
Happy reading 😍
"Aku minta maaf," Aryo mundur dari tempatnya berdiri dan membalikkan badannya dengan cepat. dia tidak menengok lagi ke belakang. otaknya benar-benar di penuhi rasa bersalah kepada Seyna sang kekasih masa lalu yang sudah tidak bisa lagi dia sentuh.
Aryo menaiki mobilnya dan memasukkan kuncinya mobil, dengan hati yang masih berkecamuk, dia melajukan kendaraannya. Hening .... tidak seperti biasanya, ada sesuatu yang mungkin Aryo lupakan saat menaiki mobilnya tapi apa ya???
CIIIIIIIT...
Aryo mengerem mobilnya dengan cepat, membuat kepala nya terbentur stir yang sedang dia kemudikan.
"Astagaaaaa...... apa yang gw lakukan," Aryo baru menyadari kalau Siti dia tinggalkan begitu saja di tempat itu, padahal Siti belum mengenal tempat itu.
Mau tidak mau Aryo harus berbalik arah dan menjemput Siti sebelum Ayahnya memecatnya sebagai anak. hilang sudah kenyamanan yang selama ini dia nikmati bila hal itu terjadi.
Tak lama Aryo sampai di tempat semula, dia memperhatikan sekeliling nya namun tidak ada Siti di antara para kerumunan orang yang berlalu lalang.
"Kemana ya Siti, kok ga ada sih," Aryo terus memperhatikan semua orang, karena belum menemukan sosok yang di cari, akhirnya dia turun dari mobil dan mulai mencari dengan bergabung di antara para kerumunan orang yang sedang menikmati berbagai macam wahana.
"Astaga, apa dia pulang sendiri?" gumam Aryo saat dirinya sudah keliling dari ujung ke ujung namun tak bisa menemukan Siti juga.
"Sebaiknya aku minta bantuan Aji," batinnya, tangannya pun meronggoh saku di dalam celananya guna mencari handphone untuk menelpon asisten nya yang selalu bisa di andalkan.
"Halooo boos...," Aji langsung mengangkat telpon nya dan menanyakan perihal bosnya menelpon dirinya.
"Ji loe sibuk gak, gw butuh bantuan loe," Aryo langsung to the points agar Aji bisa secepatnya datang dan membantunya mencari Siti.
"Ngaak boos, gw lagi free kok," ucapnya, semenjak kembali ke kota Aji memang benar-benar sibuk dengan urusan kantor guna menggantikan posisi Aryo yang masih banyak masalah yang belum terselesaikan.
"Klo gitu loe datang ke tempat ku sekarang, aku perlu bantuan mu," Aryo langsung memberikan perintah agar Aji cepat datang dan bisa membantu nya segera.
"Ok, gw datang bos besar," Aji langsung menuruti keinginan Aryo dengan senang hati karena bisa terbebas dari tugas kantor sesaat.
__ADS_1
"Cepat gak pake lama," pinta Aryo kepada asisten nya karena menunggu adalah hal paling menyebalkan baginya.
Cukup butuh waktu sepuluh menit bagi Aji untuk bisa berada di tempat Aryo berdiri, Aryo bahkan sedikit kaget dengan kedatangan Asisten nya.
"Weeeeh loe cepat juga padahal gw ke sini butuh waktu setengah jam," salut Aryo yang tidak menyangka Aji akan benar-benar datang dan mau membantu nya.
"Iya donk, hehehe," Aji mencoba senatural mungkin agar Aryo tidak mencurigai dirinya dan menuduh yang macam-macam.
"Apa nih yang bisa gw bantu," Tanya Aji penasaran dengan tugas yang akan bos nya berikan kepadanya.
"Bantu gw cari Siti," jelas Aryo sambil melirik kanan kiri, siapa tahu Siti masih ada di dalam kerumunan.
"Apaa??? Aji malah tidak terlalu paham dengan maksud mencari Siti,
"Iya, cari Siti kataku, " Aryo lebih mempertegas kata kata Nya agar Aji mengerti dan paham kali ini.
