
...πΈ Happy Reading πΈ...
Di kampus Bimo sudah menunggu Inem dimana biasanya Inem diturunkan. Berbagai rentetan pertanyaan telah siap dilontarkannya, begitu juga dengan hatinya. Dia sudah memantapkan hatinya dan siap mendengarkan penjelasan dari wanita yang disayanginya itu.
Sesaat mobil yang di nantinya datang, Inem pun keluar dari mobil tersebut. Setelah mobil itu berlalu dan nampak jauh dari pandangan, Bimo langsung bergegas mendatangi Inem dan lalu meraih tangan Inem. Inem yang tak tahu akan kedatangan Bimo pun jadi terkejut. Dia hendak melepaskan tangan Bimo namun genggaman Bimo terlalu kuat baginya.
Tanpa berucap sepatah kata Bimo lantas menarik Inem pergi dari tempatnya sekarang. Bukannya mengajaknya masuk kedalam kelas, Bimo malah mengglendeng Inem menuju tempat dimana motor Bimo diparkir. Bimo mengeluarkan kunci dari sakunya dan lalu memasangnya di motornya. Kemudian dia memakai kan helm kepada Inem dan lalu menaiki motor.
"Kita mau kemana?" Tanya Inem yang penasaran.
Bimo tak menghiraukan pertanyaan Inem, dia lebih memilih diam dan memakai helmnya lalu menyalakan motornya.
Sebenarnya Inem ingin pergi dengan Bimo, tapi melihat mimik Bimo yang serius membuat Inem tak berani menolak ajakan Bimo dan akhirnya dia pun ikut naik motor.
Keduannya pun lalu pergi meninggalkan kampus dan disepanjang perjalanan mereka berdua terdiam tak ada sepatah katapun yang keluar dari keduanya. Hal itu membuat Inem semakin tak enak dan cemas karna nggak biasanya Bimo seperti ini. Bimo yang biasanya banyak omong dan suka bercanda seketika diam dengan ekspresi wajah yang nampak serius. Ditambah lagi kali ini dia melajukan motornya dengan kecepatan diatas rata - rata. Sungguh ini bukan Bimo yang dia kenal selama ini.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama. Akhirnya keduanya pun telah sampai ditempat tujuan. Sebuah tempat yang asri di pinggiran kota. Tempat yang jauh dari hiruk pikuk padatnya penduduk ibu kota. Tempat dimana Bimo merasa bisa meluapkan semua unek-unek yang dari kemaren telah nyumpel memenuhi ruang hati dan juga pikirannya.
Ya,,, saat ini mereka sedang di sebuah danau yang disekilingnya ditumbuhi berbagai pohon besar nan rindang. Tak banyak orang yang ada disana. Hanya beberapa muda - mudi yang sedang bercengkrama ditempat yang terpencar.
Setelah memarkirkan motornya, Bimo lantas berjalan menuju ke sebuah pohon rindang yang letaknya sangat dekat dengan tepian danau. Dia berdiri didekat pohon itu dan matanya memandang luas kearah tengah danau sembari menyulut sebatang rokok. Sedang Inem hanya terdiam disampingnya.
Tak ingin berbasa basi lagi, Bimo pun langsung menanyakan perihal pernikahan Inem dan Arjun. Bagaimana awal mulanya pernikahan itu terjadi, dimana berlangsung nya dan kenapa hal itu disembunyikan darinya. Suatu hal yang wajar bukan kalau Bimo ingin tahu semuanya, secara Bimo adalah kekasih Inem. Dia merasa berhak tahu atas segala sesuatunya yang bersangkutan dengan Inem.
Inem menghela nafasnya panjang. Dia duduk di batang kayu besar yang tertata rapi menyerupai bangku panjang didekat pohon dimana mereka berada. Inem sudah menduga Bimo akan menghujaminya dengan pertanyaan - pertanyaan tersebut dan sekarang ini dia sudah tak bisa lagi berkelit menutupi kenyataan.
__ADS_1
Gadis cantik itu mulai menceritakan semuanya. Dari awal keduanya bertemu hingga dinikahkan secara paksa dan akhirnya sampai tinggal dan kuliah di kota suaminya. Saat bercerita dada Inem terasa sesak bersamaan dengan buliran air mata yang menetes deras membanjiri kedua pipinya.
"Lalu kenapa kamu nggak menolaknya? Atau setidaknya menikahlah denganku! Kenapa harus dengan dia yang jelas - jelas nggak kamu kenal?" Protes Bimo.
