
...🌸 Happy Reading 🌸...
Bimo masih saja melontarkan pertanyaan - pertanyaan yang memojokkan Inem dan membuat Inem mengucurkan keringat dingin dari pori - pori tubuhnya. Untung saja ada Mutia yang datang. Jadi Inem bisa bernafas lega dan mengalihkan perhatian Bimo lalu mereka pun pergi ke kelas bersama - sama.
Ditempat lain Arjun kini sedang berada diruang kerjanya bersama asistennya yang tak lain adalah teman kuliahnya dulu yaitu Kelvin.
Posisi Arjun saat ini dia sedang berdiri didekat jendela kaca yang berukuran besar menatap kearah luar dengan tangan kiri dimasukkan kedalam saku celana dan tangan kanan memegang sebatang rokok yang menyala. Sedang Kelvin dia duduk dikursi depan meja kerja Arjun.
Suasana dalam ruangan itu sejenak sunyi. Mereka berdua larut dalam pikirannya masing - masing. Entah kenapa kali ini Kelvin menangkap aura Arjun yang belum pernah dirasakannya sebelumnya. Kelvin sudah menduga bahwasannya hari ini dia akan diinterogasi layaknya seorang pencuri yang sedang disidang. Namun Kelvin menyikapinya dengan tenang dan santai.
Perlahan Arjun menyesap rokoknya dan menyembulkannya ke udara tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kamu tahu darimana acara ku dan kenapa kamu mesti mengajaknya waktu itu? Tanya Arjun.
"Kamu sendiri? Kenapa kamu menutupi perihal pernikahanmu pada kami?" Bukannya menjawab pertanyaan atasannya, Kelvin justru bertanya balik.
"Aku punya alasan tersendiri." Jawab Arjun sembari menyesap batang rokoknya kembali.
"Alasan apa? Kamu sadar nggak sih dengan apa yang telah kamu perbuat itu? Kamu telah mempermainkan perasaannya. Dia yang telah memberikan cintanya kepadamu dengan mudahnya kamu melukai dan mengkhianati nya. Bener - bener nggak punya otak kamu ya!" Ucap Kelvin dengan nada suara yang meninggi. Dia nggak perduli status Arjun adalah atasannya. Dia hanya meluapkan kekesalan nya walaupun dibalik itu dia juga merasa senang karna sekarang dia bisa terang - terangan mengejar gadis pujaannya.
"Semua itu nggak seperti apa yang kalian pikirkan. Aku terpaksa melakukannya." Jawab Arjun.
Arjun mencoba menjelaskan situasi yang sedang dihadapinya sekarang ini. Dia menceritakan awal kejadian pernikahannya dengan Inem kepada Kelvin. Namun nampaknya Kelvin tak percaya begitu saja. Kelvin bersikap masa bodoh dengan penjelasan Arjun. Karna sejatinya dia merasa diuntungkan atas pernikahan Arjun tersebut.
__ADS_1
"Hah sudahlah bos, sebaiknya kamu jalanin aja pernikahan kamu sekarang! Jangan ganggu Shira lagi! Kamu harus bisa melepasnya!" Ucap Kelvin. Dia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar.
"Tunggu!"
Mendengar titah bosnya itu, Kelvin langsung menghentikan langkahnya dan menoleh kearah bosnya.
"Aku tak melihatnya di apartemen, ditempat kerjanya juga nggak ada." Ucap Arjun dengan pandangan tertuju ke arah Kelvin.
"Jangan sakiti dia lagi!" Cakap Kelvin dengan nada mengancam. Sorot matanya tajam seakan ingin menerkam mangsa yang sudah lama diincar nya.
Setelah melontarkan peringatan kepada Arjun, lantas Kelvin pun pergi meninggalkan ruangan tersebut. Dia menutup pintu dengan keras sebagai pertanda dia sedang kesal dengan atasannya itu.
