Inilah Aku

Inilah Aku
BAB 91


__ADS_3

Happy reading 😍


"Sejak kapan kamu memakai senjata api," Aryo bertanya dengan serius, karena tidak semua orang berbakat dalam menggunakannya, tapi Siti tadi sepertinya sudah terbiasa menggunakan nya.


"Barusan hehehe," jawabnya dengan tersenyum, sungguh dia pun tidak tahu kalau itu adalah pistol beneran, yang dia pikir adalah pistol anak-anak yang di jual pasaran secara bebas.


"Ini berbahaya, jangan menyentuh nya, ingat itu," ujar Aryo lalu memasukkan pistolnya ke dalam jas hitamnya.


"Iya ....


Pak Heru sedikit terkejut melihat Siti yang seperti sudah terbiasa menggunakan sebuah senjata api. bahkan tangannya saja tidak bergetar saat menggunakan nya pertama kali. Dia pun melirik ke arah Bu Nilam, seperti nya ingin menanyakan sesuatu tentang Siti, namun Bu Nilam mengalihkan pandangannya ke arah lain. tingkah lakunya membuat Pak Heru semakin penasaran saja. masih ada rahasia di balik rahasia, namun setiap rahasia akan terkuak pada saat nya.


"Sebaiknya kita cepat kembali,"ujar Aryo dengan merangkul Siti, jangan sampai ada penjahat lainnya yang menghadang jalan mereka.


"Iya, tapi aku bisa jalan sendiri," Siti melepaskan tangan Aryo lalu menjulurkan lidah nya,


"Ih yang, mesra dikit Napa," gerutu Aryo sambil melangkah masuk ke dalam mobil.


Mereka pun meneruskan perjalanan menuju ke desa, Aryo sudah berjaga jaga untuk kedepannya dengan memberikan perintah kepada para anak buahnya untuk mengawal sampai nanti tiba di gerbang desa. jangan sampai Jantung nya berhenti berdetak melihat aksi ekstrim Siti kembali, meski dirinya tahu gadis itu memiliki kemampuan yang tidak terduga, tapi baginya Siti tetap lah wanita yang harus dia lindungi dari bahaya apapun yang mengintai.


Pukul lima dini hari , rombongan Aryo tiba tepat dihalaman rumah Bu Nilam, betapa bahagianya bu Nilam bisa kembali ke rumah sederhana nya setelah sekian lama di kota.


"Mari masuk, kita istirahat dulu di dalam," ajak Bu Nilam kepada Pak Heru dan juga Aryo.


"Tidak usah, kami langsung pulang saja, lagian sudah pagi, besok baru kami berkunjung kembali," tolak Pak Heru secara halus, bukannya tidak ingin tapi pak Heru tidak ingin ada masalah baru lagi, karena adanya adat istiadat di desa yang masih harus diikuti para penghuninya tidak terkecuali para pendatang.


"Loh, kok pulang dad, nginep aja lah," protes Aryo yang seakan tidak rela berpisah dan meninggalkan Siti.


Siti hanya tersenyum melihat tingkah Aryo, dirinya lalu masuk ke dalam, sengaja meninggalkan Aryo yang berusaha mengejarnya namun tertahan oleh beberapa bodyguard yang tadi mengawal perjalanan mereka.


"Yang kok pergi sih, masih kang...


"Sttttt.... pulang, belum sah," pak Heru menarik Aryo dan berpamitan kepada Bu Nilam,


"Nak Aryo niih, sudah gak sabar ya," Bu Nilam terkekeh geli melihat tingkah laku calon menantunya.

__ADS_1


"Issh dad, kenapa gak nginep aja sih," protes Aryo ke sekian kalinya,


"Ingat, ini di desa, kamu harus patuhi peraturan yang ada," jelas pak Heru dengan memejamkan matanya. pak Heru pun begitu mengantuk karena belum tidur sejak menyetir sendiri ke desa.


Keesokan paginya, Siti sudah terbangun pukul tujuh pagi, meski tidur sebentar itu cukup membuat tubuhnya segar kembali, setelah mandi dan sarapan nasi goreng spesial buatan ibu Nilam, Siti berniat untuk berjalan-jalan ke area persawahan, Siti kangen menanam padi dan mencangkul tanah nya, terkadang mencari belut dan keong sawah untuk di Santap bersama ibu Nilam.


"Assalamualaikum...


