
...🌸 Happy Reading 🌸...
Inem menelan ludahnya dengan susah payah. Lidahnya terasa kaku tak kuasa mengucap kata - kata. Dia tau benar ini adalah pilihan yang sulit baginya. Disatu sisi dia tak ingin kehilangan sosok ibu yang telah menggantikan ibunya, tapi disisi lain diapun tak ingin kehilangan cinta yang baru sebentar saja dirasa sedang dia menunantikannya begitu lama. Pengalaman kehilangan orang yang dicintai membuatnya tak ingin merasakan hal itu lagi.
"Hah,,, sudah lupakanlah,,, ! Seharusnya mami tahu kalau kamu memang nggak bener - bener serius dengan ucapanmu. Mungkin ini memang udah jadi nasib mami." Ucap Selly yang kecewa karna Inem lama menjawab permintaannya.
Dengan kesal dia mencoba melepas selang yang melekat di tangan dan di hidungnya itu. Namun Inem dengan sigap mencegah Selly melakukannya.
"Baiklah baik,,, Inem janji. Tapi mami juga harus janji akan tetap sehat!"
Entah ada angin apa yang membuat Inem bisa dengan gamblangnya mengiyakan permintaan Selly padahal sebelumnya dia susah sekali untuk menentukan pilihannya.
"Hah,,, apa yang diucapakannya barusan? Dasar konyol,,, kenapa dia nggak nolak sih? Apa yang dipikirkan gadis bodoh itu?" Guman Arjun dalam hati. Dia tak menyangka Inem akan memberikan jawaban seperti itu kepada Selly. Ini sungguh diluar dugaannya dan seketika membuat Arjun membelalakan kedua bola matanya.
Lain Arjun lain halnya dengan Selly. Mendengar ucapan Inem membuat Selly tersenyum lebar. Dia bahagia dan karna rencananya untuk menyatukan Arjun dan Inem bakalan berhasil sesuai apa yang diharapkannya.
"Benarkah dengan apa yang kamu bilang barusan?" Tanya Selly yang setengah percaya.
"Iya,,, asal mami bisa menepati janji mami untuk tetap sehat maka Inem juga akan menepati janji Inem kepada mami." Ucap Inem untuk meyakinkan Selly.
Sontak Selly langsung memeluk menantunya dan tersenyum kegirangan. Begitu juga dengan Angga. Dia menghela nafas lega karna tak perlu melanjutkan perannya lebih dalam lagi.
"Arjun,,, kamu juga harus janji ke mami!" Titah Selly.
"Maaf mam,,, Arjun tetap pada keputusan awal." Bantah Arjun.
__ADS_1
"Hikzzz,,, hikzzz,,, sepertinya anak ku sendiri memang sudah tak menginginkanku hidup hikzzz,,, hikzzz,,, " Selly berurai kan air mata kembali.
"Ayolah mam,,, mami tahu kan maksud Arjun?"
"Huaaa papi,,, " Selly mengeraskan suara tangisnya dipelukan Angga.
"Mami tenang ya,,, biar Inem yang bicara sama Arjun." Ucap Inem.
Setelah mengusap lembut bahu Selly, Inem lantas mengajak paksa Arjun untuk keluar dari ruangan tersebut. Walau awalnya Arjun tak mau tapi karna Inem menariknya akhirnya mereka pun meninggalkan Angga dan Selly berdua.
"Kamu itu bisa nggak sih jaga perasaan mami? Mami kan lagi sakit, kok kamu malah bicara begitu." Tegur Inem.
"Emang aku harus gimana? Diem aja nurutin apa maunya mami kek kamu gitu? Dasar nggak punya pendirian, pake janji segala sama mami." Arjun berkacak pinggang dan memalingkan wajahnya.
"Kamu tuh yang licik. Udah punya suami juga masih aja jalan sama cowok lain."
"Eh,,, eh,,, eh,,, hallo,,, kok kayak kamu nggak ya. Kita tuh sama aja. Tapi setidaknya sekarang coba pikirin kondisi mami deh. Jangan sampai kemu menyesal ya Jun, karna kehilangan orang yang kita cintai itu sangatlah menyakitkan!"