"Kalau aku bisa aku nggak akan ada disini bersama mereka." Bela Inem terhadap dirinya.
"Konyol,,, ini benar - benar konyol,,, bagaimana bisa ini terjadi dan kamu hanya menurut saja?" Bimo melempar rokoknya ketanah dengan kasar dan lalu menginjaknya dengan penuh emosi. Bimo juga mengusap kasar mukanya dengan kedua telapak tangannya sembari berguman. "Oh TUHAN,,,, ini nggak adil buatku!"
"Lalu kenapa kamu menyembunyikan semua ini dan malah pergi begitu saja?" Lanjut Bimo sembari mengacakkan kedua tangannya dipinggang.
"Maafkan aku,,, maaf! Aku bingung,,, aku nggak tahu harus berbuat apa dan aku takut kamu bakalan nggak bisa menerima kenyataan ini." Ucap Inem dengan suara lirih. Kedua matanya berkaca memandangi punggung Bimo yang berdiri di depannya.
"Jelas saja aku nggak bisa terima. Bagaimana mungkin aku bisa menerima kenyataan kalau kekasihku telah menikah dengan orang lain. Semua orang juga bakalan gitu." Suara Bimo mulai meninggi. Dia berbalik dan menatap Inem.
"Iya aku tahu,,, maafkan aku!" Rasa bersalah inem semakin menyeruak. Kepalanya tertunduk memandang jemarinya yang diremas dengan kencang dan air matanya semakin deras mengalir.
"Apa kamu mencintai nya?" Ucap Bimo membuka pembicaraan lagi.
Inem hanya menggeleng pelan menanggapi pertanyaan dari Bimo. Dia tak berani menatap wajah kekasih nya itu.
"Kalau begitu berpisahlah!"
Mendengar permintaan itu membuat Inek seketika mendongak dan menatap Bimo yang kini sudah merubah pandangannya ke arahnya.
"Pisah?" Inem mengulang pertanyaan Bimo dan Bimo mengangguk.
__ADS_1
"Nggak bisa." Ucap Inem kemudian.
"Kenapa nggak bisa? Kalian tidak saling cinta kan? Lalu kenapa harus bertahan?"
"Nggak semudah itu, kami sudah pernah mencobanya dan orang tuanya melarang keras kalau kami berpisah."
"Lalu apa maumu? Apa kamu akan menerima dia? Lalu bagaimana dengan ku? Bagaimana dengan cinta kita? Apa kamu sudah tak mencintaiku lagi? Atau memang dari awal kamu nggak cinta sama aku? Kamu cuma mempermainkan aku bukan?"
"Bukan,,, aku sama sekali nggak mempermainkan kamu. Aku beneran cinta dan sayang sama kamu."
"Kalau begitu berpisahlah dengannya dan menikahlah denganku!"
"Entahlah,,, apa aku bisa?" Jawab Inem meragu karna pasalnya Inem dan Arjun sudah pernah meminta berulang kali kepada Selly dan Angga namun semuanya ditolak mentah - mentah oleh keduanya.
"Bisa,,, kamu pasti bisa. Ada aku disini dan kita akan berjuang bersama! Demi cinta kita dan masa depan kita." Ucap Bimo sembari menggenggam jemari Inem dan menatap matanya yang masih terlihat basah oleh air mata. Bimo berusaha keras meyakinkan Inem supaya Inem tak menyerah begitu saja menerima pernikahannya. Dihapusnya air mata Inem yang menggenang dipelupuk mata dan perlahan menyibak helaian rambut yang menutupi wajah ayu Inem.
"Sudah jangan menangis! Kita pasti bisa melalui ini semua!" Ucap Bimo lagi.
Melihat keseriusan Bimo tentu saja membuat Inem semakin diguncang keraguan dan kebimbangan yang hebat. Disatu sisi dia ingin bersama Bimo lelaki yang dia cintai namun disisi lain dia tak ingin menjadi anak yang durhaka karena tak menjalankan amanat dari almarhumah ibunya.
...πΈ Bersambung πΈ...
Alhamdulillah terimakasih banyak kepada readers ku ter ehek yang masih mau setia menunggu Inem up walaupun harus menanti sampai karatang, lumutan atau apalah - apalah ituπ
Semoga kalian semua tidak jenuh dan masih setia bersama Inem serta semoga coretan Inem ini bisa menghibur kalian semua.
__ADS_1
pol lope you all ππ₯°π
sehat dan bahagia selalu π€βΊ