
Happy reading 😍
"Bos... sebaiknya kita bergerak juga, sebelum terlambat," ucap Aji sang Asisten ketika mengetahui berita terhangat di dalam keluarga bosnya itu.
"Aku tahu Jii, tapi kita jangan melakukan hal apapun, biarkan dia yang mengurus masalah ini, lagi pula sepupuku itu bukan orang yang lemah, aku yakin dia bisa tanpa bantuan kita," jelas Aryo, sepupunya adalah Intel ternama dan sudah hampir sepuluh tahun bergelut di bidang nya.
"Ya, kalian memang berbeda, tapi tetap saling mendukung," Aji merasa bangga dengan bosnya, semua keluarga yang ada di dalam nya mempunyai berbagai rahasia besar yang tidak diketahui oleh orang awam.
"Tentu saja, kami harus tetap di jalur yang sama, bedanya aku lebih bebas, sedangkan dia terikat dengan suatu organisasi," jelas Aryo kepada Aji yang sudah bekerja dengan dirinya hampir lima tahun terakhir.
"Apa yang sedang kalian bicarakan,"tanya Siti saat membawakan cemilan plus kopi hangat untuk keduanya.
"Bu...bukan apa-apa," Aryo cepat menjawab pertanyaan Siti sebelum ada pertanyaan yang lainnya dan lainnya.
"Ajiiiii," Siti melihat ke arah Asisten nya dengan tatapan tajam, sungguh rasa penasaran harus terbayar dengan lunas, bukan ngutang.
"A...akuuu ituuuuu.....," Ajiiiii tidak tahu harus menceritakan cerita yang sesungguhnya atau hanya sebuah fiksi belaka kepada wanita yang kini tampak menunggu jawaban darinya.
"Sudahlah, jangan suka mengancam anak orang kayak gitu," Aryo lalu mencoba untuk membujuk Siti agar tidak lagi mencari alasan menekan Aji.
"Isssh, mana adaaa," umpat Siti, sungguh dia hanya merasa kepo saja saat ini. apalagi keberadaan kakaknya belum menemukan titik terang. dia berharap Imam cepat memberikan kabar baik dan bisa membawa pulang kembali sang kakak tanpa kekurangan suatu apapun.
"Kaaaak... kembalilah, aku harap kakak baik baik saja ya, mudah mudahan Alex tidak melukai kakak, hiks," batin Siti kala ingatan sang kakak begitu lekat di relung hatinya.
"Dia pasti baik-baik saja, kamu bersabar dan berdoa agar semuanya berjalan lancar, dan mereka bisa kembali dengan selamat," Ucap Aryo sambil memegang pundak sang kekasih yang tampak melamun kali ini.
"Ya, aku yakin kakak pasti baik-baik saja," Siti mencoba untuk percaya dengan apa yang di katakan oleh Aryo.
DI MARKAS ALEX...
__ADS_1
"Jaga dia, jangan sampai terlepas, tapi ingat jangan berani menyentuhnya, bila aku melihat kalian menyentuh ujung rambut nya saja, akan ku kirim kalian langsung ke neraka," ucap Alex memperingatkan para anak buahnya
"Ba...baik bos," Ancaman Alex selalu menjadi nyata apabila anak buah Alex mencoba melanggar dan gagal dalam menjalankan misi yang di berikan Alex. Entah sudah berapa banyak yang sudah di paketkan ke neraka oleh nya.
"Maafkan aku Syifa, aku tidak akan membiarkan mu bersama laki-laki lain, hanya aku yang boleh bersama kamu, sebentar lagi kita hanya akan tinggal berdua saja, hanya kau dan aku," batin Alex, Alex memutuskan untuk pergi dan meninggalkan kota ke pulau pribadi milik keluarga nya dan tidak ada seorang pun yang tahu tempat itu.
Syifa masih belum tersadar, Alex menyelimuti Syifa agar Syifa tetap hangat, Alex melepaskan tas yang masih di pakai oleh Syifa dan mengambil Handphone nya, Alex lalu mematikan Handphone nya dan menaruhnya kembali ke dalam tas, namun tas itu Alex bawa dan akan dia simpan di tempat yang aman.
