Inem Bukanlah Seorang Pelayan

Inem Bukanlah Seorang Pelayan
episode 82


__ADS_3

...🌸 Happy Reading 🌸...


Pagi hari telah tiba,,, gelap kini telah berganti terang. Kicauan burung liar pun mulai memamerkan kicauannya. Hembusan angin malam kini telah tergantikan oleh sejuknya embun.


Dengan malas Vian menyibak kain korden dan lalu membuka jendela sehingga sejuknya embun pagi bisa bebas menerobos masuk memenuhi ruangan.


Setelah membuka jendela, Vian lantas menuju kekamar mandi. Setelah menyelesaikan serangkaian ritual paginya, dia mandapati kalau Selly sudah berdiri ditepi jendela sembari menikmati udara pagi yang sangat segar.


Pemuda itu pun terkejut melihat tubuh ibunya yang segar seperti bukan orang sakit. Ibunya bahkan terlihat meregangkan tubuhnya layaknya orang yang habis tertidur nyenyak. Padahal dia sudah melihat sendiri kondisi ibunya semalam sangat lemas dan pucat dengan selang ditangan dan di hidung. Tapi apa yang dilihatnya sekarang? Semua selang yang menempel pada tubuh ibunya kini telah terlepas dan ibunya nampak baik - baik saja.


"Mami,,, !" Panggil Vian.


Wanita yang memakai baju pasien itupun lalu menoleh dan membalikkan badannya tak lupa senyum manis terumbar dibibirnya.


"Mami dah baikan?" Tanya Vian yang nampak kebingungan.


"Seperti yang kamu lihat,,, mami sangat sehat."


"Ini ada apa sebenarnya?" Tanya Vian meminta penjelasan kepada Selly.


"Atutu,,, anak ganteng mami napa mukanya tegang gini sih?" Selly menghampiri Vian dan lalu mencubit serta memainkan kedua pipi anak sulungnya itu yang masih terlihat tak mengerti.


"Siapa yang nggak tegang sih mam kalo liat mami kayak kemaren itu? Dan lihatlah apa yang terjadi sekarang?" Vian menatap ibunya dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.


"Mami turun dari ranjang dan melepas semua selang itu. Ini sebenarnya ada apa sih?" Lagi - lagi Vian meminta penjelasan.

__ADS_1


"Kamu kayak nggak tau mami mu aja, mami kan akan menghalalkan segala cara agar keinginannya bisa terpenuhi." Celoteh Angga yang baru saja masuk dari arah luar.


"Eh papi dari mana?" Tanya Selly.


"Dari masjid, habis tadi mau subuhan malah kamar mandinya kepake. Ya udah papi keluar aja sekalian beli sarapan sama kopi nih." Jawab Angga sembari memberikan sekantung plastik berisikan makanan dan minuman.


Setelah memberikan barang bawaannya kepada Selly, Angga lantas berjalan menuju tempat tidur pasien dan lalu membaringkan tubuhnya disana.


"Oh ya,,, tadi kulihat Arjun sama Inem diluar lagi tidur saling bersandar. Kayaknya semalem mereka nggak pulang deh. Kasihan bener mereka." Lanjut Angga.


"Hah,,, yang bener pap?" Sontak saja Selly lansung memberikan bungkusan yang hendak dibukanya tadi kepada Vian dan bergegas keluar mengintip kedua sejoli itu dari balik pintu dan benar saja keduanya tengah tertidur pulas dikursi tunggu dengan posisi duduk berdampingan. Nampak kepala mereka saling ber sandaran, tubuh Inem berselimut kan jas Arjun sedang Arjun menyilangkan kedua tangannya didada. Sepertinya Arjun merelakan jas nya untuk dipake Inem biar tak merasa kedinginan.


Setelah melihat keduanya, Selly lantas balik kedalam ruangan dan menyusun sebuah siasat baru tentu saja dia membutuhkan bala bantuan untuk melancarkan rencananya itu dan itu adalah ke apes an bagi dua makhluk yang sekarang ini sedang berada satu ruangan dengannya. Karna mau tak mau mereka harus melakonkan sebuah peran yang sebenarnya tak mereka inginkan dan mereka tak bisa menolaknya karna keputusan Selly mutlak adanya tak bisa diganggu gugat.


