
...🌸 Happy reading 🌸...
Setelah semuanya pergi, Vian menggandeng Inem dan lalu mengajaknya ke taman belakang rumah. Tempat biasanya mereka sering menghabiskan waktu bersama. Untuk beberapa saat mereka terdiam dan hening dalam lamunannya masing - masing. Inem yang meratapi nasib percintaannya sedang Vian yang kebingungan akan perasaannya kepada gadis yang saat ini sedang duduk disampingnya.
Sebenarnya Vian sudah lama merasa ada keanehan dalam hatinya terhadap Inem. Namun dia lebih memilih untuk bungkam karna tak ingin perasaannya itu mengganggu hubungan kakak dan istrinya. Tapi sekarang setelah dia tau semuanya, dia merasa kalau perasaannya selama ini terhadap Inem perlu diperjuangkan.
"Seandainya waktu itu aku ada disana, pasti akulah yang berada diposisi bang Jun ya dan kamu nggak akan bersedih seperti ini." Ucap Vian membuka suara menembus keheningan diantara mereka.
"Ha,,, kamu ngomong apa Vian?" Sahut Inem sambil menyeka air matanya yang tadi sempat menetes.
"izinkan aku menggantikan posisi bang Jun!" Pinta Vian.
"Aku nggak ngerti apa yang kamu bicarakan?"
Perlahan Vian meraih tangan Inem dan lalu menggenggam jemarinya. Netranya tertuju lurus ke arah kedua mata Inem yang terlihat agak basah karna habis menangis.
"Sebenarnya sejak pertemuan kita malam itu, aku sudah tertarik sama kamu dan setelah beberapa hari ini kita bersama aku merasa ada kecocokan diantara kita. Aku menyadari ada perasaan lain dihatiku. Bukan sebagai seorang teman ataupun saudara Ipar, melainkan perasaan terhadap kekasihnya. Aku sayang sama kamu." Vian mengungkapkan apa yang ada dihatinya.
Mendengar apa yang dikatakan Vian, tentu saja membuat Inem tercengang. Bagaimana mungkin saudara lelaki dari suaminya itu bisa mengatakan hal ini kepadanya. Diapun lalu bergegas melepaskan tangannya dari genggaman Vian.
"Nggak,,, ini nggak bener. Vian,,, kamu lagi bercanda kan sama aku?" Inem membalas tatapan Vian.
"Ini bukan saatnya untuk bercanda. Apa yang aku katakan tadi benar adanya dan juga tulus dari hatiku. Aku bener - bener sayang sama kamu dan aku akan berusaha membahagiakan mu selamanya. Aku berjanji nggak akan membiarkan kamu bersedih seperti ini."
Lagi - lagi Vian berusaha menggenggam tangan Inem namun kali ini Inem menepis nya. Pandangannya kini beralih ke arah semula. Dia menghela nafas panjang - panjang dan lalu mendongak menatap gelapnya langit. Kedua tangannya berpegang pada kursi sedang kakinya diluruskan dan menyilang.
( Haishh yang nggak kebayang gimana gambarannya ya sudah lah dilewati saja 🤠)
"Tak seharusnya kamu bicara seperti itu Vian, bagaimanapun aku adalah kakak iparmu, istri dari kakak kandungmu. Tak sepantasnya aku mendapatkan perasaanmu yang berharga itu. Pasti akan ada seseorang yang lebih berhak memilikinya dan orang itu bukanlah aku."
__ADS_1
"Lalu bagaimana denganmu? Kalian tak saling cinta mana bisa bahagia. Apalagi bang Jun juga punya kekasih. Apa kamu mau ngejalanin pernikahan yang tidak sehat ini? Apa kamu tak ingin mengakhirinya?" Tanya Vian beruntun.
"Bukankah tadi kamu sudah mendengar semuanya? Sekuat apapun aku meminta, mami dan papi nggak akan mengizinkanku untuk berpisah dengan kakakmu."
"Itukan karna mereka nggak tau perasaanku padamu. Coba kalau mereka tau. Aku yakin mereka pasti mengizinkannya. Kalaupun tidak aku akan mencoba meyakinkan mereka agar mau merestui kita." Jawab Vian ngeyel.
"Haishh,,, sebaiknya kamu nggak melakukan itu. Aku nggak ingin membuat keadaan ini menjadi tambah runyam."
