
...🌸 Happy reading 🌸...
Seorang pria keluar dari kursi pengemudi. Pria itu memakai stelan jas rapi berwarna hitam dengan tatanan rambut yang maskulin. Dengan santainya pria itu berjalan mendekat dan berhenti tepat dihadapan Bimo. Nampak keduanya saling beradu pandang melemparkan tatapan ingin melenyapkan orang yang di hadapannya.
Inem pun terkejut setelah melihat siapa pengemudi mobil mewah itu, dia pun bergegas menghampiri dua pria dewasa tersebut.
"Arjun,,, " Ucap Inem, dia sama sekali tak menyangka kalau orang yang sedang menghadangnya barusan adalah Arjun. Mungkin itu karna mobil yang dipakainya bukanlah mobil miliknya dan Inem sama sekali belum pernah melihat mobil yang sekarang ini.
"Iya kenapa? Kamu kaget melihatku? Kamu takut karna udah ketahuan jalan sama pria lain? Dasar wanita licik,,, tak bisa bermain dirumah dan sekarang kamu main diluar. Dasar tak tau malu." Celoteh Arjun dengan nada tegas.
"Heh jaga ucapanmu itu bung, jangan sampai aku membungkam mulutmu itu untuk selamanya agar kamu tak asal bicara!" Bimo meletakkan jari telunjuknya kepada Arjun dan Arjun dengan sigap menepis jari Bimo dan lalu menyapu bekas jari telunjuk Bimo menempel layaknya sedang membersihkan baju dari kotoran.
"Sudah,,, sudah,,, jangan hiraukan dia! Sebaiknya kita pergi saja."
"Kenapa pergi? Apa kalian mau melanjutkan kencan kalian? Dasar wanita murahan!?" Lagi - lagi Arjun mengucapkan kata kotor.
Perkataan Arjun sungguh memekakkan telinga Bimo, membuatnya seketika naik pitam. Spontan dia mencengkram baju Arjun dan hendak melayangkan kepalan tangannya ke arah wajah Arjun. Namun aksinya segera dihentikan oleh Inem dan akhirnya Bimo terpaksa membatalkan aksinya serta melepas cengkeraman nya.
"Kenapa? Kenapa berhenti? Apa hanya karna dia menyuruhmu makanya kamu menurut saja? Lelaki macam apa kamu ini? Bisanya hanya menurut." Arjun memicingkan matanya dan mengangkat tipis sebelah ujung bibirnya.
Lagi - lagi emosi Bimo pun terpancing, ingin rasanya dia melayangkan pukulan yang bertubi - tubi kewajah Arjun yang terlihat songong tersebut, namun Inem kembali menahannya.
"Stop Arjun! Ini jalanan umum dan aku tak ingin berdebat denganmu." Suara Inem tak kalah tegas dan lantang.
"Sudahlah sayang biarkan saja mereka pergi dan bersenang - senang. Kita juga akan melakukan hal yang sama bukan?"
Tiba - tiba ada seorang wanita yang keluar dari kursi sebelah kemudi. Wanita itu berjalan ke arah Arjun sambil membuka kaca mata hitamnya dan lalu bergelayut manja di lengan Arjun sembari mengusap lembut lengan lelaki bertubuh tegap itu.
Melihat siapa yang muncul dari dalam mobil itu membuat Inem semakin terkejut. Lagi - lagi dia tak menyangka wanita itu ada disini bersama dengan suaminya.
"Lashira,,,?" Ucap Inem.
"Iya ini aku. Kenapa? Kamu nggak nyangka ya aku ada disini dan bersama suamimu?" Lashira mendongak menatap wajah Arjun yang terlihat santai. Dia juga mengusap lembut dagu Arjun. Dia verniat ingin memanas - manasi Inem.
__ADS_1
"Tapi bukankah kamu sudah menolaknya?" Tanya Inem dengan rasa penasaran.
"Yeaahh memang benar, awalnya aku memang menolaknya. Namun setelah aku fikir - fikir lagi, kayaknya aku nggak bisa lepas dari Arjun. Aku terlalu mencintainya begitu juga dengan dia. Sepertinya kami tak bisa dipisahkan lagi." Ujar Lashira.
"Apa maksudmu?" Tanya Inem lagi.
"Aku tahu kalian tak bisa berpisah, namun aku juga tak ingin kehilangan cintaku. Jadi aku sudah putuskan untuk kembali padanya dan kami akan segera menikah." Lanjut Lashira.
"Kalian menikah?" Inem semakin bingung dibuatnya.
"Iya,,,. bukankah hal yang wajar jika seorang lelaki mempunyai dua istri? Aku rela menjadi madumu demi bersamanya. Di status tak napa aku menjadi yang kedua namun aku percaya akulah satu - satunya wanita yang dicintainya. Iya kab sayang?" Ujar lashira sembari memasang wajah manja didepan Arjun.
"Tentu saja sayang." Sahut Arjun.