Setelah semuanya perencanaannya matang, kini saatnya Angga dan Vian dibrifing untuk perannya masing - masing dan pasti akan ada sanksi kalau keduanya gagal dalam menjalankan tugas dari sang komando yaitu Selly.


"100 persen yakin pap dan missi kali ini harus berhasil." Selly sangat bersemangat dan optimis usahanya akan berhasil.


"Udah lah mam menyerah aja. Biarkan mereka berpisah dan mencari kebahagiaan mereka sendiri. Ntar biar Inem sama Vian aja ya,,, kan sama aja tuh." ujar Vian.


...Pletak,,,,...


Sebuah pukulan kecil mendarat dengan mulus dikepala Vian. Vian mengaduh kesakitan sambil mengelus kepala yang kena getok yang tak lain pelakunya adalah ibunya sendiri.


"Sembarangan,,, Inem tuh jatahnya Arjun dan itu gak bisa dirubah. Lagian kan kamu udah mami kasih jodoh tuh si Fanny. Dia nggak kalah cantiknya kan sama Inem. Mereka berdua emang mantu idaman mami banget." Ujar Selly menggebu - gebu mengumbulkan menantu dan calon menantunya.

__ADS_1


"Elah mami,,, kenapa jadi bahas itu lagi sih,,, kan Vian nggak mau dijodohin mam. Kecuali sama Inem, itu Vian baru mau pake banget pula."


Mendengar apa yang Vian ucapkan, Selly pun lantas mengangkat kembali tangannya dan berniat untuk memberi hadiah kecil di kepala Vian lagi. Namun kali ini Vian bisa menebak gerakan ibunya dan menghentikan aksi ibunya tersebut.


"Dihh,,, jangan KDRT napa sih mam." Ucap Vian.


"Itu hukuman karna kamu nggak mau nurut sama mami."


"Ya nggak gitu juga kali mam. Kan nggak semua harus sesuai dengan keinginan mami." Ucap Vian lagi.


"Udah lah Vian jangan debat sama mami mu lagi. Berisik tau,,, papi mau tidur nih ngantuk banget. Lagian kamu nggak bakalan menang deh kalo lawan mami." Ucap Angga yang kini sedang berbaring dan berusaha untuk tertidur.


"Tuh dengerin kata papi,,, ! Dan semuanya akan baik - baik saja!" Selly berdiri dan kedua tangannya bersedekap sambil memikirkan sesuatu.


Sedang Vian hanya terdiam sembari menghela nafas dan kemudian keluar ruangan dengan wajah yang cemberut. Saat membuka pintu, dia melihat apa yang tadi kedua orang tuanya lihat. Perlahan Vian menutup pintu dan berjalan. Namun disaat dia berada tepat didepan kedua insan yang sedang tertidur itu, Vian berhenti dan melempar pandangan kepada Arjun dan Inem secara bergantian. Namun saat pandangannya tertuju kepada Inem, Vian menatap lebih lekat wajah ayu Inem sedikit tertutupi oleh helaian rambut panjangnya. Vian mendekati Inem dan menyapu helaian rambut yang jatuh terurai menutupi wajah tersebut sembari berbisik dalam hati.


"Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu."


Merasakan belaian lembut Vian, Inem mulai menggeliat dan pergerakan Inem itu membuat Vian bergegas pergi dari tempatnya berdiri sekarang ini.


Perlahan Inem pun membuka matanya dan melihat kalau hari sudah mulai terang. Inem menggeliat dan disaat itulah jas Arjun yang menutupi tubuh bagian atas terjatuh ke pangkuannya. Inem pun lalu memegang jas tersebut dan termenung.


"Ini kan,,,, " Ucap Inem pelan.


Menyadari bahwa jas itu adalah kepunyaan Arjun, Inem lantas menoleh kearah sampingnya dan mendapati Arjun yang masih tertidur dengan kepala yang bersandar dikepala Inem. Inem pun terkejut dan sontak menarik tubuhnya menjauh dari tubuh Arjun. Seketika itu pula tubuh Arjun terjatuh karna penopangnya yang secara tiba - tiba bergerak dan membuat Arjun terbangun dari tidur lelapnya.

__ADS_1


...🌸 Bersambung 🌸...


__ADS_2