
...🌸 Happy Reading 🌸...
Di sebuah warung lesehan yang berada tak jauh dari mall, dua orang yang baru kenal sedang asyik menikmati kuliner sambil bercengkrama. Suasana hangat tercipta diantara keduanya. Itu terlihat jelas dari mimik mereka yang terukir senyuman dan juga candaan. Membuat Inem sejenak lupa akan persoalan hidupnya.
Disisi lain Arjun sedang kelabakan mencari inem. Dia bolak - balik menyusuri jalanan di sekitar mall. Pandangannya menyebar ke penjuru arah, namun sosok yang dicarinya tak kunjung ditemukannya juga. Berkali - kali pula dia menghubungi ponsel Inem, tapi tak satupun panggilannya di jawab. Pesan juga tak dibaca, semua pesan yang dikirim Arjun nampak hanya centang satu.
Rasa amarah bercampur kesal membuat suasana hati Arjun benar - benar menjadi kalang kabut. Setelah pertengkarannya tadi dengan Lashira, kini dia harus berkeliaran di jalanan mencari Inem.
...^^^Flashback on^^^...
"Sayang kamu mau kemana?"
Tanya Lashira yang baru saja keluar dari toilet dan melihat prianya yang tengah berlari ke arah pintu keluar.
Mendengar suara Lashira membuat Arjun seketika menghentikan langkahnya dan kini dia malah berbalik menghampiri Lashira.
"Aku mau mengejarnya." Jawab Arjun.
"Apa maksudmu?"
"Inem,,, tadi dia marah dan pergi. " Jelas Arjun.
"Memangnya kenapa kalau dia pergi? Biarin ajalah, biar dia nggak nggangguin kita. "
"Nggak bisa gitu lah, dia kan baru disini takutnya ntar dia nyasar. "
"Biarin aja dia nyasar, kalau perlu nggak usah balik sekalian." Ucap Lashira kesal.
"Astaga kau ini. Kalau dia nggak balik sama aku yang ada ntar mami marah - marah lah. Dah lah yuk buruan cari dia!"
Arjun meraih tangan Lashira berniat ingin menggandengnya, namun Lashira menepisnya.
"Nggak mau!"
"Sayang,,, ayolah ntar keburu jauh dia."
Arjun kembali menggapai tangan Lashira, namun lagi - lagi Lashira menepis dan kali ini gerakan tangannya agak kasar.
"Kalau aku bilang nggak mau ya nggak mau. Kamu kenapa sih ngotot banget mau ngejar dia? Bukankah dia cuman seorang pelayan? Oh,,, atau mungkin dia pacar baru kamu ya? Jangan - jangan selama aku di luar negeri kamu udah berselingkuh dengannya? Tuduh Lashira.
"Kamu ini ngomong apa sih? Siapa yang selingkuh? Aku nggak pernah selingkuh dari kamu."
Aaah,,, udah deh ngaku aja! Kamu punya hubungan khusus kan sama perempuan itu?" Tuduh Lashira lagi.
Dan kini Arjun hanya terdiam. Ingin sekali dia mengatakan yang sebenarnya, namun dia takut Lashira tak dapat menerima kenyataan ini. Baru begini aja kekasinya udah uring - uringan apalagi kalau gadis itu tahu bahwa Arjun telah mengikat sumpah di depan penghulu bersama Inem. Bisa - bisa Arjun langsung dapat kartu merah nih. Sedangkan Arjun tak mau kehilangan gadis yang sekarang ini berdiri tepat didepannya.
__ADS_1
"Kenapa diam saja? Apakah yang aku katakan itu benar?"
"Tenanglah,,, aku bisa jelaskan semuanya!"
"Jadi benar kamu punya hubungan sama tuh perempuan udik itu?"
"Sayang,,, ini sama sekali nggak seperti apa yang kamu pikirkan. Biarkan aku menjelaskannya!"
"Dasar brengs3k!! Aku nggak butuh penjelasanmu!" Lashira pergi meninggalkan Arjun dengan rasa dongkol dihatinya.
...Flashback off...
"Si@l,,, gara - gara perempuan itu semuanya jadi kacau kayak gini!"
Pukulan keras dilayangkan Arjun ke stir mobilnya lalu dengan kasar mengusap wajahnya yang kini tampak kusut.
