Inilah Aku

Inilah Aku
Pingsan


__ADS_3

Happy reading 😍


Di Saat Siti merasa kehilangan kakaknya untuk kedua kalinya, berbeda dengan Syifa, Syifa bertemu dengan seseorang yang pernah membantunya di saat dia benar-benar membutuhkan bantuan. Saat itu Syifa masih berpikir orang asing itu adalah orang yang tidak baik sehingga tidak memberi nya kesempatan untuk mengenal Syifa lebih jauh lagi.


Kini orang asing yang dia hindari justru menolongnya untuk kedua kalinya, dan kali ini Syifa tak bisa meloloskan diri darinya. Entah ini musibah atau anugerah, namun saat ini tak ada pilihan lain, ikut dengan pria asing lebih aman daripada berkeliaran di luar sana dengan hati was-was,


Kini semua orang bagaikan ingin menangkap nya seperti seorang penjahat yang sudah kabur dari sel dan menjadikan nya buronan utama.


"Kenapa mereka mengejar mu??! tanya Imam secara pelan, dia tidak ingin Syifa nanti merasa takut kepadanya seperti pertemuan nya yang pertama kali.


"A...akuuu...," Syifa belum bisa menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada Imam, bagaimana kalau Imam tahu klo Syifa tidak suci lagi, mungkin dirinya akan merasa jijik dan tidak ingin melihat Syifa dan menerima Syifa seperti saat ini.


"Ya sudah, klo gak mau cerita," Imam masih terus melajukan kendaraannya, namun kini dia sedikit bingung akan pergi kemana, gak mungkin membawa Syifa ke rumahnya.


"Kita mau kemana niih," tanyanya kepada Syifa yang sedang memperhatikan jalanan yang mulai sepi karena jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari.


"Apa bisa mengantarkan aku ke kota," tanya Syifa kepada Imam, Syifa hanya merindukan kamarnya, kamar yang di dalamnya ada Foto ibunya yang terlupa dia bawa ke Villa, Foto yang selalu menjadi jimat pelindungnya.


"Ke kota?!!


Imam berusaha mencerna maksud dari perkataan Syifa, namun sepertinya Imam tak bisa mengabulkan permintaan Syifa kali ini, karena masih ada urusan yang belum terselesaikan di sini.


"Kenapa???


Syifa paham kenapa Imam sepertinya keberatan dengan permintaan nya itu, apalagi mereka tidak ada hubungan apa-apa, Syifa tidak punya hak apapun untuk meminta Imam menuruti keinginan nya.


"Ti...tidak apa-apa, hehe," Imam mencoba untuk bersikap biasa saja kepada Syifa, Urusan nya memang penting dan tak bisa ditinggalkan begitu saja, namun apa dia tega melihat Syifa pergi ke kota sendirian, apalagi ini tengah malam, tentunya sangat berbahaya bagi perempuan seperti Syifa.


"Klooo gituuu, stop di sini saja, aku akan naik angkutan umum menuju ke kota," ujar Syifa sambil sedikit tersenyum dan bersiap-siap untuk turun.


"Apa maksud kamu, naik angkutan umum jam segini???

__ADS_1


"Yang ada kamu hanya bertemu dengan orang jahat di luar sana," ujar Imam sambil meneruskan laju kendaraan nya, kini tujuan utamanya adalah mengantarkan Syifa.


"Tapiiiiii...


"Huuush diam ya, lebih baik kamu tidur dan istirahat saja, ok...," Imam memotong kata-kata yang akan keluar dari mulut Syifa,


"I...iya... terima kasih," Syifa pun menuruti perintah Imam, Syifa merasa kelelahan, hari ini sekujur tubuhnya terasa remuk akibat lari maraton yang baru saja di lakukan nya.


Dalam hitungan detik, sudah tidak ada suara yang menggangu konsentrasi Imam, di lihatnya Syifa yang sudah tertidur dengan pulas.


"Hmm, Syifa apapun masalahmu, aku akan siap membantu mu," batin Imam,


Sementara itu...


Siti masih saja terus menangis, sampai saat ini dirinya belum berhasil menemukan kakak sepupunya,Syifa. Bala bantuan untuk mencari kakaknya pun sama saja, tidak menemukan jejak Syifa di manapun. Syifa bagaikan di telan oleh bumi.