"Waaalaikumussalam," Siti baru saja selesai sarapan, di depan rumahnya sudah ada orang yang bertamu.


"Itu kayaknya nak Aryo deh," tebak ibu Nilam, tangannya membereskan piring bekas sarapan nya lalu membawa nya ke dapur.


"Hmmm, Siti lihat dulu ya Bu," Siti pun bergegas menuju pintu dan melihat siapa yang bertamu.


"Sorry, tidak menerima sumbangan pak," ujar Siti dengan tersenyum.


"What, kamu pikir kamu berhadapan dengan siapa nona," Aryo menahan pintu yang akan di tutup kembali oleh Siti.


"Kekasih ku," ucap Siti dengan mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi dengan Aryo, aksinya sungguh membuat jantung Aryo berdegup kencang, ingin rasanya dirinya merasakan manisnya bibir sang kekasih dan ******* nya. tapi waktu dan tempat tidak pas, jangan sampai ada warga yang melihat aksinya dan menggiring nya kembali ke balai desa.


"Tenang saja, aku pawang sang singa," bisik Siti yang malah semakin menggoda iman dengan meraba dada bidang Aryo. Siti pun cukup terlena dengan paras Aryo yang begitu tampan pagi ini.


"Eheeeem.. eheeeem...," Bu Nilam muncul dan tersenyum melihat keduanya yang jadi salah tingkah melihat kedatangan nya.


"Nak Aryo mau sarapan dulu," Bu Nilam menawarkan sarapan untuk Aryo,


"Hemmm, gak usah Bu, makasih," jawab Aryo dengan tersenyum kecil.


"Aku berangkat dulu ya Bu," Siti ngeloyor pergi meninggalkan Aryo yang menatap dirinya.


"Tunggu lahhhh, Bu pamit juga," Aryo melambaikan tangannya dan menyusul Siti yang selalu saja meninggalkannya.


"Hei tuan putri, senang banget sih ninggalin pangeran nya," ujarnya setelah bisa menyusu Siti.


"Habisnya pangeran nya lambat," goda Siti dengan menatap Aryo sambil berjalan.

__ADS_1


"Ooooh gituuu yaaa, aku lambat yaa," Aryo dengan cepat menggendong Siti lalu berjalan dengan membawa Siti yang terkejut melihat aksinya.


"Iiih pangeran ini mulai nakal ya," Siti menarik hidung Aryo saking gemasnya.


"Biarin, suka suka sang pangeran lah," balasnya dengan tersenyum.


"Turunin ih, " Siti gak enak dilihat pada warga yang sedang beraktivitas.


"Ok...," Aryo dengan terpaksa mengikuti ucapan kekasih, meski dirinya masih ingin bersentuhan dengan kekasihnya itu.


"Kita mau kemana?! tanya Aryo kepada Siti yang terus berjalan.


"Ke sana," Siti menunjukkan hamparan sawah yang mulai menguning dan bersinar di terpa cahaya matahari pagi.


"Mau ngapain?! tanya Aryo sedikit penasaran.


"Mau cari keong, buat makan malam," ucap Siti dengan tersenyum,di bayangkan nya masa kecilnya yang sering turun ke sawah dan pulang dengan membawa banyak keong sawah.


"Ih apaan itu," tanya Aryo, dirinya tidak tahu seperti apa keong yang akan di cari oleh Siti.


"Itu enak tauuu Yooo," ujarnya,


"Iyakah, seperti apa rasanya," Aryo sedikit penasaran dengan rasa keong.


"Seperti apa ya," Siti mencoba membandingkan rasa keong dengan rasa yang lainnya.


"Pokoknya enak lah," ucap Siti yang tidak bisa membandingkan dengan yang lainnya.


Sesampainya di sawah,Siti langsung turun setelah membuka sendal jepit yang dia pakai, sedangkan Aryo tidak langsung turun. melihat lumpur yang begitu kental, apalagi Bangka binatang kecil di dalam nya.


"Ayo turun, siniiii," ajak Siti saat Aryo hanya terdiam saja.


"Mau ngapain sih, kotor lah ituu," Aryo tidak ingin sepatu mahalnya terkena lumpur.


"Ya udah, tunggu situ" Siti meninggalkan Aryo dan berjalan di atas lumpur dan mulai mencari si keong sawah satu persatu.

__ADS_1


Happy reading 😍


__ADS_2