
...🌸 Happy Reading 🌸...
Perlahan Mutia duduk disamping Inem, begitu juga dengan Rico yang duduk di depan Inem.
"Eh kalian datang barengan? Hmmm jangan,,, jangan,,, kalian udah jadian ya?" Tebak Inem.
"Apa,,,, ? Aku jadian ama dia? Dih,,, ogah Nem." Elak Mutia.
"Heh,,, aku juga ogah sama cewek yang nggak jelas kayak kamu!" Rico pun tak kalah nyolotnya seperti Mutia.
"Apa maksud mu nggak jelas ha? Dasar boncel."
"Otakmu tuh yang boncel!"
pertengkaran keduanya membuat mereka lupa akan tujuan awalnya dan Inem hanya bisa menepuk jidad nya pelan melihat kelakuan kedua sahabatnya.
"Sudah,,, sudah,,, kalian ini kalo bersama kenapa mesti ribut sih? Aku sumpahin kalian jodoh lho." Ucap Inem sembari tertawa kecil.
"Doamu jelek amat sih Nem. Yang bagusan dikit napa sih? Bikin males aja." Sahut Mutia dengan muka lesu.
"Aduduh,,, gitu amat mukanya hahaha jelek tau Mut."
"Bodho ah, aku pundung aja lah ma kamu Nem." Mutia smakin manyun dan membuang muka.
Bukannya membujuk sahabatnya, Inem malah tertawa terbahak melihat wajah lucunya Mutia.
"Dah,,, dah,,, jangan marah gitu Mut, ingat tujuan kita kemari apa?" Ujar Rico mengingatkan Mutia.
"Eh iya hampir aja lupa. Gara - gara kamu sih Nem." Sahut Mutia.
"Lhoh kok gara - gara aku sih, aku kenapa? Emang kalian mau apa sih?" Tanya Inem.
"Hmmm anu,,, itu hmmm,,," Ucap Mutia terbaru sambil tak fokus pandang.
Tiba - tiba saja mulut Mutia terasa begitu kelu saat ingin mengutarakan maksud hatinya kepada Inem. Bibirnya tertutup rapat seakan tak bisa digerakkan. Di liriknya Rico yang duduk tak jauh darinya yang ternyata juga sedang menatapnya dan memberikan isyarat mata agar Mutia segera membuka pembicaraan.
Setelah melirik Rico kini pandangan Mutia beralih ke arah Inem dan saat mengetahui Inem juga melihatnya dia kesusahan menelan ludahnya dan keringat dinginnya seketika mengucur membasahi kening dan lehernya yang jenjang.
"Ada apa? Apa ada masalah?" Tanya Inem yang menangkap kegelisahan di raut muka sahabatnya.
__ADS_1
"Hmm,,, anu,,, hmmm,,, " Jawab Mutia terbata - bata dan lalu menunduk.
"Co,,, ini ada apa sih?" Tanya Inem lagi yang semakin penasaran.
"Hmm duh gimana ya,,, sebenarnya sih ada yang mau kita tanyain ke kamu." Jawab Rico memberanikan diri.
"Oh,,, ya udah tanya aja?"
"Tapi,,,, " ucap Rico terhenti.
"Tapi kamu janji jangan marah ke kita ya!" Sahut Mutia sembari menggenggam salah satu tangan Inem dengan kedua tangannya.
"Ini sebenarnya ada apa sih? Kalian jangan bikin aku bingung dan penasaran gini dong!" seru Inem.
...>🍀🎍🍀<...
Sementara itu di sebuah kantor terlihat Arjun sedang termenung di ruangannya. Tatapannya mengarah ke sebuah laptop menyala yang terletak persis didepannya namun sepertinya tidak dengan pikirannya, nampaknya ada yang mengganggu konsentrasi kerjanya hari ini.
Saking larut nya Arjun dengan lamunannya sampai - sampai dia tak mendengar ada suara ketukan pintu dari arah luar. Beberapa kali seseorang tersebut mengetuk pintu, namun sama sekali tak didengar oleh yang empunya ruangan. Hingga akhirnya sebuah tepukan di bahunya menyadarkannya dari lamunan panjangnya.
"Kamu ini kenapa sih bos?" Sapa Kelvin yang ternyata adalah sang pelaku pengetukan pintu.
"Haihh kamu ini. Aku dah ketuk pintu dari tadi tapi kamu nggak jawab ternyata kamu lagi sibuk ngelamun rupanya. Lagi ngelamunin apa sih?" Kelvin lalu duduk di kursi depan meja kerja Arjun.
