
Happy reading 😍
Pagi ini semua tampak dengan kesibukan masing-masing, hari ini Syifa memutuskan untuk berkemas dan bersiap untuk pulang. Namun hatinya berkecamuk, apa yang akan dilakukan Pak Ilham bila mengetahui keadaan Syifa sekarang. bagaimana kalau Pak Ilham marah besar dan malah membenci Alex.
Semua pertanyaan demi pertanyaan memenuhi otak kecilnya. memang Alex sangat bersungguh-sungguh untuk menikahinya, Namun Syifa belum menyatakan kalau dia menyetujui rencana Alex,
Apa menikah saat ini adalah keputusan yang benar?! atau malah sebaliknya...
Bukankah pernikahan harus dilakukan secara matang dan semua orang pun akan menjadi saksi acara sakral itu. Syifa takut bila para tetangga membicarakan pernikahan dini nya.
Setelah mengemasi barang-barang yang dia bawa, Syifa pun turun untuk menyiapkan sarapan, namun terlambat, para pelayan sudah terlebih dahulu menyiapkan semuanya.
"Nona jangan sungkan, ini sudah tugas kami nona...," ucap kepala pelayan ketika Syifa bersikeras untuk membuat sarapan.
"Baiklah, terima kasih," ucap Syifa tak lupa tangannya mengambil roti terus di oleskan margarin di tambah selai coklat yang manis lalu di tutup lagi dengan roti yang lainnya.
Satu buah sandwich sudah menjadi menu sarapan bagi cacing yang kelaparan akibat aktivitas malam yang dia lakukan bersama Alex.
Alex sepertinya belum siuman dari alam bawah sadarnya. Syifa tak ingin membangun kan Alex, Syifa bersyukur karena Alex belum menampakkan dirinya.
Syifa masih belum berani bertemu dengan Alex
bayangan semalam masih menghantuinya.
Pagi yang begitu cerah, membuat Syifa ingin ikut menyambut kedatangan nya. Syifa pun keluar dari Villa tanpa memberi tahu siapa pun, termasuk Alex.
******************
Tak lama setelah Syifa meninggalkan Villa, Alex pun tersadar dari dunia mimpi karena cahaya matahari yang menyilaukan matanya menusuk Lewat jendela kamarnya.
Alex tersadar, dan terbangun dari tidurnya.
Dia teringat Syifa, langsung saja diambil nya handuk dan segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Alex yang sudah rapi dengan memakai T-shirt putih dan dipadukan dengan celana jeans berwarna hitam panjang. kini dirinya menuju kamarnya sendiri yang ditempati oleh Syifa.
Took...took...took...
"Syifaaaa....
Tidak ada jawaban...
"Apa masih tidur?," Pikir Alex saat Syifa tidak merespon kata-kata Alex.
Di lihatnya pintu sedikit terbuka menandakan pintu tidak terkunci.
"Apaa jangan-jangan... sedang di kamar mandi yaa?!" bathin Alex, terbayang olehnya bagaimana kalau Syifa mandi.
Bayangkan Syifa melayang lagi di benak Alex, olahraga panas semalam tak kan pernah terlupakan olehnya.
Alex pun membuka pintunya...
__ADS_1
Kosong....
Tak ada orang dan siapapun di kamar ini,
"Kemana Syifa??? Alex mencari ke segala penjuru kamar, namun dia tak menemukan Syifa. Alex tak menyangka kalau Syifa sudah tidak ada di kamarnya.
Alex pun sedikit berlari dengan tergesa-gesa, hampir saja dia menabrak seseorang yang sudah berada di hadapannya.
"Mau kemana loe," Dewi pun datang menghalangi langkah Alex yang sedang terburu-buru,
"Kemana Syifa??? tanya Alex dengan nada sedikit tinggi karena masih kesal sama Dewi
karena Dewi lah yang sudah membuat Syifa tersiksa seperti itu.
"Mana gue tahu...
"Gue nggak ngurusin tuh bocah yaa," ucap Dewi sambil pergi meninggalkan Alex.
"Ingat Wiii... urusan kita belum selesai," batin Alex saat Dewi pergi begitu saja.
