Inilah Aku

Inilah Aku
BAB.73


__ADS_3

Happy reading 😍


Alex tidak bisa diam saja seperti ini. hatinya masih tetap saja tidak tenang, ingin rasanya pergi menyusul mobil Aryo ke rumah sakit. tapi tentu saja itu akan membuat masalah baru bagi nya. Imam sebagai calon suaminya Syifa pasti akan melarang nya untuk bertemu dengan Syifa.


"AAAAARGH...


"SYIFAAAA...


Alex berteriak tidak karuan, hatinya sangat kacau sudah tidak berbentuk, meski Alex tahu Syifa kini tidak bisa menjadi miliknya lagi, namun cintanya kepada Syifa tidak pernah luntur dan berubah, malah semakin hari semakin bertambah saja.


"Syifaaaa... aku sangat merindukanmu," rintih Alex tak kuasa menahan tangisnya yang sudah dia tahan semenjak tadi.


Alex mencoba tenang agar bisa mengambil keputusan dengan benar, namun Syifa masih saja memenuhi memory di otaknya, seakan tidak ada lagi yang dipikirkan Alex di dunia ini selain Syifa.


"Aku harus ke rumah sakit...


Alex dengan cepat mengambil kunci mobil dan segera berangkat ke rumah sakit menyusul mobil Aryo. dia hanya ingin memastikan kalau Syifa akan baik-baik saja.


Alex tidak peduli bila nanti Imam murka dan marah akan kedatangan dirinya, yang terpenting sekarang adalah mengetahui keadaan Syifa Secara langsung.


Sementara itu di rumah sakit...


Imam terlihat bolak-balik di pintu ruang UGD dimana Syifa berada di dalamnya sedang di tangani oleh dokter yang memeriksa nya.


Aryo merasa sedikit terganggu dengan ulahnya itu.


"Diamlah... jangan seperti itu terus, pusing gue liatnya," Ucap Aryo dengan nada sedikit tinggi karena Aryo merasa bosan melihat kelakuan sepupunya itu.


"Ya udah jangan liatin gue," seru Imam yang tidak peduli dengan Aryo yang merasa terganggu.


Setelah menunggu beberapa menit, dokter yang memeriksa Syifa pun keluar dan langsung melihat siapa yang sedang menunggu pasien. karena semenjak tadi pasiennya menyebut sebuah nama terus menerus. mungkin nama itu ada di antara mereka yang sedang menunggu nya saat ini.


"Bagaimana kondisi calon istri saya dok?!" Ucap Imam yang langsung menanyai dokter dengan pertanyaan.


"Tenang saja, pasien hanya luka kecil saja dan sudah di tangani, hanya saja sepertinya dia ingin bertemu dengan seseorang," Jelas dokter yang menangani Syifa.

__ADS_1


"Syukurlah kalau dia baik-baik saja," ucap Imam yang kini dapat duduk dengan tenang.


"Kan gue udah bilang mam, Syifa pasti akan baik-baik saja, dia tidak selemah itu," Aryo juga merasa lega kini dirinya bisa memberi tahu kekasihnya yang pasti sudah menunggu kabar darinya.


"Kalau begitu, apa saya boleh menemuinya dok?!" tanya Imam dengan tidak sabar ingin segera masuk ke dalam ruangan di mana Syifa berada saat ini.


"Pasien memang sudah bisa dijenguk, hanya saja sepertinya pasien ingin bertemu dengan orang lain," ucap dokter dengan berhati-hati.


"Ma... maksud nya nama siapa yang Syifa sebutkan dok?!" tanya Imam, meski dia mengetahui siapa sebenarnya nama yang selalu di sebutkan oleh Syifa.


"ALEX...," tebak Aryo, apakah nama itu adalah Alex, meski dirinya pun sebenarnya masih ragu dengan jawaban nya.


Imam terdiam mendengar Aryo sepupunya menyebut nama Alex, ingin rasanya memukul wajah Aryo yang malah menyebut nama Alex di hadapannya, namun tentunya dia tidak bisa melakukannya, karena ini adalah rumah sakit,.


"Ya benar, itu nama orangnya, apakah dia ada di sini,"ucap dokter itu membenarkan kata kata Aryo.