Hari sudah mulai gelap. Rasa lelah dan putus asa mengusik Arjun dan akhirnya dia memutuskan untuk berhenti mencari Inem. Diapun melajukan mobilnya menuju rumahnya. Dia harus siap mental menghadapi maminya dirumah.
Disaat Arjun sedang memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya. Dia melihat sebuah taxi berhenti tepat didepan gerbang rumahnya. Dua orang turun dari mobil itu. Satu orang perempuan yang sosoknya sudah dikenalinya dan satunya lagi seorang pemuda yang nampaknya usianya seplantaran dengan perempuan itu
"Kamu tinggal disini?" tanya Vian.
"Iya" Jawab Inem.
"Rumahmu besar sekali ya." Vian mengamati rumah mewah yang ada didepannya.
"Numpang?" Vian heran dengan jawaban Inem.
"Hah sudahlah lupakan aja,,,! Nggak perlu dibahas juga. " Inem mengibas - ngibaskan telapak tangannya.
"Oke,,, oke,,, mungkin lain kali ya kamu akan bercerita."
"Kurasa nggak ada lain kali deh Vian, lagian nggak ada yang perlu diceritakan juga. Dahlah,,, sebaiknya sekarang kamu pulang gih! Makasih ya udah mentraktir ku makan dan mengantarkan ku pulang."
"Eh kok ngusir sih? Kamu nggak mau ngajak aku mampir dulu nih?" Ucap Vian dengan nada menggoda.
"Mungkin lain kali aja ya Vian. "
"Kok lain kali sih, sekarang aja deh! Aku haus nih, kamu nggak mau nawarin aku minum?"
"Haishhh,,, nih anak kenapa ngotot amat sih? Aku mana mungkin ngajakin cowok masuk kedalam. Apa kata mami dan papi ntar? Belum lagi si Arjun." Batin Inem.
"Hei kok malah diem sih?"
Suara Vian membuat Inem tersadar dari dunia perbatinannya.
__ADS_1
"Kamu kalau mau minum beli aja di market gih. Ada banyak noh. Pilihannya juga banyak."
"Bayar dong,,, aku kan maunya yang gratis, spesial buatan kamu." Vian menarik alisnya keatas dan melemparkan senyum menggoda kepada Inem.
"Dih kamu banyak maunya. "
"Hehehe,,, jadi boleh ya!" Tanya Vian lagi sambil cengegesan.
"Nggak boleh Vian."
"Haish,,, kok masih nggak boleh sih? Aku kan udah nganterin kamu sampai sini, masa minta minum aja nggak boleh." Vian memasang wajah memelas.
"Sekali lagi maaf ya Vian, untuk saat ini aku bener - bener nggak bisa. " Inem menangkupkan kedua telapak tangannya didepan hidung.
"Ayolah,,, sebentar aja ya!" Rengek Vian.
"Kalau orangnya udah bilang nggak bisa ya jangan maksa dong." Sahut Arjun.
"Arjun,,, sejak kapan kamu ada disitu? "
Inem terkejut melihat Arjun yang sudah bersandar di pagar tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Kenapa? Bagus ya,,, sekarang udah berani pulang malam dan membawa laki - laki kerumah!" Arjun berjalan mendekati kedua orang itu. Ternyata sedari tadi Arjun mendengar obrolan mereka.
"Bukan begitu,,, ini nggak seperti apa yang kamu pikirkan. "
"Lalu apa penjelasannya?"
"Dia hanya mengantarkan aku pulang. Tak ada maksud lain selain itu." Jelas Inem.
"Oh hanya mengantarkan pulang." Arjun menatap sinis ke Vian.
" Hu um. " Inem menangguk.
"Hei kamu,,, ! Gadis ini sudah sampai dirumahnya. Sekarang kamu juga pulang gih! Ucap Arjun ketus.
"Hah,,, ok,,, ok,,, om santai aja dong! Jangan ngomel - ngomel gitu napa sih? Cepet tua lho. " Celoteh Vian.
"Apa kamu bilang? Kamu mau cari gara - gara sama aku ha?" Arjun melebarkan matanya menatap Vian.
"Nggak om nggak ampun!" Vian cengengesan menanggapi sikap Arjun.
"Haisshhh,,, awas aja kau ya! Cepat pulang sana!"
Arjun menaikan suaranya satu oktaf, membuat Vian terpaksa mengeluarkan jurus andalannya yaitu lari 😂.
__ADS_1
...🌸 Bersambung 🌸...