
...🌸Happy Reading 🌸...
Gelegar tawa Inem membuat Arjun jengkel dan kesal. Sontak dia bangun dan memberikan tatapan tajam kepada Inem.
"Memangnya kenapa? Nggak ada urusannya sama kamu. Berani menertawai ku maka kamu akan menanggung akibatnya!?" Bentak Arjun.
Sontak Inem langsung menahan tawanya. Sekuat tenaga dia menahan tetap saja dia tertawa. Karena baginya ini langka banget. Arjun dengan tubuhnya yang kekar, sikapnya yang angkuh dan dingin ternyata takut dengan benda kecil.
"Berhenti menertawai ku!?" Teriak Arjun.
"Haishh,,, jika kamu tidak segera menghabiskan buburmu maka mami akan menceritakan hal yang lainnya kepada Inem." Lagi - lagi Selly memberikan ancaman kepada anak sulungnya.
"Ini nggak adil mam." Rengek Arjun.
"Sayang,,, pastikan dia menghabiskan buburnya ya!" Selly mengambil bubur yang ada di nakas dan lalu memberikannya kepada Inem.
"Iya mam." Sahut Inem sembari mengambil alih mangkuk yang disodorokan Selly.
"Jangan lupa obatnya ya!" Selly menaruh sekantung plastik obat yang dibawanya keatas nakas.
"Iya mam."
"Ingat Arjun,,, habiskan atau mami akan,,, !!!"
"Iya,,, iya,,, " Jawab Arjun. Dengan cepat dia menyambar mangkok dari tangan Inem.
"Anak nakal,,, !" Pukulan kecil mendarat dikepala Arjun. "Kembalikan mangkok itu kepada Inem! Biar Inem yang menyuapimu."
"Nggak perlu lah mam, Arjun bisa sendiri kok."
"Arjun,,, " Selly melirik tajam dan berkacak pinggang.
"Haish,,,. " Arjun mendengus kesal. Disodorkan nya semangkok bubur tersebut kepada Inem yang sedari tadi duduk berhadapan dengannya.
"Ingat,,, harus habis ya!" Selly pun pergi keluar kamar.
Dengan hati - hati Inem mengambil alih mangkok dan perlahan dengan telaten menyuapi sendok demi sendok.
Setelah bubur habis, Inem lalu membantu Arjun menyiapkan obat yang harus diminum dan kemudian membantunya berbaring serta menyelimuti nya.
Merawat orang sakit itu adalah hal yang biasa bagi Inem mengingat ibunya yang dulu sering kali sakit - sakitan. Membuat dia terbiasa melakukan semua itu.
__ADS_1
Sesaat Arjun tertegun melihat kepiawaian Inem. Sekarang ini dia melihat sisi lain dari Inem yang tak pernah dia perhatikan sebelumnya. Ada rasa nyaman yang tiba - tiba muncul dalam dirinya. Rasa nyaman yang belum pernah dia dapatkan dari wanita lain selain ibunya bahkan Lashira sekalipun.
...****************...
Beberapa hari telah berlalu, selama itu Inem tak pergi ke kampus hanya untuk merawat Arjun dan kini keadaan Arjun sudah membaik. Diapun sudah bisa melakukan semua aktivitas sendiri tanpa bantuan Inem lagi.
Pagi ini, kedua pasangan muda itu sudah bersiap untuk beraktivitas. Arjun pergi ke kantor sedang Inem pergi ke kampus. Seperti biasa, mereka pasti akan berkumpul dulu dimeja makan untuk sarapan bersama.
Di meja makan, Arjun menyadari ada yang kurang lengkap. Ada satu bangku yang masih kosong dan tertata rapi. Padahal pengguna bangku itulah biasanya yang paling berisik yang membuat suasana ruangan makan terasa hidup.
"Vian kemana? kenapa belum ada?" Tanya Arjun.
"Eh iya, maaf ya aku lupa kasih tau kamu. Vian udah balik ke negara x katanya masa cutinya udah habis." Jelas Inem.
"Kapan? "
"Pas kamu sakit pertama kali. Dia pergi pagi - pagi betul. Dia sengaja nggak pamitan sama kalian karna nggak ingin mengganggu kalian istirahat." Lanjut Selly.
"Haish tuh anak kenapa seenaknya aja sih? Pergi kenapa nggak pamit dulu! Pantas aja nggak jenguk aku." Gerutu Arjun.
