
...🌸 Happy reading 🌸...
"Trus alesan kalian kesini apa? Kenapa kalian tak pulang saja ke rumah dan beristirahat disana." Tanya Arjun yang nyeletuk diantara perdebatan kecil kedua orang tuanya.
"Lihatlah pap, anak kita telah mengusir kita dari sini." Ucap Selly.
"Bukan,,, pasti bukan begitu maksud Arjun mam. Ya kan Jun?" Inem melirik Arjun.
Bukannya bicara Arjun malah terdiam tak menanggapi perkataan Inem dan ibunya.
"Untuk sementara ini kami akan tinggal disini." Ucap Selly.
"APA,,, ?!" Teriak Inem dan Arjun serentak.
"Mami dan papi tidur dikamar sebelah kalian dan Vian akan tidur dikamar tamu." Lanjut Selly.
"Nggak,,, ini nggak bener. Kalian bercanda kan?" Ucap Arjun tak percaya dengan kemauan Selly.
"Justru itu mami mau benerin kalian yang udah salah kaprah nggak karuan." Ucap Selly.
"Pap,,, bilangin ke mami dong jangan segininya juga." Arjun merengek kepada Arjun supaya ayahnya itu bisa membujuk ibunya membatalkan keputusannya.
"Kamu kayak nggak tau mami aja. Keputusan mami kan mutlak Jun." Sahut Angga santai sembari meneguk minumannya.
"Sudahlah,,, kalau itu emang kemauan mami ya udah turutin aja lah." Inem pun hanya bisa pasrah.
"Kamu ini gimana sih? Jangan - jangan kamu udah tahu ya?" Arjun menuduh Inem sekongkol dengan kedua orang tuanya.
"No,,, Inem tak tau apa - apa tentang soal ini. Jadi stop salahin Inem oke!" Bela Selly.
"Pokonya ini semua gara - gara kamu!" Arjun menarik Inem dan berbicara berbisik.
__ADS_1
"Kok bisa aku sih? Tadi mami kan dah bilang aku nggak tau apa - apa ini lho." Bela Inem.
"Pokonya kamu harus menolak mereka tinggal disini!" Bisik Arjun lagi.
"Bagaimana caranya? Papi aja nggak bisa apalagi aku?"
"Terserah lah kamu mau gimana caranya. Yang penting mereka tak tinggal disini. Emangnya kamu mau tidur sekamar dengan ku?" Ucap Arjun masih berbisik.
"Eh apa maksudmu?"
"Kamu dengar nggak mami tadi bilang apa? Mami kan bilang Vian mau tidur di kamar tamu sedang kamar itu kan sekarang ini dah jadi kamarmu. Seterusnya kamu bisa kan mikir sendiri!" Jelas Arjun.
Mendengar penjelasan dari Arjun membuat Inem terdiam dan berfikir tentang kemungkinan yang terjadi. Sekilas terselip bayangan adegan disaat mereka harus tidur sekamar lagi dan Inem tak mau hal itu terjadi.
"Hah bener juga ya,,, oh no,,,. Ini nggak bisa dibiarin. Aku nggak mau sekamar dengan kamu."
"Nah makanya,,, kita harus bisa mencegah mereka untuk tinggal disini walau itu hanya untuk sementara."
"Aih,,, aih,,, akrab bener, nah coba kalian bisa seakrab ini setiap hari." Oceh Selly yang melihat kedekatan Arjun dan Inem. Padahal mereka berdua sedang berdiskusi mencari jalan agar Selly membatalkan acaranya. Rupanya Selly salah paham dengan kedekatan kedua orang ini.
"Iya dong mam,,, bearti mami nggak perlu lagi tinggal disini kan? Kan Kita udah damai ya Nem?" Arjun merangkul pundak Inem secara tiba - tiba yang mengakibatkan Inem terkejut dan terlihat kaku saat dipeluk Arjun serta mencoba menolak pelukan Arjun. Lantas Arjun pun mengedipkan matanya sebagai kode supaya Inem mau bekerja sama dengannya.
Paham dengan kode yang diberikan Arjun membuat Inem pun lantas mengikuti alur cerita yang Arjun buat. Supaya kedekatan mereka nampak tak dibuat - buat.
"Hehehe iya mam. Kan damai itu sebagian dari Iman ya hehehe.! Jawab Inem cengengesan.
