Inem Bukanlah Seorang Pelayan

Inem Bukanlah Seorang Pelayan
episode 38


__ADS_3

...🌸Happy Reading 🌸...


Saat ini kelas telah usai. Semua mahasiswa sudah keluar dari ruangan itu. Hanya tertinggal Mutia dan juga Inem yang masih anteng di bangkunya.


Setelah membereskan alat tulisnya, Mutia lalu menghampiri Inem yang masih terdiam ditempatnya.


"Kamu kenapa sih? dari tadi aku perhatiin kamu bengong melulu?" Tegur Mutia.


Memang sejak Inem melihat sekilas orang tadi, dia hanya melamun saja tak fokus dengan pelajaran yang disampaikan dosennya.


Pikirannya tertuju pada sosok itu terus padahal orang itu belum tentu dia.


Walau sebisa mungkin dia melupakan orang itu dan berulang kali membuang jauh pikirannya tentangnya, orang itu tetap saja melekat dipikiran dan hatinya. Berat baginya untuk melepasnya.


"Heh,,, nah kan bengong lagi!"


"Hehehe iya maaf!"


"Yuk ah kita ke kantin aja!" Ajak Mutia.


"Lhoh kok ke kantin sih, bukankah kita masih ada kelas ya?"


"Hik ilih,,, percuma juga masuk ke kelas kalau kamu bengong melulu kek dungong gitu. Mending kita makan aja di kantin, kan bisa kenyang he,, he,, he,,," Celoteh Mutia.


Setelah perdebatan agak lama, akhirnya keduanya pun pergi ke kantin. Ditengah perjalanan ada seseorang yang berlari sembarangan dan menabrak Inem dari arah belakang hingga dia terjatuh.


Melihat Inem yang tersungkur dijalanan, spontan Mutia melafalkan beberapa kata yang kurang pantas untuk didengar. Pemuda itu pun langsung meminta maaf dan menolong Inem.


Perlahan Inem berdiri dan beberapa kali mengusap - usap lututnya yang kotor dan terasa sakit.


Berulang kali pemuda itu meminta maaf. Namun Inem tak menghiraukan nya. Inem lebih fokus dengan kakinya. Setelah dirasa bersih Inem menengok kearah pemuda yang telah membuatnya jatuh dan betapa kagetnya dia setelah melihat siapa pemuda itu. Wajahnya tak asing lagi baginya, Ternyata dia sangat mengenal pemuda itu.


"Cocomber,,, !" Seru Inem tak percaya sosok yang ada didepannya.


"Aaaa,,, Inem sayang, akhirnya aku menemukanmu." Teriak Rico girang.


"Ini beneran kamu Co?" Tanya Inem lagi tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Eh kalian saling kenal?" Tanya Mutia menyela.


"Tentu saja, dia temanku dari Jogja." Jelas Inem. "


Aku nggak nyangka bisa lihat kamu disini."

__ADS_1


"Iya Inem sayang, aku kesini cuma buat kamu lho." Sahut Rico.


"Kalau kamu ada disini, berarti yang aku lihat tadi itu benar dia,,,. "


"Jadi kamu udah ketemu sama Bimo?" Tanya Rico.


"Hanya sekilas melihatnya saja."


"Ya udah ayok kita samperin dia yuk!"


Tanpa menunda lagi, Rico pun langsung menggandeng Inem dan mengajaknya untuk bertemu dengan Bimo. Sedang Inem hanya pasrah mengikuti arah langkah Rico, disusul Mutia di belakang.


Saat ini perasaan Inem campur aduk tak karuan. Jantungnya berdebar lebih kencang dan juga keras hingga terasa agak menyakitkan. Semua ini dirasa seperti mimpi baginya.


Dari kejauhan Inem sudah dapat melihat sosok Bimo yang sedang berdiri bersandarkan tembok sambil memegang ponsel yang menempel di telinganya.


Semakin mendekat, jantung Inem semakin berdebar. Hatinya semakin bergejolak. Hingga tak terasa meneteslah eluh dipipinya. Inem merasa bahagia bisa bertemu lelaki pujaan hatinya namun disisi lain dia sadar ada tembok besar dan tinggi menjulang sehingga dia tak kuasa menunjukan rindunya yang teramat dalam.


Seketika Inem menghentikan langkahnya. Kakinya terasa kaku dan berat untuk melangkah kedepan. Dia tak sanggup bertemu dengan Bimo karena dia merasa bersalah telah meninggalkannya tanpa memberinya kabar.


"Ada apa?" Tanya Rico kepada Inem yang mendadak berhenti.


