Inem Bukanlah Seorang Pelayan

Inem Bukanlah Seorang Pelayan
episode 30


__ADS_3

...🌸 Happy reading 🌸...


Malam harinya disaat semua penghuni rumah sudah terlelap Vian berdiam diri di ruang keluarga. Semua lampu padam namun ruangan tak nampak gelap gulita karna televisi yang menyala membuat ruangan sedikit bercahaya. Vian begitu serius memandangi televisi, tetapi tidak dengan pikiran dan hatinya. Sepertinya ada sesuatu hal yang sedang menguasai alam sadarnya. Sesuatu yang belum bisa dia temukan kebenarannya.


"Ngapain gelap - gelapan sendirian?" Sapa Arjun yang baru saja pulang dan lalu duduk disamping Vian.


"Nggak apa - apa, lagi nggak bisa tidur aja."


Pandangan Vian tak bergeming dari layar yang menyala.


"Tumben, nggak biasanya kamu begadang. Kenapa? Apa ada yang sedang mengganggu pikiranmu? Bicaralah pada abangmu ini!"


"Hmmm..."


"Masalah kuliah apa masalah cewek nih?" Goda Arjun.


Vian terdiam tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan kakaknya. Netranya tetap tertuju ke televisi besar yang jaraknya lumayan jauh dari pandangannya.


"Lhah kok malah diem sih? Nggak mau abang bantuin ya?"


"Entahlah."


"Dih,,, gaje banget sih. Ya udah abang keatas dulu ya. Capek mau istirahat." Pamit Arjun.


Saat Arjun berdiri hendak pergi, Vian berkata. "Aku boleh tanya sesuatu nggak bang?" Vian mendongak melihat Arjun yang kembali duduk disampingnya.


"Apa?"


"Apa alasan seseorang tega berselingkuh dari pasangannya?"


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? "


"Aku merasa pasangan orang yang kukenal berpaling darinya."


"Tanya saja sama temanmu itu. Pasti ada alasan tersendiri mengapa pasangannya memilih untuk berselingkuh!"


"Tapi aku tak melihat keburukan pada dirinya. Aku malah mengaguminya karna dia begitu baik. "

__ADS_1


"Itu kan menurutmu."


"Tapi kalau sudah berkomitmen menjadi suami istri kan seharusnya masing-masing harus bisa saling menjaga."


"Nggak semua kehidupan sama seperti apa yang kamu pikirkan. Pasti ada sebab kenapa seseorang tak bisa hidup layaknya pasangan pada umumnya. Lagian kamu ini ngapain sih ngurusin orang. Biarkan sajalah. Biar mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. Kamu nggak perlu ikut campur urusan rumah tangga orang. Kurang kerjaan aja, nggak ada untungnya juga kan?"


"Hmmm,,, gitu ya, lalu apa alasan abang?"


"Maksud kamu?"


"Tadi aku melihat abang dicafe sama seorang perempuan dan aku lihat kalian cukup akrab kayak sepasang kekasih yang lagi kasmaran. Siapa dia bang?"


Walaupun ada rasa tak enak akhirnya Vian memberanikan diri bertanya kepada Arjun tentang apa yang dilihatnya dicafe. Hal itu membuat Arjun kaget, dia tak menyangka akan secepat ini hubungannya dengan Lashira diketahui oleh adiknya. Sebenarnya dia tak mau membahas hal ini namun adiknya terus menerus mempertanyakan siapa wanita yang tadi bersamanya.


"Ya,,, dia memang kekasih ku."


Sungguh tak dapat dipercaya. Lelaki itu dengan gamplangnya mengakui kekasihnya. Vian pun tak habis pikir kenapa kakaknya bisa punya kekasih sedang dia sudah berstatus sebagai seorang suami.


"Apa?! Bang Jun sadarkah dengan apa yang barusan kau ucap? Lalu bagaimana dengan Inem?"


"Kami berpacaran sejak kami masih kuliah. Jauh sebelum adanya dia."


Kini Vian tahu alasannya mengapa hubungan Inem dan kakaknya itu tak bisa harmonis layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Namun walau begitu dia tetep nggak terima akan sikap kakaknya yang meremehkan pernikahannya. Apalagi saat Arjun berencana menceraikan Inem dan lalu menikahi kekasihnya. Ini terdengar sangat konyol bagi Vian.


