Inem Bukanlah Seorang Pelayan

Inem Bukanlah Seorang Pelayan
episode 52


__ADS_3

...🌸 Happy Reading 🌸...


Rico melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang dan sesuai arahan Bimo yang sedang membonceng dibelakang, Rico pun berhenti serta memarkirkan motornya dengan rapi di parkiran sebuah rumah makan ditepi jalan disusul mobil yang ditumpangi mbok Nah. Bimo turun dari motor dan menghampirinya. Begitu pula dengan Rico, melihat mbok Nah dan Tejo turun dari mobil, Rico pun berlari menghampiri mereka.


"Lho,,, mbok Nah dan pak Tejo disini juga?" Sapa Rico.


"Njih den." Sahut mbok Nah dan Tejo secara bersamaan..


"Pasti mau ketemu sama Inem ya?" Tanya Rico.


"Njih den." Sahut mbok Nah lagi.


"Oh ya Inem kemana mbok kok beberapa hari ini nggak kuliah? Dia nggak lagi sakit kan?" Tanya Rico lagi.


"Baik den, aden udah ketemu sama non Inem ya?" Tanya mbok Nah balik.


"Nggak hanya ketemu mbok, kita satu kampus lagi." Ucap Rico.


"Den Bimo juga sudah ketemu sama non Inem?"


"Sudah,,, sudah ngobrolnya dilanjut kedalam saja yuk! Nggak enak kalau ngobrol diparkiran gini." Ucap Bimo yang langsung mengajak semuanya masuk kedalam rumah makan.


Didalam rumah makan mereka lalu duduk dan Bimo melambaikan tangannya kepada seorang pelayan. Melihat isyarat Bimo, pelayan itu pun datang mendekatinya.


"Selamat siang, silahkan pilih menunya!" Sapa pelayan itu sambil meletakan daftar menu diatas meja dan mengembangkan senyum dibibirnya.


"Mbok Nah sama pak Tejo pesan aja yang disuka ya!" Ucap Bimo.


Dengan antusias pak Tejo mengambil daftar menu itu dan melihat - lihat isi daftar tersebut. Namun mbok Nah menyenggol lengan pak Tejo sehingga pandangannya sekarang beralih kearah mbok Nah. Pak Tejo yang mengerti akan isyarat dari mbok Nah kini mendengus kesal. Pasalnya dia tidak bisa memanjakan perutnya dengan hidangan yang lezat.


"Ndak usah repot - repot den, kami sudah makan tadi dan maaf kami nggak bisa lama - lama disini soalnya kereta kami tak lama lagi berangkat! Jelas mbok Nah.


"Lhoh mbok Nah dah mau balik ke Jogja?" Tanya Bimo.

__ADS_1


"Njih den." Mbok Nah mengangguk pelan. "Aden kok bisa sampe sini dan ketemuan sama non Inem gimana ceritanya den?"


"Oh itu karna Rico minta bantuan sama sepupu Rico yang ada disini mbok. Habisnya mbok Nah sama pak Tejo pelit sih nggak mau ngasih tahu keberadaan Inem ke kami." Gerutu Rico.


"Maaf den, bukan maksud mbok berniat untuk seperti itu. Hanya saja non Inem tidak mengijinkan mbok untuk bicara. Karna non Inem bilang akan ada waktunya untuk dia berbicara sendiri sama den Bimo dan den Rico." Jelas mbok Nah.


"Oh ya mbok, trus Inem disini tuh sebenarnya tinggal sama siapa ya mbok? Bukankah Inem nggak ada keluarga lain ya? Trus kenapa juga Inem harus pindah kesini?" Tanya Bimo beruntun ingin mengurangi rasa penasarannya.


"Sekali lagi maaf den! Semua pertanyaan aden biar non Inem sendiri yang menjawabnya. Saya tidak ada hak untuk menjawabnya den." Mbok Nah pun tertunduk sambil memainkan jemarinya guna menutupi rasa gugupnya.


"Percuma mbok, aku dah coba tanya tapi dia cuma menjawab mereka itu saudara jauhnya."


"Mbok,,, wes wayahe mangkat neng stasiun mbok! Ayo,,, ! Mengko telat malah ra sido balik." Celetuk Tejo yang tak ingin istrinya tertekan karna pertanyaan - pertanyaan dari Bimo dan Rico.


( Mbok,,, sudah saatnya ke stasiun mbok. Ayo,,, ! Ntar terlambat malah nggak jadi pulang. )


Mbok Nah mengangguk dan berpamitan kepada kedua pemuda tersebut. Lalu mereka pun pergi menuju parkiran. Namun disaat mbok Nah akan masuk kedalam mobil, mbok Nah menarik Bimo dan mengajaknya menjauh dari Rico dan Tejo.


