Inem Bukanlah Seorang Pelayan

Inem Bukanlah Seorang Pelayan
episode 62


__ADS_3

...🌸 Happy Reading 🌸...


Sesuai yang dijanjikan sesaat sebelum berangkat, Rico pun mengajak Mutia mampir ke sebuah cafe yang berada tak jauh dari kampusnya. Keduanya pun makan dan mengobrol dengan santai ditempat tersebut. Setelah menyelesaikan makannya keduanya pun memutuskan untuk langsung pulang. Saat Rico membayar bill nya, Mutia meminta ijin untuk pergi ke toilet. Sewaktu Mutia keluar dari toilet dan hendak menghampiri Rico, dia tak sengaja bertemu dengan Vian yang sedang duduk bersama dengan seorang gadis. Nampak gadis itu sedang memesan makanan. Sedang Vian hanya duduk didepannya sembari memainkan ponselnya. Melihat Mutia yang melintas, sontak Vian berdiri dan menyapanya.


"Eh sayang,,, kamu disini juga?" Sapa Vian sembari meraih pinggang ramping Mutia.


Menerima perlakuan Vian yang tak lazim tentu saja membuat Mutia bingung dan bertanya namun dalam hati ada apa dengan Vian. Begitu juga Fanny, wanita yang sedang bersama Vian saat ini.


"Kok kebetulan sekali ketemu disini. Kamu kesini sama siapa?" Tanya Vian lagi sembari mengedipkan matanya ke Mutia sebagai kode agar dia mengikuti permainan Vian.


"Hmmm aku tadi sama temen."


"Oh ya,,,.Mana temenmu? Suruh kesini aja kita makan bareng! Kamu nggak keberatan kan Fan kalau kekasihku ini makan bersama kita?" Ucap Vian.


"Kekasih? Apa maksudnya?" Guman Fanny dalam hati.


"Kalian makan saja, mendadak rasa lapar ku hilang." Sahut Fanny dengan nada yang tak enak didengar. Dia juga meletakkan daftar menu yang tadi dipegangnya dengan kasar di meja dan lalu bergegas pergi dari tempatnya. Nampaknya dia merasa kesal akan kehadiran Mutia diantara mereka berdua.


Seketika Vian mengumbar senyum lega setelah kepergian Fanny. Namun tidak dengan Mutia. Dia masih tercengang dengan perlakuan Vian terhadapnya. Kata sayang yang keluar dari mulut Vian terdengar sangat tabu baginya.


"Terima kasih ya udah mau membantuku." Vian pun melepas pegangannya.


Mutia tak mendengar ucapan Vian. Rupanya dia masih hanyut dalam fikiranya sendiri sambil tak henti memandang wajah tampan Vian.


Melihat tak ada respon dari Mutia, lantas Vian melambaikan telapak tangannya beberapa kali didepan mata Mutia sembari menyapanya dan hal itu membuat Mutia tersadar dari dunia khayal nya.


"Kamu kenapa? Kamu baik - baik aja kan?" Tanya Vian.


"Eh iya,,, aku nggak apa - apa kok." Jawab Mutia terbata dan menunduk malu.


"Syukurlah kalau begitu. Sekali lagi makasih ya!"


"Makasih,,, ? Buat apa?"


"Karna kamu udah bantu aku."


"Bantu,,, emangnya aku bantuin apa?" Tanya Mutia balik yang memang tidak mengerti.


"Hee,,,,.tak ada, ya sudah nggak perlu dibahas lagi. Sebagai ucapan terima kasih ku, aku akan mentraktirmu makan. Oh ya,,, ajak sekalian temanmu kesini!"


"Maaf bukannya aku menolak, tapi kami sudah selesai makan. Kami sudah mau pulang tapi aku ke toilet sebentar."

__ADS_1


"Oh begitu ya,, berarti memang Tuhan telah mengirimmu sebagai penyelamat ku."


"Penyelamat? Kok aku nggak nggerti apa maksud kamu itu ya? Memangnya aku menyelamatkan kamu dari apa? Perasaan aku tak berbuat apa - apa?" Tanya Mutia lagi yang semakin tak mengerti akan ucapan Vian.


"Maaf,,, kalau aku membuatmu bingung, lain kali aku akan menceritakannya kepadamu. Ya sudah kalau kamu nggak bisa makan bersamaku hari ini, aku akan mentraktirmu lain kali dan kamu harus mau ok!"


"Iya,,, hmmm temanku udah menunggu disana, aku pulang dulu ya!"


"Ok,,, hati - hati dijalan ya!"


Lalu keduanya pun berpisah, Mutia menghampiri Rico yang sudah menunggunya diparkiran. Begitu juga dengan Vian.


...>🍀🎍🍀<...


...pov Fanny...


Fanny pergi dari tempatnya dengan perasaan kesal tentunya. Sesampainya di kantornya dia menggerutu dan sesekali mengumpat. Dia merasa usahanya untuk mendekati Vian kali ini gagal total. Padahal dia sudah terlanjur membatalkan janji dengan kliennya hanya demi bisa dekat dengan Vian. Tak heran dia menyalahkan Mutia dalam kegagalannya hari ini. Apalagi tadi Vian memperkenalkan Mutia sebagai kekasihnya. Hal itu membuatnya semakin geram saja dan tidak terima akan kehadiran Mutia.


