
Happy reading 😍
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh akhirnya Imam sampai di jalanan ibukota, Imam berhenti di sebuah restoran untuk mengisi perutnya yang kosong, Imam masih merasa seperti mimpi, karena sekarang Syifa sudah bersama nya meski hanya dalam waktu beberapa menit lagi, tak apa, baginya bisa melihat Syifa saja sudah merupakan anugerah terindah yang TUHAN berikan.
Imam pun membuka pintu mobil dan keluar, di bukanya pintu mobil belakang dimana tempat Syifa berada. Imam berharap Syifa mau menemani nya sarapan pagi ini. kalaupun Syifa tidak mau, ya terpaksa dia akan membungkus nya dan memakannya di mobil saja.
Deeeg...
Jantungnya terasa berdenyut keras ketika melihat Syifa yang masih tertidur, wajahnya tampak sangat cantik dan membuat kaum Adam terpesona dan mabuk kepayang.
Imam mencoba mengontrol dirinya, meski tentu saja sulit baginya karena dari awal Imam sudah jatuh hati pada Syifa.
"Syifaaaa... ayooo banguun," Imam mencoba membangunkan Syifa dengan berbicara di dekat telinga Syifa, Imam tak berani menyentuhnya Karena bisa mengundang hasratnya untuk bangkit dalam persembunyian nya.
Syifa pun membuka matanya dan menguceknya agar terlihat lebih jelas, Imam masih saja betah memperhatikan tingkah laku Syifa yang menurutnya sangat lucu dan menggemaskan.
"Aaaaaaa...
Syifa berteriak melihat ada orang yang begitu dekat dengan dirinya.
"Heeei, ini akuuu lhoo," Imam mencoba menyadarkan Syifa, mungkin saja Syifa tadi mimpi buruk dan masih membawa nya ke alam nyata.
Syifa merasa mengenal suara dari orang yang ada di hadapannya, Syifa membuka matanya yang tadi terpejam kembali karena merasa takut.
"Eh, kamu yaaa, hehehe," Syifa menyadari bahwa itu memang benar benar Imam,
"Iya, ini aku lah, apa tampang ku menakutkan," ujarnya sambil melihat wajahnya sendiri di spion mobil, sempurna tak ada yang menakutkan sama sekali, tapi Syifa selalu merasa takut kepadanya.
"Bu...bukan gitu, kamuu ganteng kok, hehehe," Syifa mengelak ketika Imam mengatakan tampangnya menakuti dirinya.
Imam merasa sedikit malu saat Syifa bilang dirinya ganteng, ini mungkin yang di bilang orang G-R,
"Ehem, aku laper niih, Yoo kita makan tuuh di sana," Imam masih tersipu malu, karena perutnya tak bisa kompromi maka dengan cepat dia mengajak Syifa untuk makan.
"Syifa melihat sekeliling nya, tampak sebuah restauran dengan adat Sunda, nama dari restoran itu "Saung Kahuripan" , sudah tentu ayam bakar, ikan bakar, sambel dadak pun pasti tersedia di sini.
__ADS_1
"Syifaaaa, kamu mau makan apa tidak," Imam tak sabar karena dirinya tidak ingin mati kelaparan menunggu tuan putri yang masih saja bengong.
"Ok, mauuuuu," Syifa langsung melepaskan Seatbelt, karena sedikit terburu-buru, Dia tidak ngeh pada pijakan di bawah nya, hampir saja dia terjatuh, namun dengan sigap Imam sudah menangkap tubuh Syifa,
Kini pandangan mereka bertemu dengan sangat intens, dada Imam kembali bergemuruh tak karuan,
"Maaf, a...aku..
Dengan secepat kilat Syifa melepaskan dirinya dari Imam,
"Hmm, ok... Ki...kita langsung masuk saja," Imam menahan perasaan nya yang muncul kembali ke permukaan, dia berjalan masuk lebih dulu agar Syifa tak melihat wajahnya yang sudah berubah seperti kepiting rebus.
Syifa pun mengikuti langkah Imam Karena memang memerlukan asupan nutrisi pagi ini.
Di tempat lain...