Alex kembali teringat Syifa yang tiba-tiba menghilang dari kamarnya.
"Kemana kamu Syifaaaa...
Alex pun mencari Syifa sesegera mungkin, jangan sampai ada satu hal yang tidak di inginkan terjadi lagi pada Syifa seperti saat itu.
***********************
Dilihatnya ada sebuah kedai tak jauh dari tempatnya berdiri yang menyediakan kebutuhan nya saat ini.
Syifa pun menghampiri kedai tersebut, karena masih pagi, kedai pun tidak terlalu ramai,hanya ada beberapa orang di dalamnya yang sedang ikut istirahat juga sama seperti dirinya.
Syifa mengambil tempat duduk yang paling pojok dan kosong, Syifa lagi ingin sendirian kali ini.
"Mau pesan apa neng," seorang pemilik kedai pun menghampiri Syifa dan menawarkan beberapa menu yang di jual di kedai ini.
"Eeh... mang..
"Saya pesan 1 mangkuk baso saja, minumnya satu gelas teh manis hangat ya," ucap Syifa sambil membaca spanduk berisi menu yang tersedia di dalam kedai.
"Baik... di tunggu ya neng," pemilik kedai pun meninggalkan Syifa dan bersiap membuat pesanan Syifa dengan segera.
"Haiii... boleh saya duduk di sini?
"Kayaknya cuma di sini yang kosong...
Syifa menoleh dan melihat seseorang yang sedang menyapanya.
Seorang pria dengan tinggi 170 cm, berat badan ideal sekitar 70 kg, dengan memakai pakaian stylish dan memakai kacamata non mins, sedang berdiri memperhatikan Syifa untuk meminta izin dari Syifa.
Syifa melihat ke kanan dan ke kiri kedai, memang semua bangku kini sudah ramai pembeli, hanya dalam hitungan menit Syifa duduk, padahal tadi masih banyak kursi yang kosong. mau tidak mau Syifa mengizinkan orang itu duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Silahkan , duduk saja..." ucap Syifa dengan sedikit tersenyum.
"Aku Imam Mahesa,"
Pria asing itu pun mengulurkan tangannya kepada Syifa sebagai tanda perkenalan mereka yang pertama kali.
"Syifa...
Syifa membalas nya, namun dengan cepat Syifa menarik tangannya kembali.
"Maang... Syifa mau di bungkus aja ya baksonya," Syifa memanggil pemilik kedai yang tengah sibuk menyiapkan pesanannya.
"Kenapa pergi...
"Heei... apa kamu takut sama aku yaa??? tebak Imam Sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Bu...bukan gitu...
"A...aku adaaa urusan penting," ucap Syifa mencari alasan yang tepat untuk menghindari pria asing yang berada di hadapan nya.
"Ini neng pesanannya," Sang pemilik kedai pun memberikan pesanan Syifa.
" Berapa mang??? tanya Syifa
"Dua puluh ribu saja neng,"ucap sang pemilik kedai,
Syifa meronggoh kantong celana jeans nya, namun tak ada apapun di dalam sana.
"Ya ampun, aku lupa nggak bawa uang," batin Syifa.
"Kenapa neng??? ucap pemilik kedai ketika melihat Syifa diam saja.
"Sa... sayaaa...
Syifa Bingung harus bagaimana, Syifa benar-benar lupa tidak membawa uang sama sekali.
"Iniii mang, ambil saja kembaliannya," ucap Imam sambil memberikan uang selembar lima puluhan satu lembar kepada si pemilik kedai.
"Terima kasih kang," ucap sang pemilik kedai yang langsung kembali ke tempat semula untuk melayani pembeli yang lain.
"Te... terima kasih," ucap Syifa dengan sedikit salah tingkah Karena pria asing di hadapannya telah membantu nya.
"You're welcome," Imam tersenyum melihat tingkah Syifa yang menggemaskan baginya.
"Permisi...," Syifa langsung pergi sebelum Imam melihat betapa merahnya wajahnya saat itu.
Imam pun terus memandangi Syifa yang semakin menghilang dari pandangan nya.
"Syifaaaa...
"Semoga kita bisa berjumpa lagi," batin Imam.
__ADS_1
Happy reading 😍