
Happy reading 😍
"Uhuuk...
"Sampai kapan kalian akan bermesraan seperti itu,"
"Eh ada papa hehe, sejak kapan papa ada di situ," sahut Siti ketika calon mertuanya sendiri yang melihat tingkah konyol mereka.
"Bu...bukan mesra mesraan ko lah,"bantahnya, Siti mencoba mengelak dari tuduhan yang di tujukan kepadanya.
Aryo hanya diam saja melihat Pak Harun yang sedang menggoda calon istrinya itu, menurut nya urusan akan panjang bila dia ikut berdebat dengan papanya kali ini.
"Ya sudah papa tidak akan mengganggu kalian lagi," ucap Pak Harun yang masih saja terus menggoda Siti calon menantunya.
"Btw... malam ini cerah yah," Pak Harun melirik ke arah Aryo dan mengedipkan matanya kepada Aryo. berharap sang anak mengerti maksud dari kedipan itu.
"Apa kalian tidak bosan di rumah terus," lanjut Pak Harun kini dia menatap calon menantunya yang tidak mengerti maksud perkataan dari Pak Harun.
"Iya memang cerah pah," Siti melihat ke arah langit yang penuh bintang bintang kecil bertebaran.
"Kalau begitu ayo jalan-jalan," Sahut Pak Harun mengajak keduanya berjalan-jalan agar keduanya pun bisa saling mengenal lebih dalam lagi.
"Ide bagus, ayo jalan-jalan," sahut Aryo bersemangat, kenapa dia tidak terpikirkan untuk mengajak Siti pergi berdua dengannya.
"Ya sudah ambil mobil sana," perintah pak Harun saat menyerahkan kunci mobil yang sudah pak Harun siapkan.
Aryo menuruti perintah Papanya yang memang tidak bisa di bantah dan tidak suka mengenal kata tidak dalam hidupnya.
Kini tinggal Siti dan pak Harun saja, pak Harun tersenyum ke arah Siti, kehadiran Siti begitu membuat nya senang. karena Siti lah yang sudah membuat anaknya move on dari kisah masa lalu yang kelam yang selama ini menghantuinya.
"Nak... berjanjilah sama papa" Pak Harun menatap calon menantunya dan meminta Siti untuk berjanji, karena pak Harun berharap Siti bisa menjadi calon menantunya secepatnya.
"Janji??? maksudnya gimana pah?!" Siti masih belum paham dengan maksud dari Ayah Aryo. kenapa dia harus berjanji?!.
"Berjanjilah sama papah, kamu akan terus berada di sisi Aryo nak," pinta Pak Harun kepada Siti.
Siti terdiam, entahlah apa yang harus dia katakan, dari awal memang dia menyukai Aryo tapi Siti ingin semuanya natural dan tidak di buat buat, biarkan saja waktu yang menjawab bagaimana perjalanan cintanya.
__ADS_1
"A...akuuuu.... ti...tidak," Siti belum bisa mengatakan ya atau tidak karena memang perasaannya sama Aryo belum seratus persen.
Ini bukan hal main-main bagi Siti, karena ini menyangkut masa depannya nanti. jangan sampai dia memilih keputusan yang salah dan menyisakan penyesalan di kemudian hari.
"Santai saja nak, papa mengerti, mungkin ini terlalu cepat buat kamu, tapi papa hanya percaya sama kamu, papa harap kamu akan mengambil keputusan sesuai dengan harapan papa," pak Harun tidak ingin memaksakan kehendaknya sendiri, apapun keputusan Siti nantinya, semoga itu adalah yang terbaik.
"Iya pah," Siti hanya mengangguk saja, dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dia katakan saat ini.
"Ayo kita pergi," Aryo tiba-tiba muncul dan menghentikan pembicaraan keduanya meski belum mendapatkan keputusan yang mutlak.
"I...iya," Siti sedikit lega dengan kedatangan Aryo saat ini. sebelum dirinya benar-benar mati kutu di hadapan papa Aryo yang menuntut banyak hal. termasuk menyerahkan Aryo Secara tidak langsung kepada Siti.
