Inem Bukanlah Seorang Pelayan

Inem Bukanlah Seorang Pelayan
episode 45


__ADS_3

...🌸 Happy Reading 🌸...


"Maaf,,, maafkan aku!" Ucap Arjun lirih dan tersadar dari lamunannya.


"Maaf,,, ? Kenapa kamu minta maaf?" Tanya Inem yang tak mengerti akan situasi Arjun.


Ternyata Arjun tak sadar dengan apa yang diucapkannya kepada Inem barusan. Saat dia tersadar, dia pun mengalihkan pembicaraannya karna dia tak ingin Inem tahu hal yang sebenarnya. Dia tak ingin Inem tahu kalau gara - gara dialah ayahnya meninggal.


"Maaf karna telah membuatmu mengingat kepergian ayahmu."


"Oh tak apa."


"Sebaiknya kamu masuk, ini sudah sangat larut!" Ucap Arjun dan lalu pergi masuk kedalam kamar.


"Tunggu!"


"Ada apa?"


"Mami dan papi mempercepat acara resepsi pernikahan kita menjadi minggu depan."


"Oh." Jawab Arjun datar.


"Cuma oh? Kamu nggak ingin berontak lagi?"


"Untuk apa? Percuma saja toh mereka nggak akan mendengarku."


"Jadi,,, apakah kamu sudah bisa menerima pernikahan kita?"


"Apa ada pilihan lain?"


"Apa itu artinya kita berdamai?"


"Terserah apa katamu saja." Jawab Arjun seraya melangkahkan kakinya masuk kedalam kamarnya. Disusul Inem dibelakangnya.

__ADS_1


Setelah menutup dan mengunci pintu balkon, Inem mencoba meminta sesuatu kepada Arjun.


"Arjun,,, apa aku boleh tidur dikasur 👉👈 ?" Tanya Inem dengan ragu.


Mendengar permintaan Inem sontak Arjun membelalakkan bola matanya, menyatukan kedua alisnya dan meluncurkan tatapan tajam kepada Inem. Otaknya mulai treveling ketingkat kalangan 18+. Memikirkan hal - hal yang bisa membuat sesuatu yang tengah tertidur pulas menjadi terbangun seketika.


"Ayolah,,, untuk malam ini aja, kita bertukar tempat tidur ya! Tidur disana sangatlah tidak nyaman. Untuk malam ini saja ijinkan aku merasakan nyamannya tidur!" Rengek Inem.


Arjun bernafas lega karna ternyata yang dimaksud Inem bukanlah seperti apa yang dipikirkannya. Karna sejatinya dia belum siap sepenuhnya menerima Inem disisinya.


"Boleh,,, tapi aku tak menjamin bila terjadi sesuatu padamu karna aku tak ingin beranjak dari tempat tidurku." Ucap Arjun sembari mengangkat sebelah alisnya.


"Hei Arjun apa maksudmu berkata seperti itu?" Inem mengerutkan dahinya mendengar perkataan Arjun barusan.


"Menurutmu?"


"Haishh,,, aku peringatkan padamu ya, jangan macem - macem padaku!" Ucap Inem sambil berkacak pinggang dan mengacungkan jari telunjuknya ke arah suaminya.


"Apa? Jangan macem - macem? Bukankah kamu ini istriku? Wajar saja kalau aku melakukan sesuatu padamu bukan?" Jawab Arjun santai.


Semakin lama Arjun semakin mendekat, membuat Inem semakin tak kuasa menahan batinnya. Perasaan takut seketika menghampiri dirinya dan keringat dingin pun mulai bercucuran membasahi permukaan kulitnya. Tubuhnya bergetar dengan sendirinya seolah kaku dan tak bisa digerakkan. Diapun akhirnya memejamkan matanya dan lalu berteriak.


"STOP ARJUN,,, !!! Ok aku akan tidur ditempatku!"


Setelah meneriaki Arjun, langkah Inem terasa ringan dan dia pun lebih memilih lari untuk menghindari lelakinya tersebut.


Arjun tersenyum tipis saat melihat tingkah Inem yang menurutnya sangat lucu itu. Dia lantas berkacak pinggang dan mulai menggoda Inem lagi.


"Hai istriku,,, jadi nggak nih kita tidur bareng?" Celoteh Arjun sambil tersenyum dan mengangkat alisnya seraya menggoda.


"Tidur saja sama kunti sana!" Sahut Inem kesal. Dia lantas menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tanpa tersisa.