...Bugh,,,,,...
Sebuah pukulan keras mendarat begitu saja tepat diwajah ganteng Arjun. Membuat lelaki itu seketika terhuyung kebelakang dengan tangan menutup sebelah pipinya. Setetes darah segar keluar dari sudut bibirnya menandakan bahwa pukulan tadi bukanlah main - main.
"Dasar nggak waras,,, lelaki macam apa kamu ha? Kamu mengekang dia sedang kamu sendiri apa? Kamu malah mau menikah lagi. Dasar lelaki brengs3k kau Arjun!?" Umpat Bimo dengan penuh emosi.
Sekali lagi Bimo melayangkan hantaman nya namun kali ini Arjun berhasil menghindar. Merasa serangannya melesat itu smakin membuat amarah Bimo memuncak. Tentu saja dia tak tinggal diam. Dia hendak menyerang Arjun lagi tapi usahanya gagal karna lagi - lagi Inem menghentikan aksi Bimo.
"Arjun apa benar yang dikatakannya itu?" Tanya Inem seraya menunjuk Lashira yang berdiri tak jauh dari Arjun. Sorot matanya terlihat tajam seolah sedang mengintimidasi pria yang berstatus suaminya tersebut.
"Ya,,, kami sedang mengurusnya, tak lama lagi aku akan menikahinya." Jawab Arjun dengan santainya sembari membersihkan darah yang menempel di sudut bibirnya.
"Apa kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan?" Bentak Inem.
"Kalau kamu ingin menikahinya, sebaiknya kamu lepaskan Inem! Ceraikan dia!" Bimo menyela ucapan Inem.
"Menceraikannya,,, ? Itu mustahil karna orang tuaku pasti nggak akan setuju." Jawab Arjun.
...plak,,,,...
__ADS_1
Setelah mendapat dua pukulan dari Bimo, sekarang ganti Inem yang melayangkan telapak tangannya ke pipi mulus Arjun. Kedua matanya menatap tajam dan nafasnya terasa terasa panas menyesakkan jiwanya. Dia mengacungkan jari telunjuknya tepat didepan wajah Arjun dan berkata:
"Sudah kuputuskan aku akan kembali ke cinta ku. Bagaimanapun caranya!"
Setelah mengatakan hal tersebut, Inem pun lalu pergi menuju sepeda motor Bimo dan lalu memakai helmnya disusul Bimo di belakangnya. Namun sebelum Bimo melangkah menghampiri Inem, terlebih dahulu Bimo menghampiri Arjun. Dia kembali mencengkeram kerah baju Arjun dan mengatakan sesuatu dengan nada yang sangat tak mengenakkan.
"Aku nggak akan membiarkan kamu berlaku seenaknya kepadanya. Ingat itu,,,, ! Dan aku akan merebutnya darimu!" Hardik Bimo. Dia melepas cengkraman nya dengan kasar dan setengah mendorong sehingga tubuh Arjun pun sampai bergerak kebelakang.
Setelah kepergian Bimo dan Inem. Arjun merapikan bajunya dan lalu masuk kedalam mobil berserta Lashira tentunya.
Ditengah perjalanan entah kenapa Arjun sama sekali tak fokus dengan kemudi nya. Bahkan dia sampai tak merespon saat Lashira mengajaknya berbicara. Dia malah selalu terngiang oleh ancaman Bimo. Bukannya takut dengan ancaman Bimo, namun dia merasakan ada hal yang aneh dalam hatinya saat Bimo mengucapkan hal tersebut.
Berulang kali Lashira memanggil Arjun namun Arjun tak bergeming dengan dunianya sendiri. Hingga akhirnya Lashira menggoyangkan lengannya barulah dia tersadar dan menanggapi wanita yang duduk disebelahnya.
"Ya ada apa?" Ucap Arjun terbata seolah sedang kepergok melakukan sesuatu yang salah.
"Kamu kenapa? Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Lashira yang menangkap ada yang aneh dengan gelagat kekasihnya.
"Nggak,,, nggak ada." Jawab Arjun dengan singkat.
"Benarkah? Aku hanya nggak ingin kamu memikirkan perempuan itu!"
"Iya sayang,,, percayalah hanya kamu yang ada dipikiranku. Kamu jangan berpikiran yang aneh - aneh ya!" Ucap Arjun sembari mengusap lembut kepala Lashira.
"Bukan aku tapi kamu tuh yang jangan berpikiran aneh - aneh tendang dia!"
"Iya,,, iya!"
...🌸 Bersambung 🌸...
Ahay,,, jumpa lagi. Mohon maaf kalau ceritanya nggak sesuai dengan keinginan para readers tersayang ya! 🙏 Karna othor hanya mengekspresikan imajinasi yang bersarang di benak othor aja 😁😁
Smoga ceritanya bisa menghibur walaupun cuma sedikit aja 🤭🥰
__ADS_1
I luph luph u pull all 🥰😘🤗