
...🌸 Happy Reading 🌸...
Yuk lanjut lagi kisahnya Inem. Saat ini hari sudah gelap. Suara hingar bingar aktivas siang hari kini sedikit demi sedikit telah tergantikan oleh suara hewan - hewan malam yang bersembunyi diantara minimnya cahaya. Didepan pintu gerbang sebuah rumah mewah, seorang pria muda berparas tampan yang mengenakkan t-shirt berwarna putih polos dengan bawahan trening berwarna hitam sedang berjalan mondar mandir dan sesekali melihat benda pipih yang berada di genggamannya. Pandangannya tertuju pada jalanan beraspal yang mulai sepi. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang.
Entah berapa kali dia berjalan bolak - balik bak setrikaan baju. Entah berapa lama dia berada ditempat itu yang jelas wajahnya nampak gelisah seperti ada yang mengganjal dipikirannya. Saking spaneng nya, dia sampai tak sadar kalo malam sudah beranjak larut.
Tak lama kemudian dari kejauhan terlihat sorotan lampu sebuah kendaraan bermotor yang mendekat. Menyadari bahwa itu adalah motor milik Bimo, maka dengan segera Arjun meninggalkan tempatnya dan dengan terburu - buru masuk ke dalam rumah.
Dari balik kain gorden Arjun melihat motor Bimo perlahan melewati pintu gerbangnya dan berhenti dihalaman rumah. Mata Arjun semakin terbelalak saat Bimo mengecup dan mengusap dengan lembut pucuk kepala Inem sebelum dia berlalu. Apalagi saat Inem membalas dengan senyuman dan melambaikan tangan saat Bimo melajukan kembali motornya keluar dari pekarangan rumahnya, Arjun merasakan hawa panas dalam hatinya seperti terbakar api yang membara.
Inem yang tak sadar diperhatikan dengan santainya dia berjalan masuk kedalam rumah dan betapa kagetnya dia saat melihat Arjun sudah berdiri dibalik pintu dengan tatapan mata yang menyimpan amarah.
Melihat wajah Arjun yang menyeramkan layaknya singa yang siap menerkam mangsanya membuat Inem memundurkan langkahnya. Namun dia berusaha meyakinkan diri untuk bisa bersikap tenang dihadapan Arjun.
"Dari mana saja kamu? Jam segini baru pulang? Istri macam apa kamu ini?" Tegur Arjun sembari mengacakkan kedua tanggannya dipinggang.
Inem menghela nafas panjang mencoba mengendalikan ketakutannya. Dengan tenang dia berjalan dan melewati Arjun tanpa menoleh dan menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh suaminya itu.
Sikap acuh Inem membuat Arjun semakin kesal saja. Ditarik nya tangan Inem dengan kasar sehingga Inem terpaksa menghentikan langkahnya dan mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Arjun.
"Lepaskan aku!" Nada Inem tegas.
"Beginikah sikapmu dengan suamimu?"
"Hah suami?" Inem tersenyum kecut menanggapi pengakuan Arjun.
"Mungkin saat ini iya, tapi tak lama lagi status itu hanya akan menjadi kenangan buruk ku saja." Jawab Inem dengan nada ketus.
"Heh kamu ini bicara apa sih? Nggak jelas banget!" Ucap Arjun.
"Apanya yang nggak jelas?" Ucap Inem ngegas.
"Ya kamunya yang nggak jelas. Dah sana masak! Aku lapar." Arjun pun tak kalah ngegasnya.
__ADS_1
"Bodho,,, minta masakin aja sama calon istrimu sana!" Suara Inem lantang dan berlalu pergi menuju ke kamarnya.
"Heh kamu ini berani - beraninya ngebantah ya!?" Teriak Arjun.
"Enak aja suruh - suruh orang. Emangnya aku ini pelayannya apa!? Aku kan bukan pelayan yang bisa seenaknya disuruh - suruh huh dasar Arjun sialan." Gerutu Inem.
Selama menuju ke kamarnya Inem menggerutu tiada hentinya. Hingga dia tak sadar Arjun telah membuntuti nya sampai masuk kedalam kamar Inem yang bernuansa kalem dengan paduan warna hijau dan juga krem.
Sesampainya dikamar, Inem meletakkan tas nya diatas meja belajarnya dan sedikit melakukan gerakan peregangkan tubuh.
"Ini kamar apa hutan sih? Ijo - ijo gini warnanya?!" Celetuk Arjun dibelakang Inem saat melihat isi ruangan Inem yang notabene isi kamarnya kebanyakan berwarna hijau. Mulai dari sprei, gorden, keranjang baju dan barang lainnya. Itu karna Inem sangat menyukai warna hijau.
Mendengar celotehan Arjun tentu saja membuat Inem terkejut. Dia nggak menyangka kalo ada Arjun dibalik tubuhnya. Sontak dia berbalik dan melotot kearah Arjun.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Inem.