"Itu kan udah jadi kebiasaan adekmu. Sudah jangan dipermasalahkan. Sebaiknya kita makan dan karna Vian sudah nggak disini jadi mulai hari ini kamu yang harus antar jemput Inem kuliah." Sahut Angga.
"Harus Arjun, Inem udah beberapa hari ini nggak kuliah hanya demi menjaga dan merawat kamu lho. Masa kamu nggak bisa menghargai pengorbanannya. " Ucap Angga.
"Siapa suruh. " Sahut Arjun ketus sedang Inem hanya diam menikmati makanannya.
"Itu kewajiban istri Arjun. Masa iya suami sakit istri membiarkan begitu saja. Nggak mungkin kan? Begitu juga dengan kamu. Kewajiban kamu kan harus menjaga Inem. Kalian berdua harus bisa saling menjaga. Menjaga fisik dan juga menjaga hati." Ucap Selly.
"Aahh iya,, iya,, "
Dari pada berdebat lebih panjang lagi maka Arjun lebih memilih untuk mengalah.
Setelah menyelesaikan makan paginya dan berpamitan kepada orang tuanya. Arjun lalu mengantar Inem ke kampus sesuai perintah kedua orang tuanya.
"Apa mereka bisa bersama ya mam?"
"Pasti bisa pap, kita harus selalu berusaha dan juga berdoa tentunya."
"Yeah,,, semoga ya mam. Ya sudah kalau gitu papi juga mau kekantor ya mam."
"Iya pap, hati - hati ya!"
__ADS_1
Dengan santun Selly menyambut telapak tangan Angga dan lalu mencium punggung tangan suaminya. Perlakuan Selly lalu dibalas Angga dengan mengecup keningnya sebelum akhirnya dia pergi.
...****************...
Di kampus Inem sedang duduk sendiri ditepian koridor kampus menanti kelasnya dimulai. Sembari menunggu dia memainkan ponselnya untuk mengusir kejenuhan.
Saat sedang asik menatap layar ponselnya. Tiba - tiba dia di kagetnya oleh kedatangan temanya.
"Woe,,, sendirian aja neng." Seru Mutia yang langsung ikut duduk disamping Inem.
"Haish semut,,, ngagetin aja ih. Untung aku nggak ada penyakit jantung. Coba kalau ada, bisa masuk rumah sakit aku."
"Sorry,,, sorry,,, lagian serius amat sih, emang lagi lihat apaan itu?" Mutia menggeser duduknya lebih mendekat dan mengintip layar ponsel Inem yang menyala.
"Dih,,, kepo." Ponsel yang tadinya menyala seketika dimatikan dan lalu berpindah tempat masuk kedalam saku.
"Astaga pelitnya, lihat aja nggak boleh!" Keluh Mutia yang kesal karna tak diperbolehkan melihat apa yang dilihat Inem di ponselnya. Dikerucutkannya bibirnya hingga maju beberapa senti membuat wajahnya menjadi terlihat lucu.
"Tuh bibir minta dikuncir ya? Kenapa jadi manyun gitu?"
"Bodo ah,,, aku pundung."
"Hahaha,,, "
Melihat temanya yang seperti itu membuat Inem tertawa terbahak.
"Yak elah malah ketawa." Mutia smakin merajuk dibuatnya.
"Habisnya lucu sih. Dah ah yuk masuk kelas yuk!"
Keduanya pun beranjak dari tempat duduknya dan lalu berjalan menuju ruang kelas. Saat berjalan, sekilas Inem melihat sesosok bayangan seseorang yang sangat dikenalnya. Namun saat di toleh dan dilihatnya lagi orang itu keburu menjauh tak terlihat oleh Inem.
"Ah itu nggak mungkin. Nggak mungkin dia ada disini." Guman Inem dalam hati.
Melihat sekelibatan orang tadi membuat Inem teringat akan seseorang yang sedang jauh disana. Seseorang yang bearti baginya, seseorang yang selama ini dirindukan nya. Namun dengan tegas Inem membuang jauh pikirannya itu, membuang jauh rasa dan semua yang terkait tentangnya. Karna Inem menyadari semua itu hanyalah masa lalu yang harus ditinggalkan. Kini dia harus berusaha untuk bisa menata masa depannya. masa depan yang belum bisa diprediksikan.
"Eh kenapa bengong aja?" Tegur Mutia disaat melihat Inem terbengong.
"Nggak,,, aku nggak apa - apa kok." Jawab Inem yang tersadar dari lamunannya karna tepukan kecil Mutia yang mendarat di lengannya.
...🌸 Bersambung 🌸...
__ADS_1