"Gila,,, segampang itukah bang? Lalu kau anggap apa pernikahanmu ini? Bagaimanapun juga pernikahan kalian itu sah dan abang nggak bisa mempermainkan begitu saja. Abang nggak mikirin bagaimana nasib Inem nantinya?"


"Aku mencintai Lashira dan bersama dialah aku ingin menghabiskan seluruh hidupku."


Tentu saja Vian tak bisa menerima keputusan kakaknya itu. Dia terus berusaha membujuk Arjun supaya bisa mempertahankan pernikahannya namun setiap kali Vian bicara Arjun selalu saja menampiknya. Dia bersikekeh dengan keputusan awalnya. Merasa terintimidasi Arjun pun lebih memilih untuk pergi meninggalkan Vian yang terdiam diruang keluarga. Entah kenapa setelah mendengar penjelasan dari kakaknya perasaan Vian semakin tak karuan. Seolah tak rela kalau gadis yang saat ini menjadi kakak iparnya itu terluka dan bersedih.


"Ada apa denganku ini?" Gumannya dalam hati.


...****************...


Pagi harinya dikota Daerah Istimewa Yogyakarta seorang pemuda berlari dikoridor sebuah universitas ternama. Dia menghampiri seseorang yang sedang asik menikmati secangkir kopi dikantin sambil mengutak - atik laptop.


Karna tak kuasa menghentikan lajunya yang kencang, pemuda yang berlari itu mulai hilang keseimbangan dan hampir terjatuh hingga tak sengaja menyenggol tangan Bimo dan menumpahkan sedikit kopi yang dipegangnya.

__ADS_1


"Nj*r kopi ku,, asem kau Co! Umpat Bimo sembari melotot.


"Maaf Bim maaf aku kan nggak sengaja,,, !"


"Haish,,, untung nggak kena laptop. Coba kalau kena bisa berabe kan. Lagian kamu ngapain sih lari - larian kek gitu?"


Bimo menyambar beberapa lembar tisu yang tersedia diatas meja dan lalu mengelap tumpahan kopi yang ada didekat perangkatnya.


"Aku punya kabar bagus buat kamu." Kata Rico yang lalu duduk dikursi berhadapan dengan Bimo.


"Awas aja kalau kabarnya nggak bikin aku seneng, nih sisa kopi aku siram kekapalamu!"


"Dih,, kejam banget sih. Tenang aja kamu bakalan berterima kasih sama aku. Percaya aja deh sama aku."


"Emang apaan sih? Yakin banget bikin aku seneng." Tanya Bimo penasaran. karna melihat temannya itu tak henti mengumbar senyum.


"Bentar ya aku kirim ke nomer mu dulu!"


Jempol Rico dengan lihai menari diatas keybord ponselnya. Setelah notifikasi pesan masuk berbunyi. Bimo lantas membuka pesan itu dan lalu membacanya. Tertulis dipesan itu sebuah alamat yang terletak di Jakarta. Melihat isi pesan itu mata Bimo terbelalak seakan tak percaya dengan apa yang di lihatnya dilayar ponselnya.


"Ini,,,, ?"


"Ya itu adalah alamat universitas Inem kuliah saat ini disana."


"Bagaimana kamu bisa mendapatkannya?"


"Sepupuku kebetulan kuliah disana, tadinya aku iseng tanya dan menyuruhnya untuk mencari Inem. E,,, tak taunya beneran ada walaupun harus membutuhkan waktu yang lama untuk membujuknya, tapi hasilnya tidak mengecewakan kan?"


"Makasih ya kali ini kamu bener - bener bisa diandalkan!"


Tepukan kecil mendarat di bahu Rico. Setelah memasukan laptopnya kedalam tas. Bimo beranjak pergi dengan senyum mengembang dibibirnya. Dia nggak lagi menghiraukan Rico yang masih terduduk ditempatnya.


"Woe Bim, kamu mau kemana?" Teriak Rico.


"Nyamperin Inem!" Jawab Bimo sambil berlari.


"Heh,,, nggak salah nih? Tunggu woe." Rico pun berlari menyusul Bimo yang sudah terlebih dahulu pergi.

__ADS_1


Terpancar kebahagiaan dari wajah Bimo. Kegundahan yang selama ini menyelubungi relung hati dan pikirannya sekarang mulai mendapat titik terang. Walaupun cuma sedikit namun itu cukup meyakinkan Bimo kalau suatu saat nanti harapannya bersama gadis pujaannya itu akan segera menjadi kenyataan.


...🌸 Bersambung 🌸...


__ADS_2