"Ayo pah," Siti pun mengajak pak Harun untuk ikut bersama dirinya dan Aryo.
"Tidak, papa tidak bisa ikut dengan kalian," ucap pak Harun kepada Siti, mana mau sih menjadi nyamuk di antara mereka, bisa bisa semua rencananya gagal untuk menyatukan kedua nya.
"Lho, kan papa tadi yang mau jalan-jalan," ucap Siti, entah kenapa pak Harun malah tidak mau ikut dengan dirinya dan Aryo.
"Papaaa, hmmm lagi menunggu tamu nak, tidak mungkin papa pergi dan membiarkan tamu papa sendirian kan," pak Harun mencoba mencari alasan agar Siti tidak curiga tentang rencana yang sudah dia siapkan jauh jauh hari.
Setelah Siti masuk kedalam mobil, pak Harun menutup pintu nya dan mengedipkan matanya kepada Aryo sang anak yang mengerti apa tujuan papanya sebenarnya.
Aryo pun masuk dan menutup pintunya, tak lama kemudian mereka benar-benar pergi dan meninggalkan pak Harun yang sedang tersenyum dari kejauhan.
"Papa kamu tuh lucu ya," ucap Siti kepada Aryo saat mengingat permintaan pak Harun.
"Lucu bagaimana??? Aryo kurang paham dengan maksud Siti,
"Iya lucu aja, kan papa yang ngajak kita jalan-jalan tadi eh malah papanya yang gak ikut," timpal Siti dengan tersenyum dan tertawa ringan.
"Iya ya lucu hehehe," Aryo berpura-pura tidak tahu maksud papa nya yang berniat untuk membuat dirinya punya kesempatan untuk berdua dengan Siti.
STOP
CIIIIIT...
Mobil berhenti secara mendadak karena teriakan Siti yang sudah mengagetkan dirinya yang sedang fokus menyetir.
__ADS_1
"Aaaaaw, aduuuh kepalaku sakiiit," seru Siti saat dirinya pun terhempas ke depan kaca mobil karena Aryo yang tiba-tiba saja berhenti.
"So...sorry...," Aryo merasa tidak enak karena sudah membuat Siti kepentok kaca depan mobilnya.
"Lagian kenapa teriak seperti itu, bikin kaget saja," bela Aryo ketika Siti melihat ke arahnya,
"Iya maaf, aku mau ke sana," Siti menunjukkan suatu di depan nya, ramai sekali banyak orang hilir mudik kesana kemari.
"Kesana???
"Iya... pasar malam," lanjut Siti sambil membuka pintu mobil yang masih terkunci.
"Pa...pasar malam...," lirih Aryo, ada sesuatu yang mulai memenuhi otaknya, ingatan masa lalu yang ingin dia hilangkan.
"Aryooooo buka pintunya," rengek Siti saat banyak wahana yang dia rindukan saat masih kecil dulu.
"Ok," Aryo pun menuruti keinginan Siti, namun dirinya tidak seantusias Siti, bahkan Aryo hanya diam saja.
"Ayoo turun yooo," Siti pun menepak bahu Aryo karena sepertinya Aryo melamun dari tadi.
Aryo tidak menjawab, dia hanya menuruti keinginan Siti,tanpa berbicara sepatah kata pun.
Siti pergi ke loket untuk membeli tiket namun dirinya tak membawa uang sepeserpun, dai lupa tak membawa tasnya karena mendadak pergi.
"Yooo pinjam uang donk, nanti aku ganti di rumah," ucap Siti sambil menadahkan tangan nya, berharap Aryo bisa memberikan pinjaman kali ini.
Lagi lagi Aryo tidak menjawab, dia hanya menatap Siti lalu mengambil dompetnya dan memberikan sebuah kartu kepada Siti.
"Buat apa ini, aku mau pinjam uang Yoo, bukan kartuuu," protes Siti,
"Di dalamnya itu adalah uang," jelas Aryo dengan wajahnya yang datar menatap wahana yang ada di depannya.
Siti melihat kartu tersebut, dan membolak-balik kartu itu,
"Mana uangnya...
Happy reading 😍
__ADS_1