
...🌸 Happy Reading 🌸...
"Ini nggak bener,,,, udah terlalu lama aku duduk diam disini. Nih orang maunya apa sih? Seenaknya sendiri, tadi ngasih kerjaan yang banyak dan sekarang malah nyuruh aku nemenin dia kerja dijam makan siang. Emangnya tuh perutnya tak laper apa? Aku aja dah keroncongan gini. Aaahhh ini nggak boleh dibiarin, aku harus lakukan sesuatu!" Inem menggerutu dan mengeluh dalam hati.
"Arjun,,, sampai kapan aku begini? Ini udah siang dan jam makan siang pun akan segera habis." Protes Inem.
Memang benar karna sekarang jam menunjukkan hampir jam satu siang. Namun Arjun tak bergeming dari kerjaannya. Arjun menganggap suara Inem itu hanyalah suara nyamuk yang berdenging di malam hari.
"Eh beruang kutub,,, kamu denger nggak sih? Aku laper ini lho,,, aku mau makan." Protes Inem lagi dan sekarang Inem meninggikan suaranya karna merasa diacuhkan dan ternyata Arjun mengacuhkannya lagi untuk yang kedua kalinya yang membuat Inem semakin emosi saja.
"Kamu itu tuli ya,,,, ?! Apa kurang kenceng aku ngomongnya?!" Inem semakin meninggikan nada suaranya.
...Brakkk,,,,,...
Suara keras terdengar dari meja yang dipukul Arjun membuat Inem terkejut dan seketika berhenti mengoceh.
"Berisik,,,, !? Kamu bisa diam nggak?" Bentak Arjun.
"Nggak,,, !" Jawab Inem lantang tanpa ragu.
"Kalau kamu nggak mau aku berisik ya udah biarin aku keluar." Ucap Inem.
"Nggak akan aku biarin kamu keluar dari sini tanpa perintah ku." Arjun memberikan tatapan tajam kepada Inem.
"Kamu itu maunya apa sih?" Tanya Inem.
"Diam atau,,,,!?"
"Atau apa?" Tanya Selly yang baru saja masuk.
Belum juga Arjun menyelesaikan perkataannya, namun Selly keburu masuk dan langsung memotong pembicaraan. Kedatangan Selly yang tanpa sepengetahuan nya itu membuat Arjun seketika terdiam dan tak berkutik. Seperti maling yang yang tengah tertangkap basah seperti itulah posisi Arjun sekarang ini.
"Mami,,, mami kenapa ada disini?" Tanya Arjun mengalihkan pembicaraan.
"Hmmm jadi begini kelakuanmu kepada karyawan? Setelah kamu memberikan tugas yang begitu banyak, sekarang jam istiratnya pun tak kau berikan?" Ucap Selly sembari berkacak pinggang.
"Eh mami ngomong apa sih? Nggak ada yang begitu mam. Mami salah itu." Elak Arjun.
"Jangan pikir mami nggak tau ya Arjun. Meskipun mami nggak ada disini, tapi mami bisa tau apa saja yang kamu lakukan."
"Haistt,,, ini pasti Vian yang mengadu. Ughhh bocah itu,,, sampai kapan akan mengganggu ku terus seperti ini?" Keluh Arjun.
"Bukan Vian,,, jangan kau salahkan adikmu itu. Dia tak ada sangkut pautnya dengan masalahmu."
__ADS_1
"Nggak ada gimana mam? Dia tuh yang selalu mencari gara - gara." Ucap Arjun tak terima adiknya dibela ibunya.
"Gara - gara apa ha? Masalahmu jangan kau lemparkan kepada adikmu!" Ucap Selly.
"Aku nggak melempar kesalahan mam, tapi kenyataannya memang begitu. Vian tuh selalu bikin ulah mam. Lagian kenapa sih dia masih disini aja? aku kan dah aktif kerja lagi, jadi dia dah bisa balik nerusin kuliahnya sana!"
"Heh Arjun,,, sejak kapan kamu mulai banyak bicara seperti ini ha? Oh,,, ini pasti pengaruh buruk dari perempuan itu kan? Dia yang udah ngajarin kamu seperti ini kan?" Selly menyalahkan Lashira atas perubahan sikap Arjun.
"Mami jangan bawa - bawa Lashira! Dia nggak ada hubungan dengan ini!"
"Hmmm maaf mam,,, maaf banget,,, sebaiknya jangan dilanjutin lagi berdebat nya mam. Nggak enak kalau kedengaran sama yang lain." Ucap Inem menengahi perdebatan antara ibu dan anak itu.
"Sebaiknya kita duduk disana saja yuk mam!" Ucap Inem mengajak Selly untuk menenangkan dirinya dan duduk disofa yang terletak di salah satu sudut ruangan.
"Haisssttt,,, kalau saja ini bukan permintaan Inem maka mami akan benar - benar menghajar mu."
Keduanya pun lalu duduk di kursi panjang berwarna hitam kombinasi abu - abu.
"Ya,,, sebaiknya dia saja yang mami hajar." Gerutu Arjun dalam hati.