"Ada apa mbok?" Tanya Bimo yang bingung akan sikap mbok Nah yang tak biasa itu.


"Apa maksud mbok?" Bimo pun semakin penasaran dibuatnya.


"Mbok permisi ya den!" Pamit mbok Nah sembari melepaskan genggamannya.


Bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan Bino, mbok Nah malah berjalan cepat kembali menuju mobil dan masuk kedalam sedang Bimo hanya terpaku mencoba mencerna ucapan mbok Nah.


Malam harinya Bimo merasa gusar tidak bisa tidur. Itu karna sedari tadi dia tidak bisa menghubungi Inem padahal dia sangat merindukan kekasihnya itu.


Saat dia berbaring menatap langit - langit kamarnya, tiba - tiba dia teringat akan ucapan mbok Nah tadi siang pas diparkiran. Dia bertanya pada dirinya sendiri mengapa mbok Nah bilang seperti itu dan kenapa dia harus melepaskan Inem? Lalu siapa sebenarnya orang - orang yang dibilang keluarga itu?


Banyak sekali pertanyaan yang berkecambuk dibenak Bimo saat ini. Apalagi sikap Inem yang akhir - akhir ini tak seperti biasanya sewaktu masih di Jogja. Bimo merasa ada yang ditutupi oleh Inem dan juga mbok Nah. Tapi apa,,,?


Disaat Bimo sedang larut dalam lamunannya, terdengar suara lantang dan goncangan kuat dari seseorang yang seketika membuyarkan lamunannya.

__ADS_1


"Hoee,,, bukannya tidur malah bengong!!!" Teriak Rico sambil menggoncang tubuh Bimo.


Ternyata pelakunya adalah Rico. Rico pun lalu duduk disebelah Bimo yang juga bangkit dari tidurnya trus ikut duduk dikasur.


"Melamun aja, awas ntar kesambet lho!" Celoteh Rico sambil ketawa.


"Apaan sih? Candaanmu nggak lucu Co." Sahut Bimo.


"Kamu lagi mikirin apa sih Bim kok serius amat?"


Bimo pun lalu menceritakan apa yang telah menjadi ganjalan hatinya. Bimo juga mengatakan ucapan mbok Nah tadi pas saat mau ke stasiun.


Mendengar cerita Bimo, Rico pun nampak serius berfikir. Sebenarnya dari beberapa pertanyaan Bimo sempat terlintas dibenak Rico juga. Rico pun juga pernah mengutarakannya kepada Bimo, tapi mereka belum juga mendapat jawabannya. Apalagi saat ditanya, Inem hanya mengelak dan malah mengalihkan pembicaraan. Hal itu membuat mereka berdua semakin dirundung rasa penasaran.


Layaknya setrikaan, Rico kini sudah bangkit dari duduknya dan berjalan mondar mandir didepan Bimo yang masih terduduk melihat tingkahnya. Tangan kiri Rico berkacak pinggang sedang tangan kanannya mengusap - usap tengkuknya. Selang berapa waktu langkahnya terhenti dan lalu duduk kembali ditempatnya semula sambil berkata.


"Bagaimana kalau kita cari tahu asal usul cowok itu Bim?" Celetuk Rico yang secara tiba - tiba terbesit sebuah ide.


"Siapa?" Tanya Bimo.


"Itu lho,,, yang pernah kamu ceritakan dulu. Cowok yang nyeret Inem pas di cafe dulu. Kamu inget nggak?"


"Oh yang Inem bilang saudaranya itu ya?" Tanya Bimo balik.


"Ho oh betul,,, betul,,, betul." Ucap Rico seraya menirukan gaya tokoh film animasi anak - anak.


"Coba pikir,,, ! Kalau dia cuma sekedar saudara, trus kenapa sikapnya sampe segitunya sama Inem pas lihat Inem berdua sama kamu? Wajar nggak sih?" Ucap Rico lagi.


"Ya wajar aja sih, kan dia dapat mandat buat jagain Inem."


"Aiihh Bimo,,, jagain sih jagain, tapi nggak gitu juga kali. Coba kamu kaitkan dengan ucapan mbok Nah yang barusan kamu bilang tadi!"


Disini Bimo mulai berfikir lagi. Mencoba mencerna apa yang dikatakan sahabatnya tersebut.

__ADS_1


...🌸 Bersambung 🌸...


__ADS_2