
Happy reading 😍
"To...toloooong gueeeeee,"Dewi sudah tidak kuat lagi berpegangan, hanya Alex lah yang bisa menolong nya.
"Aku akan menolong mu," Alex mengulurkan tangannya,
Dewi mencoba meraih tangan Alex dengan susah payah. Alex pun berhasil menggapai tangan Dewi. Alex tersenyum penuh misteri, waktunya membalas semuanya, dan tiba saatnya untuk memberikan sebuah kado buat Dewi, meski targetnya adalah dua orang iblis, namun menghancurkan satu iblis saja sudah cukup untuk sekarang ini.
"Ayo tarik gue ke atas sekarang Lex," pinta Dewi yang sudah tidak tahan lagi berada di posisi nya, sungguh tidak nyaman di bawah sini.
"Siapa bilang gue akan menarik loe ke atas," ujar Alex dengan tersenyum devil.
"Ma...maksud loe," Dewi tidak mengerti apa yang di sampaikan oleh Alex.
"Gue akan menolong loe, menuju pintu neraka, dan sampaikan salamku kepada malaikat maut...
"Dan MATILAH...
Alex melepaskan tangan Dewi, Dewi terjatuh ke bawah sana, tubuhnya menggelinding terus seperti bola yang sedang berjalan, Alex tersenyum puas, kini tidak ada lagi yang akan menyakiti Syifa.
"Matilah dengan damai," batin Alex, saat melihat tubuh Dewi yang tidak bergerak lagi di bawah sana. sekujur tubuhnya pun penuh dengan luka sayatan, entah dari ranting pohon, atau dari benda tajam lainnya.
"Syifa buka matamu," Alex menghampiri Syifa yang sedang menutup matanya dan telinga nya saat dirinya mengetahui bahwa Dewi sudah terjatuh ke bawah jurang sana. ada rasa takut menghantui dirinya. tubuhnya pun ikut gemetar. bagaimana keadaan Dewi di bawah sana?!. apakah Dewi sekarang sudah tidak bisa mengancam dirinya?! apakah dia benar-benar sudah mati?! semua pertanyaan berkecamuk di otaknya saat ini.
"Jangan di pikirkan, sebaiknya kita keluar dari sini ya," Alex menggenggam tangan Syifa yang begitu dingin dan masih gemetar. ini alasan Alex menyuruh Syifa untuk mundur dan sedikit menjauh. Syifa tidak bisa melihat adegan yang mengerikan baginya. berbeda dengan dirinya yang sudah terbiasa melihat darah berceceran sekalipun.
"Kak... apa Dewi sudaaah...," Syifa tidak bisa meneruskan kata-katanya, lidahnya terasa kelu dan kaku untuk bergerak.
"Ya... dia pantas mendapatkan nya, itu hukuman bagi semua kejahatan nya selama ini," jelas Alex sambil tersenyum dan mengelus kepala Syifa dengan lembut.
"Bereskan dia dan jangan meninggalkan jejak sedikit pun," Alex menelpon anak buahnya, agar segera mengurus jasad Dewi secepatnya.
"Baik bos, serahkanlah pada kami," para anak buah Alex pun dengan cepat meluncur ke lokasi di mana bosnya berada saat ini.
"Ayo kita pulang ya," Alex menuntun Syifa dengan meraih pundaknya dan mendekapnya.
__ADS_1
"LEPASKAN DIA, MENJAUH DARINYA...
Tiba-tiba saja seseorang menarik Alex dengan kasar sehingga membuat Alex kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
"Kak Alex, kakak tidak apa-apa," Syifa langsung membantu Alex untuk berdiri, dilihatnya orang yang sudah mendorong Alex, betapa terkejutnya dia saat mengetahui bahwa orang itu adalah calon suaminya dan juga pak Ilham sang ayah yang berdiri di belakang Imam,
"Pap... papa...," Syifa melepaskan tangannya dari genggaman Alex, entah apa yang ada dalam pikiran Pak Ilham saat ini. dia hanya menatap keduanya secara bergantian.
"Papa ingin bicara sebentar sama Alex," pinta Pak Ilham kepada Syifa,
"Ta... tapi pah," Syifa tidak tahu apa yang harus dia lakukan,
"Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja," Alex mencoba menerka apa yang dikhawatirkan oleh Syifa.
"Jaga Syifa dan bawa lah ke tempat yang aman," perintah Pak Ilham kepada Imam,
"Pasti pah," Imam lalu menarik tangan Syifa dan membawa nya menjauh dari Alex,
Syifa masih menatap ke arah Alex dengan wajah sendu, begitu pun dengan Alex yang menatap balik Syifa. Sungguh keduanya merasakan sesak yang sama. harus mencintai dalam diam, karena terhalang oleh restu orang tua Syifa.