"Hmmm no,,, mami tetep mau tinggal disini sampai kalian bener - bener bisa jadi pasangan." Ucap Selly sembari menyilangkan kedua tangannya di dada atau bahasa lainnya bersedakep.
"Hah,,, mami apa - apaan sih?" Arjun tak mengira jawaban Selly seperti itu. Mendengarnya membuat Arjun sontak melepaskan pelukannya terhadap Inem dengan cara kasar sehingga tubuh Inem pun seketika menjauh.
"Nah kan,,, sudah mami duga, yang tadi itu pasti akal - akalan kalian kan? Hemmm tak segampang itu kalian menipuku." Ucap Selly.
__ADS_1
"Oh ya,,, kamar Inem udah dibereskan dan barang - barangnya udah mami pindahin ke kamar Arjun. Tak ku sangka ternyata selama ini kalian tidurnya terpisah. Apa - apaan itu ha? Kalian ini bener - bener ya udah bikin mami kecewa. Kalian udah sembrono mempermainkan ikatan suci kalian." Ucap Selly lagi dengan nada yang tinggi karna emosinya mulai muncul.
Kedua pemuda itupun terdiam dan tertunduk hanya saling melirik dalam keheningan.
"Ha kenapa diam? Kalian merasa bersalah atau sedang menyusun siasat baru itu? Bener - bener kebangetan kalian ini." Lanjut Selly.
"Udah lah mam janganlah marah - marah terus nggak baik buat kesehatan mami lho. Kan papi jadi laper lihatnya. Udah ya marah - marahnya, mending kita keluar aja yuk cari makan!" Upaya Angga menengahi Selly dan kedua anaknya agar perdebatan diantara mereka bertiga tak berlanjut.
"Tapi pap,,, mereka ini kalau nggak diginiin pasti bubrah dan itu sudah terbukti kan? Jadi kali ini mami harus tegas kepada mereka berdua agar nggak seenaknya sendiri. Masa suami istri tidur terpisah dah gitu pada punya pacar lagi. Kan nggak pantes pap. Mau dibawa kemana ini perasaan mami? Mami malu banget sama almarhum kedua orang tuannya Inem pap,,, karna kita nggak bisa penuhi amanah mereka untuk jagain Inem." Emosi Selly semakin mencuat saja dan hal itu membuat kedua orang yang sedang duduk didepannya merasa bersalah.
"Iya,,, iya,,, papi paham kok dengan apa yang mami rasakan sekarang ini, tapi mami juga harus ngerti kan memang susah menyatukan dua hati mam apalagi mereka baru bertemu udah langsung nikah aja. Kita kasih waktu aja sama mereka buat beradaptasi mengenal satu sama lain mam. Ntar lama kelamaan juga bisa saling menerima. Mami sabar aja ya,,, !" Ucap Angga mencoba meredakan emosi istrinya yang sedang bergejolak.
"Entahlah,,, mami bingung mami pusing mami nggak tau harus gimana lagi menghadapi mereka berdua.!" Ucap Selly.
"Ya udah jangan terlalu dipikirin ya mam, kita slow aja! Jangan sampai kesehatan mami terganggu hanya gara - gara masalah ini. Mami mau lihat cucu kita tumbuh kan? Maka dari itu mami harus selalu sehat!" Bujuk Angga lagi.
"Aihh papi,,, gimana mau lihat cucu kalau mereka aja kelakuannya masih kayak gitu."
"Ya sabar mam,,, semua itu kan butuh proses. Kita serahkan aja kepada mereka dan kita tinggal tunggu kabar baiknya. Ya kan Jun?ya kan Nem?" Pandangan Angga kini beralih ke Arjun dan Inem secara bergantian.
"Waduh kok papi malah bicara gitu sih? Aku harus jawab apa nih? Duh gusti,,, berilah aku bantuanmu." Guman Inem dalam hati.
"Tuh kan mereka diam aja kan pap, bearti mereka itu memang nggak serius!" Selly kembali marah.
"Ishhh kalian ini. Coba jawab jangan diam aja! Emangnya kalian mau ada perang ketiga ha??!" Ucap Angga sedikit menggertak.
"Eh iya pap iya,,, mami tenang aja ya semua bisa diatur." Jawab Arjun spontan tanpa berfikir lagi.
"Etdah nih orang asal japlak aja jawabnya yak, duh gusti,,,,,, !?" Dalam hati Inem menjerit.
...🌸 Bersambung 🌸...
__ADS_1