"Si@l,,, siapa gadis itu? Dia sudah mengacaukan acara ku. Lihat saja,,, aku nggak akan menyerah begitu saja." Gerutu Fanny.


Diambilnya ponselnya dan lalu menekan sebuah nomor yang terdaftar dipanggilan VIP nya.


Setelah panggilannya diangkat, dia hanya bilang kepada orang itu untuk segera menemuinya dikantor dan benar saja tak lama Fanny menutup panggilannya ada seorang pria muda berpakaian jas warna hitam dengan tatanan rambut yang rapi datang menemuinya. Nampak dari wajahnya usia pemuda itu tak jauh beda dari Fanny.


Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar ruangan. Fanny yang mendengarnya pun lantas menyuruhnya masuk. Pemuda itu pun masuk dengan sopan dan lalu berdiri dihadaan Fanny yang sedang duduk dikursi kebanggaannya.


"Permisi nona, ada yang bisa saya bantu?" Sapa pemuda itu.


"Kamu yakin informasi yang kamu berikan itu sudah semuanya?" Tanya Fanny.


"Iya nona. sesuai dengan permintaan anda." Jawab pemuda itu sambil menunduk.


"Hari ini dia memperkenalkan kekasihnya, bukankah kamu bilang dia tidak punya teman wanita?" Tanya Fanny sembari memicingkan matanya ke arah pemuda itu.


"Maaf nona memang begitu informasi yang saya dapat."


"Cari tahu tentang gadis itu dan berikan infonya kepadaku secepatnya!" Ucap Fanny dengan nada tinggi.


"Baik nona laksanakan!"


Pemuda itu pun lalu pergi meninggalkan ruangan. Ternyata dia adalah assisten Fanny. Rupanya Fanny sudah tertarik kepada Vian dan secara diam - diam dia sudah mencari tahu tentang Vian.

__ADS_1


"Lihat saja,,, aku pasti mendapatkanmu Vian dan aku akan menyingkirkan siapa saja yang dekat denganmu." Ucap Fanny seraya menggenggam erat sebuah pena dan membuangnya kesembarang arah.


...>🍀🎍🍀<...


Ditempat lain masih diwaktu yang sama. Selly sedang duduk sendiri diruang keluarga. Televisinya menyala namun terlihat dia tak fokus menyaksikan acara televisi itu meskipun pandangannya tepat mengarah kebenda tersebut . Saking asiknya dengan dunianya, dia bahkan sampai tak menyadari jikalau Angga sudah duduk disebelahnya dan memperhatikannya dalam waktu yang cukup lama hingga akhirnya suaminya tersebut menepuk pelan paha istrinya itu dan menegurnya.


"Eh papi,,, kapan ada disini?"


"Sudah dari tadi mam."


"Masa sih?"'


"Haishh mami ini suami datang masa nggak tahu. Emang lagi ngelamunin apa sih mam sampai senyam - senyum sendiri gitu?"


"Hehehe mami lagi seneng pap."


"Seneng kenapa mam? Papi kok jadi penasaran sih?" Angga meregangkan tubuhnya dan menyandarkan punggungnya ke sofa menghilangkan rasa lelahnya.


"Siang ini Vian sama Fanny makan bareng di cafe pap. Semoga usaha mami menjodohkan mereka berdua sukses ya pap." Senyum lebar tergambar di wajah Selly.


"Kok bisa sih mam? Bukannya Vian nggak mau lagi dipertemukan sama Fanny ya? Papi masih inget Vian bilang begitu."


"Jangan panggil mami kalau ngurus gitu aja nggak bisa pap. Mami bikin mereka berdua seolah - olah bertemu secara kebetulan padahal mami udah merencanakannya terlebih dahulu. Mami pinter kan pap."


"Oh ya,,, coba cerita mam! Akal bulus apa yang mami gunakan kali ini?"


"Aiihh papi ihh,,, Jadi gini pap." Selly mengubah posisi duduknya menghadap Angga. "Tadi tuh mami telpon Vian dan memintanya datang ke cafe dengan alasan mami lupa bawa dompet sedang mami udah terlanjur makan."


"Trus Vian percaya gitu aja mam?"


"Ughh tentu aja nggak pap, tapi mami pura-pura sedih aja dan bilang kalau mami udah telpon papi tapi tak diangkat - angkat hehehe." Selly tertawa kecil memamerkan deretan gigi putihnya.


"Aiihhh papi pula yang kena."


"Hehehe maaf pap." Lagi - lagi Selly tersenyum nyengir didepan Angga.


...Plok,,, plok,,, plok,,,...


Tiba-tiba terdengar suara tepukan tangan beberapa kali dan ternyata suara itu dihasilkan dari tangan Vian yang baru saja datang dan tak sengaja mendengar percakapan diantara kedua orang tuanya.


"Vian,,,, !" Ucap Selly seraya menoleh ke sumber suara.

__ADS_1


...🌸 Bersambung 🌸...


__ADS_2