
...🌸 Happy Reading 🌸...
Hari sudah mulai terik, jam kuliah Inem pun sudah berakhir. Dia bergegas menuju tempat dimana Arjun biasa menjemputnya. Baru juga beberapa langkah berjalan, dia merasa ada yang memegang tangannya dan menahan langkahnya.Saat berbalik ternyata Bimo sudah berdiri tepat didepannya tanpa melepas tangannya.
"Kamu kenapa?" Tanya Bimo.
"Kenapa gimana maksudnya?" Tanya Inem balik.
"Seharian ini kamu kek menghindariku."
"Ah nggak kok, itu cuman perasaan kamu aja." Elak Inem.
"Nggak apanya? Jelas - jelas kamu menghindar. Apa ada sesuatu? Kalau emang ada ngomong aja!"
Memang benar, seharian ini tiap kali Bimo mendekat, Inem selalu saja mengelak dengan berbagai alasan. Hal itu malah membuat Bimo curiga dan makin penasaran saja.
"Beneran nggak ada kok. Aku pulang dulu ya!" Pamit Inem yang lalu melanjutkan langkahnya. Namun lagi - lagi Bimo menghadangnya.
"Aku antar ya!"
"Nggak usah. Aku udah ada yang jemput."
"Laki - laki yang kemaren itu?" Tanya Bimo dengan tatapan mengintimidasi.
Tatapan Bimo membuat Inem tak berani memandang, dia hanya tertunduk dalam diam.
"Memangnya dia itu siapa sih? Kenapa juga kamu nurut sama dia?"
"Aku harus pulang sekarang!"
Tak kuasa menjelaskan kebenaran, Inem lebih memilih pergi. Sekali lagi Bimo hendak mencegah Inem namun Rico keburu menghentikan Bimo.
"Sudah biarkan saja dulu!" Ucap Rico.
"Tapi aku butuh penjelasan Co."
"Iya aku tahu, mungkin bukan sekarang waktunya. Kita tunggu aja!" Ucap Rico lagi seraya
"Haish,,, aku kesini bukan untuk seperti ini!"
"Sebaiknya kamu dengerin tuh kata nih boncel. Sabar aja lah!" Sahut Mutia.
"Heh siapa yang kamu maksud boncel?" Teriak Rico yang tak terima diejek.
__ADS_1
Dilihat dari postur tubuh, Mutia memang lebih tinggi beberapa cm jika dibandingkan dengan Rico yang tinggi badannya dibawah rata - rata tinggi pria. Selain itu memang Mutianya aja yang kelewat tinggi. Posturnya hampir menyamai tinggi Bimo. Namun kalau soal tampang, Rico tak kalah tampan dengan personil boyband Korea ðŸ¤
"Menurutmu?" Ucap Mutia sembari melirik nakal ke arah Rico.
"Kurang asem, rupanya minta dilempar ke Pluto nih cewek. Dah bosan hidup kah?" Rico menggeram kesal.
"Dih si abang tau aja kalau aku dah bosen liat kamu bang hahaha,,, " Celotehan Mutia sembari tertawa lebar yang kemudian melangkah pergi.
Celotehan Mutia makin membakar kekesalan Rico. Ada rasa ingin main baku hantam, namun mengingat Mutia adalah seorang gadis Rico pun hanya bisa menelan kekesalannya.
"Hih,,, pengen ku bejek - bejek tuh cewek. Kesel banget aku!" Gerutu Rico yang tak sadar tangannya sudah mengepal memukuli telapak tangan yang satunya.
...****************...
Beberapa hari telah berlalu. Ponsel Inem pun sudah kembali ke empunya dan hubungan Inem dengan Arjun berangsur-angsur mulai membaik. Begitu juga dengan Bimo. Setelah Inem bilang bahwa Arjun itu adalah anak dari saudara jauhnya yang sekarang ini telah menjadi keluarga barunya dan ditambah lagi Inem mengatakan kalau Arjun telah memiliki kekasih maka Bimo tak lagi mempermasalahkannya. Walaupun hati Bimo masih ada rasa yang mengganjal namun Bimo berusaha untuk percaya kepada Inem.
Hari ini Selly akan mengajak Inem untuk pas baju buat pestanya nanti. Sebenarnya Selly mengajak Arjun juga, namun anak sulungnya itu menolak dengan dalih ada janji dengan orang penting dan akhirnya Selly pergi berdua saja dengan Inem.
Sesampainya ditempat yang beberapa hari lalu sudah didatangi Selly. mereka sudah disambut oleh seorang pelayan yang ternyata sudah mendapat mandat dari Lashira untuk menyambut Selly.