Sedang Arjun hanya terdiam sembari mengusap pelan dahinya yang mengerut smakin memperlihatkan kalau saat ini memang sedang ada yang mengganggu pikirannya.
"Ada apa? Biasanya kamu kan cerita ama aku? Apa aku sekarang ini sudah tak kau anggap sahabat lagi? Kamu sudah nggak percaya lagi sama aku?" Tanya Kelvin lagi.
"Bukan begitu." Sahut Arjun.
"Lalu apa?" Kelvin pun smakin dibuatnya penasaran. Dia sangat mengenal Arjun. Masalah apapun bisa dihadapinya dengan tenang. Namun nampaknya gelagatnya kali ini menunjukkan kalau temannya itu edang berhadapan dengan masalah yang tak biasa.
"Entahlah,,, aku hanya lagi bingung aja." Jawab Arjun.
"Masalah pekerjaan atau yang lainnya?" Kelvin pun smakin serius.
Perlahan Arjun menghela nafas panjang sembari mematikan laptopnya dan lalu menutupnya. Dia menyandarkan punggungnya di sandaran kursinya yang empuk. Sejenak dia menutup kedua kelopak matanya dan kemudian membuknya kembali dan menatap langit - langit ruangannya.
"Ya sudahlah kalau kamu nggak mau cerita. Aku harap kondisimu saat ini tak mengganggu meeting dengan clien penting nanti!" Ucap Kelvin mengingatkan agenda Arjun sesaat lagi.
__ADS_1
Dalam hal hati Kelvin memang berontak dengan Arjun, tapi kalau dalam hal pekerjaan Kelvin sangatlah profesional. Dia tak ingin mencampur adukan hubungan pribadinya dengan pekerjaannya. Dia sangatlah menghargaimu Arjun sebagai sahabat yang selama ini selalu membantunya. Dia tak ingin menjadi orang yang tak tahu balas budi.
Setelah mengingatkan Arjun, Kelvin pun beranjak dari tempat duduknya berniat keluar dari ruangan bosnya. Namun belum sempat dia melangkahkan kakinya, tiba - tiba Arjun bersuara.
"Apakah perasaan bisa berubah dalam waktu yang singkat?" Tanya Arjun.
Mendengar pertanyaan Arjun tentu saja membuat Kelvin sontak mengarahkan pandangannya ke arah Arjun dan menatapnya.
"Apa maksudmu?"
"Entahlah,,, aku sendiri juga nggak ngerti dengan apa yang bergejolak dihatiku saat ini. Yang jelas rasa ini sangat menyiksaku." Ucap Arjun.
Kelvin terdiam dan dia kembali ke posisi duduknya siap mendengarkan apa yang menjadi keluh kesah lelaki yang kini ada dihadapannya.
"Apakah ini ada hubungannya dengan istrimu atau Lashira?"
Kini ganti Arjun yang terdiam. Dia mengatur nafasnya dan mencoba untuk terlihat tenang, namun tetap saja kegusaran terlihat jelas diwajahnya.
...>🍀🎍🍀<...
Balik lagi ke pov Inem.
Dengan jantung yang berdegup keras, Mutia menatap Inem dan mengenggam kedua tangannya.
"Kamu sana Bimo itu sebenarnya gimana sih?" Dengan berat Mutia bertanya kepada Inem.
"Gimana apanya maksudnya?" Tanya Inem balik.
"Maksudnya itu,,, kamu kan udah nikah ma Arjun, trus kenapa kamu akhir - akhir ini deket ma Bimo. Apa Arjun tak marah?" Tanya Mutia.
"Marah,,, ? Kenapa dia harus marah?" Tanya Inem balik.
"Haisst kamu ini gimana sih Nem?"
Kebingungan nampak diwajah Mutia. Rasa penasaran nya semakin mencuat setelah mendengar ucapan Inem barusan.
"Sebenarnya kamu ma Bimo tuh gimana sih Nem? Kalian nggak mungkin pacaran lagi kan? Secara kamu berstatus istri orang. Trus Arjun gimana? Apa dia nggak marah liat kamu keseringan jalan ma Bimo? Haiist,,, kok aku nggak habis pikir ma kelakuanmu sih." Mutia mulai mengungkapkan rasa penasarannya yang selama ini mengganjal hatinya.
"Ya udah sih Mut nggak usah dipikirin gitu aja kok dibikin pusing sih." Sahut Inem dengan santainya.
__ADS_1
...🌸 Bersambung 🌸 ...