"Mami tenangin diri dulu ya! Biar Inem ambilin air." Setelah mempersilahkan Selly duduk, tanpa diminta Inem lantas pergi mengambil air minum untuk ibu mertuanya itu.
Namun saat Inem hendak melangkah, tangannya dipegang oleh Selly sehingga Inem pun terpaksa menghentikan langkahnya dan kembali mengalihkan perhatiannya kepada Selly.
"Pergi,,,? Kita mau kemana mam?"
"Makan siang. Kamu pasti belum makan kan? Kasihan,,, pasti kamu laper banget ya? Dan semua itu gara - gara dia bukan?" Selly melempar pandang menatap Arjun.
Inem mengangguk pelan.
"Ok,,, sebagai gantinya mami akan mentraktir mu makanan yang enak dan kamu boleh makan sepuas yang kamu mau."
Mendengar hal itu langsung membuat mood Inem berubah drastis. Dari yang kesal menjadi tersenyum sumringah. Saking girangnya tanpa sadar Inem memeluk ibu mertuanya itu yang kini sedang berdiri didepannya.
"Huaaa makasih mam."
"Ya sudah ayok kita pergi!" Ajak Selly.
"Tapi mam,,, "
"Tapi apa?"
Inem melirik ke arah Arjun dan tanpa bertanya Selly pun langsung tau apa maksud dari lirikan Inem.
__ADS_1
"Oh,,, udah biarin aja dia! Yang penting kamu nggak kelaperan lagi. Mami kan tau betul tuh perut kamu nggak bisa sedikit aja menahan laper kan?"
"Hehehe iya mam." Jawab Inem cengengesan.
Lalu keduanya pun berjalan menuju pintu keluar. Inem melingkarkan tangannya manja ke lengan Selly dan Selly senang sekali dengan kemanjaan Inem terhadapnya kerna dengan begitu dia bisa merasakan mempunyai anak perempuan. Maklum saja kedua anak Selly laki - laki jadi wajar kalau dia mendambakan anak perempuan.
Melihat kedua wanita itu berjalan, Arjun pun lalu berberes dan bangkit dari duduknya.
"Eits,,, kamu mau kemana? " Tanya Selly yang melihat Arjun berjalan meninggalkan meja kerjanya.
"Ikut makan lah mam. Arjun kan juga laper."
"NO,,, kamu terusin aja kerjaanmu itu! Lagian siapa juga yang ngajakin kamu makan? Ku pikir kamu tak punya rasa lapar." Ucap Selly sembari mengacungkan jari telunjuknya ke arah Arjun dan menggoyangkan nya.
"Lhah,,, ini sebenarnya yang anaknya mami siapa sih? Perasaan Arjun deh trus kenapa dia yang belain terus sih mam? Arjun kan juga laper mam."
"Kalau kamu lapar lalu kenapa kamu ajak - ajak Inem ha? Bener - bener deh."
"Hmmm itu karna dia,,, " Arjun mencoba mencari alasan untuk membela diri.
"Haisss kamu ini masih saja mau menyalahkan orang. Makanya nurut sama mami, kalau kamu nggak nurut bearti kamu memang bukan anak mami. Mungkin kamu tertukar saat dirumah sakit karna waktu itu banyak yang melahirkan bareng mami." Celoteh Selly asal bicara karna ingin membuat Arjun jengkel.
"Yak,,,, mami kok ngomongnya gitu sih? Tega amat sama anak sendiri." Ucap Arjun dengan suara lemas karna kecewa dengan perkataan Selly.
"Aiiihhh,,,, ya sudah deh kamu boleh ikut makan bareng kita."
"Yess itu baru mami. Mami the best deh." Arjun tersenyum melihat ibunya luluh juga.
"Dih,,, kalau ada maunya aja baru deh muji mami. Ok kamu boleh ikut, tapi,,,!"
"Tapi apa mam?" Tanya Arjun penasaran.
"Tapi kamu yang traktir kita hahaha,,, !" Ucap Selly sembari tertawa. "Nem kita pilih makanan yang enak - enak ya mumpung ada yang traktir! Kalau perlu yang mahal sekalian!" Ucap Selly bersemangat.
"Iya mam setuju pake banget mam,,, !" Sahut Inem girang karna melihat Arjun yang kalah telak dengan ibunya.
Dan Arjun pun terpaksa mengikuti kemauan ibunya. Saat mereka keluar dari ruangan Arjun, mereka berpapasan dengan Kelvin. Arjun pun berpesan pada Kelvin untuk memberitahukanya apabila ada hal yang penting dikantor dan Kelvin pun mengangguk tanda mengerti akan perintah atasannya itu.
"Wah,,, tak kusangka si mami gerak cepat juga ya. Kupikir dia tak akan nyamperin, tapi ternyata secepat ini sampainya." Guman Kelvin sembari melihat tiga bosnya berjalan keluar meninggalkan lokasi kantor.
Rupanya yang mengadu adalah Kelvin bukan Vian seperti apa yang disangka Arjun. Kelvin memberitahukan semua tentang Arjun dan Inem selama di kantor dan itu bukan tanpa alasan karna Selly lah yang memerintahkannya untuk melapor.
...🌸 Bersambung 🌸...
__ADS_1