
...🌸 Happy reading 🌸...
"Kalian bener - bener ya,,, teganya kalian main anu di belakang ku! Kenapa kalian nggak ngasih tahu aku sih?"
Rasa kecewa yang teramat dalam tengah dirasakan oleh Rico. Betapa tidak? Rico yang ternyata juga mempunyai perasaan kepada Inem kini pupus lah sudah.
Seberapa besar rasa sedihnya tak mungkin dia tunjukan. Sekarang dia hanya bisa tersenyum dalam luka. Luka yang entah kapan bisa terobati.
Sekarang ini Rico memasang muka yang sama sekali tak enak untuk dipandang. Mungkin ini adalah luapan dari kesedihannya.
"Dih cunguk,,, kamu kenapa? Tuh muka butek amat weh." Celoteh Mutia melihat raut wajah Rico yang tiba - tiba saja berubah.
"Bukan urusanmu." Sahut Rico ketus.
"Aihh,,, aihh,,, hati potek ya bang?" Ledek Mutia.
"Kamu bisa diam nggak sih! Atau tuh mulut minta disumpel sepatu?" Ucap Rico dengan nada kasar.
"Wah kayaknya kalian berdua bakalan cocok nih." Celoteh Bimo.
"Dih,,, cocok darimananya? Orangnya aja nyebelin gitu. Ngomongnya juga asal ceplas - ceplos nggak karuan." Gerutu Rico.
"Waduh,,, sekate - kate kamu ngomong ya bang. Minta dicipok sepatu ya bang?"
"Nih bocah lama - lama tak gibeng juga."
"Ayo sini coba kalau berani!"
"Wah beneran nantangin nih bocah!"
Kesedihan yang dirasakan oleh Rico kini beralih menjadi emosi karena ulah Mutia. Merasa ditantang, Rico pun mendekati Mutia sambil menyingsingkan lengan bajunya. Sedangkan Mutia, bukannya menghindar dia malah menantang balik kayak jagoan yang siap beradu jurus.
Tak ingin urusan menjadi panjang, Bimo dan Inem turun tangan melerai keduanya. Dia menghadang Rico yang sedang tersulut emosi. Sedang Inem menarik tas Mutia hingga Mutia menjauh dari Rico.
"Kalian ini kek anak kecil aja deh. Nggak malu apa dilihatin orang banyak tuh!" Ucap Bimo.
"Dia tuh yang mulai." Alasan Mutia membela diri.
"Apa,,, kamu yang mulai ya." Rico pun tak kalah nyolot.
"Kamu,,, !" Ucap Mutia lagi.
"Kamu,,, !" Sahut Rico.
"Sudah,,, sudah,,, hentikan!? Kalau kalian masih mau berantem juga, aku mau pergi aja dari sini. Males banget lihat orang berantem. Kurang kerjaan aja tau nggak sih!"
Tak tahan melihat kedua temannya berantem, akhirnya Inem pun pergi. Kepergian Inem disusul oleh Bimo. Begitu juga dengan Mutia dan Rico.
__ADS_1
...****************...
Ditempat lain masih dihari yang sama. Setelah mendapat rekomendasi dari beberapa temannya, Selly bergegas pergi ke sebuah bridal ternama di kota ini guna melihat koleksi gaun buat acara pesta pernikahan Arjun dan Inem.
Sesampainya ditempat itu, Selly langsung disambut dengan ramah oleh seorang pelayan. Terdapat banyak sekali gaun yang terpajang rapi dan juga elok. Sebagian digantung di lemari kaca yang besar dan ada juga beberapa yang dipajang dimanekin full body sehingga gaun terlihat sangat cantik.
"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu!" Sambut pelayan itu sambil tersenyum dan sedikit membungkuk.
"Ya, aku inginkan gaun buat anakku untuk acara istimewanya." Ucap Selly.
"Kalau boleh tahu untuk acara apa nyonya?" Tanya pelayan itu.
"Untuk pernikahan, aku ingin yang spesial untuknya." Jawab Selly.
"Kalau begitu, mari ikut saya! Disebelah sana ada beberapa koleksi gaun terbaik di tempat ini." Ajak pelayan itu.
Keduanya pun pergi ke ruangan yang dimaksud. Disana berjejer beberapa gaun yang memang sangat cantik dan memukau.
Tepat di sebuah gaun berwarna putih bermotif bunga dan bertaburan butiran - butiran mutiara serta bagian dadanya yang terbuka, Selly menghentikan langkahnya dan memfokuskan pandangannya.
"Gaun yang sangat cantik dan bahannya juga lembut." Ucap Selly sambil menyentuh bahan dari baju tersebut.
"Anda memang pandai memilih nyonya. Ini adalah koleksi terbaru disini. Baru beberapa hari ini jadi dan belum pernah dipamerkan sebelumya." Jelas pelayan.
"Sungguh,,, ? Tapi aku kurang begitu suka dengan bagian dadanya. Menurutku itu terlalu terbuka." Ucap Selly lagi.