Semua orang berusaha untuk membujuk Siti agar bisa tenang dan beristirahat, acara pertunangan keduanya pun terpaksa di tunda sampai situasi aman dan Syifa bisa kembali lagi bersama mereka.


Hiks...hiks...


"Kenapa pergiiiiiiii...


Aryo berusaha tetap berada di samping Siti saat ini, melihat Siti yang terlihat hancur seperti ini, membuat nya semakin membenci Alex saja, ingin rasanya mengirim Alex ke neraka sekalian,


"Sudah lah nak, jangan menyiksa dirimu lagi," Bu Nilam mencoba menenangkan putrinya, hatinya miris melihat keadaan anaknya yang terpuruk seperti dulu, namun kini lebih dalam lagi.


"Buuuuu... hiks...hiks...


"Ayo kita cariii kak Syiif....


Tubuh Siti ambruk di pangkuan ibunya, otaknya sudah di luar batas kemampuan nya untuk berpikir,

__ADS_1


"Astaghfirullah, nak...


Bu Nilam tersentak kaget melihat Siti yang tiba-tiba saja pingsan,dan hampir terjatuh ke lantai.


Semua orang tentu saja ikut kaget dan mencoba menolong Siti,


"Sitiiiii bertahanlah," Aryo tampak pucat dan berkeringat dingin melihat keadaan Siti.


"Telepon ambulans, kita bawa ke rumah sakit terdekat," perintah Pak Heru kepada Aji sang Asisten yang baru saja tiba dan akan memberikan laporan tentang penyelidikan nya kemarin.


"Baik Boos," Aji langsung menelpon ambulans dan menserlock lokasi, Aji tidak menyangka kalau dia akan melihat kejadian seperti ini, padahal baru saja dirinya akan menyerahkan kalung yang pernah di buang bosnya.


Tak berapa lama, ambulans pun datang dan membawa alat yang di perlukan, namun Aryo menolaknya, bukan karena dia tidak ingin Siti di bawa oleh ambulans, melainkan dirinya sendiri yang akan membawa Siti ke dalam mobil ambulans dengan menggendongnya.


Semua orang tidak ada yang bisa menahan keinginan Aryo, karena mereka tahu bagaimana cintanya Aryo kepada Siti. begitupun kang Supri, tak Terasa air matanya pun ikut menyaksikan kejadian langka tersebut.


Kang Supri terharu melihat perjuangan Aryo yang tidak menyerah untuk berusaha meyakinkan anaknya itu bahwa dia benar-benar mencintainya. hanya saja Siti terlalu cuek bahkan tidak menganggap Aryo dan perjuangan nya.


Aryo sudah membawa Siti ke dalam mobil ambulans, Aryo menyingkir sesaat karena dokter akan memeriksa keadaan Siti dan memasang selang infus di tangannya.


Melihat detak jantung yang tidak stabil akhirnya dokter menyarankan agar Siti langsung di bawa ke rumah sakit agar mendapatkan pemeriksaan lebih lengkap.


Bu Nilam dan Aryo lah yang menemani Siti di dalam mobil ambulans, sedangkan untuk yang lainnya, memakai mobil pribadi pak Heru dengan Aji yang membawa mobil tersebut.


Bu Nilam terus berdo'a agar Siti bisa cepat sadar dan pulih kembali seperti sedia kala, dilihatnya calon menantunya yang tak lelah menatap anaknya yang masih saja memejamkan matanya.


"Siti anak yang kuat, ibu yakin dia tidak akan pernah menyerah," ucap Bu Nilam kepada Aryo yang kini menoleh ke arah calon mertuanya itu.


"Maafin Aryo ya buu, Aryo tak becus menjaga nya," ucap Aryo lirih, selama ini dia menahan tangisnya agar tidak jatuh,


"Kamu tidak salah apapun nak Aryo, ingatlah semua yang kita alami di dunia ini, sudah ada yang menentukan nya, tugas kita hanyalah bersabar dan berikhtiar nak," ucap Bu Nilam panjang lebar, agar Aryo tidak selalu menyalahkan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Terima kasih Buu, Aryo mengerti," Aryo berusaha memahami setiap kata yang keluar dari mulut calon mertuanya.


Happy reading 😍


__ADS_2