"Percayalah padaku! Asalkan kamu mau percaya semua pasti akan baik - baik saja!" Ucap Vian berusaha meyakinkan Inem.
"Vian dengarkan aku! Sebelum aku menikah dengan kakakmu, aku sudah punya kekasih. Jadi,,, kalaupun nantinya aku bisa pisah dengan Arjun, aku pasti akan kembali padanya." Tegas Inem.
"Nggak,,, kamu pasti bohong kan?"
"Maaf Vian,,, pada kenyataannya itu memang benar. Kalau kamu nggak percaya kamu bisa tanyakan kepada orang yang ada disini!"
Yang dimaksud Inem orang yang ada disini adalah Arjun dan kedua orang tuanya.
Inem meraih tangan Vian dan menggenggamnya. Walau saat ini dia merasa bebannya amat berat, namun dia berusaha untuk tersenyum menyikapi pernyataan adik iparnya.
"Maaf kan aku! Aku yakin kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih dariku dan kamu akan sangat bahagia bersamanya."
Itulah kata yang diucapkan Inem sesaat sebelum dia beranjak dari tempat duduknya dan lalu pergi meninggalkan Vian yang masih terduduk menatap kepergian Inem yang semakin lama semakin tak terlihat oleh matanya.
Kepergian Inem menambah sunyinya suasana. Vian duduk termenung mencoba mencerna apa yang dikatakan Inem. Sekarang ini pikirannya semakin kacau bila dibandingkan sewaktu belum mengungkapkan perasaannya. Walau begitu ada sedikit rasa lega dihatinya karna telah mengutarakan isi hatinya kepada orang yang telah memgisi hatinya
...****************...
Pagi harinya seperti biasa mereka semua selalu bertemu dimeja makan untuk sarapan. Namun kali ini ada yang berbeda, kursi Arjun nampak kosong. Selly yang melihatnya langsung bertanya kepada Inem.
__ADS_1
"Arjun mana?"
"Maaf mam, sejak kejadian itu Arjun belum pulang sampai sekarang." Rasa takut mendera Inem. Dengan ragu dia menjawab dan tak berani menatap Selly yang duduk berhadapan dengannya.
"Haisshh,,, kemana anak itu? Kemana kamu nggak bilang sama mami nak?" Selly geram mendengar jawaban Inem.
Melihat raut wajah Selly saat ini, membuat Inem takut untuk membuka suara. Dia hanya menunduk dan mengucapkan kata maaf dengan suara pelan nyaris tak terdengar.
"Ya sudah biarkan saja nanti juga balik kan. Sebaiknya kita makan saja dulu!" Ujar Angga menengahi agar tak lagi membahas yang bisa mengacaukan suasana sarapan pagi ini.
Setelah kegiatan rutin pagi itu semua orang melanjutkan kegiatannya masing - masing dan seperti biasanya juga Inem diantar kuliah oleh Vian.
Diperjalanan menuju ke kampus, suasana dalam mobil sangatlah hening. Tak ada percakapan sama sekali diantara dua orang ini. Sepertinya ada rasa canggung diantara mereka berdua.
Sesampainya di halaman kampus, Vian menghentikan mobilnya. Saat Inem membuka pintu mobil dan hendak keluar, tiba - tiba dia merasa tangannya ada yang memegang sehingga dia menoleh kebelakang.
"Aku sudah memikirkan baik - baik dan keputusannya,,, aku akan membuat kamu agar bisa membalas perasaanku."
"Vian,,, kamu nggak boleh begitu!"
"Kenapa?"
"Karna aku hanya bisa mengganggap kamu sebagai adik iparku, nggak lebih. Ku mohon urungkan niatmu itu!"
"Aku nggak akan menyerah sebelum mencoba. Kita lihat saja,,, tak lama lagi kamu akan bisa mencintaiku!"
"Itu nggak akan terjadi Vian."
Perlahan Inem menyingkirkan tangan Vian darinya. Dia bangkit dan lalu keluar dari mobil. Vian menatap sesaat kepergian Inem dan lalu melajukan kembali mobilnya.
__ADS_1
"Semoga Vian tak serius dengan ucapannya tadi." Ucap Inem dalam hati.
...🌸 Bersambung 🌸...