"Perketat pengawasan, karena akan ada tamu yang datang, dan aku akan menyiapkan sambutan terbaik untuk tamu kita nanti," ujar Alex, Alex pun melangkah ke luar dan menaiki mobilnya, ada beberapa hal yang akan dia cari dan butuh kan untuk menjamu tamu spesialnya.
"Laksanakan bos," ucap para anak buahnya, yang siap selalu bila di butuhkan.
Tak berapa lama, Syifa mulai tersadar dari pengaruh obat bius yang dia hirup. Syifa mbuka matanya, dan bangun secara perlahan karena tubuhnya terasa lemas kali ini, di tambah kepalanya yang berat membuat nya tidak bisa bergerak terlalu banyak.
"Iniii di mana???
Syifa baru menyadari kalau dirinya sudah berada di ruangan yang asing baginya. sebuah kamar bernuansa serba putih seperti kesukaan nya, tapi ini bukanlah kamarnya.
Syifa mengingat kejadian yang menimpa dirinya, Alex laah yang sudah membawa nya ke tempat ini, tapi tidak ada seorang pun di dalam kamarnya, hanya dirinya seorang saat ini.
"Aku harus keluar dari sini," Syifa pun bangkit dari tempat tidur dan menuju ke arah pintu, agar dirinya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Kaaaak... please buka pintunya," Syifa menggedor pintu sekuat tenaga nya, namun tidak ada yang datang untuk membuka pintu itu.
"Kemana kak Alex???
"Kenapa dia menculik ku seperti ini?!" batin Syifa, niatnya untuk menyelesaikan masalah malah berbalik menjadi masalah yang lebih besar.
"Kak IMAM...
__ADS_1
"Astaga bagaimana dengan kak Imam?!...
"Apa dia tahu kalau aku berada di sini?!" Syifa bergelut dengan pikiran nya sendiri, karena tidak ada yang bisa dia ajak diskusi selain dirinya sendiri.
"Papa...
"Deeeek... tolong kakak... hiks... hiks," Syifa teringat dengan semua orang terlebih lagi papa dan adiknya.
Sementara keadaan di luar sudah mulai mencekam, karena tamu yang di tunggu mulai berdatangan meski tidak secara langsung, mereka menyebar di setiap titik dan memperhatikan aktivitas di dalam rumah itu.
Anak buah Alex pun ada yang bersembunyi dan menunggu kedatangan Anak buah Imam yang baru saja sampai, berbagai jebakan dan perangkap sudah di persiapkan, Namun anak buah Imam pun sudah mempersiapkan berbagai senjata untuk berjaga-jaga, mereka hanya tinggal menunggu sang atasan, karena Imam belum juga sampai di lokasi.
"Kami sudah berada di lokasi nona Syifa berada pak," salah satu ank buahnya mengirimkan pesan suara agar atasan mereka bisa memberikan perintah selanjutnya.
"Baik, sebentar lagi saya sampai," Imam menerima pesan itu dan segera membalas nya.
Tak berapa lama, Imam pun tiba, dia berhenti agak jauh dari lokasi agar tidak ada yang mencurigainya, di dalam mobil nya sudah tersedia berbagai macam senjata yang nantinya dia perlukan untuk melumpuhkan lawannya, karena profesi nya adalah mengejar para penjahat seperti Alex yang menjadi target misinya kali ini.
Imam turun dengan membawa dua senjata api di balik bajunya, menurutnya itu sudah cukup untuk melawan anak buah Alex di sana.
"Syifa... maaf, aku harus melakukan tugasku," batin Imam, Di dalam benaknya, Syifa sekarang sedang bersenang-senang dengan Alex di dalam, Syifa telah memilih Alex dan meninggalkan dirinya begitu saja tanpa sepatah kata pun. meski begitu Imam tetap berdiri kuat, meski rasanya ingin sekali dia menghajar Alex dan meluapkan amarahnya yang terpendam di dalam hatinya yang hancur.
"Selamat datang pangeran... sudah lama aku menanti kedatangan mu," Seseorang sudah menyambut dirinya dengan menodongkan sebuah pistol ke arahnya...
Baru saja dia melangkah dan akan masuk ke dalam lokasi di mana Syifa berada, namun sudah ada kejutan yang dia dapatkan.
"Terima kasih atas sambutan nya," Imam tersenyum, meski nyawa nya saat ini sudah berada di ujung tanduk.
"HENTIKANLAH...
__ADS_1
Happy reading 😍
"