"Oh kalau itu bisa dibicarakan lagi, kebetulan disigner dari gaun ini sedang ada ditempat."
"Jika anda berkenan saya akan mengantarkan anda menemuninya."
"Hmmm,,, boleh deh."
Dengan bantuan pelayan tadi, akhirnya Selly pun sampai di sebuah ruangan untuk menemui orang yang dimaksud tadi.
Didepan sebuah pintu berwarna coklat muda keduannya berhenti. Dengan perlahan lalu pelayan itu mengetuk pintu yang tertutup rapat.
...Tok,,, tok,,, tok,,,...
"Masuk,,, !"
Mendengar suara dari balik pintu itu, pelayan itu lalu membuka pintu dan mengajak Selly masuk kedalam.
Didalam ruangan sudah ada seorang wanita yang sedang duduk dibalik meja besar. Dia sedang sibuk menggoreskan sebuah pensil ke secarik kertas yang berwarna putih bersih.
Wanita itu nampak sangat elegan dengan balutan busana berwarna hitam dan rambutnya panjang agak curly dibagian bawah tergerai bebas menambah cantik parasnya.
"Permisi bu,,, ini ada customer yang mau bertemu dengan ibu." Ucap pelayan itu.
__ADS_1
Wanita yang tadinya fokus dengan pekerjaannya kini mendongak melihat Selly dan tersenyum kepadanya.
"Silahkan duduk!" Sambut wanita itu.
Selly pun duduk berhadapan dengannya.
"Ada yang bisa saya bantu?" Ucap wanita itu lagi.
"Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya? Aku merasa tak asing dengan anda." Ucap Selly.
"Sepertinya ini pertama kalinya nyonya." Jawab wanita itu yang ternyata adalah Lashira.
Tentu saja Selly merasa pernah melihatnya, karna waktu itu dia pernah melihat Arjun bersama Lashira. Tapi karna jarak pandang yang jauh dan juga wajah Lashira yang waktu itu terhalang oleh suatu benda jadi membuat Selly tak jelas melihat wajah Lashira. Sedang Lashira, dia sama sekali belum pernah melihat wajah ibu dari kekasihnya itu.
"Mungkin memang begitu ya." Sahut Selly.
"Sepertinya begitu nyonya. Lalu apa yang bisa saya bantu?" Tanya Lashira.
"Oh ya,,, aku sedang mencari gaun buat anak perempuan ku. Gaun untuk acara resepsi pernikahan. Tadi aku telah melihat gaun yang didepan. Aku suka sekali dengan modelnya, tapi aku kurang suka dibagian atasnya, menurutku itu terlalu terbuka. Apakah anda bisa memberikan sedikit sentuhan dibagian itu agar sekiranya tak terlihat terbuka?" Jelas Selly.
"Tentu saja bisa, Mari kita lihat gaun pilihan anda biar saya bisa tahu perubahan apa yang harus saya lakukan!" Ajak Lashira.
Keduanya pun pergi menuju tempat dimana gaun itu dipajang. Setelah memutar otak, akhirnya Lashira menjelaskan apa saja yang akan ditambahkan ke gaun itu dan Selly menyukai rencana Lashira.
Tak hanya memilih gaun untuk Inem, Selly juga mencari jas untuk pasangan dari gaun itu dan ditemani oleh Lashira.
Tak hanya mencari buat sepasang pengantin, Selly pun juga mencari baju untuk dirinya sendiri, Angga dan juga anak bungsunya yaitu Vian.
Setelah semuanya didapat, Selly lantas melunasi semua administrasinya.
"Terima kasih telah mempercayakan penampilan anda kepada kami. "Ucap Lashira.
"Terima kasih juga atas pelayanannya, maaf ya kalau aku banyak merepotkan." Sahut Selly.
"Itu sudah kewajiban kami dalam melayani costumer nyonya."
"Oh ya,,, khusus yang gaun tadi tolong diselesaikan tepat waktu ya!" Pinta Selly.
"Baik nyonya, anda jangan khawatir! Kami akan profesional dan kalau bisa, tolong pengantinnya diajak kesini ya untuk fitting bajunya biar bisa pas dan juga nyaman dipakainya."
"Baiklah,,, nanti akan aku kabari kapan aku akan kesini bersamanya."
"Saya akan menunggu kabar dari anda nyonya dan ini adalah kartu nama tempat kami. Kalau anda membutuhkan sesuatu bisa menghubungi nomor yang tertera disini!" Ujar Lashira sambil menyerahkan sebuah kartu dari tempat kasir.
"Baiklah,,, kalau begitu aku permisi dulu ya. Terima kasih banyak atas bantuannya."
"Sama - sama nyonya, silahkan datang lagi!"
__ADS_1
Setelah berjabat tangan dengan Lashira, Selly pun pergi dari tempat kerja Lashira dengan beberapa barang belanjaannya dibantu oleh pelayan toko tersebut.
...🌸 Bersambung 🌸...