"Bagaimana keadaan kekasih saya dok," Aryo terus menanyakan kabar terbaru dari Siti yang masih belum tersadar dari pingsannya.
"Untuk saat ini kondisinya masih belum stabil, sebaiknya pasien tetap melakukan perawatan secara intensif agar kami bisa terus memantau keadaan pasien," Dokter melihat sebuah kertas hasil dari pemeriksaan pasien nya,
"Tentu saja kami akan semaksimal mungkin melakukan yang terbaik...
"Klo begitu saya permisi pak Aryo," Dokter itu pun meminta izin untuk memeriksa pasien nya yang lain.
"Terima kasih dok," Aryo pun mengizinkan nya untuk pergi.
Aryo memegang jari jemari Siti dan menyatukan dengan jemari tangannya, seperti akan menyebrang jalan, lalu Aryo mencium tangan si pemilik yang masih betah memainkan perannya sebagai Putri tidur.
"Sitiiii bangguuun lah, jangan membuat ku takut seperti ini," Aryo mencoba berkomunikasi dengan Siti, mungkin saja Siti bisa mendengar suaranya dan cepat tersadar dari tidur panjang nya.
Namun tidak ada tanda-tanda kehidupan, hanya suara alat detak jantung yang terdengar dari ruangan yang bernuansa putih itu.
"Sabar nak, berdo'a lah, karena hanya TUHAN sang pemberi kesembuhan," Bu Nilam memberi support kepada calon menantunya yang tampak sangat sedih melihat keadaan anaknya yang masih saja belum tersadar.
"Iya Bu...
__ADS_1
Aryo terus menatap wajah kekasihnya, semalaman dia menjaga Siti tanpa tidur sedetik pun, kini Rasa kantuk mulai melanda.
"Sebaiknya nak Aryo istirahat juga, biar ibu yang menjaga Siti," Bu Nilam akhirnya menyuruh Aryo untuk pulang dan istirahat bagaimana pun Aryo sudah terlihat lelah, jangan sampai dia melupakan kesehatan dirinya sendiri.
"Tapi buuu...
"Jangan sampai kalian nanti sakit semua, Siti juga pasti akan melakukan hal yang sama nak," Bu Nilam terus membujuk Aryo agar mau pulang terlebih dahulu.
"Baiklah, klo begitu aku pergi Buu, aku hanya sebentar saja," Aryo pun meninggalkan ruangan itu setelah melihat wajah Siti.
"Hati-hati ya nak," ibu Nilam tersenyum karena akhirnya Aryo mau pulang juga.
Iya Bu...
"Assalamualaikum," Aryo berpamitan kepada Bu Nilam meski kakinya terasa berat meninggalkan ruangan itu namun rasa kantuknya tak bisa di kompromi lagi.
Sesampainya di luar ruangan, di lihatnya Asisten nya sudah standby menunggu kedatangan bosnya di depan pintu masuk.
"Apa kau bermaksud untuk menjemput ku," Aryo paling tidak suka ada orang lain yang ikut campur urusan nya, namun kali ini berbeda, bosnya tidak bisa melajukan kendaraannya dalam keadaan seperti ini.
"Ini perintah TUAN, maaf bos saya hanya menjalankan tugas," ucap Aji menjelaskan keberadaan dirinya di rumah sakit ini.
Aryo hanya terdiam dan meneruskan langkahnya menuju mobil nya diantara puluhan mobil yang sedang terparkir di halaman rumah sakit.
Aji pun mengikuti tanpa sepatah katapun.Dia tidak ingin bosnya ini makin marah saja bila dia berbicara.
Kini Aryo sudah berhasil masuk mobil, tak lupa di pasang nya seatbelt dan mulai memejamkan mata nya.
Aku pun melakukan hal yang sama namun tidak tertidur karena dia lah yang membawa mobil,
Mobil pun mulai meninggalkan area parkir dan melesat ke jalanan yang terlihat rame dan padat.
"Boos...
Aji mencoba memanggil Aryo, namun tidak ada jawaban sama sekali,
__ADS_1
"Bos, kenapa kau menjadi lemah seperti ini, hanya karena seorang wanita, kau bahkan rela berjuang untuk nya," batin Aji.