"Iya pah, itu sudah menjadi tugas ku," ucap Alex dengan tersenyum, sungguh di luar dugaan, Pak Ilham tidak lagi bersikap dingin terhadap nya.
"Apa kamu benar-benar mencintai anakku, Syifa," tanya pak Ilham kepada Alex, dia ingin memastikan bahwa Alex memang tulus terhadap anaknya.
"Aku sangat mencintainya pah," ucap Alex dengan yakin, entah lah kenapa pak Ilham malah menanyakan perasaan nya terhadap Syifa.
"Kalau begitu, maukah kamu melakukan sesuatu untuk kebahagiaan nya??! Pak Ilham langsung mengungkapkan tujuan dirinya berbicara dengan Alex.
"Tentu saja pah, aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaan Syifa," ucap Alex dengan bersungguh-sungguh, walaupun nyawa sekalipun, demi Syifa Alex akan memberikannya.
"Apa kamu bisa merelakan anak papa menikah dengan pria lain," tanya pak Ilham kepada Alex yang kini tidak lagi menjawab pertanyaan dari pak Ilham dengan cepat.
Alex menarik nafasnya dalam-dalam, Seandainya ada dua pilihan yang di berikan kepada nya, tentu dia akan memilih tetap bersama Syifa. namun percuma saja, pak Ilham tetap bersikeras untuk menikahkan anaknya Syifa, tapi bukan dirinya yang menjadi pengantin pria..
"Aku merelakan nya... pah," lanjut nya dengan bergetar saat mengucapkan nya. kali ini apa yang di katakan nya tidak sesuai dengan apa yang di katakan oleh hatinya. hatinya tidak rela melihat kekasihnya harus menikah dengan orang lain.
__ADS_1
"Kalau begitu, datanglah ke acara pernikahan Syifa besok lusa, bagaimana?! tanya pak Ilham dengan tersenyum,
"Akuuu tidak bisa pah," Alex merasakan perih untuk kesekian kalinya, meski dia menyetujui rencana pernikahan Syifa, bukan berarti dirinya bisa datang dan menyaksikan kehancuran hatinya secara nyata.
"Tidak bisa kenapa??? pak Ilham berpura-pura bertanya tentang alasan Alex yang tidak bisa menghadiri pesta pernikahan Syifa yang akan di adakan besok lusa.
"Hmmm, a...akuuu... akan kembali pah," Alex mencoba mencari alasan yang tepat agar pak Ilham tidak lagi memaksanya untuk datang ke acara tersebut.
"Hmmmm.... sayang sekali kalau begitu, tapi ya sudah, terima kasih sudah menolong anak papa," ucapnya sambil berlalu meninggalkan Alex yang kini tidak berkutik. hilang sudah harapan nya untuk tetap bersama dengan Syifa.
SEMENTARA ITU...
"Lepas kak," Syifa menarik tangannya dari genggaman Imam, membuat Imam meliriknya dan kini menatap nya dengan penuh amarah.
"Apa kamu masih belum puas Syifa, mempermainkan perasaan aku," ucap Imam dengan nada tinggi, Syifa merasa sedikit takut, baru kali ini dia melihat Imam membentak dirinya.
"Aku tidak bermaksud seperti itu kak," ucap Syifa, dari awal Syifa hanya menganggap Imam sebagai kakaknya, meski pernah ada rasa namun itu bukan rasa yang sama seperti saat bersama Alex.
"Apa kamu sudah melakukan hubungan suami istri bersama nya, iya kan," Imam mengetahui Syifa tidak suci lagi, namun dirinya merasa Syifa masih melakukan hal itu bersama Alex tanpa sepengetahuan nya.
PAAAAAK
Tamparan keras di layangkan Syifa kepada Imam, sungguh dirinya tidak mengerti kalau Imam bisa menghinanya seperti itu.
"Jaga ucapan mu kak," Syifa meninggalkan Imam dengan terus berlari dan berlari. air matanya mengalir tanpa aba-aba, rasanya sakit sekali tuduhan Imam terhadap nya sudah sangat keterlaluan.
"Mana Syifa???
Imam berbalik, di belakang nya sudah berdiri pak Ilham, Alex, Aryo dan Siti yang tengah menatapnya.
"Syifa pergi pah," ucapnya dengan menunduk.
APAAAAA....
Happy reading 😍
__ADS_1