"Apa?!" Tanya Arjun balik sembari mengangkat alisnya.
"Keluarlah dari kamarku!" Perintah Inem.
"Bukankah itu yang kamu lakukan setiap kali aku kekamarmu?"
Benar saja apa yang dikatakan Inem. Arjun memang tidak membolehkan Inem memasuki kamar dan juga ruang kerjanya dengan alasan apapun.
"Oh jadi selama ini kamu ingin masuk kekamarku?"
"Bukan itu maksudku. Siapa juga yang mau masuk kamar mu itu. Ogah banget aku." Ucap Inem yang lalu berjalan menuju kamar mandi tanpa menghiraukan Arjun.
Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Inem lalu keluar dari kamar mandi dengan berbalut stelan piyama celana panjang yang berwarna hijau sage kombinasi warna hitam dan lagi - lagi dia terkejut saat melihat Arjun dengan santainya berbaring di tempat tidurnya sembari memainkan ponsel.
"Heh apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu masih disini?" Tegur Inem.
"Makan,,, " Jawab Arjun singkat tanpa mengalihkan pandangan dari pinselnya.
__ADS_1
"Apa katamu?"
"Haish,,, aku lapar, aku mau makan ,cepat masakin makanan untukku!" Perintah Arjun dengan suara yang agak keras.
"Kalo mau makan usaha sendiri. Cepat minggir aku mau tidur!"
"Aku tidur disini." Ucap Arjun sembari meletakkan ponselnya di atas nakas yang terletak disebelah tempatnya dia tidur dan lalu meraih guling yang berada disampingnya dan memeluknya.
"Hah dasar aneh. Kamu kan punya kamar sendiri. Tidur sana di kamarmu! Jangan nggangguin orang!"
Inem mengomel namun ocehannya sama sekali tak direwes oleh Arjun. Dia malah semakin erat memeluk gulingnya.
Kelakuan Arjun membuat Inem semakin berdecak kesal. Dia menghampiri Arjun dan menarik paksa tubuh Arjun agar turun dari tempat tidurnya dan keluar dari kamarnya. Namun usaha Inem nampaknya sia - sia belaka. Arjun bukannya pergi namun dia malah menarik balik tubuh Inem sehingga Inem jatuh ke dalam pelukan nya menggantikan posisi guling yang tadi didekapnya.
Mata Inem seketika makin terbelalak ketika mendapati tubuhnya sudah berada dalam dekapan pria bertubuh tegap itu dan wajah mereka yang sangat dekat membuat jantung Inem semakin berpacu dalam keheningan malam. Nafas Arjun terasa hangat menyentuh pipinya yang kini mulai merona. Aroma tubuhnya pun merasuk ke rongga hidung yang membuat Inem seketika terbuai akan fatamorgana yang tercipta dari parfum favorit yang selalu melekat ditubuh Arjun.
Tak ingin larut dalam buaian suasana, Inem lantas bergegas mengalihkan pandangannya dan berusaha untuk lepas dari pelukan Arjun. Namun usahanya lagi - lagi tak berhasil. Semakin Inem berontak, Arjun semakin mempererat dekapannya dan semakin mendekatkan wajahnya yang membuat Inem semakin dilanda kecanggungan hingga badannya mulai terasa bergetar.
"Diam atau aku akan melakukan sesuatu padamu!" Ucap Arjun berbisik.
Bisikan Arjun semakin menggetarkan jiwa Inem. Tubuhnya mulai berkeringat dan perasaannya semakin kacau tak karuan dibuatnya. Inem pun hanya bisa terdiam dan menurut. Namun dia tak ingin tinggal diam saja. Dia mencoba memutar otak mencari akal agar bisa keluar dari situasi ini. Saat pikiran Inem berpetualang mencari ide untuk bisa meloloskan diri dari suaminya, tiba - tiba saja terdengar suara yang tak asing dari Arjun. Suara yang tak keras bunyinya namun Inem yakin akan suara yang didengar nya itu adalah suara yang berasal dari perut Arjun.
Setelah meyakinkan suara tersebut, Seketika terbesit sebuah ide dan Inem tahu persis dengan apa yang akan dilakukannya ini seratus persen akan berhasil.
"Ok lepaskan! Aku akan memasak untukmu."
"Apa kau hanya ingin mencari alasan?"
"Kau lapar kan? Akan ku buatkan makanan untuk mu." Ucap Inem meyakinkan Arjun.
"Awas saja kalo kau bohong!" Ancam Arjun.
Arjun pun mulai melepaskan pelukannya dan beranjak dari tempatnya membuntuti Inem menuju dapur. Di dapur dia memperhatikan Inem yang sibuk dengan panci dan sebangsanya. Tak disangka senyum kecil mengembang menghiasi wajah tampannya.
__ADS_1
...🌸 Bersambung 🌸...
Eitssss apakah Arjun mulai anu sama Inem ya?????