Inem hanya terdiam. Kedua matanya nampak nanar memandang sosok Bimo yang jaraknya tak terlalu jauh, namun dengan jelas Inem sudah bisa melihat raut wajah Bimo. Wajah yang selama ini di rindunya namun dia tak berani mengungkapkannya.


Ajakan Rico seakan terdengar sebagai ancaman bagi Inem. Kakinya semakin berat untuk melangkah maju. Dia lebih memilih mundur dan pergi dari tempatnya berdiri sekarang.


Menyadari pergerakan Inem yang ingin menjauh, Rico pun mempererat genggamannya. Tak ingin Inem pergi, dia lalu memanggil Bimo dari kejauhan.


Merasa namanya dipanggil, Bimo lantas mengarahkan pandangannya ke sumber suara. Saat melihat siapa yang memanggil dan orang yang ada disebelahnya sontak Bimo langsung berlari menghampiri mereka.


Dengan nafas yang tersengal - sengal Bimo berdiri tepat dihadapan Inem. Seakan tak percaya dia terus saja memandangi gadis yang kini tepat berada di depannya. Ditangkupnya pipi Inem dengan kedua telapak tangannya. Memastikan bahwa kali ini dia sedang tak bermimpi.


Setelah memastikan kalau kali ini bukanlah khayalan, seketika senyum manis mengembang dibibirnya. Di peluknya erat - erat Inem seolah tak ingin lepas lagi. Rasa rindu yang menggebu kini telah terluapkan.


"Aku kangen sama kamu."


Suara Bimo terdengar begitu bergetar ditelinga Inem, hatinya terenyuh hingga dia tak kuasa membendung air matanya lagi. Dibalasnya pelukan Bimo dan membisikan rindunya ditelinga Bimo.


"Aku juga kangen."


Mendengar ucapan Inem membuat Bimo semakin mempererat pelukannya hingga Inem semakin tenggelam didalam dekapannya.


Setelah beberapa saat keduanya pun saling melepaskan pekukannya. Melihat Inem yang berlinang air mata membuat Bimo merasa bersalah.

__ADS_1


"Hei,,, kenapa menangis?" Tanya Bimo sambil mengusap air mata yang membasahi pipi Inem.


Menanggapi pertanyaan Bimo, Inem hanya menggelengkan kepala tanpa bicara sepatah katapun.


"Maafkan aku ya!" Ucap Bimo.


"Kenapa minta maaf?" Tanya Inem dengan suara yang berat. Dia mendongak menatap wajah kekasihnya yang juga terlihat sendu.


"Maafkan aku karena lama baru bisa menemukanmu."


Air mata Inem mengalir seakan tiada henti. Dengan lembut Bimo menghapus air mata Inem dan lalu menempelkan dahinya kedahi Inem.


"Hai kalian ini kenapa sih? Udah dong jangan bersedih lagi! "


Celoteh Rico membuyarkan suasana haru antara Bimo dan juga Inem hingga sontak keduanyapun saling menjauh satu sama lain.


"Hehehe,,,maaf! Aku terlalu bahagia." Ucap Bimo sambil melirik Inem.


"Dih,,, kamu pikir kamu aja yang kangen? Aku kan juga kangen elah."


Tak mau kalah dengan Bimo, Rico pun menghampiri Inem dan ingin memeluk Inem sama seperti yang Bimo lakukan. Namun belum sampai memeluk, Bimo keburu menarik baju Rico hingga menjauh dari Inem dan acara memelukpun jadi gagal.


"Heh kamu ini apa - apaan sih?" Ucap Rico kesal atas tindakan Bimo.


"Kamu yang mau ngapain?"


"Aku main peluk lah, kan aku kangen."


"Nggak boleh!"


"Apaan sih? Kamu aja boleh masa aku nggak sih, curang banget kamu Bim."


"Aku kan pacarnya, jadi boleh dong."


"Wah,,, wah,,, jangan seenak jidat ya kamu kalau ngomong Bim. Ngaku - ngaku aja kamu."


"Dih siapa juga yang ngaku - ngaku, orang beneran kok."


"Inem sayang,,, ayo katakan kalau apa yang dikatakan nih cunguk nggak bener!" Ucap Rico sambil menunjuk Bimo yang berdiri disampingnya.


Perlahan Inem mengangguk dan tersipu malu.


"APA,,, ?!" Jeng,,, jeng,,, jeng,,, sontak Rico berteriak dan membulatkan kedua matanya. Walau Inem tak bersuara tapi anggukan itu sudah cukup memberikan isyarat kepadanya kalau mereka memang sudah berpacaran.

__ADS_1


...🌸 Bersambung 🌸...


__ADS_2