"Aku mau ketemu dengan Lashira, aku sudah ada janji dengannya."
"Nyonya Selly ya? Ibu Lashira sedang ada keperluan, tapi semua sudah diserahkan kepada saya. Mari ikuti saya!"
Keduanya pun diantar ke sebuah ruangan dimana sudah ada beberapa baju pengantin berjejeran dengan rapi.
Sesampainya disana, pelayan tersebut mengambil baju yang telah disiapkan oleh Lashira dan memberikannya kepada Inem.
"Ini gaunnya silahkan dicoba! Kamar pas nya ada disebelah sana!" Ucapnya sambil menunjuk tempat yang dimaksud.
"Makasih." Jawab Inem sembari menerima gaunnya.
Tak lama kemudian Inem pun keluar sudah mengenakan gaun berwarna putih pearl tersebut. Selly yang melihatnya nampak sangat puas dengan gaun pilihannya yang begitu menawan melekat ditubuh Inem.
"Cantik sekali." Ucap Selly.
"Iya mam,,, gaunnya sangat cantik sekali." Sahut Inem.sambil melihat baju yang dikenakannya.
"Kamu nggak kalah cantiknya sama gaun itu sayang." Ujar Selly sambil mengusap pelan bahu Inem.
"Ah mami bisa aja." Inem tersipu malu olehnya.
"Beneran kok, kamu tuh cantik banget. Arjun beruntung bisa punya istri kamu. Gimana? Kamu suka dengan gaunnya? Apa mau pilih lagi?"
__ADS_1
"Ini aja mam, Inem suka dengan yang ini. Ukurannya juga dah pas, nyaman dipakainya."
"Syukurlah kalau begitu. Nggak ada yang diperbaiki lagi? Atau ada yang kurang atau gimana gitu?"
"Nggak mam, ini udah pas dan bagus banget."
"Alhamdulillah,,, kalau gitu fix kita ambil yang ini ya mbak. Sama setelan jas yang kemaren itu."
"Baik nyonya segera kami siapkan." Ucap sang pelayan.
Setelah barang dipacking rapi dan diserahkan, mereka pun pergi dari tempat itu. Saat hendak berjalan melewati pintu utama, mereka berpapasan dengan Kelvin yang baru mau masuk. Kelvin yang sudah kenal dengan Selly lalu menyapanya.
"Eh tante Selly, kok kebetulan sekali bisa ketemu disini. Apa kabar?" Sapa Kelvin.
"Baik Kel, kamu sendiri gimana? Lama ya kita nggak jumpa." Sahut Selly.
"Sejauh ini baik - baik saja tante."
"Kelvin kesini mau cari gaunkah?"
"Eh bukan tante, masa iya saya pake gaun. Saya mau ketemu sama teman, kebetulan dia kerja disini." Jelas Kelvin.
"Oh kirain mau cari gaun buat calonnya, eh apa yang dicari disini malah calonnya ya?"
"Semoga aja tante, mohon doa nya aja!"
"Wah pasti dong smoga cepet nyusulin Arjun ya!"
"Nyusul,,, emang Arjun pergi kemana tante?" Tanya Kelvin yang gak tau arah pembicaraannya Selly.
"Arjun nggak kemana - mana kok Kel."
"Lhah trus kenapa saya harus nyusul dia?"
"Nyusul nikah maksudnya Kel."
"Oh Arjun mau menikah ya? Kapan kok saya belum dengar kabarnya?"
Mendengar hal itu hati Kelvin langsung merasa sesak. Sekarang sudah nggak ada harapan lagi baginya untuk bersama Lashira. Begitulah pikiran Kelvin saat ini karna dia mengira Arjun akan menikah dengan Lashira.
"Bukan mau Kelvin, tapi sudah menikah dan Ini istrinya Arjun!" Selly memperkenalkan Inem yang sedari tadi berdiri disampingnya sambil menenteng paperbag yang berukuran besar.
"Apa,,,?! Arjun sudah menikah dan dia istrinya?" Kelvin membelalakan kedua matanya.
__ADS_1
Ulasan Selly membuat Kelvin setengah tak percaya pasalnya nggak ada kabar sama sekali tentang pernikahan Arjun dan kalaupun benar lalu kenapa hubungannya dengan Lashira masih baik - baik aja. Lalu kalau ini tidak benar juga nggak mungkin karna ini ibunya sendiri yang bilang.
...🌸 Bersambung 🌸...