
...πΈ Happy Reading πΈ...
Vian kembali melajukan mobilnya menjauh. Sedang si gadis itu terdiam menatap kepergian Vian. Tiba - tiba saja ada yang mengagetkan nya dari belakang. Sontak gadis tersebut terkejut dan seketika mencuatkan emosinya, namun saat dia berbalik dan melihat siapa orang yang telah membuatnya terkejut seketika itu pula rasa marahnya menghilang. Namun dia tak melepas emosinya begitu saja. Gadis itu membalas perbuatan orang itu dengan cara mencubit pinggangnya hingga orang tersebut meringis kesakitan dan meminta ampun. Meskipun begitu, keduanya tak pantas berkelahi. Mereka malah saling ketawa dan nampak akrab.
"Coba mana aku mau lihat kuku mu!" Ucap Inem.
"Kenapa emang?" Bukannya menunjukkan jemarinya Mutia malah bertanya kepada sahabat yang baru saja terkena serangan cubitan nya.
"Ayo mana lihat!" Inem meraih paksa tangan Mutia.
"Haissttt pantas aja sakit,,, rupanya kuku mu ini dah kayak kukunya setan. Panjang bener dah ah." Omel Inem yang melihat kuku jemari temannya panjang. Namun nampak cantik karna diberi cat kuku yang berwarna kalem dan ada motifnya bunga kecil.
"Eh tapi lucu juga ya warnanya. Aku mau dong kuku ku diginiin juga." Pinta Inem yang kepincut dengan nail art nya Mutia.
"Helleh,,, ini tuh kuku palsu. Kalau kamu mau co aja tuh di keranjang oyen Nem." Sahut Mutia.
"Hah,,, masak sih kuku palsu? Tapi kok dibuat nyubit kek tadi nggak lepas sih?" Inem kembali memperhatikan kuku tangan Mutia.
"Aku pake lem gel ini, dia kuat banget buat kegiatan sehari - hari juga masih stay aja dia. Sekuat cinta ku padanya hehehe. Kena air juga aman lho." Jelas Mutia.
"Eh masak sih? Kok aku nggak percaya ya kalau kuat."
"Lhah kan tadi dah liat sendiri kan buktinya. Nih kuku aku tetep stay nggak geser sama sekali." Bela Mutia sembari mendemokan kukunya seperti yang dilihatnya di vidio promo.
"Tapi nyatanya sampe sekarang kamu masih jomblo aja tuh. Kan bearti emang nggak kuat cintamu hahaha,,, " Inem mengejek Mutia dengan tawanya yang lepas.
"Asem,,, kupikir masih ngomongin kuku tak taunya malah ngeledek." Sahut Mutia dengan mulut yang dimanyunkan.
"Aihh,,, aihh,,, kok jadi cemberut sih? Awas ntar nampak tuh keriputnya jadi cepet tua deh. "
__ADS_1
"Terus aja ngeledek ntar aku cubit lagi baru tau rasa kau nem!" Ancam Mutia.
Seketika Inem mengatupkan mulutnya dan tak lagi meledek gadis yang kini sedang manyun merengut karna kesal akibat ulah InemInem, tapi berhubung Inem orangnya cerewet ada saja yang menjadi topik pembicaraan nya.
"Kulihat tadi kamu dianterin Vian. Sejak kapan kamu dekat dengannya?" Tanya Inem.
Mendengar ucapan itu, sontak Mutia menghentikan langkah kakinya. Dia menghela nafas dan menatap Inem yang juga ikut berhenti.
"Kenapa?" Tanya Inem lagi yang penasaran dengan raut wajah Mutia yang menunjukkan perubahan.
"Panjang ceritanya." Jawab Mutia singkat dan lalu melanjutkan langkah kakinya.
"Yuk cerita yuk, sepanjang apapun ceritanya aku siap dengernya kok." Pinta Inem yang berjalan beriringan dengan Mutia.
"Sayangnya belum saatnya aku cerita." Ucap Mutia yang kemudian mempercepat langkahnya.
"Weleh,,, segitunya kau. Ayo dong cerita jangan bikin aku penasaran ih." Inem terus saja merayu Mutia supaya mau bercerita tentang kisahnya bersama Vian. Namun lagi - lagi Mutia menolak dan hanya tersenyum menanggapi recokan sahabatnya.
Pov Vian.