Melihat tingkah Inem yang seperti itu membuat Arjun semakin melebarkan tawanya. Sedang Inem yang kesal dengan sengaja melempar sebuah bantal kearah Arjun dan tepat mengenai kepalanya. Sontak Arjun menghentikan tawanya. Dia lalu meraih bantal tersebut dan melemparnya balik kearah Inem dan mengenai tubuh Inem yang tertutupi rapat oleh selimut membuat Inem menyibakkan selimutnya dan melemparkan bantal itu kembali.

__ADS_1


Akhirnya perang bantal pun tak terelakan lagi. Arjun begitu antusias melempar bantal dan Inem yang tak mau kalah juga ikut menyerang. Beberapa pukulan dilemparkan dan beberapa kali pula mereka saling mendapat pukulan bantal.


Setelah beberapa saat mereka pun kelelahan dan akhirnya menghentikan aksi perang bantalnya. Keduanya duduk lemas saling membelakangi dan bersandarkan punggung masing - masing.


"Ini konyol." Ucap Arjun sambil mengatur nafasnya yang tersengal - sengal.


"Salah, bukan konyol tapi ini seru." Hal yang sama dilakukan Inem.


"Dasar aneh! Seru gimananya?"


"Dih kamu tuh yang aneh. Tentu saja seru, ini sangat menyenangkan." Ucap Inem seraya tersenyum menatap langit - langit kamar.


"Syukurlah kalau kamu senang." Kata Arjun sembari bangkit dari duduknya.


Berdirinya Arjun seketika membuat Inem terjengkang. Sontak aja Inem mengaduh kesakitan karna punggungnya menghantam lantai. Namun Arjun tak menghiraukan nya. Dengan santainya dia berjalan menuju kamar mandi.


Selang beberapa waktu, Arjun pun keluar dari kamar mandi dan mendapati Inem sudah tertidur pulas diatas tempat tidurnya. Dia pun mendekatinya dan duduk di pinggiran tempat tidur tepatnya disamping Inem.


Cukup lama Arjun memandang wajah polos Inem, dia juga mengusap dengan pelan ujung kepala Inem seraya berucap dengan nada yang sangat pelan.


"Maafin aku, karna akulah kita terjebak dalam situasi ini. Semoga ada jalan yang terbaik buat kebahagiaan kita!"


Setelah mengucapkan kata tersebut serta membenarkan selimut Inem, Arjun lantas berjalan menuju sofa besar tempat dimana Inem selama ini mengistirahatkan tubuhnya yang lelah dan penat. Walaupun awalnya sangat sulit bagi Arjun untuk tidur karna tak terbiasa tidur ditempat sempit seperti ini, namun akhirnya dia pun terlelap hanyut dalam alam bawah sadar.


...****************...


Beberapa hari telah berlalu, kini tiba waktunya acara resepsi pernikahan Inem dengan Arjun. Sebuah acara digelar begitu mewah di gedung yang megah dengan tatanan dekorasi yang begitu apik dan juga bernuansa romantis. Banyak bunga - bunga segar nan harum dan juga lampu hias yang menghiasi seluruh ruangan.


Tak luput dari sorotan, disudut utama ada sebuah mimbar yang luas dan disana tertata rapi background yang tak kalah epik nya. Ada banyak bunga juga disana serta berderet beberapa kursi yang mewah dimana tempat kedua mempelai serta kedua orang tua pengantin duduk. Untuk disisi orang tua mempelai wanitanya, Inem meminta khusus mbok Nah serta suaminya untuk mewakili kedua orang tua kandungnya.


Acara berlangsung sangat meriah, semua keluarga besar Arjun datang menghadirinya. Begitu juga kolega - kolega besar Angga Dirgantara datang untuk merayakan hari yang spesial ini. Namun undangan itu tak berlaku untuk semua karyawan Dirgantara group. Itu karna Arjunlah yang telah mengajukan syarat untuk tak mengundang mereka agar berita pernikahannya tak tersebar luas serta tak terdengar oleh orang - orang terdekatnya yang juga mengenal Lashira. Termasuk Kelvin asisten pribadinya.


Namun diantara semua tamu undangan, tak ada satupun teman Inem yang diundang, begitu juga dengan Arjun. Alasan mereka berdua sudah jelas, karna mereka masih ingin menggapai cinta masing - masing. Entah apa yang ada dibenak mereka berdua tentang pernikahan ini. Yang jelas mereka merasa berada diposisi yang tak semestinya. Hingga mereka merasa berhak untuk mencari jalan keluar dari keterpaksaan ini.

__ADS_1


...🌸 Bersambung 🌸...


__ADS_2