
Happy reading 😍
"Alhamdulillah kak Syifa baik-baik saja, sekarang dia lagi bersama Alex," ucapnya dengan nada lebih menekan pada kalimat Alex, untuk memancing reaksi pak Ilham yang ada di depannya.
"Syukurlah, kalau begitu kita kesana," ujar Siti yang sudah tidak sabar ingin melihat secara langsung kondisi kakak nya.
"Jangan lah...
"Iiih kenapa...
"Biarkan lah dulu mereka saling...," Aryo tidak melanjutkan kata-katanya karena di hadapannya masih ada pak Ilham yang ikut menyimak pembicaraan nya.
"Sebaiknya paman pulang, kalian tetap pantau keadaan, kurasa Syifa sudah aman sekarang," ucap pak Ilham dengan berbalik arah menuju mobilnya.
Ditempat lainnya...
"Mau kah kamu ikut aku," ucap Alex dengan mimik wajahnya yang terlihat serius.
"Kemana kak," tanya Syifa yang heran dengan maksud dari kata ikut,
"Kita kawin lari," ucap Alex dengan tetap bersikap sama seperti tadi.
"Kawin lari kak," Syifa sungguh terkejut dengan apa yang di katakan oleh Alex. namun entah lah hatinya malah merasa senang mendengar Alex mau menikah dengan nya.
"Ya... itu keputusan terakhir yang ku punya," jelas Alex kepada Syifa, dia berniat untuk berbicara dengan Ayah Syifa dengan baik-baik, kali ini dirinya tidak bisa lagi melepaskan Syifa dengan orang lain.
"Aku... aku....," Syifa belum bisa mengambil keputusan apa yang harus dia pilih kali ini.
"Kau putuskan pilihan kamu Syifa, apa kamu milih Aku atau milih dia," Alex ingin semua masalah cepat selesai.
"Ya aku mau," ucap Syifa dengan tersenyum kepada Alex, dia tahu ini akan membuat papanya marah besar, namun hatinya memilih Alex yang Syifa percaya akan selalu ada untuk menjadi pasangan hidup yang terbaik.
__ADS_1
"Benarkah..," Alex tak percaya kalau Syifa bakalan menyetujui ide gilanya. dia berpikir kalau Syifa akan menolaknya mentah-mentah.
"Iya kak, aku mau," ucap Syifa dengan jelas, kini dia tidak peduli lagi dengan siapa pun, yang terpenting adalah perasaan dirinya saat ini.
Alex tersenyum, dan mundur perlahan lalu mengangkat kedua tangannya, dia berdoa dan sekaligus berterima kasih kepada Tuhan yang sudah berpihak padanya.
"Terima kasih Tuhan kau sudah menurunkan bidadari surga untukku," ucapnya dengan menatap Syifa yang tersenyum saja melihat tingkah konyol Alex.
"Sudah siap," Alex menggenggam tangan Syifa. Alex tahu ini pasti hal tersulit dalam hidupnya, menentang rencana papanya sendiri.
"Huuuuuh, iya siap kak," Syifa menghembuskan nafasnya dalam-dalam, ini hal pertama dirinya akan mengatakan tidak atas keinginan papanya.
DI TEMPAT LAIN...
Seorang pria sedang duduk di ruang tunggu sendirian, dengan dunianya sendiri tanpa memperhatikan orang-orang yang lalu lalang melewati nya, begitu pun saat ini, seorang wanita bertubuh langsing, dengan high heels yang tidak terlalu tinggi, memakai pakaian caaual berwarna coklat senada dengan tas yang sedang dia bawa saat ini, rambut hitamnya tergerai dengan panjang hanya melewati bahunya. kaca mata hitam yang dia pakai membuat orang lain tidak terlalu mengenalnya.
"Halooo... " Wanita itu menghampiri Imam yang sedang melamun, dia pun memberanikan diri untuk menyapanya terlebih dahulu.
paras yang familiar, mata nya yang berwarna coklat, mengingatkan dirinya kepada seseorang.
"Ya... kenapa," Ucap nya dingin, Imam paling tidak suka orang yang ikut campur dalam urusan nya, apalagi orang yang sok kenal.