"Ya...itu diaaa," Aryo menunjuk seseorang yang sedang berjalan perlahan dengan memakai topi, masker dan kaca mata dengan warna yang senada, warna hitam kesukaannya. meski bagi orang lain pasti tidak akan mengenalinya tapi bagi Aryo percuma saja, dia tetap bisa mengenalinya.


Aryo menghampiri Alex yang kini berhenti dan hendak berbalik arah, dirinya tidak di menyangka kalau Aryo mengetahui penyamarannya dengan cepat.


DEEEG


Jantung Alex kini mulai berdetak lebih cepat, mendengar Syifa hanya memanggil namanya, tapi kenapa, bukannya Syifa sudah tidak mempunyai perasaan kepada nya, bukannya Syifa sangat membencinya, atau Aryo hanya membohongi dirinya dan mempermainkan perasaan nya.


"Nggak mungkin Yo, Syifa benci sama gue," ucap Alex dengan lirih, dirinya tidak terlalu berharap dan tidak lagi menaruh hati terlalu dalam untuk Syifanya.


"Loe mau bukti..."Aryo malah menantang Alex kali ini. agar dia tidak ragu lagi klo Syifa memang mencintai dirinya.


"Bukti??? Alex tidak mengerti dengan maksud Aryo dengan kata bukti.


"Ayo masuk sana, temui Syifamu," Aryo langsung menarik Alex dan membawanya mendekati kamar UGD yang di dalamnya ada Syifa yang masih terpejam.


Alex melihat Imam yang menatapnya dengan penuh kebencian, Alex mengerti tentang perasaan Imam saat ini, karena dia juga pernah mengalami nya.


"Silahkan masuk pak Alex," perintah Dokter yang sudah menunggu kedatangannya sejak tadi.

__ADS_1


"Ba...baik dokter," Alex pun masuk dengan hati-hati di susul oleh dokter di belakang nya yang akan memantau keadaan Syifa setiap jamnya.


"Kak Alex...hiks...hiks...," meski Syifa belum membuka matanya, namun dia tidak berhenti menyebut nama Alex.


"Syifaaaa... aku di sini," Alex mendekat dan memegang tangan Syifa yang begitu dingin.


"Kak Alex...," Syifa masih saja menyebutkan namanya, Alex menggenggam tangan Syifa dengan erat dan berharap Syifa bisa membuka matanya.


"Sadarlah Syifa... Sadarlah sayang," Alex membisikan kata-kata di telinga Syifa agar Syifa bisa segera sadar anda mengetahui kalau dia sudah datang.


Alex melihat Syifa yang kini tersenyum meski matanya masih enggan terbuka. kini Syifa pun tidak lagi berbicara, namun tangan nya merespon genggaman Alex yang kini menghangatkan tangan Syifa yang tadi terasa dingin.


*MELUNCUR KEDUNIA ALAM BAWAH SADAR*


Syifa memakai gaun berwarna putih dengan panjang selutut, rambut nya di biarkan tergerai indah, Syifa tampak sedang duduk di tepian danau dengan airnya yang begitu jernih yang di penuhi bunga teratai yang sedang mekar. kicauan burung menambah suasana yang begitu menyejukkan mata.


"Ikut aku Syifa ayooo...," tiba-tiba seseorang menariknya, seseorang yang selalu menjadi superhero di hidupnya, seseorang yang akan menjadi calon suaminya, seseorang yang sudah memperlakukan dirinya seperti seorang putri, namun Syifa tetap saja merasa ragu, apakah dia mencintainya atau hanya sebatas rasa kagum saja.


"Mau kemana kak," Syifa tidak tahu mau kemana Imam akan membawa dirinya.


"Di sana... lihatlah," Imam menunjukan sebuah tempat yang sudah di hias oleh berbagai ornamen seperti bunga dan tenda serba putih di atas bukit sana,


"Kita akan menikah Syifa," ucap Imam dengan tersenyum dan masih terus menggenggam tangan Syifa.


"Menikah???


Entah apa yang harus Syifa lakukan saat ini, jujur dirinya masih belum bisa mengambil keputusan yang terbaik.


"Jangan pergi Syifa...


Seseorang datang dan memanggil namanya, Syifa melihat siapa orang yang sudah memanggil dirinya.


"Kak Aleeex...


Happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2