"Ok," Aji menyetujui permintaan Aryo meski hatinya banyak pertanyaan yang masih belum mengerti, emang Siti kemana? sampai harus di cari segala, kayak anak kecil saja.
DEG...
Aryo tidak berani mengangkat video call dari sang ayah, bagaimana kalau ternyata ayahnya menanyakan Siti, dia tidak bisa berbohong bila sedang berhadapan dengan ayahnya itu.
"Kenapa gak di angkat bos," Aji yang penasaran akan tingkah Aryo yang seakan menghindari video call dari Ayah nya itu.
"Kalau gw angkat, gw bisa di gantung," tukas Aryo kepada Aji yang malah menambah mumet otaknya.
"Tapi kalau gak di angkat, bisa saja beliau akan tersinggung, apalagi bos adalah anaknya, mungkin saja ada sesuatu yang penting," pikir Aji agar bos nya menerima panggilan itu.
Aryo bingung harus bagaimana, perkataan Aji ada benarnya juga, ayahnya paling tidak suka kalau di abaikan apalagi dia adalah anaknya.
mau tidak mau Aryo pun mengangkat video call itu, betapa terkejutnya saat dia menerima panggilan dari ayahnya itu, terpampang jelas wajah Siti dan ayahnya yang sedang duduk di teras menikmati secangkir kopi hangat dan beberapa cemilan.
__ADS_1
"Sampai kapan kamu akan berada di situ," Pak Harun membuka pembicaraan karena melihat anaknya yang hanya diam saja.
"Ba.... bagaimana bisa kauuu...
"Jangan banyak bicara, cepat kembali sebelum papa memberi kejutan lebih besar," ucap Pak Harun dengan tegas dan sedikit mengancam anaknya.
"Ok...ok," Aryo mematikan video call yang sudah cukup mengejutkan jantung nya. bisa bisanya orang yang dia khawatir kan malah sedang duduk manis dan menikmati secangkir kopi hangat bersama sang Ayah.
"Kembali," Aryo berkata kepada Aji untuk kembali secepatnya sebelum Ayahnya sendiri yang turun tangan dan memberikan kejutan yang lebih besar lagi kepada dirinya.
"Baik, laksanakan," Aji menuruti perintah dengan tersenyum, baru kali ini dia melihat singa yang tak bisa mengaum,
Tak berapa lama kemudian akhirnya mobil Aryo dan Aji sampai di tempat tujuan, ternyata keluarga besar sudah menanti kedatangan mereka, bahkan kini lebih ramai lagi, seperti adanya pertemuan dua keluarga.
Aryo semakin di buat bingung saja, apalagi melihat banyak orang yang sedang melihat ke arahnya membuat nya semakin ciut saja. Aryo dan Aji pun turun bersamaan dan melangkah dengan hati- hati menuju ke tempat di mana ayah nya berada.
"Halo semuanya, ini kok pada kumpul ya," Aryo menyapa semuanya dengan mengeluarkan senyuman manisnya,
"Wah nak Aryo ini lama sekali, kami sudah menunggu lho dari tadi," ucap Bu Nilam yang juga tersenyum dan melihat ke arah Siti yang juga tersenyum ke arahnya.
"Iniii... ada apa ya Buu," Aryo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, hanya saja ini benar-benar kejutan yang tiada terkira baginya.
"Kita akan mengadakan acara pernikahan, dan tentu saja semua orang harus kumpul dan menjadi saksi," jelas Bu Nilam kepada Aryo yang masih berdiri tegap apalagi mendengar penjelasan yang bu Nilam ucapkan barusan.
"Pernikahan???"Aryo tidak tahu kalau ternyata acara pertunangan nya malah menjadi acara pernikahan, padahal Siti selalu menolaknya bila melangsungkan pernikahan secepat ini.
"Ya pernikahan, dan kamu akan menjadi pendamping pria," lanjut pak Harun seraya melangkah lebih dekat ke arah anaknya .
"Pendamping???
Happy reading 😍
__ADS_1