"Hmmm, gapapa... boleh ikut duduk di sini," pinta wanita itu yang memang sedari tadi berdiri saja.
"Oh, silahkan... ini tempat umum," ucap Imam dengan cuek, pikiran nya sudah penuh dengan Syifa, Syifa dan Syifa...
"Terima kasih," wanita itu pun duduk dan menyimpan tas ranselnya yang membuat pundaknya sedikit sakit, karena isinya yang lumayan banyak. Beberapa baju ganti, dan keperluan lainnya, karena dirinya akan berkunjung ke saudaranya di Australia dalam seminggu terakhir.
"Kenalin gue Gesya," wanita itu mengenalkan dirinya sendiri, entah apa pria di sampingnya mau menyambut tangannya yang sedari tadi dia ulurkan.
"Hmmm...
__ADS_1
Imam tidak ingin mengenal siapa pun, saat ini pikiran nya sedang kacau, dia tidak ingin banyak bicara meski itu adalah seorang perempuan.
"Masalah gak akan cepat selesai bila disimpan sendiri," ucap Gesya yang menerka bila orang yang ada di sampingnya lagi ada masalah. meski Gesya tidak tahu apa masalah yang membuat pria di sampingnya begitu cuek sama orang lain.
"Jangan ikut campur, dan jangan sok perhatian," balas Imam dengan nada sedikit menekan Gesya, Dia tidak suka ada orang yang sok tahu tentang masalah yang ada pada dirinya.
Imam pun beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan Gesya yang hanya tersenyum ke arahnya. Imam berjalan ke arah cafetaria yang sedikit jauh dari posisi nya berada. mungkin minum kopi akan membuat nya lebih rileks.
"Sungguh pria ini, tidak ingin orang lain tahu tentang perasaan nya yang kini sedang hancur," batin Gesya, dia selalu menerka kondisi seseorang dari sikapnya terhadap seseorang, dan menurutnya Imam memang memiliki masalah yang cukup signifikan,
KEMBALI KE SYIFA...
Syifa dan Alex kini sudah menyiapkan mental untuk menghadapi papanya Syifa, apalagi Ale, meski di luar dia tampak biasa saja, namun di dalam hatinya tetap ada rasa takut, bukan takut untuk berhadapan dengan papanya Syifa tapi takut akan kehilangan Syifa untuk kesekian kalinya. kali ini hatinya akan hancur berkeping-keping bila kenyataan nya dirinya dan Syifa tetap tidak bisa bersatu.
Alex sudah tiba di tempat penginapan Aryo dan keluarga nya. meski yang lainnnya belum berdatangan karena hari pernikahan akan dilaksanakan pada lusa nanti. Alex menelpon Aryo terlebih dahulu karena dirinya belum tahu dimana mereka menginap. Alex pun memberitahu maksud kedatangan nya kepada Aryo. sehingga Aryo dan Siti sudah menyambut kedatangan Syifa dan Alex.
Alex pun turun bersama Syifa, di genggamnya tangan sang kekasih di hadapan pak Ilham yang ikut menyaksikan kedatangan keduanya.
Alex menatap pak Ilham dengan tidak berkedip, dia berdoa dalam hatinya, semoga semua berjalan lancar, agar dirinya tidak harus kawin lari bersama Syifa.
"Pah...
"Syifa mau mengatakan sesuatu hal yang mungkin tidak berkenan di hati papa, tapi Syifa sudah memutuskan pah, ini pilihan Syifa," ucap Syifa dengan menatap pak Ilham yang tidak bergeming sedikitpun.
"Pah, maaf klo saya lancang, tapi saya mencintai Syifa, kalau papa masih ragu dengan saya, saya akan melakukan apapun yang papa lakukan, namun satu hal pah yang saya tidak bisa lakukan...." ucap Alex membantu Syifa berbicara tentang rencana keduanya dan berharap mendapatkan restu kali ini.
"Jangan paksa saya untuk menjauhi Syifa pah, itu sama saja papa membiarkan saya mati pelan-pelan," ucap Alex, Syifa langsung memeluk Alex saat dirinya mendengar kata-kata tentang kematian.
"Kak.... jangan bicara seperti itu," ucap Syifa dengan menahan tangisnya.
Happy reading 😍
__ADS_1
"