Perseteruan diantara keduanya pun smakin berlanjut tanpa menghiraukan keberadaan mereka sekarang ini. Sedangkan di balik pintu, ada dua orang sedang menempelkan telinga mereka ke daun pintu dan dengan serius mendengarkan pembicaraan keduanya.
"Huhhh Arjun emang keras kepala! gimana ya caranya supaya Arjun bisa lepas dari tuh ceweknya." Ucap Selly pelan.
"Sssttt jangan berisik! ntar malah ketahuan." Sahut Angga sembari menarug jari telunjuknya ke bibirnya.
"Mending mami balik tiduran aja lagi!" Lanjut Angga.
__ADS_1
"Tapi pap,,, kan mami mau denger juga." Ucap Selly.
"Dengar apa? Didengerin juga percuma mam. Arjun masih aja ngotot nggak setuju dengan kemauan mami. Dah lah yuk kita ke sana aja, takutnya mereka balik lagi kesini!" Ajak Angga.
Dengan berat hati Selly meninggalkan tempatnya yang sekarang. Dia kembali berbaring ditempat tidur tak lupa merapikan selang - selang nya kembali.
Di tempat tidur, Selly masih saja menggerutu atas sikap dan keputusan Arjun. Dia tak menyangka kalau Arjun bisa menentangnya demi seorang wanita. Sedang selama ini Arjun yang dikenalnya sangatlah penurut tak pernah memberontak sekalipun.
Angga yang melihat istrinya ngedumel mencoba menenangkannya. Dia meyakinkan Selly untuk percaya kepada Inem kalau menantunya itu pasti bisa membuat Arjun untuk meninggalkan wanitanya.
Tak ingin banyak berdebat, Selly pun mengangguk dan menurut saja dengan apa yang dikatakan Angga, namun dia tak sepenuhnya yakin dan dia akan selalu berusaha untuk mencari cara lain agar tujuannya bisa terlaksana.
...☘️🎍☘️...
Di lain tempat, Vian sedang duduk sendiri di sebuah cafe sembari memainkan benda pipih kepunyaannya. Didepannya ada sebuah meja yang diatasnya sudah tersedia secangkir kopi yang masih nampak uap panasnya. Tak lama kemudian seorang gadis berpostur tubuh tinggi dan berparas cantik datang menghampiri nya. Nampak gadis itu tersenyum dan mengucapkan selamat pagi kepada Vian dan lalu duduk di kursi bersebrangan dengannya dan Vian pun membalas senyuman serta sapaan gadis ayu tersebut.
Setelah si gadis duduk, Vian lalu memanggil pelayan dan memesan makanan darinya dan lalu kembali bercengkrama dengan gadis yang berada didepannya. Setelah menunggu cukup lama, tibalah makanan yang dipesan Vian. Beberapa menu kini tertata rapi dimeja. Aromanya yang menggugah selera membuat si gadis itu tak tahan lagi untuk menyantapnya dan tanpa menunggu lama dia pun menikmati hidangan tersebut sesaat setelah Vian mempersilahkan nya.
Waktu semakin berlalu, setelah hidangan habis Vian pun membayar tagihannya dan lalu pergi bersama gadis itu. Di depan cafe, Vian menawarkan diri untuk mengantar si gadis. Awalnya si gadis itu menolak tawarannya, namun setelah Vian membujuk akhirnya gadis tersebut bersedia naik mobil Vian dan hal itu membuat Vian tersenyum sehingga si gadis pun merasa terkesima akan senyuman yang didapatnya pagi ini.
Seperti biasanya Vian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Vian memang orangnya tak suka ngebut apalagi kalau ada cewek disebelahnya outo jadi kalem. Karena dia ingin orang yang ada disampingnya merasa aman dan nyaman. Tak seperti kakaknya yang gampang sekali terbawa emosi. sehingga ngebut lah yang menjadi pelampiasannya.
Sesampainya ditempat tujuan, Vian membukakan pintu untuk si gadis dan si gadis pun membalas dengan senyuman dan ucapan terimakasih. Setelah si gadis keluar Vian lantas kembali ke dalam mobilnya dan memandang si gadis sekejap sebelum dia kembali melajukan mobilnya meninggalkan si gadis didekat gerbang sebuah kampus sesuai permintaan si gadis.
...🌸 Bersambung 🌸...
__ADS_1