Saat ini Vian sedang berkendara menuju kantornya. Di tengah perjalannya terdengar lantunan musik dari dalam saku jasnya. Vian lalu mengambil earphone nya dan kemudian memasang nya ditelinga tanpa melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"πHalo,,, "
"π Met pagi Vian. " Suara dari sebrang telepon.
"π Siapa?" Tanya Vian karna yang tak mengenali suara orang yang menelpon nya.
"π Ini aku Fanny,,, kamu lagi dimana? Kok belum ada dikantor?"
__ADS_1
"π Bukan urusanmu!" Jawab Vian singkat.
"π Eh kok gitu sih? Ini aku lagi dikantor kamu lho. Aku bawa makanan yang aku masak sendiri nih. Kita sarapan bareng yuk!" Ajak Fanny dengan suara yang lembut.
"π Aku dah sarapan." Jawab Vian singkat lagi.
"π Kalau nggak ada perlu lagi kututup telponnya. Aku mau meeting ini." Jawab Vian lagi.
"π Eh tunggu,,, ! Bukannya hari ini kamu nggak ada jadwal meeting ya? Barusan aku dah tanya sama sekretaris mu lho!"
"π Ini jadwal dadakan dan nggak bisa aku tolak soalnya ini klien penting. Ya udah aku dah mau sampe ini."
"π Kamu meetingnya dimana biar aku susulin kesana ya!"
...^^^Tut,,, tut,,, tut,,, ^^^...
Bukannya alamat yang didengarnya melainkan Fanny mendengar suara sambungan panggilannya terputus. Rupanya Vian menutup telpon secara sepihak. Tentu saja Fanny kesal dibuatnya karna lagi - lagi rencananya untuk bersama Vian gagal untuk yang kesekian kali. Padahal hari ini dia sudah bela - belain bangun pagi sekali untuk mempersiapkan makanan kesukaan Vian. Fanny juga udah berusaha belajar memasak demi Vian karna selama ini dia tak pernah pergi kedapur apalagi untuk memasak. Sungguh perjuangan yang sia - sia.
Sementara itu di pov Vian, dia tak menyangka Fanny masih mengejarnya sedangkan dia sudah berusaha untuk membuat Fanny menjauh. Entah usaha apa lagi yang harus dilakukannya.
Vian yang tadinya sudah siap untuk bekerja kini terpaksa harus memutar balik arah laju mobilnya. Panggilan Fanny seketika membuyarkan semangat kerjanya. Untung hari ini tidak ada jadwal penting jadi Vian memutuskan untuk tidak pergi kekantor.
Sedangkan Arjun kini tengah gusar didalam ruang kerjanya. Dia duduk termenung dengan wajah menunduk kearah meja yang ditopang dengan kedua tangannya. Beberapa kali terdengar suara dering dari poselnya yang tergeletak begitu saja di dekatnya dan semuanya tak dihiraukannya. Bahkan semua orang yang ada di dekatnya kena imbas dari kekalutan hatinya tak terkecuali termasuk juga Kelvin. Pagi ini, seperti biasa kelvin bermaksud untuk memberitahukan jadwal kegiatan dari bossnya itu. Namun baru juga menyapa tapi Arjun sudah membentak nya dan alhasil dia harus meng cancel semua kegiatan bossnya untuk seharian ini. Karna itu emang sudah menjadi kebiasaan. Kalau Arjun sedang seperti itu maka dia tidak akan bisa diganggu siapapun.
Suasana di dalam ruangan itu saat ini sangatlah sunyi. Hanya terdengar suara detakan mesin jam yang tertempel disalah satu sudut dinding. Tiba - tiba Arjun merasakan ada sentuhan lembut dikedua pundaknya hingga diapun akhirnya mengangkat kepala dan memandang ke arah seseorang yang kini tengah berdiri disampingnya sambil memijat pelan bahunya.
Mendapat perlakuan tersebut, Arjun pun merasa nyaman. Dia lantas merebahkan punggung dan kepalanya di sandaran kursi dan memejamkan matanya sembari menikmati pijatan lembut dari orang yang kini telah berpindah posisi di belakang kursi Arjun.
Berkali - kali Arjun menghela nafas. Mencoba menetralkan suasana hatinya. Namun setiap kali dia mengingat permintaan ibunya, emosinya pun seketika mencuat tak bisa menerima kenyataan yang telah diatur oleh ibunya sendiri dan
__ADS_1
Kini dia merasa terjebak di situasi yang sulit.
...πΈ Bersambung πΈ...