Perlahan Arjun berjalan mendekati meja kerjanya. Dimatikan nya rokok yang masih panjang ke sebuah asbak yang terletak diatas meja dengan kasar. Sebuah pukulan mendarat tepat disamping asbak tersebut membuat asbak tersebut melambung ke udara dan mendarat dengan posisi terbalik sehingga memuntahkan sisa abu dari rokok dan berceceran disekitarnya. Kemudian dia duduk di kursinya, dengan punggung bersandar. Begitu juga kepalanya, Arjun memposisikan kepalanya di sandaran kursi dan mendongak ke arah langit - langit ruangannya sambil memejamkan kedua matanya. Kedua telapak tangannya mengepal dan sesekali tangan kanannya memukul - mukul pegangan kursi kerjanya. Disaat dia sudah mulai frustasi dengan situasi ini, tiba-tiba saja dia teringat akan sesuatu. Dia bergegas bangkit dari duduknya lalu pergi dengan tergesa-gesa.
...>🍀🎍🍀<...
Siang ini sepulang kuliah, Bimo memaksa untuk mengantarkannya pulang. Inem sudah berusaha keras menolaknya namun Bimo enggan menyerah. Hingga akhirnya Inem bersedia dengan syarat hanya mengantar dan tidak untuk masuk kedalam rumah. Bagaimanapun juga Inem menyadari kalau dirinya adalah seorang istri dan tidak sepatutnya menerima tamu laki - laki masuk kedalam rumah.
Sesuai kesepakatan, Bimo pun mengantar Inem pulang. Bimo sangat senang karna akhirnya dia bakalan tau dimana Inem tinggal dan mencoba untuk dekat dengan keluarga baru Inem. Dengan begitu akan mempermudah rencananya untuk meminta restu dan memperjelas status hubungan mereka berdua. Begitulah yang ada difikiran Bimo saat Ini.
Lalu bagaimana dengan Inem? Saat ini Inem sedang gusar. Mungkin kalau dulu dia akan merasa sangat senang bila dibonceng oleh Bimo, tapi untuk saat ini ada rasa takut dan bersalah bila berduaan dengan lelaki lain selain Arjun. Mengingat statusnya yang sekarang ini. Inem berusaha untuk menenangkan dirinya. Dia berfikir untuk kali ini saja mungkin tidak apa - apa. Lagipula ini kan rumah sendiri jadi dia tak perlu khawatir bila ketahuan keluarga Arjun. Lagian Arjun juga nggak dirumah. Begitu pikirnya.
Bimo melajukan sepeda motornya dengan perlahan dan santai berharap jalanannya tak berujung. Dia sangat menikmati saat seperti ini karna jarang sekali Inem mau dibonceng olehnya. Bahkan kalaupun mau, Bimo harus bersusah payah dan harus mencari - cari alasan terlebih dulu baru Inem akan mau. Jadi Bimo akan memanfaatkan waktu ini sebaik mungkin dan selama mungkin dengan Inem.
__ADS_1
Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh akhirnya mereka berdua pun sampai ketempat tujuan. Bimo mengendarai motornya melewati gerbang yang tadi dibukakan oleh satpam dan berhenti didekat teras depan rumah. Bimo kagum melihat besarnya dan gaya rumah yang kini dihadapannya. Sudah dipastikan keluarga yang sekarang ini menerima Inem adalah keluarga yang yang sangat mapan. Seketika Bimo merasa minder apakah dia bisa mendapat restu dari keluarga baru Inem ini. Mengingat keluarganya sendiri tak semapan mereka. Namun Bimo berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau dia akan berusaha sekuat mungkin demi bisa hidup bersama dengan gadis pujaan hatinya tersebut.
"Kamu lagi mikirin apa sih kok bengong gitu?" Tanya Inem.
Lamunan Bimo seketika buyar. Dilihatnya Inem sudah berdiri disampingnya sembari memberikan helm yang tadi dipakaikan nya.
"Eh nggak kok, nggak apa-apa." Sahut Bimo sambil menerima helm dari Inem dan lalu meletakkan nya di depan.
"Makasih ya udah dianterin kamu hati-hati dijalan!"
"Hmmm yank,,,"
"Ya."
"Aku boleh masuk nggak?" Ucap Bimo sambil membuka helm yang melekat dikepalanya.
"Kamu kan dah janji cuma nganterin doang Bim."
"Iya tapi,,," Bimo turun dari motornya dan berdiri berhadapan dengan Inem. "aku ingin kenal dengan keluarga kamu disini yank. Sekalian aku mau minta restu sama mereka." Lanjut Bimo.
...🌸 Bersambung 🌸...
Kira - kira apa ya tanggapan Inem?
__ADS_1
yuk kepoin di episode selanjutnya!
Semoga terhibur 🤗🤗