Inem Bukanlah Seorang Pelayan

Inem Bukanlah Seorang Pelayan
episode 17


__ADS_3

...🌸 Happy Reading 🌸...


Hari mulai senja, pelan - pelan matahari pun mulai enggan menampakkan cahayanya. Di apartemen, Lashira sedang sibuk menyiapkan hidangan untuk makan malam, sedangkan Arjun duduk santai memandangi wanita yang dicintainya tengah sibuk bergelut dengan peralatan memasak.


"Sejak kapan kamu bisa masak kayak gini?" Tanya Arjun.


"Hmmm,,, beberapa bulan yang lalu. Aku sengaja mengambil class memasak di sela - sela waktu ku." Jawab Lashira.


"Oh ya? Bukannya dulu kamu bilang memasak itu sangat merepotkan?"


Lashira menghentikan kegiatannya dan berbalik memandang Arjun.


"Aku kan mau menjadi istri idaman buat kamu. Jadi aku berusaha keras lah. Biar nantinya aku bisa masakin kamu setiap hari."


"Entah kapan itu akan terwujud?" Suara Arjun pelan.


"Sayang,,, please deh, jangan mulai lagi ya! "


"Ya,,, ya,,, ya,,, terserah kamu saja lah."


"Kamu memang yang terbaik." Lashira melemparkan senyum manis ke Arjun dan lalu melanjutkan kegiatannya.


Belum sempat Arjun merasakan masakan yang dibuat kekasihnya, tiba - tiba terdengar alunan musik dari ponselnya. Diraihnya benda itu dari saku celananya dan menatap sekejap layarnya yang menyala. Setelah melihat nama siapa yang tertera, Arjun lantas menggeser tanda berwarna hijau dan lalu menempelkan ke telinganya.


Call on.


"πŸ“žAssalamu'alaikum,,,, " Arjun mengawali percakapan.


"πŸ“ž Waalaikumsalam warohmatulohi wabarakatuh.... " Jawaban orang dari sebrang telepon.


"πŸ“ž Ada apa mam?"


"πŸ“ž Kalian ini kemana saja sih? Kok sampai sekarang belum pulang juga. Sebentar lagi kan waktunya makan malam. "

__ADS_1


"πŸ“ž Hmm,,, anu mam,,, "


"πŸ“ž Anu apa? Inem tadi bilang kan ke kamu kalau hari ini mami sudah siapin makan malam buat kita bersama?"


"πŸ“ž Nggak mam, mungkin dia lupa. "


"πŸ“ž Haish,,, ya sudah, kalian pulanglah sekarang! " Perintah Selly.


"πŸ“ž Pulang,,,? Emangnya tuh anak belum pulang mam? "


"πŸ“ž Kamu ini gimana sih? Bukankah saat ini Inem lagi sama kamu? "


"πŸ“ž Enggak mam. " Jawab Arjun singkat.


"πŸ“ž Apa yang kamu maksud enggak Arjun?" Suara Selly setengah berteriak.


"πŸ“ž Lhah,,, emang anak itu nggak lagi sama Arjun mam." Jawab Arjun santai.


"πŸ“ž ARJUN,,, !? Kamu jangan macam - macam sama mami ya! Tadi itu supir yang nganterin Inem sudah mami suruh langsung pulang. Mami sengaja supaya kalian pulang bareng dan kamu sekarang malah bilang kamu lagi nggak sama Inem? Apa - apaan kamu ini?" Selly ngomel - ngomel ditelfon.


"πŸ“ž Iya,, iya mam. Maaf tadi Arjun cuma bercanda aja mam. Oke,,, Arjun akan pulang sekarang juga."


"πŸ“ž Haish,,, dasar anak nakal. Senang banget kamu bikin mami khawatir. Ya sudah, mami tunggu dirumah ya. Assalamu'alaikum,,, "


"πŸ“ž Iya mam, waalaikumsalam,, "


Call end.


"Heddeh,,, ada - ada aja. "


Arjun mengusap kasar rambutnya dan lalu menyimpan kembali ponselnya.


"Ada apa?" Tanya Lashira.

__ADS_1


"Mami menyuruhku untuk pulang."


"Kita makan malam dulu ya! Habis itu baru kamu pulang!"


Arjun melihat meja yang ada didepannya. Dilihatnya disitu sudah tertata rapi beberapa jenis masakan beserta dua gelas minuman yang dibuat khusus untuknya. Arjun memandang kekasihnya dan menghela nafas pelan.


"Maaf,,, untuk saat ini aku benar - benar tidak bisa. Lain kali saja ya! Aku harus pulang sekarang. Kamu tahu sendiri kan gimana mami?"


Berat hati Arjun menolak ajakan Lashira. Dia beranjak dari tempat duduknya, disambarnya jas yang tergeletak di sandaran sofa dan dengan buru - buru memakainya.


"Hmmm,,, " Lashira tak berani membantah Arjun. Dia hanya menunduk lesu menandakan kekecewaannya saat ini.


Bagaimana tidak kecewa. Dia sudah bersusah payah menyiapkan beberapa masakan untuk Arjun namun Arjun tidak menyentuhnya secuilpun.


"Maafkan aku! Aku janji, lain kali aku akan memakan habis masakan yang kamu bikin. "


Arjun mengecup kilas kening Lashira dan lalu pergi keluar begitu saja.


"Selalu saja seperti itu? Kapan aku bisa menjadi yang paling penting bagimu? " Batin Lashira kesal.


...****************...


Diperjalanan Arjun menancap pedal gas mobilnya dengan kecepatan diatas rata - rata. Berharap dia akan segera menemukan wanita yang sekarang ini telah menjadi tanggung jawabnya. Yeach,,, walaupun itu bukanlah hal yang diinginkannya, namun memang tidak bisa dipungkiri lagi kalau bahwasanya kini Inem adalah istrinya. Yang difikirkan nya saat ini adalah segera pulang kerumah dan selamat dari omelan maminya. Karna dia telah berbohong kepada maminya dan membiarkan Inem sendirian tadi.


Kali ini Arjun kurang bisa fokus mengendarai mobilnya. Otaknya terus berputar - putar menerka dimana keberadaan Inem saat ini. Apakah dia masih dikantornya apa sudah pergi dari sana.


"Tuh anak masih disana apa nggak ya? Ini sudah cukup lama aku meninggalkannya, tapi kalaupun dia pergi juga nggak mungkin. Dia kan baru disini, belum tau alamat rumah dan juga daerah sini." Guman Arjun.


"Aku coba telpon dia sajalah." Arjun merogoh ponselnya. Dia berencana untuk menelpon Inem. Namun saat hendak melakukan panggilan tiba - tiba dia teringat akan sesuatu.


"Aaahhh si@l,,, bagaimana aku bisa menelponnya kalau nomernya saja aku nggak punya. Ughhh merepotkan saja."


Arjun kesal dan memukul stir mobilnya dan memutuskan untuk mencari Inem ke perusahaan.

__ADS_1


...🌸 Bersambung 🌸...


__ADS_2