Aiichhh terserah bos besar saja lah. Pulang pun pulang!" Dengan malas Inem bangkit dari kursinya dan membereskan meja kerjanya.


"Nah gitu dong, jadi orang tuh harus nurut apalagi sama atasan." Senyum tipis mengembang samar menghiasi wajah Arjun. "Nih bawain tas ku sekalian ya!" Ucap Arjun yang lalu melenggang jalan terlebih dahulu sesaat setelah memberikan paksa tasnya kepada Inem.


"Ughhh dasar bos sint!n9, gila, stress,,, berlagak seenaknya sendiri." Gerutu Inem.


Setelah mejanya kembali rapi, Inem pun menyusul suaminya menuju pintu keluar dengan membawa tas Arjun.


Sesampainya di lobi, Inem dan Arjun bertemu dengan Vian yang juga mau pulang.


"Sudah mau pulang jiga ya?" Sapa Vian.

__ADS_1


"Iya, kamu juga?" Tanya Inem balik.


"Iya,,, ini lagi nungguin taksi." Jawab Vian.


"Hmmm ya udah kita bareng lagi aja!" Ajak Inem.


"Nggak boleh,,, dia kan lagi nungguin taksi ya udah sih biarin aja. Kan kasihan tuh taksi kalau dibatalin. Dah jauh - jauh jemput kesini tapi tak jadi diorder." Ucap Arjun menyela.


"Ya nggak apa - apa lah." Ucap Inem.


"Sekali nggak ya nggak! Siapa suruh bawa mobil sendiri. Ya sekarang rasakan saja lah." Ucap Arjun jengkel.


Jelas saja Arjun jengkel dan tak mau Vian berada dalam satu mobil dengan nya lagi. Itu karna dia enggan melihat kedekatan Vian bersama Inem.


"Dih,,, segitunya kamu sama adekmu sendiri Jun?" Ucap Inem.


"Masa bodoh,,, emang aku pikirin!" Tanpa peduli Arjun lalu berjalan terlebih dahulu.


"Tapi,,, !" Ucap Inem terputus karna Vian menyela nya.


"Udah sana jalan,,, ! Ntar tuh beruang kutub marah lho dan kamu bisa jadi mangsanya.


"Hmmm aku jalan duluan ya!" Ucap Inem sembari melambaikan tangannya.


Lambaian tangan Inem pun dibalas oleh Vian sambil tersenyum. Ditatapnya kepergian Inem sampai hilang dari pandangannya.


...🎍☘️🎍...


Sementara itu disuatu tempat, Bimo sedang duduk dan sibuk memainkan ponselnya. Dari raut mukanya sudah jelas dia sedang dalam keadaan yang tidak baik - baik saja. Dipandangnya dengan serius dan di utak - atiknya ponsel yang ada dalam genggamannya tersebut. Sepertinya dia sedang mengharapkan sesuatu dari benda pipih berbentuk kotak itu.

__ADS_1


"Kamu ini kenapa sih Bim? Dari kemaren kamu tak lepas dari HP?" Tanya Rico.


Bimo tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan temannya, dia hanya terdiam sambil terpaku menatap layar ponselnya.


"Bim,,, ayolah Bim,,, makanlah dulu! Seharian ini kamu belum makan sama sekali lho. Nanti kamu bisa sakit."


Rupanya sekarang ini mereka sedang berada di ruang makan. Rico merasa ada yang tak beres dengan Bimo karna sadari awal mereka duduk hingga sekarang Bimo tak menyentuh makanan yang sudah tersaji diatas meja.


"Kamu ini kalau ada masalah ceritalah sama aku Bim! Jangan kamu pendam sendiri begini! Apa kamu sudah tak menganggapku sebagai temanmu lagi?"


"Bukan begitu,,, hanya saja,,,, " Bimo tak menyelesaikan ucapannya.


"Hanya saja apa?" Tanya Rico penasaran. "Apa ini tentang Inem?" Rico mencoba menebak akar permasalahan yang sedang dihadapi temannya.


"Co,,, apa menurutmu,,, ?" Bimo sepertinya tak kuasa meneruskan ucapannya.


"Apa sih Bim? Coba ngomong jelas deh!" Tanya Rico di sela - sela kesibukannya memakan makan malamnya.


Tak menanggapi Rico, Bimo malah berdiri lalu pergi ke arah pintu keluar tanpa menghiraukan Rico yang berteriak menanyakan kemana dia akan pergi. Bimo melajukan sepeda motornya dengan cepat menuju kesebuah rumah gedong tak lain adalah rumah Arjun dan Inem.


Sesampainya di rumah itu, Bimo menemui satpam rumah terlebih dahulu dan bilang kepadanya kalau dia ingin bertemu dengan Inem. Satpam itupun bilang kepada Bimo kalau majikannya tersebut sedang tidak ada di rumah. Lantas Bimo pun bertanya kemana keberadaan Inem sekarang dan satpam itu menjawab tidak tahu karna itu memang bukan urusan dia.


Dengan langkah lunglai Bimo berbalik dan berjalan mendekati motornya. Kecewa itu sudah pasti, tapi apa boleh buat kalau memang itulah kenyataannya. Tak ingin menyerah, Bimo pun memutuskan untuk menunggu kepulangan Inem. Dia bertekad bisa tak bisa hari ini dia harus bertemu dengan kekasihnya.


Lama sekali Bimo menunggu, namun nampaknya orang yang ditunggu nya itu belum juga nampak kehadirannya. Rasa bosan mulai menghampirinya namun Bimo tak gentar. Dia mencoba untuk mengusir rasa bosannya itu, Bimo memilih untuk memainkan gadget nya sembari duduk di atas motornya. Hingga pada akhirnya muncul sebuah mobil mewah berwarna gelap. Lampunya sangat menyilaukan penglihatan Bimo sehingga Bimo pun mengalihkan pandanganya ke arah mobil tersebut. Mengetahui mobil itu hendak berbelok menuju gerbang rumah Inem, Bimo buru - buru turun dari motornya dan menghampiri mobil tersebut.


Bimo berlari dan menghadang mobil tersebut sehingga mobil itupun berhenti dengan terpaksa.


"Tuh orang maunya apa sih? Cari mati saja!" Gerutu Arjun.

__ADS_1


Kesal mobilnya dihadang secara mendadak, Arjun pun berniat untuk keluar dari mobil. Namun Inem mencegahnya karna tak ingin terjadi keributan dan meminta ijin sebentar untuk menemui Bimo. Awalnya nya Arjun menolaknya, tapi Inem berhasil meyakinkannya sehingga Inemp berhasil mengantongi ijin dari suaminya untuk menemui kekasihnya.


...🌸 Bersambung 🌸...


__ADS_2